
"Kamu lagi, kamu lagi... Kau tiada bosannya mengurusi urusan orang. Apa kau tidak punya pekerjaan lain sampai kau berbuat sedemikian usilnya, anak muda?" tegur La Huda dengan nada tidak senang.
Argadana tidak berkata apapun melainkan hanya menoleh pada Naga Giok dan berkata.
"Tugasmu untuk menahannya sudah selesai. Sekarang kau boleh bergabung dengan saudara - saudaramu yang lain"
"Baik, tuan. Hamba mohon pamit" kata Naga Giok sebelum kemudian mengepakkan sayapnya dan berkelebat meninggalkan La Huda yang kini sedang saling bertatap - tatapan dengan Argadana.
Argadana menatap tubuh La Huda dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan penuh selidik.
"Aku bisa merasakan ada hawa siluman di tubuhnya walaupun samar karena telah membaur dengan hawa keberadaan manusia selama ratusan tahun. Orang ini pasti adalah La Huda" batin Argadana.
"Anak muda zaman sekarang kebanyakan kurang ajar. Beraninya mengabaikan aku. Lihat tombak...!!!"
Tombak pendek milik La Huda berkelebat kesana - kemari menusuk dan membabat di bagian - bagian terlemah tubuh Argadana.
Dengan sangat gesit Argadana bergerak memiringkan tubuhnya menghindari hujan serangan dari tombak pendek milik La Huda yang memancarkan cahaya berwarna hitam menebarkan bau busuk pertanda senjata tersebut mengandung racun.
Tadinya Argadana mencoba menggunakan Jurus Sembilan Langkah Ajaib untuk melawan jurus tombak La Huda namun ternyata dengan pengalaman bertarungnya selama berabad - abad La Huda dengan cepat dapat mengetahui kelemahan jurus tersebut yang letaknya berada di bagian pergerakan kaki.
Tombak pendek La Huda mencecar kaki Argadana yang segera melompat dengan kalang kabut. Ketika itu La Huda melihat ada sedikit pertahanan Argadana yang terbuka. Ia kemudian meluncurkan tombaknya dengan gerakan menusuk ke arah dada kiri.
"Ihh.... Tidak sempat lagi. Biar kucoba ilmu baru Raga Semesta. Aku akan menjadikan tangan kiriku sebagai tameng...!!!"
"Huh...??? Aku tidak tahu anak ini benar - benar bodoh atau bagaimana. Tombak Bara Neraka milikku ini adalah senjata pusaka. Mana bisa ditahan hanya dengan ilmu kebal semata? Kalau begitu kau matilah saja" batin La Huda menyeringai senang melihat Argadana menggerakkan tangan kirinya meninju ujung tombak pusaka milik La Huda yang runcing itu.
Bayangan kemenangan telah terlintas di fikiran La Huda karena sudah merasa yakin betul dengan keampuhan racun dan ketajaman pusaka Tombak Bara Neraka di tangannya.
Trang...
Senyuman La Huda memudar tatkala melihat tinju Argadana yang beradu dengan ujung runcing tombaknya tidak tergores sedikitpun justru dari beradunya tangan dengan ujung tombak itu tercipta sebuah percikan yang menyilaukan kedua mata La Huda mengakibatkan kebutaan selama beberapa detik.
Hal itu dimanfaatkan Argadana untuk menyarangkan tinju kanannya yang telah dilapisi tenaga dalam tinggi ke bagian ulu hati.
__ADS_1
Buk...
"Ugh..."
La Huda terjajar tiga langkah dan bahkan terjengkang hampir jatuh karena saking kerasnya pukulan Argadana yang mendarat di tubuhnya.
"Uhukk... Uhukk..." La Huda terbatuk - batuk sebentar menstabilkan pernafasannya yang mulai tidak teratur setelah menerima bogem mentah dari Argadana.
"Ini... Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa kau memiliki tubuh yang bisa menyamai kekuatan senjata pusaka yang bahkan segala macam ilmu kebal tidak akan berlaku bagi Tombak Bara Neraka ku ini? Bagaimana bisa tanganmu tidak terluka?" tatap La Huda dengan wajah tidak percaya.
"Kau terlalu banyak bicara, La Huda. Memangnya kau mau bertarung atau mau mengobrol?" balas Argadana tidak perduli.
"Anak kurang adat. Ilmu baru secuil sudah sombong. Aku tidak percaya kalau seluruh tubuhmu itu kebal akan senjata. Bersiaplah... Lihat serangan...!!!"
Tubuh La Huda berkelebat cepat dengan Tombak Bara Neraka di tangan mengincar bagian kedua mata Argadana yang menurutnya bagian tubuh yang paling lemah.
Argadana tentu tidak mau jika kedua matanya dibikin buta oleh tusukan Tombak Bara Neraka. Pemuda sakti itu segera memiringkan badannya ke samping kiri sehingga tusukan tombak La Huda hanya mengenai angin.
"Mau sampai kapan kau menghindar, anak muda? Tombak Bara Nerakaku lambat laun juga pasti akan mengenai kedua matamu. Kenapa tidak kau serahkan sendiri saja kedua matamu? Hahahaha...."
"Hmph... Memangnya apa yang... Huhh???"
La Huda tiba - tiba melompat ke belakang dengan wajah berubah pucat pasi bagai mayat tak berdarah.
"Kau... Apa hubunganmu dengan wanita keparat itu?" teriak La Huda dengan nada panik melihat sekelilingnya berubah warna menjadi merah darah.
Ya.. Argadana memang saat ini tengah mengerahkan Jurus Bulan Darah yang diketahui La Huda merupakan jurus andalan milik anggota keluarga Kerajaan Siluman Darah.
Argadana tampak memandang La Huda dengan tatapan bengis. Tidak ada lagi senyuman seperti biasanya.
Angin kencang bergulung - gulung menerbangkan beberapa batang pohon yang telah ambruk akibat pertarungan beberapa orang sebelumnya. Hal ini membuat La Huda memasang waspada tinggi sambil meredakan perasaan hatinya yang telah merasa sedikit was - was akan kekuatan Argadana yang sesungguhnya.
"Berani - beraninya mulut busukmu menyebutnya dengan kalimat sekotor itu. Dia adalah ratumu, La Huda"
__ADS_1
Ucapan Argadana terdengar pelan namun sarat akan ***** membunuh. Ya.. Tentu saja dia tidak Terima La Huda memaki Dyah Ayu Pitaloka dengan sebutan wanita keparat. Tentu siapapun itu tidak akan ada yang mau.
Dalam kemarahan yang menggelegak di tubuhnya Argadana mengangkat tangan di udara memanggil Pedang Siluman Darah sehingga rajah pedang merah di dahinya bercahaya terang menyilaukan.
"Ini... Aku tidak bisa bergerak. Aura ini sama dengan aura yang dikeluarkan wanita keparat itu dulu yang membuat aku tidak bisa bergerak dan akhirnya terluka oleh serangannya" batin La Huda dengan lutut gemetar.
Mata La Huda melotot hampir keluar dari kelopaknya begitu melihat di tangan Argadana tiba - tiba telah tergenggam pedang pusaka yang sejak lama sangat diinginkannya yaitu Pedang Siluman Darah.
"Pedang itu... Pedang itu harus menjadi milikku. Serahkan pedang itu padaku, anak muda" teriak La Huda histeris.
"La Huda atau Ki Sungsang Geni... Dengarkan dekrit Kerajaan Siluman Darah. Kau bersekutu dengan Kerajaan Siluman Buaya Putih dan Kerajaan Beruk Selaksa untuk merongrong pemerintahan Kerajaan Siluman Darah. Mengkhianati kerajaan, berusaha mencuri pusaka kerajaan yaitu Sembilan Pusaka Naga. Atas kejahatan ini aku Lalu Argadana, Raja Kerajaan Siluman Darah memutuskan untuk menjatuhimu dengan hukuman mati" kalimat Argadana terdengar bagai salakan petir di telinga La Huda.
"Tidak, tidak... Aku tidak akan mati. Aku akan membunuhmu, dan pedang itu akan menjadi milikku" teriak La Huda sambil menutup kedua matanya mempersiapkan serangan terkuat miliknya.
Jurus Tombak Raja...!!!
Tombak La Huda bergerak sangat cepat mengincar tubuh Argadana yang hanya diam saja menunggu serangan mendekati tubuhnya.
"Hmm... Dia tampaknya sudah mengetahui kelemahan Jurus Bulan Darah. Tapi hasilnya tidak akan jauh berbeda... Karena aku menggunakan Pedang Siluman Darah"
Saking cepatnya gerakan tombak La Huda senjata pusaka di tangannya jadi terlihat sangat banyak. Namun hal itu tentu tidak berlaku bagi Argadana yang telah menyerap seluruh kekuatan Naga Sejati. Dengan ilmu warisan dari Naga Sejati itu dia dapat melihat pergerakan Ki Sungsang Geni alias La Huda bahkan sebelum buronan Kerajaan Siluman Darah itu mulai menggerakkan jurusnya.
Jurus Tanpa Bentuk...!!!
Begitu Tombak Bara Neraka mendekati tubuhnya Argadana segera menggunakan jurus terakhir ajaran Sepasang Pendekar Naga. Tubuhnya bergerak sangat cepat sehingga yang terlihat hanya seperti sebuah bayangan berwarna putih dengan cahaya emas di bagian atasnya melewati tubuh La Huda sebanyak dua kali.
Kesudahannya sudah bisa ditebak. Kedua tangan La Huda sampai sebatas bahu terbabat putus oleh Pedang Siluman Darah sehingga Tombak Bara Neraka jatuh ke tanah. Akan tetapi anehnya luka bekas tebasan itu tidak mengeluarkan darah sama sekali melainkan justru mengering seketika.
"Apa yang terjadi? Tanganku? Kenapa tanganku bisa terlepas? Jahanam...!!! Kubunuh kau, anak muda"
Seiring dengan kata - katanya barusan tubuh La Huda tiba - tiba berubah bentuk. Tubuhnya mulai ditumbuhi rambut - rambut halus. Matanya memerah. Di kepalanya tampak muncul sebuah tanduk yang tumbuh tepat di atas dahi. Gigi taringnya mencuat keluar dengan liur yang terus menerus menetes melalui taring tersebut. Kedua tangan yang tadinya telah tertebas putus perlahan - lahan tumbuh kembali dan bahkan terlihat dua buah tangan lain juga telah tumbuh sehingga tangan La Huda kini telah berjumlah empat buah.
"Argghhh... Dengan tubuh ini aku sudah tidak mempan dengan segala macam senjata pusaka, anak muda. Pedang Siluman Darah yang kau bangga - banggakan itu tidak akan bisa melukai aku. Hari ini adalah hari kematianmu. Arghhh..."
__ADS_1
Argadana yang melihat pemandangan mengerikan itu masih tenang - tenang saja.
"Hmm... Dia tampaknya telah menyempurnakan Tubuh Raja Iblisnya. Yahh... Pertarungan ini sepertinya masih akan sedikit alot"