
"Tuan tidak usah khawatir. Tuan Kamandaka dulu sudah memperkirakan Naga Iblis akan membalas dendam, jadi setelah menyembuhkan luka kami beliau mengajari masing - masing dari kami jurus rahasia yang berbeda - beda. Jurus itu adalah Jurus Rahasia Pembunuh Naga yang diciptakan khusus untuk melenyapkan kekuatan abadi ras Naga. Tuan pasti sudah mengetahuinya melalui ingatan hamba. Meskipun kedua pengikut Naga Iblis itu dapat mengatasi jurus - jurus naga kami, mereka akan tetap kalah dengan tuan dari segi kekuatan tenaga dalam. Apalagi tuan juga menguasai Jurus Rahasia Pembunuh Naga. Meskipun Naga Iblis menurunkan ilmu abadinya pada para pengikutnya, Jurus Rahasia ciptaan Tuan Kamandaka pasti bisa menghancurkan mereka karena di dalam jurus yang diajarkan Tuan Kamandaka itu sasaran serangannya sudah mutlak mengincar bagian terlemah dari tubuh naga, termasuk kami. Arah serangan dari jurus itu dapat membelok sendiri meskipun dihindari dengan kecepatan penuh. Jadi sekuat apapun seekor naga, ia akan tetap mati jika jurus rahasia itu sampai dikeluarkan. Dan itu juga berlaku pada kami" kata Raja Naga.
"Hmmm.... Ini akan sedikit sulit. Kau masih sanggup bertarung, dinda?" tanya Argadana pada Ningrum. Gadis ayu itu hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Kakang Jaya Ruma mundurlah dulu" kata Argadana yang langsung dipatuhi oleh telik sandi Kerajaan Datu Gumi itu.
Ketika Surasena dan Nila Sari hendak bergebrak, empat bayangan bergerak cepat dan tahu - tahu sudah berada di samping Argadana dan Ningrum. Itu adalah Widura bersama tiga kawannya yang tadi menghilang setelah menyelesaikan bagiannya masing - masing.
"Biar kami menghadapi mereka, ketua..." kata Widura.
"Tidak, Widura. Mereka telah merendahkan martabat para naga. Kali ini biar kami berdua yang melawan mereka, untuk mengembalikan kehormatan bagi para Naga" kata Widura terdengar sedikit sinis.
Argadana dan Ningrum saling berpandangan sejenak sebelum menganggukkan kepala.
"Mereka mengetahui seluk beluk jurus para naga. Jadi jangan gunakan jurus itu untuk melawan mereka, gunakan jurus - jurus lembah neraka" kata Argadana mengingatkan Ningrum dengan menggunakan ilmu memindahkan suara sehingga yang dapat mendengar suara Argadana hanyalah Ningrum sendiri.
"Hiaahhhh.... "
Pendekar Sejoli Pembunuh Naga berbagi lawan. Nila Sari menghadapi Ningrum dan Surasena melawan Argadana.
Jurus Naga Melingkari Bukit
__ADS_1
Serangan cepat Surasena mencecar bagian ulu hati Argadana dengan sangat ganas. Tubuh Argadana seolah dikelilingi oleh beberapa orang Surasena. Orang lain mungkin sudah sejak tadi menggelepar di tanah dengan luka dalam yang parah jika diserang dengan jurus milik Surasena itu, tetapi Argadana bukanlah pendekar biasa walaupun usianya memang masih terbilang sangat muda untuk dapat memiliki kesaktian yang begitu tinggi. Dengan keunikan Jurus Sembilan Langkah Ajaib, Argadana selalu dapat meloloskan diri dari jurus mematikan milik Surasena.
Surasena beberapa kali mengganti jurus berusaha membobol pertahanan Argadana yang sangat kokoh bak karang. Akhirnya pada jurus ke lima belas, barulah Surasena dapat memecahkan teka - teki Jurus Sembilan Langkah Ajaib yang titik lemahnya berada di bagian kaki.
Argadana segera melompat ke belakang sejauh enam langkah dan mengubah gerakannya di udara. Surasena tersenyum sinis.
"Hmphh..... Mengubah gerakan di udara? Aku tidak tahu anak ini terlalu percaya diri atau memang dia yang sombong, atau mungkin dia terlalu bodoh sampai - sampai tidak mengetahui kalau langkahnya itu bisa mengacaukan aliran tenaga dalamnya" gerutu Surasena dalam hati.
Namun hal yang terjadi selanjutnya membuat terkejut pria dari Pendekar Sejoli Pembunuh Naga itu. Saat berada di udara Argadana tampak dapat berpijak di atas angin. Ketika Argadana membuat gerakan menendang di udara, tubuhnya tiba - tiba saja melesat ke arah Surasena dengan sangat cepat dan mengarahkan serangan tapaknya ke arah dada. Surasena yang sudah terpojok tidak sempat lagi membuat gerakan menghindar terpaksa mendorong kan telapak tangan kanannya untuk menangkis serangan Argadana.
Plak....
Dua tapak saling beradu di udara. Dari benturan itu Argadana terdorong ke belakang sejauh dua puluh langkah, sedangkan Surasena terpental cukup jauh. Langkahnya terseret sekitar dua puluh tombak dan baru terhenti setelah tubuhnya saling bertubrukan dengan istrinya Nila Sari yang ketika itu juga telah terkena tendangan telak Ningrum di bagian perut hingga tubuhnya terdorong cukup jauh.
Sementara itu Widura bersama yang lainnya hanya menonton saja tanpa tahu harus berbuat apa. Jaya Ruma tak henti - hentinya menatap takjub pada pertarungan tersebut meskipun kecepatan gerakan empat orang yang sedang bertarung itu tidak dapat diikuti oleh matanya.
Bukkk.....
Suara gedebug terdengar cukup keras ketika tinju kiri Argadana melesak masuk menyasar ulu hati Surasena. Gembong pemuja Naga Iblis itu melompat mundur dengan perut terasa mulas. Tidak lama kemudian tampak darah mengalir di sudut bibirnya.
"Anak ini, jurus - jurusnya sangat aneh. Bahkan ilmu ajaran Dewa Naga tidak dapat menembusnya" keluh Surasena dalam hati.
__ADS_1
"Kekuatan musuh di luar dugaan. Gunakan seluruh kekuatan sisik Dewa Naga" kata Nila Sari yang di jawab dengan anggukan kepala Surasena.
Keduanya lalu membuat gerakan menyilangkan kedua tangan di depan dada dan melepaskan aura hitam pekat dari seluruh tubuh mereka. Selang beberapa saat kemudian, terlihatlah tubuh mereka yang telah di penuhi sisik - sisik tebaltebal berwarna hitam.
"Hati - hati, dinda. Kekuatan mereka bertambah, sepertinya mereka menggunakan tekhnik terlarang itu untuk meningkatkan kekuatannya dalam waktu singkat. Gunakan Tubuh Guntur untuk mengimbangi kekuatannya" kata Argadana mengingatkan.
Tubuh Nila Sari dan Surasena menghilang dan tahu - tahu sudah berada di depan Ningrum dan Argadana.
Buk....
Kali ini keadaan berganti dari yang tadi mendominasi kini berbalik Argadana dan Ningrum dibuat kelabakan karena kecepatan dan kekuatan tekanan tenaga dalam musuh bertambah berkali - kali lipat.
Jurus Sembilan Langkah Ajaib tidak lagi bisa membantu karena kelemahannya sudah diketahui oleh lawan.
Des....
"Ughh..... " terdengar keluhan Ningrum ketika berhasil didepak oleh Nila Sari. Ningrum terlempar cukup jauh, beruntung gadis cantik itu berhasil mengimbangi lontaran tubuhnya dengan bersalto dua kali di udara dan turun dengan ringannya. Ningrum mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya yang ranum.
Tidak jauh dari pertarungannya dengan Nila Sari Argadana tengah berkutat menghadapi Surasena yang kecepatannya bertambah berkali - kali lipat. Terlihat Argadana menghindari tendangan kaki kiri Surasena. Tapi ternyata tendangan itu hanyalah tipuan belaka. Tepat ketika Argadana berhasil menghindar, tinju kanan Surasena menyusul menggedor dada Argadana membuatnya terlontar cukup jauh dari tempat berdirinya. Argadana merasakan sesak di dadanya.
"Dia tidak bisa dihadapi dengan jurus - jurus biasa. Gunakan tubuh naga" ajak Argadana.
__ADS_1
Wusss.....
Angin bertiup kencang mengawali perubahan pada tubuh Argadana dan Ningrum. Asap putih tebal menutupi tubuh keduanya. Widura dan tiga orang anggota pecahan lainnya mengerutkan dahi mereka melihat keanehan tersebut. Begitu juga dengan Surasena dan istrinya. Kedua pendekar penyembah Naga Iblis itu memasang waspada.