Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Surat Pesan Dari Sepasang Pendekar Naga


__ADS_3

Nakamura Hayate adalah seorang samurai yang cukup terkenal berilmu tinggi di Kota Beika. Dia memiliki lima orang murid - murid yang cukup berbakat. Empat orang lelaki dan satu orang lagi yang merupakan murid termudanya adalah wanita.


Empat orang murid lelaki di antaranya adalah Takahasi Rikimaru, Kobayashi Tessu, Sasaki Ichia, dan Rin Onikage. Adapun murid perempuannya yang merupakan murid terakhir bernama Yamada Ayame.


Kelima murid Nakamura Hayate ini merupakan anak - anak yatim piatu yang ditemukannya di jalanan dan meminta - minta. Melihat bakat mereka cukup bagus Nakamura Hayate membawa kelima anak itu dan mendidik mereka. Setelah sepuluh tahun berguru pada Nakamura Hayate kelima anak itu kini telah menjadi seorang samurai yang tangguh meskipun belum semua ilmu Nakamura Hayate diserap oleh mereka.


Pada hari itu kelima murid Nakamura Hayate sedang melatih kekuatan tenaga dalam mereka di bawah bimbingannya langsung.


"Tarik nafas kalian sedalam mungkin... Lepas separuhnya dengan cepat secara berangsur - angsur sebanyak dua kali dan tahan..." Nakamura Hayate memberikan instruksi.


"Latihan ini adalah untuk memperkuat tenaga dalam kalian nantinya. Jadi kalian harus sering - sering mengolahnya. Sekarang tarik lagi nafas kalian secara penuh lalu lepaskan secara perlahan"


Kelima murid Nakamura Hayate itu menuruti saja instruksi dari guru mereka yang juga sekaligus merupakan ayah angkat mereka.


"Kalian semua telah sepuluh tahun lebih berguru padaku. Dan sekarang kalian telah menjadi samurai yang tangguh. Tapi ilmu kepandaianku sangat terbatas. Jika saja orang itu ada di sini, aku mungkin akan memintanya untuk mengajari kalian barang satu atau dua jurus niscaya kalian akan menjadi samurai yang tandingannya bahkan dapat dihitung dengan jari" kata Nakamura Hayate menerawang menatap langit senja itu.


"Emm... Maafkan kami, guru. Cerita guru sejak dulu tentang sahabat baik guru itu membuat kami penasaran. Sekuat apakah orang yang guru maksud itu?" tanya Takahashi Rikimaru, murid tertua dari kelima murid Nakamura Hayate.


"Sulit untuk dijabarkan dengan kata - kata. Orang - orang dari tenggara itu memiliki keunikan tersendiri. Bahkan ada di antara mereka yang bisa terbang melayang. Ilmu yang aku pelajari di daratan sana sangat diagung - agungkan di negeri kita tetapi di daratan tenggara sana ada guru kalian ini bukanlah apa - apa bagi mereka, terlebih lagi orang itu. Kemampuanmu ini tidak ada seujung kuku jari mereka"


"Apa...!!!??"


Kata kelima murid Nakamura Hayate terkejut.


"Kehebatan guru sangat dipuja - puji di seluruh penjuru Kerajaan Naruhito yang bahkan klan Tokugawa sekalipun segan terhadapnya. Tapi di tempat itu guru tidak ada apa - apanya? Ini sulit dipercaya" batin Yamada Ayame.


"Jika kalian melihat kemampuan mereka, kalian mungkin akan menganggap kalau mereka adalah dewa yang turun dari langit"


Guru dan murid itu menghabiskan waktu untuk mengobrol beberapa lama sampai seorang penjaga gerbang datang dengan tergopoh - gopoh.


"Tuan... Ada beberapa orang datang kemari. Mereka mengaku sebagai utusan Lembah Neraka" kata penjaga gerbang tersebut.


"Hmm...??? Beberapa orang?"


"Benar, tuan. Mereka semua anak - anak muda"


Nakamura Hayate berpikir sejenak.


"Mungkin itu murid mereka. Baiklah, aku akan menyambut mereka secara langsung. Ayo... Kalian juga ikutlah"

__ADS_1


"Baik, guru..."


***


"Apakah benar anak - anak muda ini adalah utusan dari Lembah Neraka?" bertanya Nakamura Hayate.


"Benar, tuan. Saya Lalu Argadana dan ini adik seperguruan saya bernama Ningrum. Kami berdua adalah murid Sepasang Pendekar Naga... "


Argadana kemudian memperkenalkan Yalina, Jendral Thalaba dan Sepasang Pendekar Suci sebagai pelayannya. Hal itu memang tidak lepas dari permintaan mereka bertiga.


"Jadi ini pesan yang dititipkan guru. Silakan tuan terima..."


Nakamura Hayate lalu membuka gulungan tersebut yang ternyata berisi sebuah surat bertuliskan.


"Saudara kami, Hayate... Maafkan ketidak hadiran kami. Hal ini bukan karena kami ingin mengingkari janji beberapa puluh tahun yang lalu untuk berkunjung ke tempat tinggalmu. Melainkan ada sesuatu urusan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda oleh saudara tua ini. Itu sebabnya kami mengirimkan murid kami terkasih untuk mewakili kami memenuhi janji. Jadi sesuai janji kami dulu, murid kami akan mengajarkan kepada murid - murid saudara muda Ilmu Pukulan Naga Murka. Harap saudara muda memaklumi keadaan saudara tua ini.


Tertanda


Majikan Lembah Neraka"


Nakamura Hayate menutup gulungan surat tersebut dan memandang Argadana sebentar.


Argadana membaca isi surat tersebut dengan seksama.


"Ini adalah perintah guru. Kami tidak keberatan untuk mengajarkan Ilmu Pukulan Naga Murka. Entah murid tuan bersedia atau tidak untuk mempelajarinya?"


"Bagaimana menurut kalian? Ini kesempatan langka. Tidak mudah untuk mendatangkan mereka kemari. Jika kalian melewatkannya makan kemungkinan tidak ada lagi kesempatan ke dua" Nakamura Hayate menoleh kepada murid - muridnya.


"Tunggu sebentar, guru. Jadi maksud guru anak ini akan mengajari kami ilmu yang bernama Pukulan Naga Murka itu?" kata Sasaki Ichia.


"Iya, benar..."


"Apa guru tidak salah? Anak ini... Dia bahkan tampaknya masih seumuran dengan kami semua. Kekuatannya pun belum tentu lebih besar dari saya. Jadi apa dia berpikir dia itu layak untuk mengajari kami, terlebih lagi kakak seeprguruan tertua?" kata Sasaki Ichia dengan nada angkuh. Karena terpengaruh dengan ucapan Sasaki Ichia tiga orang murid lelaki yang lain juga ikut - ikutan meremehkan Argadana.


"Kalau dipikir - pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan Sasaki Ichia. Lagi pula memangnya seberapa jauh perbedaan tingkat tenaga dalam kita? Seumpama dia berlatih sejak di alam kandungan sekalipun mustahil akan menyamai guru kan?" tambah Rin Onikage.


"Kalian...!!!" Nakamura Hayate merasa tidak enak terhadap Argadana dan juga merasa kecewa pada murid - muridnya yang telah mengeluarkan kata yang amat merendahkan Argadana.


Meskipun memang apa yang dikatakan Rin Onikage itu cukup masuk di akal namun dia tetap percaya bahwa kedua anak muda di hadapannya itu mempunyai ilmu tinggi yang tidak bisa diremehkan.

__ADS_1


Jendral Thalaba yang memang mudah terpancing emosinya hendak bangun dan menyerang Sasaki Ichia namun ditahan oleh Argadana.


Ningrum mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Tuan Nakamura... Kami datang kemari hanya mengemban amanat dari guru untuk menyampaikan surat itu. Guru tidak memberi perintah untuk menurunkan Ilmu Pukulan Naga Murka kepada murid - murid tuan. Jadi karena tugas kami sudah selesai di sini maka kami pamit pergi..." kata Ningrum dengan nada kecewa.


Wanita itu lalu menarik lengan Argadana untuk diajak pergi. Yalina dan yang lainnya ikut bangkit dari tempat duduk mereka.


"Ehh... Tu.. Tunggu dulu, anak muda. Tolong maafkan perkataan muridku. Mereka.. Mereka masih belum tahu apa - apa tentang daratan di benua bagian tenggara sana. Tolong tunggu sebentar" bujuk Nakamura Hayate.


"Tidak perlu menahan mereka, guru. Lagipula anak itu bahkan belum tentu bisa mengalahkan aku. Memangnya apa yang membuat dia merasa layak untuk mengajari kami?" kata Kobayashi Tesshu.


"Bodoh...!!!" bentak Nakamura Hayate geram. Kali ini dia tidak bisa membiarkan sifat murid - muridnya yang telah berlaku sombong hanya karena kehebatan mereka cukup terkenal di Kota Shinshiro.


"Kalian menjadi sombong hanya karena kalian telah menjadi seorang samurai terkenal Kota Shinshiro. Kalian fikir Kota Shinshiro ini sudah merupakan sebuah dunia? Kalian lupa bagaimana aku mengajarkan kalian sejak kecil dulu? Apa ketenaran itu sudah membutakan mata kalian? Sadarkah... Di luaran sana masih banyak orang yang lebih kuat dari kalian"


"Emm... Maaf, guru. Saya ada ide"


Yamada Ayame yang sejak tadi hanya diam saja akhirnya angkat bicara.


"Saya tidak bermaksud merendahkan kemampuan saudara - saudara ini. Akan tetapi saya juga tidak berniat membela keempat kakak seperguruan karena perkataan mereka memang sudah kelewat batas" kata Yamada Ayame menatap tajam keempat saudara seperguruannya yang hanya bisa tertunduk diam tidak berani membalas tatapan tajam adik seperguruan mereka yang cantik jelita itu. Hal itu tidak lain adalah karena di antara lima orang murid Nakamura Hayate yang memiliki kekuatan paling besar adalah Yamada Ayame.


"Mereka mungkin meremehkan saudara Argadana karena belum melihat kemampuan saudara. Jadi bagaimana kalau kita adakan adu tanding?" usul Yamada Ayame.


"Apa yang kau katakan, Ayame?" tegur Nakamura Hayate.


Mendengar usulan Yamada Ayame Jendral Thalaba dengan sigap maju selangkah menghentakkan kakinya.


"Aku kusir kereta tuan muda. Siapa yang mau jadi lawanku?" tantangnya dengan nada tinggi.


"Hmph... Kau hanya kusir kuda, sudah berani betul menantang kami para samurai terkenal. Biar aku yang akan bermain - main denganmu" balas Rin Onikage.


"Hahh... Padahal aku sudah mendidik mereka dengan baik sejak kecil. Tidak kusangka mereka akan menjadi orang yang tidak tahu diri. Semua keputusan aku serahkan padamu, nak Argadana"


"Hmm... Murid - murdimu mungkin penasaran ingin melihat jurus - jurus dari daratan tenggara, tuan. Jadi kalau mereka ingin menguji, biar dia kalahkan saja dulu kusir kudaku. Jika dia bisa menang, aku akan pulang ke kampung halaman dan mengundurkan diri dari dunia persilatan. Aku tidak akan pernah menampakkan diri lagi seumur hidupku" kata Argadana mantap.


"Tidak kusangka pertemuan ini malah berakhir begini. Anak muda ini begitu yakin dengan kemampuan kusir kudanya sampai berani membuat taruhan seperti itu. Seberapa kuat dia sebenarnya?"


"Kalau begitu ayo kita mulai saja... Serang aku lebih dulu. Perlihatkan seberapa hebat jurus - jurus yang dimiliki oleh para samurai di negeri ini" ejek Jendral Thalaba melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


"Terlalu banyak bicara. Bersiaplah kusir bodoh. Hiaaattt...!!!"


__ADS_2