
Wusss......
Angin bertiup kencang di hutan itu menerbangkan dedaunan kering. Burung - burung beterbangan ke segala arah. Pohon - pohon besar berguncang, dan bahkan sebagian ada yang tercerabut dari akarnya.
Binatang - binatang buas di dalam hutan itu berlarian secara bergerombol menuju arah yang sama.
Di jalur yang ditujukan oleh sekelompok binatang buas itu terlihat seorang pemuda tampan berambut emas berkilau diterpa sinar mentari senja yang mengintip melalui celah - celah kecil di rerimbunan pohon - pohon.
Binatang buas tersebut mulai dari ular, harimau, srigala, macan dan sebagainya menundukkan kepala mereka di hadapan pemuda yang seluruh tubuhnya kini telah terbungkus cahaya berwarna kekuningan tersebut.
Di lihat dari warna rambutnya yang khas itu, pemuda tersebut pastinya adalah Argadana, putra Dyah Ayu Pitaloka. Pemuda sakti itu mengeluarkan hawa kekuatan mutlak Raja Naga untuk memanggil seluruh binatang buas yang berada di hutan tersebut. Tetapi dampak dari pengerahan kekuatan sebesar itu ikut juga dirasakan oleh kawan - kawan Argadana yang lain sehingga kecuali Ningrum, mereka yang lain seperti Ranjani, Macao, Jaya Ruma dan Rimang yang telah pulih kembali kekuatannya segera mengerahkan tenaga dalam mereka untuk melindungi diri agar tidak terseret angin beliung yang disebabkan pancaran kekuatan Raja Naga.
Macao, Ranjani, Jaya Ruma dan Rimang segera memasang kuda - kuda bertarung ketika melihat sekawanan binatang buas mendatangi tempat mereka. Keempatnya mengira segerombolan binatang buas itu hendak menyerang.
Argadana tersenyum melihat banyak binatang buas berkumpul karena menyadari panggilannya. Dia lalu menoleh ke arah Sudra dan komplotannya yang kini telah tergantung dengan posisi terbalik.
"Nah, kalian lihat. Binatang - binatang buas ini sangat patuh kepadaku. Jika mereka kuperintah untuk menguliti kepala kalian, maka mereka akan melakukannya saat itu juga" kata Argadana menakut - nakuti mereka.
Sudra merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ancaman Argadana. Anak buahnya yang lain pun demikian, bahkan sudah ada yang seluruh tubuhnya basah karena air seninya keluar mengalir melalui tubuhnya disebabkan posisi bergantungnya yang terbalik.
Argadana yang menyadari peluang emas datang tidak mau menyia - nyiakan begitu saja. Segera dia menoleh ke arah harimau itu lalu menggoyangkan kepalanya mengarahkan harimau itu untuk mendekati anak buah Sudra yang sudah terkencing di celana saking takutnya itu.
Khhrrrhhghhh.....
Lima ekor harimau menghampiri orang yang terkencing tadi sambil menggereng memperlihatkan taring - tating tajamnya di depan komplotan Sudra yang bernama Imbar itu.
"Aaaahhh..... Tolong... Tuan muda, tolong ampuni aku, tuan muda. Aku akan bicara... Yaahh.... Aku mau bicara" teriak Imbar entah karena gugup atau takut melihat taring tajam nan panjang milik harimau di hadapannya.
Putra Panglima Lalu Askar Wirajaya tersenyum.
__ADS_1
"Kalian mundur dulu... Dia sepertinya mau membuka mulut" perintah Argadana.
Binatang mengerikan itu menurut dan kembali ke tempatnya semula.
"Kurang ajar kau, Imbar. Dasar pengkhianat hina. Terkutuk...."
Sudra memaki Imbar dengan sangat kasar.
Mendengar teriakan Sudra, Argadana lalu menoleh dan menatap tajam Sudra yang langsung terdiam seketika itu juga merasakan tekanan yang sangat besar dari tatapan mencorong pemuda itu.
Sekali lagi Argadana menatap semua makhluk buas yang datang karena panggilannya dan berkata memberi perintah.
"Bagi mereka - mereka yang tidak mau membuka mulutnya, tubuhnya boleh menjadi penyumpal mulut kalian. Mungkin akan butuh waktu tiga hari bagi kalian untuk dapat menghabiskan dagingnya" kata Argadana.
Aaarrrggghhh. . .
Cs ssstttt. . .
Mendengar berbagai suara mengerikan dari binatang buas yang sebentar lagi akan memangsa mereka Sudra pun mau tak mau jadi jeri juga. Begitu pun anak buahnya.
"Anak ini jauh lebih mengerikan dari pemuda sinting itu. Jika binatang celaka itu benar - benar memangsa kami, bisa bahaya. Masih bagus kalau gigitan mereka bisa membunuh dalam sekejap, kalau masih harus menderita berkepanjangan sampai tiga hari tiga malam.... Ikkkhhh. . . "
Situasi yang di ujung tanduk membuat Sudra berpikiran demikian membuat tubuhnya merinding. Tanpa disadarinya tengkuknya terasa dingin membayangkan kejadian yang akan menimpa nya jika masih bersikeras tidak mau angkat suara.
"Ampunn..... Ampun... Tolong menjauhlah, kami akan bicara"
Akhirnya komplotan prajurit pembangkang itu menyerah juga dengan pendirian mereka.
"Nah. Kalau kalian dari tadi mau bicara, kan bagus. Jadi tidak perlu membuat teman kalian kencing di celananya. Hahaha.... " celetuk Danupaksi yang telah kembali sifat ugal - ugalannya.
__ADS_1
Sudra lalu mengatakan semua informasi rahasia yang diketahuinya tanpa ada yang ditutup - tutupi. Mulai dari Kerajaan Sakra yang dibantu oleh Perguruan Tengkorak Darah atas perintah ketuanya secara langsung, juga tentang persenjataan lengkap yang diberikan Kerajaan Sakra untuk para prajurit kadipaten yang akan melakukan makar terhadap Datu Gumi, juga tentang wilayah - wilayah mana saja yang telah bergabung dengan kelompok pemberontak itu.
Mendengar banyaknya wilayah yang telah terhasut untuk memberontak membuat Argadana dan kawan - kawannya terkejut bukan main. Ternyata pergerakan Kerajaan Sakra sangat cepat. Bahkan pengaruhnya telah meluas begitu jauh, sampai - sampai ada penyusup yang khusus disewa oleh Kerajaan Sakra untuk membunuh Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya dalam peperangan nanti. Penyusup itu berhasil masuk dalam tim bentukan yang dikhususkan untuk melindungi Panglima Besar Askar Wirajaya dan direncanakan akan menjalankan tugasnya pada saat perang nanti ketika Panglima tersebut lengah karena perhatiannya akan lebih terfokus dalam taktik peperangan.
Walau merasa geram, Argadana tidak mau mengambil keputusan secara terburu - buru. Setelah melepaskan Sudra dan kelompoknya binatang - binatang buas itu pun kembali ke tempat mereka masing - masing.
Sudra dan anak buahnya yang sudah terlanjur membocorkan rahasia tentang rencana Kerajaan Sakra tidak lagi memiliki nyali untuk kembali ke kadipaten karena takut ketahuan. Akhirnya mereka memilih untuk pergi sejauh mungkinmungkin Kadipaten Gerah.
"Apa langkah kita selanjutnya, ketua?" tanya Danupaksi.
"Hmm. . . Untuk langkah selanjutnya kau antar dulu aku ke markas pusat Pecahan Kelemahan kalian. Ada tugas khusus yang akan kuberikan"
"Baik, ketua. Silakan ikuti saya"
Danupaksi lalu bersiul sebanyak-banyaknya tiga kali. Tidak lama kemudian terdengar suara gemuruh kaki kuda dari arah belakang mereka. Kuda tersebut menundukkan kepalanya di depan Argadana membuat bingung Danupaksi.
"Ehh, eh. . . Kau ini bikin malu saja. Ayo kita akan pulang" Danupaksi membentak kudanya karena merasa tidak enak dengan kelakuan binatang tunggangannya itu. Tapi anehnya kuda itu sama sekali tidak bergeming, meski tali kekangnya sudah ditarik kuat oleh Danupaksi.
Setelah Argadana mengangguk, barulah kuda itu mau menuruti tuannya.
"Seperti biasa, binatang apapun yang bertemu dengannya pasti akan menundukkan kepalanya. Anak ini selain kekuatannya tidak dapat diukur, kemampuannya juga aneh sekali" batin Macao menggelengkan kepalanya.
***
"Tidak biasanya ruanganku dimasuki seekor kupu - kupu. Sangat indah pula" kata seorang pria paruh baya. Keseluruhan rambut pria itu telah berwarna putih. Wajahnya dipenuhi kerutan - kerutan. Janggutnya panjang sedada juga telah berwarna putih. Jubah serba merah yang dikenakannya menimbulkan kesan kegagahannya sendiri meski usianya sudah tergolong senja.
Lelaki tua itu di dunia persilatan biasa disebut Pendekar Bayangan Sukma. Nama aslinya adalah Aksara Buana.
"Mungkin akan ada tamu yang berkunjung kemari, kakang"
__ADS_1
Seorang perempuan di samping Aksara Buana yang menjawab. Dilihat dari raut wajahnya, perempuan itu tampak berusia sekitar empat puluhan tahun. Wajahnya tirus, kulit keriputnya tidak dapat menutupi garis - garis kecantikannya di masa muda. Dia adalah Sendang Sari, istri Aksara Buana.