Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Bedil Dan Bom 2


__ADS_3

Berbagai binatang jenis unggas yang terbang turun bergerombol di tengah jalan setapak yang dilalui oleh tiga orang anak muda, tiga lelaki dan seorang lagi wanita.


Lelaki yang pertama berwajah tampan memiliki rambut berwarna kuning mengkilat diterpa sinar mentari. Di tengah - tengah dahinya terdapat rajah gambar pedang berwarna merah.


Lelaki yang satunya lagi sama memiliki wajah yang cakap, tetapi warna rambutnya putih keabu - abuan.


Lelaki ke tiga adalah seorang pria berumur sekitar tiga puluhan menggunakan seragam prajurit Datu Gumi.


Adapun wanita di sebelah mereka adalah gadis berwajah bulat telur, berhidung bangir. Rambutnya panjang hingga ke punggung, lurus digelung indah. Di balik punggungnya tergantung pedang berbentuk indah dengan sarung berwarna putih kebiruan.


Keempat orang itu memang Argadana bersama Macao dan Ningrum yang telah menolong seorang telik sandi Kerajaan Datu Gumi yang kini tengah mengobrol bersama mereka tentang senjata bedil dan bom yang dirancang di negeri Macao di Benua Eropa.


"Jadi apa kegunaan senjata bedil dan bom itu, Macao?" Ningrum bertanya penasaran.


"Di negeri kami di Eropa sana, tidak ada sama sekali yang namanya ilmu kanuragan maupun kedigdayaan. Kami hanya mengenal pukulan dan tendangan untuk membunuh selain dengan senjata tajam biasa. Di sana juga tidak mengenal yang namanya senjata pusaka. Tetapi orang - orang di negeri kami terkenal dengan kecerdasan mereka"


Macao berhenti sebentar dari berceritanya, dia mencabut rumput kecil di dekatnya dan menghisao - hisapnya untuk menghilangkan kebosanan.


"Ketika menghadapi situasi perang, senjata tajam seperti pedang hanya dapat menjangkau jarak tertentu dan lemah terhadap serangan dari jarak jauh. Sedangkan senjata jarak jauh seperti busur dan anak panah sangat sulit untuk mengincar sasaran yang tepat karena harus menyeimbangkan antara kekuatan daya lesat busur dan bobot anak panah, selain lemah terhadap serangan jarak dekat"


Argadana, Ningrum dan telik sandi Kerajaan Datu Gumi yang bernama Jaya Ruma mendengarkan dengan seksama penjelasan Macao tanpa memotong sedikitpun.


"Untuk itu para ilmuwan di negeri kami mencoba menciptakan senjata yang dapat saling menutupi kekurangannya sehingga senjata yang digunakan prajurit kami kuat dalam segi pertarungan jarak dekat, juga tidak kalah kuat dalam pertempuran jarak jauh"

__ADS_1


Macao berhenti sebentar untuk menggambar sebuah benda berbentuk laras panjang dengan pisau panjang menjadi ujungnya. Itu adalah bedil, senjata pusaka yang dikatakan Jaya Ruma sebagai tombak yang dapat meledak.


Macao menunjuk gambar pisau di bagian ujung bedil tersebut


"Pisau panjang ini dipasang di bagian ujung bedil gunanya adalah untuk pertarungan jarak dekat dan dapat melawan senjata berupa pedang karena seluruh badan bedil ini terbuat dari baja pilihan. Di bawah pisau panjang ini terdapat sebuah lubang yang nantinya akan melesatkan peluru yang terbuat dari besi yang keras dengan sangat cepat. Bahkan saking cepatnya lesatan peluru tersebut sampai tidak terlihat mata. Cara menggunakannya adalah dengan menarik pelatuk di bagian gagangnya ini dan mengarahkan ujungnya pada sasaran yang diinginkan. Jadi dengan bedil ini prajurit kami dapat unggul dari prajurit lain baik dari jarak dekat maupun jarak jauh" kata Macao sambil menunjuk gambar pelatuk pada bedil tersebut.


"Dan bom sendiri sebenarnya adalah pelengkap, tapi demikian bom lebih berbahaya lagi. Jika bedil hanya dapat membunuh satu sasaran saja, maka bom dapat membunuh lima orang sekaligus yang masuk dalam jangkauan ledakannya. Cara menggunakannya hanya cukup dengan melemparkan ke arah yang dikehendaki dan.... Bummmm.... Bom tersebut akan meledak dengan sendirinya ketika mengalami benturan"


Ketiga penyimaknya yaitu Argadana, Ningrum dan Jaya Ruma tercengang dengan penjelasan tersebut. Jadi begitu cara bertahan hidup orang - orang yang tidak memiliki ilmu kanuragan dan kedigdayaan. Begitulah dalam pikiran ketiganya.


"Itu artinya Kerajaan Datu Gumi sekarang berada dalam bahaya" kata Ningrum dengan suara bergetar.


"Jadi bagaimana rencanamu, Kakang Ruma? " tanya Argadana yang mulai terbiasa memanggil Jaya Ruma dengan sebutan kakang karena umurnya paling tua di antara mereka berempat.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Argadana?" tanya Macao.


Hening cukup lama. Tidak ada jawaban dari Argadana membuat Macao mengerutkan dahinya karena heran. Pemuda sakti itu hanya menggerakkan sedikit kepalanya seperti sedang mendengar sebuah suara di kejauhan. Ningrum yang keheranan dengan sikap Argadana pun mencubit tangan kekasihnya itu untuk menyadarkannya.


"Ehh. . . " Argadana terkejut dengan cubitan Ningrum.


"Kenapa malah bengong?" Ningrum menggembungkan pipinya karena kesal.


"Ahh... Tidak apa - apa. Kita juga ikut ke Datu Gumi"

__ADS_1


Mereka berempat lalu membeli kuda tunggangan setelah tiba di sebuah perkampungan dan melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda masing - masing.


Apa yang sebenarnya dilamunkan oleh Argadana hingga wajahnya terlihat aneh ketika ditanya oleh Macao tadi?


Sebenarnya saat itu dia mendapatkan informasi tentang keberadaab La Huda yang saat ini telah bergabung bersama Kerajaan Sakra dan membawa semua murid - muridnya untuk membantu kerajaan itu dalam perang melawan Kerajaan Datu Gumi. Informasi tersebut dia dapatkan dari salah seorang prajurit Kerajaan Siluman Darahnya yang menyamarkan bentuknya menjadi seekor nyamuk dengan ilmu yang bernama Balik Mue.


Ilmu itu merupakan ilmu khusus yang hanya dapat dikuasai oleh bangsa siluman yang membuat penggunanya dapat merubah bentuk tubuhnya menjadi apapun sesuai keinginannya.


Ilmu itu adalah satu - satunya ilmu yang tidak dapat dipelajari Argadana dari kaum Siluman Darah karena di dalam tubuhnya mengalir juga darah manusia yang berasal dari ayahnya, Lalu Askar Wirajaya. Setiap kali Argadana mencoba merapalkan mantra untuk menggunakan ilmu balik mue tersebut, separuh tubuhnya akan seperti mati rasa dan darah di tubuhnya akan bergejolak. Semakin kuat dia mencobanya, semakin kuat juga tolakan dari darahnya itu. Akhirnya Argadana menyerah untuk mempelajari ilmu siluman tersebut.


***


"Apa prajuritmu sudah siap semua, panglima?"


Seorang lelaki berwajah tirus dipenuhi cambang namun tetap memancarkan wibawa seorang pemimpin bertanya.


"Iya, yang mulia. Semua prajurit sudah dibekali dengan senjata bedil dan bom sesuai arahan paduka" jawab seorang pria gagah berusia empat puluhan tahun.


"Bagus... Kali ini kita pasti akan berhasil merebut wilayah itu"


Kedua orang yang bercakap - cakap itu adalah Raja Walung Hagra, Raja Kerajaan Sakra dan Panglima Besarnya yaitu Panglima Danang Kamba. Mereka secara diam - diam telah melatih prajurit mereka dalam menembak menggunakan bedil yang baru mereka peroleh dari Sekutu mereka, Alfonso dengan imbalan jaminan keselamatannya ditanggung oleh Kerajaan Sakra.


"Setelah para prajurit kita terlatih dengan baik dalam menggunakan senjata - senjata ini, kita baru akan menggempur habis tanah Datu Gumi dengan kekuatan penuh. Hahahaha.... " terdengar suara Raja Durja tertawa terbahak - bahak.

__ADS_1


__ADS_2