
"Huh ... Panglima jahanam itu sangat cerdik. Kita bahkan belum bergerak, dan dia telah menyewa pengawal - pengawal tangguh untuk melindunginya"
"Waktu itu aku gagal karena hanya bergerak sendiri. Jika kita melakukan serangan secara serentak aku yakin kita pasti berhasil"
"Benar kata Pendekar Jari Iblis. Panglima itu sebenarnya tidak begitu pandai dalam bertarung, tapi kecerdasannya mengatur strategi perang itu sangat mengerikan. Jadi jika kita bisa menekannya dengan jumlah, maka menghabisinya tidak akan sulit"
Terdengar obrolan tiga orang berumur sekitar enam puluh tahun. Mereka adalah tiga dari sekian banyaknya pendekar aliran hitam yang mendapat misi untuk melenyapkan Panglima Askar, di antaranya adalah Iblis Mata Satu, Pendekar Jari Iblis, dan Pendekar Pemetik Bunga.
Saat ini ketiganya tengah mengobrol di tempat kediaman Iblis Mata Satu. Mereka berembuk untuk mencari jalan terbaik agar misi membunuh Panglima Askar terlaksana.
"Benar juga. Kenapa tidak kita gabungkan saja semua kekuatan untuk menyerang di tengah malam buta?" usul Pendekar Pemetik Bunga.
"Itu ide yang bag ..."
Belum selesai Iblis Mata Satu berbicara terdengarlah suara orang bersyair.
"Aku pengelana merah
Kematian adalah sahabat damaiku
Darah menjadi keringatku
Aku pengembara yang lelah
Menyibak kabut - kabut darah
Kubuat bumimu berlumur air merah
Wahai ..."
"Celaka ... Itu Penyair Maut. Ada masalah apa kita dengan dia?" kata Iblis Mata Satu panik.
"Entahlah, tapi kita harus hati - hati. Pendekar satu ini sangat sulit ditebak"
Tidak lama kemudian melayang turun sesosok bayangan yang samar - samar terhalang gelapnya malam dari balik pagar beton. Sosok seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun, pakaiannya di bagian atas berwarna merah darah dan bagian bawahnya berwarna hitam. Pemuda yang baru datang itu menatap mereka dengan tajam.
"Hari itu kalian kubiarkan pergi karena aku hanya menerima misi untuk melindunginya. Sekarang setelah kutahu kalau orang yang aku lindungi selama beberapa bulan kemarin ternyata adalah ayah kandung Ketua Besar kami, aku sudah bertekad untuk membunuh satu persatu orang yang mengancam nyawa Panglima Besar itu"
Penyair Maut alias Widura mengangkat tangannya tinggi. Beberapa saat kemudian tiba - tiba dari arah kemunculan Widura tadi bermunculan dua puluh orang berpakaian serba hitam.
"Apa maksudmu, Penyair Maut? Kita tidak pernah ada masalah sebelumnya, kenapa harus dengan sengaja membuat perkara?" bentak Iblis Mata Satu.
"Hmm ... Iblis Mata Satu. Matamu yang sebelah itu sudah picak. Jadi aku maklumi jika kau tidak tahu siapa orang yang kau ingin bunuh seminggu yang lalu, tetapi karena kau telah mengatai Panglima Besar dengan kata - kata kotormu aku akan mengambil lidahmu sebagai tebusannya"
"Bangs4t ..." Iblis Mata Satu menggereng marah lalu menyerang Widura dengan ganas penuh nafsu membunuh.
__ADS_1
Dua puluh orang yang dibawa Widura itu pun maju merangsek Pendekar Pemetik Bunga dan Pendekar Jari Iblis. Terjadilah pertarungan yang berat sebelah, dua puluh satu orang melawan tiga orang.
Ketiga orang pendekar aliran hitam tersebut memang termasuk pentolannya golongan sesat. Sehingga dengan dikeroyok dua puluh orang pun Pendekar Jari Iblis dan Pendekar Pemetik Bunga itu masih bisa bergerak lincah menghindar kesana kemari. Di tempat lain Widura dan Iblis Mata Satu tengah bertarung dengan sengit untuk saling menjatuhkan satu sama lain.
Widura melihat kawan - kawannya telah mulai membuat barisan Naga Menggempur Gunung menarik nafas lega. Kedua pendekar itu kemampuannya memang berada sedikit di atas si Iblis Mata Satu, jadi wajar saja jika Widura mengkhawatirkan kawannya.
Dess ...
"Ughh. . ."
"Hehehe. . . Kau berani sekali mengalihkan perhatianmu di saat dalam pertarungan"
Iblis Mata Satu tertawa terkekeh - kekeh melihat hasil serangannya berhasil membuat Widura terluka dalam. Terbukti dari darah yang tampak mengalir dari sudut bibir Widura.
"Kau akan membayarnya dengan mahal, Iblis Mata Picak" kata Widura membuat Iblis Mata Satu marah besar.
"Hiaatt ... "
Iblis Mata Satu menyerang dengan ganas. Karena dalam keadaan marah, Widura memanfaatkan kesempatan tersebut selagi Iblis Mata Satu lengah karena tidak memperhitungkan gerakannya.
Ketika tinju Iblis Mata Satu lewat di samping tubuh Widura, segera saja pemuda berumur dua puluh lima tahunan itu memutar badan ke kiri lalu membalas serangan Iblis Mata Satu dengan sikutan tajamnya yang tepat mengenai dahi Iblis Mata Satu membuat kepala tokoh tua sesat itu terdongak ke atas. Widura kemudian melanjutkan lagi serangannya dengan tinju kanannya yang mengenai ulu hati Iblis Mata Satu dengan telak hingga tubuhnya terlempar sejauh tiga batang tombak.
Iblis Mata Satu terbatuk dan memuntahkan darah segar.
"Bagaimana rasanya, Iblis Mata Picak?" ledek Widura dengan memejamkan sebelah matanya bergaya seperti orang picak sebelah.
"Aku akan meminum darahmu setelah membunuhmu" teriaknya dengan wajah kelam membesi.
Sementara itu pada pertarungan antara dua puluh orang murid Perguruan Anak Naga, Pendekar Jari Iblis dan Pendekar Pemetik Bunga telah terlihat beberapa sayatan pedang di beberapa bagian tubuh mereka.
Barisan Naga Menggempur Gunung ternyata memang sangat dahsyat karena gerakan tiap barisan tersebut saling mengisi. Setiap salah satu anggota barisan menyerang yang lain akan bertindak sebagai pelindung dengan menyerang siapa pun yang membalas serangan salah satu dari mereka. Dan sialnya, gerakan dua puluh orang itu sangat cepat sehingga kedua tokoh sesat itu tidak sempat menghindar dan beberapa sayatan telah menghiasi tubuh mereka.
"Puihhh ... Anak - anak muda zaman sekarang memang kurang ajar. Kalian akan membayar atas luka ini" kata Pendekar Pemetik Bunga.
"Bentuk Barisan Naga Keluar Goa" teriak salah seorang yang memimpin barisan sekaligus merubah pola serang mereka membentuk dua buah lingkaran, luar dan dalam.
Pendekar Jari Iblis dan Pendekar Pemetik Bunga menyerang ke arah dua tempat yang berlawanan guna mencari celah kelemahan barisan musuh. Salah seorang pengepung yang nampak paling lemah menjadi sasaran tusukan Pendekar Jari Iblis. Seketika posisi barisan berubah, yang tadinya berada di bagian dalam kini telah berada di bagian luar membiarkan dua orang anggota mereka memberikan pertolongan pertama pada kawan mereka yang terluka sementara yang lain terus melanjutkan serangan dengan barisan Naga Keluar Goa.
Tidak jauh dari pertarungan berat sebelah itu Iblis Mata Satu nafasnya terengah - engah karena menyerang membabi buta disebabkan kemarahan yang telah membludak. Bagaimana tidak, Widura meladeni serangannya dengan memejamkan sebelah matanya sambil memiring - miringkan kepala meledeknya terus - terusan. Dia baru menyadari dirinya telah terjebak setelah nafasnya terengah - engah.
Tetapi Widura tidak mau menyia - nyiakan kesempatan.
'Jurus bayangan malam' digelar oleh Widura. Gerakannya sangat cepat bagai hantu.
Iblis Mata Satu terkejut bukan main melihat gerakan Widura hingga tidak sempat menghindar ketika rahangnya terkena hantaman tumit Widura ketika melakukan tendangan memutar. Iblis Mata Satu kembali terlempar sepuluh batang tombak. Rahangnya terasa hancur terkena tendangan tumit Widura.
__ADS_1
"Itu ... Itu bukankah jurus bayangan malam?" teriak Iblis Mata Satu dengan wajah pucat. Sedangkan Widura hanya tersenyum saja tanpa menggunakan gaya meledeknya.
"Kau... Kau ... Jadi, kalian semua adalah anggota perguruan itu?" tanya Iblis Mata Satu dengan wajah kuyu.
"Karena kau sudah tahu, maka tidak ada alasan untuk tidak membunuhmu. Terlebih lagi, kau telah berani mengincar nyawa kerabat ketua besar kami. Bangunlah, aku tidak akan berbelas kasih meski kau telah terluka" kata Widura tegas. Tangannya terangkat membentuk tinju sejajar bahu, wajahnya ditengadahkan ke atas seolah menatap langit dan baru menurunkan kembali pandangannya setelah tangannya dari jari - jari tangan sampai siku berwarna putih keperakan.
Pukulan api salju
"Haahhh ... Tidak kusangka, aku telah menyinggung orang yang salah hanya demi kejayaan semata. Baiklah, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengadu jiwa denganmu"
Iblis Mata Satu yang telah kehilangan harapan untuk bisa menyelamatkan diri segera mengerahkan ilmu pamungkasnya, Pukulan Gelembung Mayat. Asap mengepul dari telapak tangannya yang telah berubah warna hijau.
"Hiaaa. . ."
Dua ilmu pukulan beradu di udara.
Duarr ...
Terlihat dua sosok terpental berlawanan arah. Hasil dari adu pukulan tersebut Iblis Mata Satu meregang nyawa dengan tubuh melepuh bak terpanggang mengeluarkan bau sangit daging hangus. Widura sendiri masih cukup beruntung.
Dia memang menderita luka dalam yang cukup parah, tetapi karena tenaga dalamnya cukup tinggi luka tersebut perlahan - lahan dapat disembuhkan setelah beberapa saat bermeditasi.
"Aaakhh ..."
"Pendekar Jari Ibl ... Aahkkk ..."
Tidak jauh dari tempat Widura, terdengar suara teriakan kematian Pendekar Jari Iblis dan Pendekar Pemetik Bunga dengan leher terbabat hampir putus. Formasi barisan Dewa Topan Melabrak Karang menghentikan perlawanan sekaligus menjadi penutup usia kedua tokoh sesat itu. Akhirnya ketiga tokoh aliran hitam itu mati dalam keadaan mengenaskan.
"Kita harus bergerak cepat. Tinggal tujuh orang lagi target yang harus kita selesaikan sebelum pagi tiba" kata Widura setelah menyelesaikan meditasinya lalu memimpin rombongan melanjutkan perjalanan membantai target lainnya.
Keesokan harinya dunia persilatan di buat gempar dengan kematian sepuluh orang pentolan aliran hitam dalam waktu semalam yang diduga hanya dilakukan oleh seorang saja. Menurut informasi yang beredar, di tubuh setiap orang yang meninggal terdapat selembar surat yang terbuat dari kulit hewan berisi sebuah syair. Syair tersebut sudah terkenal di dunia persilatan dengan sebutan Syair Maut. Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa pelakunya adalah Penyair Maut.
"Apakah memang Penyair Maut itu sedemikian kuatnya sampai bisa membunuh sepuluh orang kuat aliran hitam yang terkenal sangat licik hanya dalam waktu semalam"
"Itu sangat tidak masuk di akal, mungkin Penyair Maut menyewa orang kuat untuk membantunya"
"Iya, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Malang sekali nasib orang - orang itu. Entah apa masalah yang mereka perbuat pada Penyair Maut yang aneh itu, sampai pendekar itu tersinggung dan membunuh mereka dalam semalam"
Suara orang - orang di kedai makan membicarakan kegemparan yang disebabkan oleh Penyair Maut.
Hal tersebut juga disinggung di berbagai tempat, baik di jalanan maupun di tempat - tempat hiburan.
Pembunuhan demi pembunuhan dilakukan Penyair Maut sampai tiga hari hingga menyebabkan kematian total dua puluh lima orang pendekar - pendekar dari aliran hitam. Banyak yang bertanya - tanya kenapa Penyair Maut tiba - tiba saja berubah agresif melakukan penyerangan terhadap banyak orang aliran hitam. Apakah nanti tidak takut akan memicu perang antar aliran? Begitulah orang - orang berfikir saat ini.
Satu minggu kemudian di markas aliansi aliran hitam
__ADS_1
Pemimpin aliansi aliran hitam, Wira Atmaja alias Pendekar Lembah Mayat mengumpulkan seluruh pendekar yang tergabung dalam aliansi aliran hitam secara mendadak. Hal ini berkaitan dengan beredarnya informasi tentang pembunuhan beruntun yang dilakukan oleh Penyair Maut.