
Setelah rencana penyergapan yang dilakukannya terhadap Argadana gagal karena ternyata pemuda asing tersebut jauh lebih kuat darinya, Zatou Natsu melarikan diri setelah membunuh delapan orang muridnya untuk membungkam mereka dan menemui Raja Teluh sahabatnya untuk meminta pertolongan.
Raja Teluh yang kebetulan juga mewarisi dendam gurunya terhadap Pendekar Cambuk Naga ikut pula membantu Zatou Natsu membalas dendam. Dengan menggunakan sihir Ilmu hitamnya yang sudah mencapai tahap kesempurnaan Raja Teluh mengirimkan mantra pembunuh yang dapat melemahkan Argadana.
Akan tetapi usaha Raja Teluh sia - sia saja malah justru dia terluka dalam karena Ilmu sihirnya berbalik menyerang dirinya sendiri menjadi senjata makan tuan.
Zatou Natsu yang sedang bersemedi memulihkan tenaganya terkejut melihat Raja Teluh tiba - tiba terjungkal dan muntah darah.
Ketua ninja di Kota Shinshiro itu lalu membantu Raja Teluh untuk bangun.
"Ada apa, Raja Teluh?" tanya Zatou Natsu.
"Setan... Orang macam apa murid si Pendekar Cambuk Naga itu? Sihirku bahkan menolak untuk mendekati tubuhnya" maki Raja Teluh penasaran.
"Jadi kau gagal mengirim Ilmu Hitammu pada anak itu?"
"Aku melihat sosok seekor naga bertubuh amat besar melindungi anak itu. Siluman yang aku kirim untuk melenyapkan kekuatannya ditelan mentah - mentah olehnya. Sial sekali nasibku"
Raja Teluh mendengus marah mengingat kejadian ini merupakan pengalaman pertamanya. Baru kali ini Ilmu sihirnya gagal mengenai sasaran.
"Anak itu begitu kuat. Sepertinya aku harus minta bantuan klan ninja di Gunung Koga dan Manjidani. Mereka merupakan ninja terkuat di Kota Shinshiro. Meskipun harus membayar mahal untuk itu, aku tidak keberatan asalkan orang - orang asing itu mampu*s" Zatou Natsu mengepalkan tangannya erat. Hatinya dipenuhi dendam yang membara.
"Kapan kau berangkat?"
__ADS_1
"Segera setelah obat penawar pukulan laknat itu selesai dibuat, aku akan kembali ke markas. Aku akan berangkat dari sana menuju kedua klan ninja itu"
"Hmm... Kalau begitu kabari aku kapan kau akan menyerang mereka. Aku ingin melawan murid Pendekar Cambuk Naga itu untuk membalas kekalahan guruku dari gurunya beberapa puluh tahun yang lalu"
***
"Tenaga dalam kalian bertiga sudah cukup memenuhi persyaratan untuk mempelajari Ilmu Pukulan Naga Murka. Kalian boleh bergabung dengan Takahashi Rikimaru dan Yamada Ayame" kata Argadana setelah selesai menguji kekuatan Sasaki Ichia, Rin Onikage, dan Kobayashi Tesshu.
"Baik, ketua. Terimakasih atas bimbingannya" ketiganya lalu ikut bergabung dan berlatih Ilmu Pukulan Naga Murka.
Keseharian Argadana di Perguruan Elang Emas hanya memantau latihan para murid - murid di lima cabang dan latihan lima orang murid Nakamura Hayate.
Ningrum dan Yalina menyusun beberapa rencana rahasia di belakang Argadana. Ketika tiba waktunya melanjutkan pelatihan Ilmu Pukulan Naga Murka, Ningrum dan Yalina sengaja mengambil alih para murid lelaki lebih dulu dan hanya menyisakan Yamada Ayame saja yang diminta untuk belajar pada Argadana dengan alasan karena bakatnya lebih baik dari yang lain dan sebaiknya dilatih langsung oleh Argadana.
Ksatria Lembah Neraka keheranan dengan sikap kedua istrinya yang belakangan ini tampak aneh. Keduanya sering berbisik - bisik seolah merahasiakan sesuatu darinya. Terkadang juga di saat - saat sedang bercengkrama bersama Ningrum dan Yalina kerap kali membicarakan tentang bakat Yamada Ayame yang sangat baik dan juga cantik.
Argadana pernah mengatakan pada mereka agar keduanya mengajak Yamada Ayame saling mengangkat saudara kalau memang mereka menginginkan Yamada Ayame yang cantik menjadi adik mereka namun jawaban kedua istrinya itu sangat aneh dan tidak dimengertinya. Keduanya mengatakan "dasar tidak peka".
"Apa lagi yang mereka rencanakan kali ini? Bukankah aku sudah bilang akan mengajari murid laki - laki? Mereka malah menyuruh aku mengajari anak perempuan" Argadana berguman kecil yang terdengar juga oleh Yamada Ayame.
"Ehh... Iya, ketua. Sikap kedua nyonya belakangan ini pada saya juga sangat aneh" Yamada Ayame menyambung dengan wajah merunduk malu - malu. Maklum, ini pertama kali dia berdiri sedekat ini dengan Argadana.
"Emm... Kalau dekat - dekat begini, dia ternyata sangat tampan. Melebihi orang - orang tampan yang pernah kulihat... Tapi... Ehhh??? Apa yang aku fikirkan? Bodoh sekali... Aku menghayal terlalu jauh. Orang ini sudah punya dua istri" Yamada Ayame memaki dirinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Iya... Aku tidak tahu apa penyebabnya. Tapi biarlah, toh tidak akan lama nanti sampai mereka menunjukkan tujuan mereka sebenarnya. Yang penting sekarang adalah latihanmu. Kau sudah cukup matang untuk menguasai aliran tenaga dalam. Tinggal memperkuat lenganmu saja agar nantinya tidak hancur karena dampak balik dari pukulan ini..."
Begitulah Argadana setiap harinya hanya mengajari Yamada Ayame karena Ningrum dan Yalina selalu lebih awal mengambil empat murid lelaki untuk diajarkan Ilmu Pukulan Naga Murka sehingga lambat laun terjalin kedekatan antara keduanya.
Hal itu membuat senyum di wajah Ningrum dan Yalina merekah. Rencana pertama mereka berhasil. Tinggal melaksanakan rencana selanjutnya.
Hari demi hari berlalu hingga satu purnama terlewati tanpa sadar. Kelima murid Nakamura Hayate telah berhasil menguasai Ilmu Pukulan Naga Murka. Hanya saja karena banyaknya tenaga dalam yang harus dikerahkan dalam pukulan itu, mereka berlima hanya bisa menggunakannya sekali saja dalam sehari. Jadi Argadana menyarankan agar mereka tetap giat berlatih untuk meningkatkan tenaga dalam mereka.
Pagi itu Argadana bersma Ningrum dan Yalina telah bersiap masuk Kereta Hantu yang dikemudikan oleh Jendral Thalaba. Tujuannya adalah untuk mencari tahu keberadaan markas para ninja yang telah menyerangnya beberapa waktu yang lalu juga untuk menelusuri jejak orang yang telah mengirimkan ilmu teluh pada Argadana.
Semua anggota Perguruan Elang Emas berkumpul untuk mengantar kepergian Argadana. Dalam perjalanan kali ini Argadana sengana tidak mengajak Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam untuk berjaga - jaga kalau nanti ada serangan dadakan karena perguruan yang mereka bangun masih baru dan terlalu rapuh. Jadi untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan Surasena dan Nila Sari tetap berada di Perguruan Elang Emas.
"Berhati - hatilah, tuan..." kata Surasena dan Nila Sari bersamaan membungkukkan badan.
"Ketua jaga diri baik - baik. Hubungi kami jika Ketua membutuhkan bantuan" kata Pancaka Sudra ketua Pecahan Kelicikan.
"Baiklah... Aku akan memgingat pesan kalian baik - baik. Em... Dan kalian berlima teruslah berlatih untuk meningkatkan kekuatan kalian" kata Argadana menoleh ke arah murid - murid Nakamura Hayate.
"Paman Nakamura Hayate... Aku titip perguruan padamu selama aku pergi"
"Baik, ketua. Ketua jangan khawatir. Saya akan menjaga Perguruan dengan taruhan nyawa saya" jawab Nakamura Hayate bersungguh - sungguh.
Hari itu Argadana bersama kedua istrinya dan Jendral Thalaba menggunakan Kereta Hantu pergi meninggalkan Perguruan Elang Emas di bawah pengawasan Nila Sari dan Surasena.
__ADS_1
Menurut petunjuk dari Raja Naga arah datangnya Ilmu teluh itu berasal dari luar Kota Shinshiro.
"Kita belok ke kiri, paman. Di sana kata penduduk ada sebuah danau. Dari sana kita bisa sampai di Desa Kunori. Raja Naga bilang orang yang mengirim ilmu teluh itu berasal dari sana"