Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Pendatang Dari Tempat Yang Sangat Jauh


__ADS_3

"Hmphh... Kalian pikir hanya karena kalian mempunyai kekuatan, kalian bisa seenaknya menindas orang yang lebih lemah? Kalau begitu aku pun bisa melakukannya padamu"


Ningrum menghardik Sukari dengan keras. Gadis itu ingin segera menerjang Sukari tetapi masih ditahan oleh Argadana.


"Gadis jalang, kau tahu apa tentang urusan kami?" bentak Sukari tidak mau kalah.


Argadana mendengar kekasihnya dibentak demikian pun mulai tak terkendali emosinya. Darah siluman mengalir di tubuhnya menyebabkan sifatnya mudah marah dan tersinggung.


Matanya mencorong tajam seolah ingin melahap Sukari hidup - hidup membuat salah satu dari dua Momok Berhati Iblis itu mundur dua langkah karena merasa ngeri dengan tatapan Argadana.


Ningrum juga tidak berbeda jauh. Gadis itu sangat tidak suka disebut jalang. Dia akhirnya melompat melabrak Sukari dengan jurus tangan kosongnya memukul dan menendang mengincar bagian - bagian terlemah Sukari.


Sukari yang telah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan juga tak mau kalah. Berbekal jurus tingkat tinggi miliknya yang dia pelajari selama tinggal di Bukit Halilintar, dia meladeni serangan - serangan Ningrum.


Wus...


Plak...


Terdengar suara beradunya tangan Ningrum dan Sukari sangat nyaring pertanda keduanya mengerahkan tenaga dalam tinggi.


Argadana membiarkan Ningrum melepaskan kekesalannya dengan menyerang Sukari, sementara dia sendiri segera mendekati Macao dan menyodorkan sebutir pil berwarna coklat padanya.


"Minumlah, kisanak. Jika Allah berkehendak, in sya Allah racun yang mengendap di tubuhmu akan musnah"


"Eh... Terimakasih, kisanak" kata Macao seraya menelan pil yang diberikan Argadana.


Sementara itu pertarungan antara Ningrum dan Sukari masih berjalan alot.


Sukari merasa kelimpungan menyerang Ningrum yang hanya bertingkah seperti orang mabuk, sebentar - sebentar sempoyongan bergerak ke kiri dan kanan tidak beraturan tetapi ketika diserang tubuhnya mendadak jadi tegap dengan sangat cepat dan melakukan serangan balik yang sangat sulit dihindari. Tahu - tahu tendangannya sudah menyasar di pinggang Sukari. Karena tenaga dalam yang dikerahkan Ningrum cukup tinggi, Sukari merasa nyeri yang luar biasa pada pinggangnya yang tadi terkena sabetan kaki Ningrum.


"Perempuan set4n. Kubunuh kau" geram Sukari yang merasa diremehkan oleh lawan yang berpose seperti orang mabuk itu.


Dia menyerang lagi dengan lebih ganas. Kali ini jurus utama dikeluarkannya. Tangannya seperti Sukara tadi ketika menggunakan jurus raja kobra mengepulkan asap berbau amis.


Ningrum sadar lawan telah menggunakan racun dalam pertarungan kali ini berusaha sebisa mungkin menghindari kontak fisik secara langsung. Hal itu sebenarnya bukanlah hal yang perlu dilakukan Ningrum sebab tubuhnya sendiri sudah kebal terhadap segala macam racun setelah dulu berendam di dalam ramuan kebal racun racikan Dewi Obat. Hanya saja, Putri Kerajaan Sampang Daru itu sangat membenci racun sehingga dia tidak ingin bersentuhan barang sedikitpun dengan sesuatu yang beracun.

__ADS_1


Ke hati - harian itu membuat Ningrum kesulitan hingga pada suatu kesempatan ketika Ningrum lengah karena sibuk menghindari tapak beracun yang mengincar wajahnya, Sukari mendadak merubah gerakan tangannya dan memukul perut Ningrum dengan jurus raja kobra beracun andalannya. Ningrum terdorong mundur lima langkah karena jurus raja kobra tadi menggunakan sebagian besar tenaga dalam Sukari. Perutnya terasa sedikit mulas akibat serangan tapak itu, namun demikian tidak terjadi apa - apa pada dirinya.


Sukari sangat terkejut melihat jurus beracun andalannya bahkan tidak dapat melukai gadis yang menjadi lawannya ini.


"Ini... Bagaimana mungkin? Racun jurus raja kobra milikku, bagaimana mungkin kau masih bisa baik - baik saja setelah menerima serangan ku?" teriak Sukari tidak percaya.


"Hmmphh... Masih ada banyak hal yang tidak kamu ketahui di dunia ini, kisanak. Jangan kah menjadi katakan dalam sumur. Racunnu tidak akan bekerja pada tubuhku" jawab Ningrum lalu menyerang kembali dengan jurus umbak segara.


Kecepatan gerakan dan serangan bertubi - tubi dari jurus tersebut membuat Sukari kelabakan sendiri. Pasalnya sasaran yang ditujukan oleh jurus itu sangat berbanding terbalik dari gerakan awalnya. Sukari melihat Ningrum menyerang leher bagian kanan. Ketika tangan kanan Sukari terangkat untuk menangkis, ternyata serangan yang datang justru berasal dari arah kiri.


"Serangan itu terlihat acak dan banyak tipu dayanya" kata Sukari membatin.


Tanpa disadarinya kaki mulus Ningrum sudah dengan cepat menjejak ulu hatinya tanpa dia dapat berkelit. Hasilnya sudah tentu Sukari terlempar sejauh enam tombak. Darah mengalir dari sudut bibirnya pertanda ia menderita luka dalam yang cukup parah.


"B4ngsat. . . Aku akan mengadubjiwa denganmu"


Sukari menyilangkan kedua tangan di depan perutnya kemudian tangan kanan diangkat sejajar bahu. Sekejap kemudian tangannya dari siku sampai pergelangan berubah warna menjadi hijau.


"Pukulan kelabang hijau. Hiaaatt. . ."


Seiring bentakan Sukari terdengar melesatlah seberkas cahaya berwarna hijau dari kepalan tangan Sukari yang didorongkannya ke depan ke arah Ningrum.


"Haaattt.. .. "


Wuss....


Seberkas sinar berwarna keperakan keluar dari telapak tangan Ningrum melabrak sinar hijau milik Sukari.


Duarrr. . .


"Aaakhh. . . "


Ledakan besar tercipta dari tabrakan dua tenaga dalam tinggi.Dari adu pukulan tersebut Ningrum terseret ke belakang sejauh sepuluh langkah dengan dada sesak, namun tidak demikian dengan Sukari. Salah seorang dari dua Momok Berhati Iblis itu melayang bagai daun tertiup angin membentur sebatang pohon hingga batang pohon tersebut patah. Dia terjatuh muntah darah.


"Kau tidak apa - apa, dinda?" tanya Argadana yang segera menghampiri Ningrum bersama Macao yang telah sembuh dari luka dalamnya.

__ADS_1


"Aku tidak apa - apa, kakang. Hanya sedikit sesak karena benturan tadi" jawab Ningrum.


Sementara itu Sukari tengah berkutat mencoba untuk bangun dengan tubuh terasa remuk dan nafas senin kemis.


"Bangs4t. . . Ilmu iblis apa yang digunakan gadis s3tan itu? Dadaku rasanya seperti jebol hanya karena benturan pukulan kami" umpatnya dalam hati lalu menelan sebutir pil penawar racun kelabang hijau.


Tidak jauh dari tempat Sukari bersemedi memulihkan kondisi tubuhnya, Sukara yang telah selesai memulihkan tenaganya akibat benturan dengan Argadana tadi segera bangun menghampiri kakaknya.


Argadana menghampiri kedua kakak beradik dari golongan sesat tersebut diikuti Ningrum dan Macao. Sedangkan Sukari dan Sukara yang keadaan tubuhnya belum sepenuhnya pulih memasang kuda - kuda siap tarungnya dengan lutut bergetar.


"Aku tidak akan meneruskan pertarungan. Sebaiknya bertaubat saja, sebelum terlambat. Selagi umur masih panjang" Argadana menasehati keduanya sebelum mengajak Macao dan Ningrum meninggalkan tempat itu.


"Kau boleh senang hari ini, anak muda. Tapi tunggulah, ketika saatnya tiba kami pasti akan meenagih kembali hutang ini bersama dengan bunganya" teriak Sukari dari kejauhan.


Argadana tidak menoleh, hanya menanggapi kata - kata Sukari dengan senyuman.


***


"Terimakasih banyak atas pertolongan kisanak dan nisanak berdua tadi. Jika tidak, mungkin saya sudah melayat ke akhirat tadi di tangan dua orang kuat itu"


Macao membungkukkan tubuhnya pada Argadana dan Ningrum.


"Sama - sama, kisanak. Tidak perlu sungkan begitu, memang kita sebagai sesama manusia berkewajiban untuk tolong menolong dalam kebajikan" kata Argadana balas membungkukkan badannya yang diikuti oleh Ningrum.


"Ahh... Nama saya Macao. Saya berasal dari tempat yang sangat jauh, bernama Benua Eropa" kata Macao memperkenalkan diri.


"Emm... Pantas saja saudara Macao terlihat seperti bukan orang asli sini, dan berbicaranya sedikit kaku. Ternyata orang dari tempat yang sangat jauh. Saya Argadana" sahut Argadana ikut memperkenalkan diri.


"Dan ini adik seperguruan saya, namanya Ningrum"


"Senang berkenalan dengan Nona Ningrum" Macao menundukkan kepalanya.


"Ehh... Panggil Ningrum saja, tuan. Biar akrab"


"Ahh... Kalau begitu kalian juga bisa memanggil nama saya saja"

__ADS_1


Begitulah perkenalan mereka berlangsung. Macao menceritakan tentang asal - usul dan tujuannya bepergian hingga ia tiba di tempat yang sangat jauh, yaitu Benua Asia.


Pemuda asing itu ternyata adalah utusan seorang pemimpin negeri yang ditugaskan melakukan pengejaran terhadap seorang pemberontak yang berhasil kabur dan membawa lari banyak senjata - senjata dari gudang penyimpanan senjata di istana.


__ADS_2