Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Hamba Putra Dyah Ayu Pitaloka


__ADS_3

Empat orang murid terbaik dari Perguruan Tengkorak Darah segera melesat ke depan menghadang amukan pendatang baru itu yang ternyata adalah Argadana bersama Ningrum dan Sepasang Pendekar Suci Dari Lembah Hitam.


Mereka sampai di tempat pertempuran setelah berpisah dengan Jaya Rumah yang telah memisahkan diri untuk memberikan laporan. Raja Naga segera kembali ke dalam badan Pedang Siluman Darah setelah mendarat di tempat tersembunyi dekat area pertempuran agar tidak menimbulkan perhatian yang tidak perlu. Argadana lalu menyembunyikan kembali Pedang Siluman Darahnya dan melesat menyusul teman - temannya yang telah mulai membantai satu persatu pasukan Sakra. Saat itulah empat orang murid utusan Perguruan Tengkorak Darah melesat menghadang mereka.


Hal itu diperintah langsung oleh La Huda yang melihat bahwa keempat anak muda yang baru saja memasuki area pertempuran itu bukanlah lawan bagi para jendral dan perwira Kerajaan Sakra. Para jendral dan perwira hanya berakhir menjadi makanan empuk bagi mereka. Sejauh pertarungan berlangsung telah ada sekitar dua puluh orang jendral telah binasa di tangan mereka membuat nyali para prajurit menciut.


Kejadian tersebut memang adalah hal yang wajar. Sebab empat orang yang datang membantu prajurit Datu Gumi itu adalah pasangan pendekar yang memiliki ilmu sangat tinggi dan bahkan Panglima perang mereka sekalipun bukanlah tandingan salah satu dari keempatnya.


Dengan mengerahkan empat orang murid - murid terbaik dari Perguruan Tengkorak Darahnya yang masing - masing dari mereka memiliki ilmu setingkat di atas Panglima Danang Kamba, La Huda berharap perlawanan empat orang berilmu tinggi itu dapat diredam. Namun harapan itu hanya sebatas harapan belaka.


Sakur yang paling lihai ilmunya melesat menyerang Surasena yang dikiranya memiliki kepandaian paling tinggi di antara yang lainnya. Tetapi baru beberapa gebrakan saja pertarungan berjalan, Sakura terlempar dengan dada berlubang setelah tinju beracun Surasena menghantam dadanya tanpa dapat ditahan. Sakura diam tidak bergerak, mati.


Tiga orang saudara seperguruan Sakura yang lainnya pun tidak berbeda jauh nasibnya dengan dia. Pemuda yang menyerang Nila Sari mati melotot dengan leher berlubang setelah terkena totokan maut Nila Sari. Sementara pemuda yang menyerang Ningrum mati dalam keadaan tubuh kering kerontang tersengat petir dari tekhnik Naga Guntur yang dikeluarkan Ningrum.


Hanya yang menyerang Argadana saja yang tidak sampai mati, tetapi keadaannya tidak kalah memgenaskan dari yang lain. Karena tak kuat beradu dengan tangan kokoh Argadana, kedua kakinya di bagian tulang kering remuk. Hal itu kelak akan menjadikan dia orang cacat yang tidak lagi dapat berbuat apa - apa. Keadaan seperti itu tentu saja lebih buruk dari orang mati sekalipun.


Argadana bukan sengaja ingin bertindak kejam pada musuh - musuhnya. Hal itu dipicu oleh kekesalannya terhadap siasat licik Kerajaan Sakra, terlebih dia tahu betul bahwa yang menjadi pejuang di barisan depan Kerajaan Sakra adalah murid - murid Perguruan Tengkorak Darah yang menyamar menjadi prajurit.


"Arrgghhh.... Bangsa*t kau. Kenapa tidak kau bunuh saja aku? Kenapa?" teriak murid Perguruan Tengkorak Darah yang hancur tulang keringnya oleh Argadana. Hatinya terasa pilu. Bagaimana tidak, mereka maju berempat dan tiga saudara seperguruannya terbunuh dalam pertarungan singkat. Hanya dia yang masih hidup, tetapi keadaanya lebih buruk dari saudara seperguruannya yang telah mati.


"Apa kau pikir, setelah kau mati kau masih akan bebas? Kematian tidak membebaskanmu dari dosa - dosa yang kamu telah perbuat, kisanak" kata Argadana.


"Jangan berkhotbah di depanku, anak seta*n. Kalau mau berkhotbah kau bisa cari surau - surau terdekat" teriaknya penuh dendam.


Mendengar jawaban ketus itu, Argadana hanya menggelengkan kepalanya pelan dan pergi meninggalkan pemuda itu tanpa mengucap sepatah katapun.

__ADS_1


Setelah empat murid - murid Perguruan Tengkorak Darah berhasil ditumbangkan oleh Argadana dan kawannyakawannya, matahari pun akhirnya tergelincir ke arah barat. Tidak terasa hari telah menjelang petang. Segala macam bentuk pertarungan dihentikan. Semua pasukan dari kedua belah pihak ditarik mundur.


Argadana bersama kawan - kawannya berbalik badan hendak menghampiri Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya berhenti setelah mendengar panggilan dari seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun berpakaian seragam khas jendral Kerajaan Sakra. Lelaki itu adalah Wiranda yang memanggil mereka untuk mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan keempatnya pada mereka sehingga kebrutalan pasukan Kerajaan Sakra masih bisa diredam.


"Tuan - tuan.... Tunggu sebentar..." teriaknya cukup keras hingga terdengar oleh keempat pendekar muda itu.


Mereka lalu berhenti menunggu Wiranda yang setengah berlari menghampiri mereka dengan tubuh dipenuhi peluh keringat dan beberapa luka sayatan kecil di tubuhnya.


"Ahh... Saya Wiranda, bawahan Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya mewakili beliau untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar - besarnya atas bantuan tuan pendekar tadi" kata Wiranda menjura hormat.


Argadana yang merasa tidak enak lalu membalas menjura dan menjawab.


"Ah... Sebenarnya kami bergerak karena melihat Perguruan Tengkorak Darah ikut berpartisipasi dalam pertempuran tadi, tuan. Kami dari kaum pendekar hanya berusaha menegakkan keseimbangan. Adapun tujuan kami yang lain, yaitu memang untuk menemui Panglima Besar Askar untuk membicarakan sesuatu." kata Argadana.


Mendengar Panglima Besar Askar disebut Wiranda seketika memasang wajah waspada dan segera menggenggam gagang pedangnya.


"Ahh... Tuan, jangan salah paham. Kami sungguh tiada memendam niat buruk kepada Panglima Besar Askar, hanya saja yang akan dibicarakan kali ini adalah urusan pribadi. Tapi saya jamin kami tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap panglima, terlebih lagi saat ini sedang dalam keadaan perang"


"Ahh.... Maaf, kisanak. Saya hanya berjaga - jaga. Kalau kisanak memang ingin bertemu dengan Tuan Panglima, mari kisanak ikuti saya ke tenda tempat peristirahatan kami. Biar saya tunjukkan jalannya" tawar Wiranda.


***


Di tenda peristirahatan pasukan Kerajaan Sakra.


"Bangsa*t... Siapa empat orang yang menghancurkan rencanaku itu? Aku ingin melenyapkan mereka dengan tanganku sendiri" kata La Huda dengan geraham bergemelutuk menahan marah.

__ADS_1


"Emm.... Maaf, leluhur. Keempat orang itu sangat kuat. Bahkan kakang Sakura dan anggota empat serangkai lainnya tidak bisa menahan lima jurus mereka. Yang paling parah adalah Kakang Banu saja yang dapat bertahan hidup, itupun keadaannya sudah sangat parah" kata salah seorang murid Perguruan Tengkorak Darah yang ikut bergabung dalam perang tadi.


"Hmphh.... Empat serangkai itu memiliki ilmu kanuragan tinggi. Tidak sembarang orang bisa sebanding dengan mereka. Tapi hari ini aku melihat mereka dipermainkan seperti anak kecil oleh beberapa pendekar bau kencur yang belum dikenal di dunia persilatan. Bawa Banu kemari, aku ingin bertanya tentang ciri - ciri pemuda yang berhadapan dengannya!!!"


"Baik, Leluhur... "


***


"Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih yang sebesar - besarnya kepada kalian, anak - anak muda. Berkat bantuan kalian, pasukan ku bisa terselamatkan di medan perang" kata Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya di dalam tenda tempat peristirahatannya masih dengan mata tertutup kain hitam.


"Tadi Wiranda sudah bercerita kepadaku. Katanya kalian ingin bertemu denganku untuk membicarakan sesuatu?" tanya Panglima Askar.


"Sebenarnya bukan kami, melainkan saya sendiri yang ingin bertemu Tuan Panglima" jawab Argadana dengan nada bergetar menatap lelaki separuh bayar yang tampak berwibawa sarat akan garis - garis ketampanannya sewaktu muda dulu. Jika diamati baik - baik, antara keduanya terlihat ada sedikit kemiripan.


Panglima Askar terdiam sejenak dengan dahi berkerut. Tubuhnya sedikit bergetar mendengar suara Argadana, bahkan bulu kuduknya meremang.


"Ahh... Aku pernah merasakan hawa keberadaan yang mirip denganmu dulu di masa mudaku. Siapa kau, anak muda? Dan ada keperluan apa mencariku?" tanya Panglima Askar lagi kali ini dengan nada yang lebih lembut.


Mata Argadana berkaca - kaca. Air matanya hampir menetes keluar namun berusaha ditahannya sebisa mungkin.


"Inikah sosok ayah, yang selama ini begitu ingin kutemui? Aku rasanya seperti berada dalam mimpi" batin Argadana.


"Kenapa kau terdiam, anak muda? Apakah ada yang salah dengan diriku?" tanya Panglima Askar karena Argadana terdiam cukup lama yang menimbulkan sedikit kecanggungan.


"Eh... Ah... Tuan Panglima. Nama saya Lalu Argadana, saya berasal dari... " belum selesai Argadana menjelaskan asal usulnya Panglima Askar telah memotong ucapannya.

__ADS_1


"Lalu Argadana... Itu adalah salah satu nama yang aku sematkan untuk anak dalam kandungannya dulu... Ini.... Nak.. Apakah kau adalah anakku, putra Dyah Ayu Pitaloka?" tanya Panglima Askar dengan nada bergetar. Terdengar sedikit isakan dalam suaranya tadi.


"Benar... Hamba putra Dyah Ayu Pitaloka... Ayahanda, ananda datang menghadap" kata Argadana tidak lagi bisa menahan air matanya, ia terbawa suasana hati ayahnya yang saat itu juga merangkulnya dengan derai tangis haru.


__ADS_2