Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Saudara Angkat


__ADS_3

"Hmphh ... Rupanya ada juga orang - orang yang tidak takut mati di sini"


Warok Benggala, nama ketua yang memimpin sepuluh orang tersebut menegur dengan kasar.


Argadana dan pemuda bercaping tetap melanjutkan makan mereka dengan tenang tanpa menghiraukan sepuluh orang berangasan yang baru saja datang.


Warok Benggala yang diabaikan begitu saja oleh dua orang pemuda itu menjadi marah bukan main.


"Bagus.. bagus sekali. Karena kalian tetap diam, maka kalian diamlah saja seterusnya"


Warok Benggala melambaikan tangan memberi isyarat sembilan anak buahnya untuk menyerang.


Sranggg ...!!!


Sembilan anak buah Warok Benggala menghunus senjata masing - masing dan bergerak menyerang Argadana dan pemuda bercaping yang tidak dikenal itu.


Trang. . .


Argadana menjepit pedang salah seorang dan digunakannya pedang itu untuk menangkis semua senjata yang mengarah padanya.


Di belakang Argadana, pemuda bercaping tak dikenal hanya menghindar ke kiri dan ke kanan sambil tetap menyantap makanannya, dan sesekali melemparkan tulang paha ayam ke arah para penyerang membuat kalang kabut orang - orang berangasan itu.


Dukk ... Brak ...


"Akkhhh ..."


Salah satu anak buah Warok Benggala terpental melabrak meja hingga hancur setelah terkena tendangan Argadana.


Di belakang juga tampak pemuda bercaping yang sudah menyelesaikan makannya dengan cepat melambaikan tangan dan ...


Wuuttt. . .


Serangkum angin kencang menerpa tubuh tiga orang yang mengeroyok pemuda bercaping hingga terlempar keluar menerobos jendela dan jatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Tiga orang sisanya yang mengerubuti Argadana juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Meski tidak terlempar keluar, tapi mereka terbaring di lantai memegangi perut mereka yang terasa mulas karena mendapat bogem mentah Argadana.


Pemuda bercaping mengangkat sedikit capingnya dan menatap Argadana sehingga terlihatlah wajahnya yang cakap dan berkulit putih. Yang ditatap hanya tersenyum dan menundukkan kepala hingga pemuda bercaping pun membalas menundukkan kepalanya.


"Mau lari kemana kau?" teriak pemuda bercaping melihat Warok Benggala sudah berada di luar kedai hendak melarikan diri setelah melihat sendiri kehebatan dua orang pemuda itu.

__ADS_1


Argadana mengalihkan pandangannya pada Warok Benggala dan mengikuti pemuda bercaping yang melakukan pengejaran.


Dalam beberapa helaan nafas saja pemuda bercaping dan Argadana telah berhasil mencegat lari Warok Benggala karena ilmu meringankan tubuh mereka yang sangat tinggi.


Warok Benggala tanpa ba bi bu lagi langsung bersujud di hadapan kedua pemuda itu.


"Aa...ampun. . . Ampun, tuan muda. Saya janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan saya, tuan muda. Saya janji akan bertobat" kata Warok Benggolo dengan wajah pucat pasi bagai tak berdarah.


"Orang sepertimu memang tidak pantas diberi ampun" kata Argadana sinis membuat nyali Warok Benggala semakin keder.


"Tunggu dulu, saudara. Bukankah seorang pendekar dilarang membunuh orang yang sudah tidak berniat melawan" berkata pemuda bercaping yang salah paham. Dia mengira Argadana akan benar - benar membunuh perampok itu, padahal itu sengaja dilakukan Argadana untuk menakut - nakuti Warok Benggala agar kelak di kemudian hari tidak mengulangi lagi perbuatannya.


"Be..benar, tuan muda. Saya sungguh sungguh, saya akan bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi" kata Warok Benggala memelas.


Argadana tampak berpikir cukup lama.


"Baiklah.. untuk kali ini kumaafkan. Tetapi ingat, jika kelak kita bertemu kembali dan kau masih dalam keadaan yang sama seperti saat ini. Maka kau tahu akibatnya ..." ancam Argadana.


"Ba... Baik, tuan muda. Terimakasih, kalau begitu saya pergi dulu"


"Heii ... Mau kemana kau?"


"Kau memang tidak jadi dibunuh, tapi bukan berarti kau bisa bebas begitu saja setelah membuat resah banyak warga. " sambar pemuda bercaping lalu bergerak cepat menotok tubuh Warok Benggala yang tidak sempat menghindar dengan tongkat bambu kuningnya.


"Ahh ... Maaf, saudara ... Eee. ..??"


"Argadana, Lalu Argadana"


"Ahh... Saudara Argadana, jadi bagaimana kita akan menangani orang mereka semua?" pemuda bercaping meminta pendapat Argadana


"Kita bawa saja ke kadipaten, biar Adipati yang memutuskan hukuman apa yang akan mereka terima"


Akhirnya sepuluh kawanan Warok Benggala digiring ke kadipaten. Adipati Kusuma sangat senang mendapat kabar salah satu di antara beberapa komplotan yang sering meresahkan warganya telah tertangkap. Sejak beberapa bulan yang lalu pihak kadipaten telah mengutus banyak prajurit untuk memberantas mereka semua, tapi hanya beberapa saja yang tertangkap sementara sisanya licin bagai belut. Mereka selalu berhasil melarikan diri ketika hendak ditangkap oleh pasukan dari Kadipaten Arum Kenanga.


Oleh sebab itu ketika Argadana dan pemuda bercaping itu yang telah memperkenalkan dirinya bernama Handra Wiraguna sampai di depan pintu gerbang kadipaten mereka di sambut dengan penuh hormat oleh Adipati Kusuma.


"Selamat datang, para tuan pendekar. Kami sangat berteri. . ." suara Adipati Kusuma tercekat di tenggorokannya melihat pemuda Handra Wiraguna sedikit mengangkat caping lebar yang menutupi wajahnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang gemetar


"Pange. . ."

__ADS_1


Sebelum Adipati Kusuma menyelesaikan kata - katanya, Handra Wiraguna telah memotong lebih dulu dengan mata mendelik.


"Nama saya Handra Wiraguna, dari Bukit Macan"


"Ughh ..."


Adipati Kusuma hanya dapat mengeluarkan keluhan kecil ketika mendengar kalimat Handra Wiraguna yang mendelik padanya.


"Ahh ... Baiklah, Pa.. eh. . . Tuan pendekar berdua, mari silakan masuk dulu. Kami akan menjamu tuan sebagai ucapan terimakasih kami"


Argadana yang melihat kejanggalan tersebut hanya mengerutkan dahi sebntar tanda tidak mengerti tapi akhirnya tidak memikirkan terlalu jauh dan ikut masuk ke dalam bersama Adipati Kusuma dan Handra Wiraguna.


***


"Saudara Argadana. Kemana tujuanmu setelah ini?"


Handra Wiraguna bertanya pada Argadana setelah mereka keluar dari gedung kadipaten menyaksikan hukuman penjara yang dijatuhkan Adipati Kusuma atas pelanggaran yang diperbuat Warok Benggala dan anggotanya.


"Ahh ... Aku hendak pergi ke Kota Raja. Aku ingin menghadiri acara perayaan hari ulang tahun adik seperguruanku" jawab Argadana singkat.


"Hey ... Kebetulan, kita punya tujuan yang sama. Kakak ku juga di Kota Raja akan mengadakan acara perayaan ulang tahunnya sebulan lagi. Apa jangan - jangan adik seperguruanmu adalah kakak ku?"


"Eehh ... Mana ada kebetulan seperti itu, saudara Handra"


"Hmm ... Benar juga. Ohya, saudara Argadana. Kau tampaknya lebih tua dariku, dan aku juga telah melihat sepak terjangmu saat menghadapi perampok tadi. Kulihat kau orang yang baik. Jadi apa kau mau mengangkat saudara denganku? Jadi aku bisa memanggilmu kakang" tanya Handra Wiraguna dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"Memangnya kau bersedia berteman dengan orang miskin seperti aku?"


"Kata ayah kaya dan miskin itu bukan ukuran sebuah kemuliaan. Seberapa takwa dan seberapa besar manfaat seorang manusia bagi manusia lain, itu ukuran derajat yang sesungguhnya di mata manusia juga sang pencipta"


Argadana terpukau mendengar kalimat yang sangat indah itu. Argadana membatin


"Melihat tingkah dan caranya berkata, anak ini pasti anak seorang bangsawan atau setidaknya seorang berkedudukan di Kota Raja"


"Jadi bagaimana, saudara Argadana?" Pertanyaan Handra Wiraguna membuyarkan lamunan Argadana.


"Ahh ... Baiklah, semoga menjadi saudara angkat denganmu juga merupakan sebuah kebaikan" kata Argadana


"Baiklah ... Hari ini, aku Handra Wiraguna bersumpah mengangkat manusia bernama Lalu Argadana sebagai saudara angkatku. Semoga Allah memberkati sumpahku..."

__ADS_1


Argadana juga lalu mengucapkan sumpah yang sama seperti Handra Wiraguna sehingga pada hari itu mereka berdua telah resmi menjadi saudara angkat dengan Argadana yang lebih tua sebagai kakak sedangkan Handra Wiraguna sebagai adiknya"


__ADS_2