
"Oh, tidak. . . Muridku ..."
Wuss. . .
Satu sosok berwarna biru terlihat bagai angin menghampiri Serik yang tubuhnya melepuh bagai baru saja tersambar petir sungguhan. Sosok tersebut merupakan seorang wanita tua berumur sekitar lima puluh tahun mengenakan kain berwarna biru bersenjatakan tongkat kepala tengkorak. Wanita tua ini bernama Sartika, di dunia persilatan digelari Pendekar Sakti Tongkat Mustika.
"Guru ..."
Delapan pengawal yang tersisa berlutut memberi hormat pada Sartika. Rupanya perempuan tua itu adalah guru mereka.
Sartika tidak merespon hormat delapan muridnya. Wajahnya tampak beringas melihat kematian tragis murid termudanya.
"Gadis binal, kau telah membunuh muridku. Kau harus membayarnya dengan darahmu" desisnya dipenuhi kemarahan yang meluap - luap.
Ningrum yang dikatai gadis binal wajahnya berubah kelam membesi. Sementara Argadana berusaha menenangkan gadis pujaannya itu. Putra Dyah Ayu Pitaloka itu maju ke sisi Ningrum dan menggenggam tangannya erat agar sang gadis tidak jadi lepas kendali. Tetapi Argadana telah menyiapkan 'Jurus Sembilan Matahari' jika wanita tua di hadapannya melakukan serangan tiba - tiba. Tubuh Ningrum dan Argadana terselimuti kabut merah tipis yang terlihat samar membuat dahi Sartika berkerut heran.
"Kau juga ingin bertindak bodoh seperti muridmu, Sartika?" Ki Barnawi yang sudah menyelesaikan makannya keluar dari kedai dan menyapa wanita yang bergelar Pendekar Sakti Tongkat Mustika itu.
"Barnawi. Kau bukannya dulu sudah berjanji untuk membantuku atau muridku jika dalam kesusahan?" bentak Sartika marah.
"Sekarang kau malah membela anak muda itu yang telah mencelakai muridku, apa kau mengingkari janjimu?"
Sebenarnya Barnawi tidak mempunyai ikatan apapun yang sedemikian dalam dengan wanita tua berjuluk Pendekar Sakti Tongkat Mustika itu. Hanya saja lima tahun yang lalu, Barnawi mengalami luka parah setelah bertarung melawan Ketua Perguruan Rajawali Hitam dan secara kebetulan dia ditolong oleh Sartika. Lalu Barnawi demi membalas Budi pada Sartika berjanji untuk memberikan satu bantuan pada Sartika atau murid - muridnya jika suatu saat mengalami kesulitan.
"Hmm. . . Aku tadi sudah memperingati murid - murid bodohmu itu. Aku bukannya tidak mau membantu. Masalahnya kita tidak punya hubungan persahabatan yang begitu dalam sampai aku harus mengorbankan diriku untuk berhadapan dengan Dewi Obat hanya karena membantu murid - murid tidak bergunamu itu" kata Barnawi menjelaskan.
"A.. Apa maksudmu menyebut nama Dewi Obat?" kata Sartika tergagap. Dia paham betul seberapa berat resikonya jika sampai berurusan dengan pendekar kosen itu.
__ADS_1
"Jika mata tuamu masih belum rabun, kau tentu dapat melihat dengan jelas ciri - ciri pedang pusaka kebanggaan Dewi Obat yang sekarang dibawa oleh gadis itu"
Sartika mengikuti perkataan Barnawi dan matanya seketika melotot lebar. Dari gagangnya saja Sartika bisa tahu kalau itu memanglah Pedang Pusaka Naga Guntur.
"Apa mungkin kedua anak muda ini adalah murid Sepasang Pendekar Naga? Tapi sejak kapan kedua pendekar itu mengangkat seorang murid?" batin Sartika yang jadi ragu untuk menyerang. Tetapi untuk membiarkan saja hal itu dia merasa malu.
"Aku tadi sudah mengingatkan mereka, agar tidak membuat masalah dengan kedua anak muda itu. Tapi nyatanya mereka tidak mau dengar dan malah nekad mengeroyok murid sahabat baikku itu. Jadi tidak kubunuh mereka juga merupakan bantuan besar kan?"
Berkata seperti itu Barnawi jadi teringat peperangan besar antara aliran putih dan hitam dunia persilatan. Ketika itu dia hampir saja tewas terbunuh oleh Pendekar Kumbang Selaksa Iblis. Beruntung ketika itu dia ditolong oleh Sepasang Pendekar Naga sehingga dari peperangan itu terjalinlah hubungan persahabatan yang erat di antara ketiganya.
Sartika memandang delapan muridnya. "Apa yang sebenarnya terjadi sampai kalian harus berurusan dengan mereka?" tanya Sartika pelan setelah kemarahannya sedikit mereda.
Gondo lalu menceritakan awal masalah itu terjadi dari Danuswara yang menginginkan Ningrum sampai pada pertarungan mereka tadi tanpa ada yang ditutup - tutupi. Sartika yang merasa bersedih kehilangan seorang murid kini bertambah geram. Wanita tua itu menatap Danuswara dengan tatapan dingin.
Pendekar Sakti Tongkat Mustika itu pun akhirnya hanya mendesah pelan menyadari kesalahan berada di pihak muridnya. Ia lalu menjura kepada Ningrum dan Argadana
"Saya tidak peduli dengan kesalahan murid - muridmu, nenek. Saya hanya ingin menghajar anak Adipati bejat itu" tunjuk Ningrum pada Danuswara membuat keder jantung Danuswara yang telah tahu murid siapa yang ingin dia lecehkan itu.
"Tapi murid - murid nenek menghalangi, dan malah menyerang saya. Jadi saya juga hanya membela diri dan tidak sengaja kelepasan membunuh salah satu murid nenek. Untuk itu saya juga minta maaf"
"Kalau begitu baiklah, nona. Orang tua ini akan pergi dulu. Soal pemuda bejat itu aku serahkan padamu untuk menanganinya" kata Sartika lalu membawa mayat Serik dan pergi diikuti delapan muridnya yang membawa salah satu kawan mereka yang pingsan.
"Sekarang giliran mu untuk menerima hukuman" desis Ningrum.
Danuswara mundur selangkah demi selangkah. Nyalinya sudah menguap entah kemana, niat bertarungnya lenyap seketika setelah melihat betapa kuatnya gadis itu tadi.
"No..nona. . . Tolong maafkan kelancangan saya, nona. Saya janji tid ... Uuakkk. . ."
__ADS_1
Danuswara terlempar belasan tombak setelah terkena tendangan Ningrum. Putra Adipati Renggana itu bangun dalam keadaan muntah darah.
"Tu..tum..tunggu dulu, nona. Tolong, ja..ja..jangan bunuh saya, nona" Ningrum tidak menghiraukan kata - kata Danuswara. Sedangkan Argadana hanya berdiri diam mengawasi, sengaja dia tidak menghentikan Ningrum untuk memberi pelajaran pada pemuda sombong itu agar kelak dia dapat merubah tabiat buruknya.
Ketika Ningrum mengangkat tangannya bersiap melancarkan serangan lanjutan ...
"Tahan. . .!!!"
Seseorang bergerak cepat menapak serangan Ningrum. Kedua telapak tangan beradu di udara menimbulkan gelombang ledakan yang cukup kuat membuat keduanya terjajar sepuluh langkah.
Orang yang menangkis serangan Ningrum tadi meringis karena tangan yang digunakan untuk menahan tenaga dalam Ningrum terasa mati rasa. Kini tahulah dia bahwa lawannya adalah gadis berilmu tinggi.
"Siapa kalian yang berani mengacau di wilayah Kadipaten Suwela?" tanya orang yang baru datang. Penampilannya cukup nyentrik, dengan baju robek di sana - sini. Tetapi anehnya baju tersebut nampak seperti sengaja dirobek.
"Kenapa tidak kau tanya pada tuan mudamu itu, apa penyebab keributannya" tanya Ningrum dengan nada memerintah.
"Aku menginginkan gadis itu, Ki Waringin. Jadi dapatkan dia untukku"
"Baik, tuan muda"
"Ki Waringin rupanya menjadi anjing Adipati Renggana" kata Barnawi tertawa mengejek.
"Bangs4t. . . Diam kau, Barnawi. Kau tidak tahu apa - apa tentang kami, perkumpulan pengemis darah hitam"
"Hehehe. . . Kalau mau jadi pengemis, jadilah saja pengemis. Jangan jadi penjilat, salah - salah kau nanti bisa mati. Hehehe..." ejek Barnawi lagi memanas - manasi Waringin.
"Kau. . ." Waringin kelabakan beradu mulut dengan Barnawi.
__ADS_1