
Lima orang berpakaian serba hitam yang wajahnya tertutup kain hitam berlari kencang bagai dikejar hantu. Nafas mereka sudah memburu.
"Ayo...!!! Percepat lari kalian atau dia akan menyusul kita...!!!" teriak pemimpin ninja.
"Sial sekali... Misi yang tadinya kukira mudah nyatanya hancur dalam sekejap oleh orang tak dikenal. Kekuatannya sangat mengerikan dan juga kecepatannya seperti iblis..." batin ketua ninja.
Setelah berlari kira - kira sejauh sepuluh mil akhirnya mereka menoleh ke belakang dan memastikan bahwa tidak ada orang yang mengejar, barulah mereka berhenti dengan nafas satu dua. Dada mereka kembang kempis pertanda nafas tidak teratur.
"Bangsat...!!! Orang itu kekuatannya bukan olah - olah hebatnya" umpat seorang anggota ninja yang bernama Rokuda.
Di saat sedang melepas lelah itu sesosok bayangan hitam berkelebat cepat melemparkan lima buah shuriken dan...
"Crab...!!! Crab...!!!"
"Aaahhkk...!!!"
Lima orang ninja itu akhirnya melepaskan lelah mereka selamanya. Mereka tidak lagi merasakan nafas memburu karena nafas mereka sudah tidak ada. Kelima ninja itu mati dengan masing - masing dahi mereka tertancap sebuah shuriken.
"Kalian sudah gagal. Dan harga dari kegagalan itu adalah kematian" kata sosok yang baru datang itu yang ternyata adalah ninja bergaris pangkat tiga mendengus kasar.
"Rencana sudah hancur... Bajingan sialan itu. Dia menghancurkan semua yang telah kita susun dengan baik. Tidak kusangka kekuatannya begitu mengerikan. Kurasa hanya tuan Maeda Susaku saja yang bisa menandingi kekuatan orang itu" ninja berpangkat tiga itu bergumam sendiri sebelum berkelebat dan menghilang di tengah - tengah hutan.
***
Kegiatan pelatihan kembali dilakukan para murid Perguruan Elang Emas di bawah bimbingan Argadana sehari setelah kepergian Pangeran Fujihira yang terus dikawal oleh Jendral Thalaba tanpa diketahui.
__ADS_1
Obat ramuan yang dibuat Argadana untuk para murid benar - benar mustajab. Kekuatan mereka kini berhasil meningkat dua kali lipat hanya dalam waktu dua hari saja. Pada tahap ini mereka telah siap untuk mulai mempelajari tekhnik - tekhnik tingkat tinggi yang merupakan ciri khas yang menandakan identitas mereka sebagai anggota Perguruan Anak Naga.
Sore harinya setelah aktifitas berlatih para murid berhenti Perguruan Elang Emas kedatangan lagi tamu dari kekaisaran. Hanya bedanya jika yang beberapa hari lalu datang adalah Pangeran Fujihira Fukiaezu, kali ini yang datang adalah Pangeran Kenshin Fukiaezu.
Rombongan Pangeran yang datang bersama pengawalnya itu disambut dengan baik oleh Perguruan Anak Naga tetapi sifat mata keranjang sangat pangeran membuat kedua istri Argadana merasa muak. Mereka menyadari kalau pandangan pangeran itu sejak pertama masuk ruangan perjamuan sudah tertuju pada mereka berdua dan Yamada Ayame yang memiliki penampilan paling menarik di antara murid - murid perempuan lainnya.
Pandangan nakal Pangeran Kenshin membuat Yamada Ayame merasa tidak nyaman. Maka dia merangkul lengan Argadana dengan erat sebagai kode agar pangeran itu menyadari kesalahannya. Namun hal itu justru membuat pangeran tersebut menampakkan wajah tidak senang.
"Silakan, pangeran...!!! Jadi ada gerangan apakah sehingga pangeran repot - repot datang ke tempat kecil kami?" tanya Argadana tersenyum menyodorkan secangkir air putih dan beberapa buah - buahan manis.
Pangeran kedua kekaisaran itu tidak langsung menjawab melainkan menenggak habis dulu air minumnya.
Perbedaannya dengan Pangeran pertama Fujihira Fukiaezu sangat terlihat dari segi sifat keduanya yang tampak saling bertolak belakang.
Setelah lama ditunggu akhirnya dia buka suara juga. Masih dengan menampakkan kesombonganya dia menatap remeh Argadana dan berkata dengan nada mencibir.
"Baiklah... Aku akan langsung saja. Kedatanganku kemari kali ini adalah untuk merekrutmu. Jadilah bawahanku, dan kau bisa sebutkan apapun hadiah apapun yang kau mau. Aku akan mengabulkannya" kata Pangeran Kenshin dengan nada pongah.
"Tapi jika kau menolak tawaran baikku... Tentu saja harga yang harus dibayar perguruan kalian adalah kehancuran"
Tanah bergetar hebat mengguncang seluruh Perguruan Elang Emas ketika Argadana berusaha menekan kemarahan yang menggelegak di dadanya.
Saat itu dia merasakan amarah Raja Mahardika Pradana kakeknya yang hampir saja keluar dari dimensi pedang siluman darah karena tidak terima cucunya direndahkan dan diancam.
Wajah Argadana jadi tampak merah kelam mengerikan. Tidak ada lagi terlihat raut orang yang menghormati tamu.
__ADS_1
"Jadi tujuan kedatangan kalian kemari hanya untuk mengatakan omong kosong ini? Apa masih belum cukup ratusan nyawa melayang? Apa masih perlu ada ribuan lagi nyawa yang tercabut?" kata Argadana dengan wajah tampak beringas.
Hal ini membuat Ningrum dan Yalina merasa khawatir suami mereka akan kehilangan kendali karena darah siluman yang mengalir di tubuhnya menuntut untuk melampiaskan kemarahan.
Keduanya diam - diam mengecam perkataan Pangeran ke dua Kekaisaran Jepang itu yang terlalu sombong dan memandang rendah orang lain.
Sedangkan saat itu pengawal Pangeran Kenshin segera memasang kewaspadaan tinggi begitu merasakan niatan membunuh yang amat kuat dari orang di depan majikan mereka.
"Hei... Anak tidak tahu diri. Kau seharusnya merasa bangga Pangeran kedua mau merekrutmu menjadi bawahannya. Itu merupakan sebuah kehormatan besar bagi perguruan kecil seperti perguruanmu" seru salah seorang pengawal berusaha menjilat Pangeran Kenshin Fukiaezu.
Ketika itu Pangeran Fukiaezu tengah berusaha menenangkan diri dari rasa takut yang mendera batinnya sekejap tadi.
"Lakukan...!!!" Argadana hanya berucap pelan tetapi sedetik kemudian Surasena yang duduk di belakangnya mencabut pedang naga hitam secepat kilat dan menebaskannya ke depan. Terlepaslah kepala pengawal tadi dengan potongan yang sangat rapi.
Pangeran Kenshin dan pengawal lain sangat terkejut sampai tidak sempat bereaksi melihat tindakan pengawal Argadana yang begitu tiba - tiba dan sangat cepat.
"Aku masih belum terbebas dari tekanan yang terakhir kali dan sedang berusaha meredakan amarah kakek. Hari ini kalian datang kemari lagi memperkeruh keadaan, memancing lagi kemarahannya yang masih sedikit mereda" dingin suara Argadana. Matanya tampak berkilat menampakkan ketidak senangannya.
"Pangeran...!!! Kau selama ini tampaknya menggunakan harta dan jabatanmu untuk melakukan segala tindakan tidak terpuji sesuka hati. Dengan harta kau dapat membeli segala yang kau mau. Tapi apakah kau pernah berfikir, tentang sesuatu yang tidak bisa kau beli dengan hartamu?"
"Kau...!!! Berani kau menolakku? Dan kau bahkan membunuh orangku di depanku sendiri? Apa kau tidak takut aku akan menghancurkan perguruan kecil ini?" kata Pangeran Kenshin mencoba menggertak Argadana.
"Kau bisa mencobanya jika kau merasa mampu. Tetapi jika kau hanya mengandalkan pengawal bodoh semacam mereka, kupastikan mereka akan terbunuh dalam sepuluh jurus di tangan kedua istriku" balas Argadana.
"Tidak tahu diuntung...!!! Kau akan segera mengetahui apa akibatnya karena telah berani menentang yang mulia ini" Pangeran Kenshin lalu segera pergi meninggalkan Perguruan Elang Emas dengan hati panas.
__ADS_1