
Buk...
Raja Naga dan Naga Guntur terlempar cukup jauh. Karena tubuh mereka berdua yang berukuran sangat besar ketika menyentuh tanah debu - debu seketika mengepul menghalangi pemandangan. Puluhan orang pendekar dari golongan putih maupun hitam yang tertimpa tubuh kedua ekor naga itu tentu saja mati dengan tubuh gepeng membuat ciut nyali semua orang.
"Naga yang satu itu rupanya tidak peduli mana kawan maupun lawan. Menghindar dari pertarungan para naga kalau tidak ingin mati dengan tubuh gepeng seperti mereka yang lain" teriak salah seorang pendekar golongan putih yang tadi sempat bertarung di dekat area tersebut dan nyaris tertimpa tubuh besar Naga Guntur.
Sementara itu Raja Naga menggoyang - goyangkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa pusingnya setelah terkena sabetan ekor Naga Iblis.
"Dia tidak mudah dilawan hanya dengan mengandalkan seperempat dari kekuatan kita" berkata Naga Guntur
"Yahh... Mau bagaimana lagi. Kekuatan kita bisa menghancurkan tempat ini jika kita keluarkan seluruhnya. Tuan juga sudah berpesan demikian" kata Raja Naga pelan.
"Kalian menyingkirlah... Tampaknya anggota inti dari gabungan pendekar golongan hitam telah mulai menampakkan diri. Kalian bisa bermain - main dengan mereka. Cacing kecil ini biar menjadi urusanku" teriak Argadana di antara suara deru angin dan aduan pedang yang menimbulkan suara hiruk pikuk.
"Baik, tuan... Berhati - hatilah. Dia tidak pandang bulu, tidak peduli serangannya akan mengenai kawan atau lawan. Serangannya membabi buta"
Raja Naga dan kedelapan naga lainnya segera pergi dari sana dan hanya meninggalkan Naga Iblis dan Argadana yang sedang saling tatap dengan mimik wajah serius.
"Siapa kau, manusia? Kau berani mencampuri urusanku. Apa kau tidak menyadari kemampuanmu? Bahkan sembilan ekor naga lemah itu bukan lawanku. Apa yang membuatmu begitu yakin bisa mengurusku sendiri dengan kemampuanmu?" tanya Naga Iblis menggoyang - goyangkan ekornya yang menerbangkan debu - debu di sekitarnya.
"Hm... Kau baru menjelma menjadi cacing kecil, sudah berani menunjukkan sikap jumawa di hadapan raja ini. Apa kau pikir sembilan ekor nagaku itu hanya makhluk - makhluk lemah yang bisa dengan mudah kau hadapi? Kalau bukan karena aku memberi mereka perintah untuk menekan sebagian besar kekuatan mereka, apa kau pikir kau akan sanggup bahkan hanya untuk menghadapi Naga Giok saja?"
"Hmph.... Anak bau kencur masih saja suka pamer. Aku sudah berumur ribuan tahun, nak. Dulu aku pernah membantai seluruh klan naga karena mereka membangkang. Kau pikir sembilan naga yang sudah kukalahkan ratusan tahun yang lalu akan mampu mengalahkan aku sekarang? Kau terlalu memandang tinggi naga - naga lemah itu"
"Kau menang karena menggunakan cara curang dengan mempelajari tekhnik terlarang Naga Iblis. Jika salah satu saja dari mereka ada yang mempelajari tekhnik itu, menurutmu apakah kau masih akan sanggup berkata sejumawa itu sekarang? Sadarilah tempatmu. Kau tidak lebih hanya seekor naga lemah yang takut kehilangan kewibawaanmu"
"Hmph... Kau tidak lain masih anak bau kencur. Memangnya apa yang kau tahu? Aku telah mempelajari ilmu fisik dan ilmu jiwa sewaktu ibumu baru dilahirkan. Aku melakukan semua itu untuk menyelamatkan ras naga yang makin hari semakin berkurang karena energi alam di dunia kami para naga telah mulah menipis. Mereka saja yang tidak mau mengikutiku dan bahkan bertekad melawan ku. Mereka pantas mati"
"Menyelamatkan ras naga dengan cara membantai habis mereka semua sekaligus? Kaulah yang perlu diselamatkan, Naga Iblis. Hatimu telah menghitam karena terlalu banyak mempelajari ilmu - ilmu yang dilarang sejak zaman leluhurmu. Kau tidak bisa menyelamatkan rasmu. Kau sudah terlalu jauh tersesat... Selamatkanlah dulu dirimu sebelum kau berniat menyelamatkan para naga"
__ADS_1
"Arghhh....."
Naga Iblis mengeluarkan suara raungannya yang mengakibatkan gempa kecil di arena pertempuran tersebut. Pertarungan pendekar lain jadi terganggu tetapi karena tidak ingin lawan masing - masing memanfaatkan kesempatan saat lengah mereka lebih memilih mengabaikan suara raungan murka Naga Iblis.
"Kau terlalu banyak bicara, anak manusia. Aku muak mendengar khotbahmu. Sekarang terimalah kematianmu"
Naga Iblis membuka mulutnya dan menggerakkan kepalanya dengan cepat berusaha mematuk tubuh kecil Argadana untuk ditelannya.
Pendekar kita ini tentu saja tidak sudi menyerahkan tubuhnya untuk dimakan Naga Iblis. Dia lalu segera membuang tubuhnya ke samping untuk menghindari sergapan gigi taring Naga Iblis.
Jurus Tapak Darah...!!!
Selesai menghindari patukan Naga Iblis Argadana melompat tepat di atas kepala Naga Iblis dan melepaskan serangan tapak bertenaga dalam tinggi yang mengenai kepala.
Buk...
Bagai memukul bola tangan Argadana membalas dan membalik mementalkan tubuhnya yang tengah melayang di udara.
Tubuh Argadana seketika mengeluarkan api berwarna merah membara. Hawa panas menyebar dari tubuh pemuda majikan para naga itu menerpa orang - orang di sekitarnya yang berjarak sekitar tiga puluh tombak dari tubuhnya.
Akibatnya orang - orang yang berada di dekatnya lebih memilih menghindarinya dan mencari tempat bertarung lain yang tempatnya berjarak sedikit jauh dari pertarungan Argadana dan Naga Iblis.
Argadana menginjak tanah dengan ringan tanpa menimbulkan suara begitu sayap apinya ditangkupkan. Pemuda sakti itu masih saja terlihat tenang meskipun tahun bahwa Naga Iblis memiliki sisik - sisik kuat yang melindungi tubuhnya sehingga serangan pertamanya tadi gagal dan bahkan membalik melontarkan dirinya sendiri.
"Heh... Apakah hanya segitu saja kebisaanmu, manusia? Serangan tadi bahkan tidak bisa menggelitik tubuhku" ejek Naga Ibli memanasi Argadana.
"Kita sebentar lagi akan melihat apakah pukulanku menggelitikmu atau tidak. Bersiaplah..."
"Sombong... Kalau begitu rasakanlah kekuatanku yang luar biasa ini"
__ADS_1
Naga Iblis menyabetkan ekornya dengan kecepatan dan kekuatan yang sangat tinggi.
Argadana mampu menghindari sabetan Naga Iblis itu dengan melentingkan tubuhnya ke belakang dan dan bersalto dua kali di udara lalu mendarat dengan ringan di tanah tanpa menimbulkan suara.
Jurus Sembilan Bulan...!!!
Tubuh Argadana tiba - tiba diselimuti hawa kabut tipis yang amat dingin yang hampir transparan. Kabur tipis itu melebar sejauh lima batang tombak. Rumput dan dedaunan bahkan debu di sekitar area kabut tipis tersebut berubah menjadi butiran - butiran salju.
Jurus Bulan Darah...!!!
Argadana menggunakan dua jurus sekaligus untuk melawan Naga Iblis karena tahu kekuatan naga sesat itu memang bukanlah sesuatu yang bisa dia remehkan.
Kali ini Argadana yang memulai inisiatif menyerang lebih dulu bagian kepala Naga Iblis.
Naga Iblis yang tahu maksud Argadana segera menyemburkan racun hitam untuk menggagalkan serangan tapak darah Argadana namun gagal. Racun yang keluar dari semburan Naga Iblis membeku begitu menyentuh lapisan kabut berwarna putih yang mengelilingi tubuh Argadana.
Cahaya di sekitar Naga Iblis berubah merah. Tanpa disadari oleh naga itu kecepatan geraknya mulai berkurang karena efek dari Jurus Bulan Darah dan Jurus Sembilan Bulan yang membuat tubuh Naga Iblis sedikit kaku dalam setiap gebrakannya.
Buk...
Pada pukulan kali ini tubuh Naga Iblis yang tadinya melayang di udara dengan kepakan sayapnya terbanting dengan keras hingga menerbangkan debu - debu di sekitar area jatuh nya tubuh besar Naga Iblis.
"Ughh...."
Argadana tidak berhenti sampai di situ saja. Mengetahui ketahanan tubuh Naga Iblis sangat luar biasa dia melanjutkan lagi menyerang bagian kepala tepat di tempat yang diserangnya pertama kali.
Naga Iblis cepat - cepat menghindar karena merasa sedikit pusing dengan pukulan Argadana.
"Sial... Ilmu apa yang digunakan anak muda ini? Gerakannya sangat cepat dan pukulannya dapat menembus ketebalan sisik dewaku." batin Naga Iblis.
__ADS_1
"Arggh.... Kau sudah membuatku marah, manusia. Hari ini juga aku akan membunuhmu"