Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Serangan Sembilan Ninja


__ADS_3

Malam itu di Perguruan Elang Emas suasananya sangat sunyi. Semua orang di perguruan itu sedang tertidur lelap karena lelah seharian berlatih jurus - jurus tingkat tinggi yang menguras habis tenaga mereka. Hanya desau angin semilir yang menelusupi lubang - lubang kecil di jendela bertiup menimbulkan suara sumbang bakal melodi yang terdengar aneh.


Sembilan orang berpakaian hitam - hitam berjalan mengendap - endap di atas atap bangunan yang paling megah di perguruan itu. Wajah mereka tidak nampak jelas karena menggunakan penutup kepala sehingga yang terlihat hanya kedua bola matanya saja.


Mereka berjalan selangkah - demi selangkah tanpa menimbulkan suara pertanda ilmu meringankan tubuhnya amat sangat tinggi.


"Apa benar di sini ruangannya?" tanya seorang yang berjalan paling depan.


"Iya, benar. Mata - mata kita mengatakan bahwa orang asing itu bertempat tinggal di bangunan ini" jawab yang berada di belakangnya.


"Kalau begitu buka... Congkel salah satu atapnya untuk melihat apakah yang tidur di sana itu benar - benar si jahanam itu" kata orang yang berdiri paling belakang.


"Baik, ketua...!!!"


Orang yang berada di bagian paling depan sudah akan melaksanakan perintah dari orang yang dipanggil ketua. Perintah itu hampir terlaksanakan sampai telinga orang terdepan itu mendengar suara angin tajam dari arah samping kanan.


Tidak maunambil resiko orang tersebut membatalkan niatnya dan memundurkan badannya sedikit sehingga angin tajam itu hanya lewat sedikit di depannya.


Setelah di lihat ternyata sebuah ranting cendana telah menancap cukup dalam di kayu penyangga atap rumah tersebut.


"Siapa...???" kata sembilan orang itu dengan nada terkejut.


Mereka lalu secara serentak menoleh ke arah asal ranting cendana tersebut melayang. Di sana mereka melihat seseorang yang berpakaian serba putih. Wajahnya tidak jelas terlihat karena gelapnya malam.


Orang tersebut berbalik badan tanpa mengucap sepatah katapun dan berkelebat cepat ke arah hutan yang tidak jauh dari tempat itu.


"Kejar...!!!" kata sang ketua.


Sembilan orang tersebut ikut berkelebat cepat mengejar penyerang gelap itu yang entah kenapa lebih terlihat seolah - olah sengaja memancing mereka agar mengejarnya. Hal itu terlihat jelas dari caranya berlari yang tampak seperti sengaja diperlambat.

__ADS_1


Dahi pemimpin orang ber penutup wajah itu berkerut heran melihat larinya penyerang itu tampak seperti sengaja diperlambat menunggu kedatangan mereka.


"Aku tidak tahu orang itu sudah bodoh atau memang dia yang benar - benar berani. Tapi untuk kelancaran rencana kali ini, dia harus dibunuh dulu" batinnya.


Mereka terus berlari hingga sampailah mereka di tengah hutan kecil itu. Di sana penyerang gelap tadi yang bukan lain adalah Argadana telah menunggu kedatangan sembilan orang itu dengan memasang senyum santai.


"Kau sengaja memancing kami untuk memasuki hutan ini apa untuk menyerahkan nyawamu?" kata orang terdepan dengan nada mengejek.


Argadana hanya tersenyum saja tak lekas menjawab pertanyaan. Dia kemudian menggeleng - gelengkan kepala lalu menundukkan wajahnya sedikit. Ketika wajahnya ditegakkan kembali ketua dari sembilan orang itu tampak terkejut melihat mata Argadana tampak berkilat tajam memandang ke arah mereka.


"Orang ini memiliki tenaga dalam tinggi. Hati - hati, gunakan Formasi Ular Melilit Gunung.!!!" perintah ketuanya.


Delapan orang itu bersuit serentak membentuk lingkaran sedang yang mengepung Argadana dari segala arah.


"Kau tidak ikut? Mereka akan mati jika tidak kau bantu" kata Argadana percaya diri.


"Jika kau ingin melawanku, tunjukkan dulu apakah kau layak untuk melawanku atau tidak dengan menghadapi delapan orang anak buahku" kata ketua di luar kepungan.


"Tolol...!!!" maki sang ketua marah.


"Aku beri kalian kesempatan tiga jurus lagi. Buat mampu*s anak muda itu. Jika tidak bisa membunuhnya juga, kalian mesti mundur dan terima hukuman"


Setelah tiga jurus mengepung Argadana ternyata delapan orang tersebut tidak sanggup mengalahkan anak muda berambut emas itu. Sekarang karena takut menerima hukuman dari ketua mereka delapan orang tersebut menggerakkan katana dengan sebat membuat gerakan menusuk mengincar delapan bagian tubuh Argadana.


"Hiaaahhhh...!!!"


Bentakan dahsyat bergema menggetarkan seisi hutan tersebut di malam hari itu sebab Argadana mengerahkan tenaga dalam tinggi pada saat membentak tadi.


Bulu - bulu tengkuk delapan orang yang mengepung meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana kawan mereka kini berdiri kaku tegang karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Argadana saat itu berdiri tenang bahkan mulai bersiul - siul.

__ADS_1


Rasa tak percaya membuat sang ketua membuka matanya lebar - lebar dengan hati merutuk kesal.


"Gila...!!! Apa yang dilakukan anak celaka ini sampai delapan orang terkuat ku bisa dibuat tidak bergerak begitu" batinnya.


"Bangsa*t... Apa yang kau lakukan pada tubuh kami?" bentak salah seorang yang kena totok marah.


"Kalian diamlah... Ada yang ingin kutanya pada kalian. Tapi aku harus mengurus ketua kalian lebih dulu"


Wajah sangat ketua tampak kelam membesi. Segera setelah katana tercabut, dia tiba - tiba bergerak dan selarik sinar putih keperakan menyambar ke arah leher Argadana.


Argadana yang melihat katana tersebut cukup tajam dan berbahaya segera mengegoskan diri ke samping. Tubuhnya menghilang.


Pemuda sakti itu membuang tubuhnya ke kiri dan menghantamkan tangan kanan yang telah dialiri tenaga dalam Ilmu Pukulan Gugur Gunung tetapi tampaknya ketua Ninja itu memiliki tenaga dalam yang juga sangat tinggi.


Pukulan Gugur Gunung yang dilepaskan Argadana ditahannya dengan tinju kiri dengan pengerahan tenaga dalam tinggi hingga angin Pukulan Gugur Gunung tersibak dan menghantam dua batang pohon besar di belakang lawannya sampai hancur benjadi bubuk debu.


"Hmm...??? Ini pertama kalinya ada orang dari ras bermata sipit yang mampu menahan kekuatanku. Meskipun hanya sebagian kecil, tapi sudah cukup untuk membunuh ketua klan Tokugawa. Orang ini kelihatannya setara dengan Surasena"


Lain yang difikirkan Argadana, lain juga yang difikirkan lawannya.


"Jahanam... Anak ini ternyata memiliki ilmu tingkat tinggi. Mustahil aku bisa menang melawannya. Aku terpaksa harus membayar Raja Teluh untuk membunuhnya"


Berfikir tidak mungkin dapat meraih kemenangan, orang itu lalu melemparkan sebuah benda berbentuk bulat berwarna hitam yang meledak tepat di hadapan Argadana. Asap kehitaman mengepul menutupi pemandangan.


Hanya perlu mengulapkan tangan kirinya sekali asap hitam tersebut lenyaplah namun pemimpin orang - orang berpakaian hitam tadi telah tidak berada di tempatnya.


Argadana mencoba menoleh ke arah delapan orang yang tadi telah ditotoknya agar bisa dimintai keterangan. Apalah daya, delapan orang itu pun telah ambruk dengan tubuh membiru. Di dahi mereka masing - masing tertancap sebuah benda bundar terbuat dari besi yang di empat sisi luarnya terdapat bagian yang tajam dan runcing.


"Senjata rahasia ini beracun. Akan kubawa pada tuan Nakamura Hayate agar aku bisa melakukan penyelidikan tentang sembilan orang itu"

__ADS_1


Argadana lalu berkelebat cepat kembali ke kediamannya di Perguruan Elang Emas.


__ADS_2