
Negeri Matahari Terbit sering juga disebut Negeri Sakura karena banyak ditumbuhi pohon bunga sakura yang di musim gugur daunnya akan menguning kemudian merah dan rontok.
Pohon bunga itu menjadikan Negeri tersebut memiliki keindahan tersendiri yang membedakannya dari negeri di seberang tenggara yang dipenuhi puluhan hingga ribuan pulau.
Negeri Sakura saat ini dipimpin oleh seorang kaisar bernama Fukiaezu Shenju yang biasa disebut Kaisar Shenju atau Shenju Tenno (Tenno: secara harfiah bermakna penguasa surgawi).
Kaisar Shenju sendiri memiliki seorang permaisuri bernama Himetatarai Suzuhime dan seorang selir bernama Ahira Tsuhime.
Dari sang permaisuri Kaisar Shenju dikaruniai tiga orang putra. Putra pertamanya yang sekaligus merupakan putra mahkota atau calon penerus takhta kekaisaran bernama Fukiaezu Fujihira. Putra kedua terlahir setelah Fukiaezu Kenshin berusia lima tahun bernama Fukiaezu Fujihira dan yang terakhir bernama Fukiaezu Toma.
Adapun dari selirnya Shenju Tenno mendapatkan dua orang anak perempuan yang diberinya nama Fukiaezu Kagura dan Fukiaezu Oboro.
Ada beberapa kerajaan yang berdiri di bawah yurisdiksi Kekaisaran Fukiaezu, lima di antaranya merupakan Kerajaan terbesar dan terkuat yaitu Kerajaan Naruhito, Kohemida, Kimminawa, Saradashime, Sosudama.
Di lima kerajaan tersebut masing - masing terdapat beberapa klan yang amat menonjol selain dari keluarga kerajaan. Sebagai salah satu contohnya di Kerajaan Naruhito selain keluarga kerajaan ada juga klan Nakamura dan Tokugawa yang terkenal kuat dan amat menonjol. Kedua klan tersebut merupakan klan yang amat ditakuti di Kerajaan Naruhito karena mereka merupakan klan samurai yang dikenal ketinggian ilmunya. Bahkan keluarga kerajaan sekalipun segan terhadap kedua klan itu.
Pagi hari di saat terang - terang tanah di tepi Pantai Sukiate pemandangan tampak lengang. Pada hari itu para nelayan memang belum bersiap untuk menangkap ikan karena beberapa hari kemarin cuaca tidak menentu. Hanya ombak - ombak yang tanpa henti menyirami pasir pantai kering dan nyanyian - nyanyian merdu burung menjadi melodi penghibur kesunyian.
Ketika terdengar suara ayam jantan berkokok nyaring tiba - tiba suatu hal aneh tapi nyata terjadi. Jika ada yang melihat kejadian ini orang tersebut mungkin akan lari terbirit - birit saking takutnya.
Betapa tidak? Sebuah kereta berlapis emas ditarik seekor kuda putih jantan yang tampak gagah muncul secara tiba - tiba di tepi pantai tersebut.
Kusir kereta itu adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit harimau berwarna putih. Badannya tegap kekar berotot. Matanya tampak bening namun tajam berkilat menandakan tenaga dalamnya yang tinggi.
Di belakang kereta tampak dua orang pria dan wanita muda yang amat tampan dan cantik berpakaian serba hitam mengenakan pedang yang tersampir di punggung mereka. Mereka berdua adalah pengawal kereta emas tersebut.
Tiba di sebuah jalanan yang tampak sepi kereta tiba - tiba dihadang oleh puluhan orang bersenjatakan sebuah benda berbentuk pedang berukuran panjang sekitar setengah batang tombak dan sedikit melengkung dengan lebar sekitar dua ruas jari yang telah terhunus dari sarungnya.
Salah seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun yang merupakan pimpinan mengangkat senjatanya dan menodong kusir kereta emas tersebut. Ternyata yang ditodong adalah Jendral Thalaba dari Kerajaan Siluman Darah. Dengan demikian jelaslah sudah siapa yang berada di dalam kereta emas tersebut.
Ya... Di dalam kereta emas yang bukan lain adalah Kereta Hantu itu ada Argadana dan kedua istrinya, Ningrum dan Yalina. Sedangkan dua orang pengawal itu tentu saja adalah Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam.
Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju Kota Shinshiro untuk bertemu dengan seorang sahabat lama Sepasang Pendekar Naga yang bernama Nakamura Hayate, seorang samurai terkenal dari klan Nakamura. Perjalanan mereka kali ini adalah atas perintah dari Sepasang Pendekar Naga untuk menyerahkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit binatang (Baca eps. Kemunculan Sepasang Pendekar Naga).
"Serahkan kereta mewahmu beserta isinya dan enyahlah, pak kusir. Agar nyawamu selamat. Dan jangan lupa tinggalkan juga gadis cantik itu di sini. Cepat pergi..." perintah pemimpin puluhan orang itu dengan dada dibusungkan.
"Hmph... Kalian para tikus - tikus kecil sudah berani merampok ular. Bosan hidup rupanya" dengus Jendral Thalaba.
Jendral Thalaba ketika itu hendak mengambil tombak emas yang terletak di samping kanannya tetapi dibatalkan karena Surasena dan Nila Sari telah mendahuluinya.
__ADS_1
Sepasang Pendekar Suci itu berkelebat cepat menerjang puluhan orang bersenjata samurai itu.
Jurus Naga Berpasang...!!!
Gerakan Sepasang Pendekar Suci itu terlihat amat lamban namun bagi mereka yang menjadi lawannya akan merasa seperti tenaga mereka terkuras dengan cepat karena irama dari jurus berpasangan yang dikeluarkan Sepasang Pendekar Suci itu membuat lawannya terpaksa melayani dengan cara bergerak ke kiri dan kanan secara bergantian terus menerus karena sasarannya selalu berganti di tiap satu gerakan.
Hal ini membuat lawan yang menghadapi jurus mereka mengeluarkan lebih banyak tenaga dalam untuk mengimbangi jurus mereka.
"Apa yang terjadi, paman? Kenapa keretanya berhenti?" tanya Argadana dari dalam kereta hantu.
"Hanya ada beberapa orang yang baru belajar merampok, yang mulia. Tidak perlu dikhawatirkan, Sepasang Pendekar Suci sedang membereskan mereka" jawab Jendral Thalaba.
"Hmm... Aku sudah bilang, paman. Jangan memanggilku yang mulia. Kalau sulit memanggil namaku, panggillah tuan muda agar tidak terlalu mencolok" tegur Argadana.
"Baik yang... Emmm... Tu.. Tuan muda...!!!"
Surasena dan Nila Sari terus bertukar jurus dengan puluhan orang itu hingga lima belas jurus dan telah menumbangkan sepertiga dari para perampok itu.
Desss...
Bukk...
Ketangkasan sepasang pendekar itu membuat para perampok merasa jeri dan segera melarikan diri dari tempat itu.
"Jurus Naga Berpasang yang kita pelajari di Perguruan Anak Naga ternyata cukup hebat, kakang. Kita baru mengeluarkan dasarnya saja puluhan orang itu sudah lari" kata Nila Sari kegirangan melihat hasil dari jurus mereka yang baru.
Selama dua bulan Argadana di Kerajaan Siluman Darah memang Surasena dan Nila Sari menetap di markas besar Perguruan Anak Naga. Mereka tidak bisa memasuki wilayah Kerajaan Siluman Darah karena ada batasan alam. Sedangkan untuk Ningrum dan Yalina mereka bisa memasuki kerajaan karena telah menjadi istri Argadana, raja Kerajaan Siluman Darah. Hal itu secara tidak langsung menjadikan mereka sebagai keluarga kerajaan.
Kembali lagi pada Surasena dan Nila Sari di markas besar Perguruan Anak Naga. Keduanya banyak membaca kitab - kitab kuno yang mengajarkan ilmu kedigdayaan tingkat tinggi dan bahkan sempat juga mempelajari beberapa ilmu yang terkandung dalam Empat Kitab Penyempurna Jagad. Kini tenaga dalam keduanya juga telah bertambah setingkat lebih tinggi dari sebelumnya ketika bertarung melawan Argadana.
"Perampok sudah melarikan diri, tuan muda" kata Jendral Thalaba berusaha membiasakan dirinya memanggil Argadana dengan sebutan tuan muda.
"Baiklah. Kita lanjutkan perjalanan" perintah Argadana.
Kereta tersebut terus melaju dengan kecepatan tinggi hingga sampai di sebuah perkampungan yang cukup ramai dengan lalu lalang para warga perkampungan itu.
Semua orang yang berada di jalan yang dilalui Kereta Hantu terpukau melihat kereta berlapis emas yang amat indah.
"Keretanya sangat mewah. Pasti keluarga kerajaan atau orang dari keluarga kaya raya"
__ADS_1
"Benar. Mungkin juga dari keluarga pembesar istana"
Terdengar para warga saling berbisik menatap takjub kereta yang tampak indah itu.
"Tuan muda... Tinggal sehari perjalanan berkuda dan kita akan sampai di tempat tujuan" kata Jendral Thalaba.
"Kita cari kedai dulu buat menangsal perut yang sudah lapar" kata Argadana dari balik kereta.
***
Jendral Thalaba mempersilakan Argadana keluar dari Kereta Hantu bersama Ningrum dan Yalina di depan kedai makan yang tampak cukup ramai pengunjung.
Begitu keluar Argadana dan kedua istrinya itu disambut dengan pemandangan indah yang terpampang di depan mereka berupa pohon bunga sakura yang dihias dan dibentuk sedemikian rupa.
"Penampilan orang - orang di sini sangat berbeda dengan penampilan kita dari tenggara, kakang" kata Ningrum menoleh ke kiri dan kanan melihat pemandangan menakjubkan di depannya.
"Benar, yunda. Dan mata mereka juga sipit tidak sama dengan kita. Terlebih warna kulit mereka" sambung Yalina.
"Ehmm... Begitulah" jawab Argadana singkat lalu mengajak kedua istrinya bersama dengan Jendral Thalaba dan Surasena juga Nila Sari untuk masuk ke kedai makan tersebut karena perutnya sudah terasa sangat lapar"
Sesampainya di dalam mereka disambut dengan tatapan heran dari orang - orang di kedai tersebut karena penampilan mereka yang tampak asing, sangat berbeda dengan penampilan orang - orang pribumi terutama Argadana yang rambutnya berwarna kuning keemasan.
"Tuan muda mau pesan apa?" tanya seorang pelayanan wanita berwajah manis dengan ramah.
"Emm... Kami berasal dari tenggara. Tidak tahu menu makanan apa yang kalian sediakan di sini. Jadi buatkan saja makanan yang paling enak" pesan Argadana.
"Baik, tuan muda. Pesanan tuan muda akan segera kami siapkan. Silakan tuan tunggu dulu"
Pelayanan itu pun berpamit untuk menyiapkan pesanan Argadana.
Tidak berapa lama makanan pesanan Argadana pun telah disajikan di meja makan. Enam orang dari wilayah tenggara itu segera makan dengan lahapnya.
"Nona - nona bertiga. Tolong ikuti aku. Tuan kami ingin mengajak nona makan bersama di meja sebelah sana"
Seorang lelaki berusia sebaya dengan Surasena berwajah garang berdiri di samping tempat duduk Yalina.
Tanpa permisi lelaki itu memegang tangan Yalina dan hendak meraih lengan Nila Sari. Akan tetapi sesuatu yang mengerikan terjadi padanya.
"Uhh... Ada apa dengan tanganku? Gatal... Ughh... Gatal sekali. Kenapa gatalnya menjalar ke seluruh tubuhku? Gadis setan!!! Apa yang kau lakukan padaku?" teriak lelaki itu.
__ADS_1
Argadana hanya mendengus sebentar lalu melanjutkan makannya tanpa mempedulikan lelaki itu yang kini kulit di beberapa bagian tubuhnya telah mulai mengelupas karena digaruk terus menerus.