Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Pertemuan


__ADS_3

Argadana saat ini telah berada di pinggiran Desa Kunang - Kunang. Yang ikut dalam perjalanannya kali ini ada empat orang yaitu Ningrum, Macao, Jaya Ruma dan di depan ada si Dewa Linglung alias Danupaksi sebagai penunjuk jalan menuju markas Pecahan Kelemahan yang di dunia persilatan dikenal dengan nama Perguruan Bintang Raya. Ranjani dan ayahnya Rimang memutuskan untuk memisahkan diri setelah berpamit pergi mencari bala bantuan untuk peperangan yang akan datang nantinya.


Mereka terus berjalan memasuki Desa Kunang - Kunang setelah melewati pos pemeriksaan identitas hingga tepat berada di depan sebuah kedai makan yang cukup ramai. Di atas pintu masuk kedai tersebut tertulis Kedai Bintang Raya.


"Mari, Ketua. Perguruan kami sudah dekat, di dalam kedai itu adalah kunci yang menghubungkan kita dengan bangunan Perguruan" kata Danupaksi.


Argadana hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Dia mengikuti Danupaksi dari arah belakang memasuki kedai tersebut dan mengambil meja di sudut ruangan.


Tidak lama kemudian datang seorang pelayan yang bertugas mengurus pesanan para pembeli menghamoiri meja Argadana.


"Tuan Muda mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut sambil memamerkan senyum manisnya.


"Baiklah, aku pesan kepala. Tidak pakai kuah" jawab Danupaksi terlihat seperti main - main. Pelayan tersebut hanya tertegun sesaat, kemudian berbicara kembali setelah ketenangannya pulih.


"Mohon tunggu sebentar, Tuan. Kami akan siapkan pesanannya" kata sangat pelayan membungkukkan badannya.


Bagi Ningrum, Macao, dan Jaya Ruma menu yang dipesan oleh Danupaksi itu sangat aneh. Hanya memesan kepala, tapi kepala apa tidak dijelaskan. Tapi yang justru membuat mereka bertambah bingung adalah pelayan tersebut juga tidak menanyakan lebih lanjut pesanan Danupaksi itu. Hanya Argadana yang diam tanpa ekspresi. Dia mengerti kalau kalimat yang diucapkan Danupaksi itu adalah sebuah kode khusus yang hanya dapat dimengerti oleh para pengurus kedai tersebut.


Selanjutnya pelayan itupun pergi menemui atasannya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Ternyata atasannya yang juga merupakan pemilik kedai itu berusia sekitar tiga puluhan tahun, belum terlalu tua.


Pemilik kedai itu kemudian berjalan menuju tempat di mana mereka menunggu pesanan dihidangkan. Setelah sampai di depan Argadana dan Danupaksi, pemilik kedai tersebut menyapa dengan ramah dan mulut yang senantiasa tersenyum.


"Pesanan tuan - tuan telah disiapkan. Mari ikuti saya"


Pemilik Kedai Bintang Raya itu lalu berjalan tanpa menunggu jawaban Danupaksi yang sekarang telah mengikutinya dari belakang bersama Argadana dan kawan lainnya.


Mereka memasuki ruangan khusus milik si pemilik kedai itu setelah kunci pintu dibuka. Pemilik kedai itu lalu berjongkok di sudut kiri ruangan kamarnya dan mengetuk lantai sebanyak lima kali. Setelah menunggu beberapa lama, lantai yang tadi diketuk oleh pemilik kedai itu bergeser membuka. Kini terpampanglah di hadapan mereka semua sebuah terowongan rahasia bawah tanah.


Danupaksi mengajak mereka semua menuju terowongan bawah tanah tersebut melalui tangan berundak yang telah disusun sedemikian rupa dan entah dengan cara bagaimana.


Sesampainya di bawah, dua penjaga yang tadi membukakan pintu rahasia terowongan bawah tanah menutup kembali pintu rahasianya.


"Markas besar kami tidak jauh dari sini, Ketua" kata Danupaksi.


"Baiklah, kita lanjutkan" perintah Argadana.


Ningrum bersama Macao dan Jaya Ruma hanya mengikuti dari belakang tanpa berkomentar apapun.

__ADS_1


Keluarnya mereka semua dari terowongan itu, pemandangan indah terpampang di hadapan mereka. Bahkan Argadana sendiri pun dibuat takjub dengan area rahasia bawah tanah milik Pecahan Kelemahan itu.


Di tempat tersebut meski terbilang berada di dasar bumi, namun penataan bangunannya sangat apik. Tempat itu sangat luas dan bahkan saking luasnya, wilayah itu tampak seperti kota kecil yang sangat makmur.


Kota kecil di area bawah tanah itu sebenarnya adalah markas besar Pecahan Kelemahan. Ketua bagian Pecahan Kelemahan itu sengaja mendirikan markas di bawah tanah adalah untuk mengantisipasi adanya penyusup dan juga sebagai cara bertahan terbaik mereka jika ada serangan sebab di tempat itu telah dipasang berbagai jebakan yang akan membunuh siapa saja yang mencoba menyusup ke dalam markas besar Pecahan Kelemahan. Hal ini hanya diketahui oleh anggota Anak Naga saja.


***


"Ahh. . . Kau masih saja percaya pada takhayul itu, Dinda. Kalau seperti itu selalu dijadikan patokan tanda akan datangnya seorang tamu, maka jika ada kupu - kupu yang tidak sengaja masuk dalam penyimpanan harta itu juga bisa dibilang ada yang ingin bertamu ke ruangan harta?" seloroh Aksara Buana tersenyum.


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan beberapa kali di pintu.


"Siapa?" tanya Aksara Buana.


"Saya Danupaksi, Guru. Tolong pintunya dibuka, ada seseorang ingin menemui Guru" jawab orang yang barusan mengetuk pintu yang ternyata adalah Danupaksi adanya. Pemuda itu datang ke tempat tinggal gurunya dengan membawa serta Argadana, sementara teman - temannya yang lain ditempatkan di kamar khusus untuk tamu kehormatan atas saran Danupaksi kepada petugas bagian akomodasi tetamu. Pemuda urakan itu mengatakan pada petugas tersebut bahwa rombongan yang dia bawa adalah tamu kehormatan yang secara khusus diundang oleh ketua mereka di cabang Pecahan Kelemahan, Aksara Buana.


Tubuh Aksara Buana tergetar melihat siapa tamu yang dibawa oleh muridnya itu. Seketika saja dia turun dari tempat duduknya dan menyapa tamu itu yang tidak lain adalah Argadana.


Istrinya juga berbuat demikian.


"Ahh.... Paman suka bercanda ya. Perguruan ini juga merupakan bagian dari Anak Naga yang didirikan oleh ibunda dulu. Jadi tentu wajar - wajar saja jika saya sekali - sekali berkunjung ke sini" kata Argadana balas membungkukkan badan.


Di saat sedang asik bercakap - cakap, terdengar kembali suara ketukan pintu.


"Masuk" kata Aksara Buana mempersilahkan.


Setelah pintu terbuka, masuklah dua orang anak laki - laki dan dua orang anak perempuan. Mereka adalah putra - putri Aksara Buana.


Anak pertamanya bernama Shinda Buana. Pemuda ini berperawakan tegap berisi. Baju tanpa lengan dan tanpa kancing yang digunakannya memperlihatkan otot - otot yang bersilangan di bagian dada dan perutnya yang berbentuk kotak - kotak.


Di sebelah Shinda Buana adalah adik laki - lakinya yang merupakan anak terakhir Aksara Buana dan baru berumur lima belas tahun. Namanya Rama Buana. Di antara keempat anak - anak Aksara Buana anak ini merupakan yang paling berbakat.


Di samping Rama Buana ada dua orang gadis yang merupakan anak kedua dan ketiga Aksara Buana bernama Senandung Wangi dan Elok Puspa Kenanga.


"Nah, kebetulan kalian di sini. Ketua, mereka berempat adalah putra putriku" kata Aksara Buana memperkenalkan.

__ADS_1


"Hei... Kalian, cepat beri hormat pada ketua. Ini adalah orang yang selama ini kalian kagum - kagumi" lanjutnya lagi dengan nada memerintah.


Keempat putra putri Aksara Buana itu terkejut mendengar penjelasan ayah mereka. Seketika itu juga mereka membungkukkan badan mereka dan menjura memberi hormat pada Argadana.


"Salam hormat kami, Ketua" ucap putra putri Aksara Buana itu serempak.


Argadana hanya menjawab dengan anggukan kepala dan menyuruh mereka duduk.


Pada hari itu di Perguruan Bintang Raya diadakan pesta meriah secara dadakan sebagai sambutan atas kedatangan Ketua Besar Perguruan Anak Naga.


Lima hari setelah pesta meriah itu Argadana mengumpulkan seluruh anggota empat pecahan di Perguruan Bintang Raya alias Pecahan Kelemahan. Di sana telah hadir Aksara Buana dan istrinya. Tidak lupa pula keempat anak - anaknya, juga seluruh anggota empat pecahan menjadikan suasana sangat ramai di dalam kota kecil di bawah tanah tersebut.


Dalam pertemuan itu Argadana menceritakan tentang siasat licik yang dijalankan Kerajaan Sakra menurut informasi yang diberikan oleh kelompok Sudra beberapa hari yang lalu.


"Tampaknya Perguruan Tengkorak Darah itu perlu sesekali diberi pelajaran, Ketua" kata salah seorang anggota wanita sambil mengepalkan tinjunya. Usia gadis itu diperkirakan sekitar dua puluh lima tahun. Namanya adalah Arimbi.


Gadis ini dapat masuk dan bergabung menjadi anggota Pecahan Kelemahan sejak berumur sepuluh tahun. Ketika itu dia diangkat menjadi anak oleh adik kandung Aksara Buana, yaitu Sudarta Tirta. Sudarta Tirta menemukan gadis itu saat dia tengah dikeroyok sekelompok anak konglomerat kaya karena merasa jijik dengan Arimbi yang merupakan seorang anak perempuan pengemis dan sebatang kara.


Sudarta Tirta yang melihat gadis kecil itu memiliki bakat yang cukup besar segera membawanya pulang dan dijadikannya gadis itu anak angkatnya.


"Yahh... Tapi Perguruan mereka sudah pindah ke Kerajaan Sakra saat ini. Kita akan kesulitan untuk menyerang mereka. Satu - satunya kesempatan untuk memukul mundur perguruan itu adalah pada saat perang nanti. Dan itu membutuhkan seluruh kekuatan kita karena menurut informasi yang diberikan oleh Pecahan Kegelapan, seluruh anggota mereka telah bergabung menjadi prajurit Kerajaan Sakra"


Aksara Buana mendengarkan sambil manggut - manggut. Dia tiba - tiba dalam pikirannya terlintas suatu ide.


"Mohon maaf, Ketua. Saya ingin bertanya pada saudara Macao. Apakah saudara bisa membuat senjata bedil dan bom seperti yang dimiliki oleh pasukan Kerajaan Sakra?" tanya Aksara Buana bersemangat.


"Emm... Aku memang bisa membuatnya. Hanya saja terkendala dengan alat dan bahan, serta waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan nya sangat lama" jelas Macao menggerakkan - gerakkan jarinya seperti sedang berhitung.


"Perangnya dua bulan lagi akan pecah antara Sakra dan Datu Gumi. Dan dalam dua bulan itu aku hanya dapat membuat sekitar lima puluh buah saja. Tidak cukup untuk mempersenjatai seluruh prajurit Datu Gumi"


Semuanya kembali termenung. Hening beberapa saat sampai Shinda Buana memberikan argumennya.


"Bagaimana kalau kita susupkan prajurit kita dalam pasukan Kerajaan Datu Gumi untuk menjadi penghalau senjata bedil dan bom lawan di barisan depan?"


"Kita tidak bisa terlibat dalam urusan politik kerajaan. Kita hanya akan bergerak ketika Perguruan Tengkorak Darah menampakkan diri. Sedangkan untuk pembunuh bayaran yang disewa untuk membunuh ayahku, aku sudah tempatkan dua orang anggota Pecahan Kegelapan untuk melindungi ayahku dalam bayangan" kata Argadana.


"Pecahan Kelemahan nanti hanya akan bergerak untuk mengganggu pergerakan Tengkorak Darah. Biar Pecahan Kesombongan dan Pecahan Kegelapan yang mengeksekusi mereka. Sementara Pecahan Kelicikan berjaga - jaga di setiap sudut untuk mencegah jika ada anggota Tengkorak Darah yang melarikan diri"

__ADS_1


__ADS_2