
"Begitulah ceritanya sampai beliau mengangkatku menjadi muridnya setelah setengah tahun menyembuhkan diri di kediamanku" kata Raja Teluh mengakhiri ceritanya.
"Jadi... Maksudmu, anak itu bahkan lebih kuat darimu?" tanya Zatou Natsu menegaskan.
"Setan... Jaga ucapanmu...!!!" umpat Raja Teluh dengan dada kembang kempis.
"Hanya karena gurunya lebih kuat dari guruku, bukan berarti anak itu juga lebih kuat dariku. Kemarikan tangan kirimu...!!!"
Raja Teluh meraih tangan Zatou Natsu yang terluka akibat benturan dengan Argadana. Mulut Raja Teluh berkemak - kemik membacakan mantra.
Jailangkung - jailangset...
Datanglah... Datanglah...
Di sini ada pesta meriah...
Datang tak diundang...
Pulang tak diantar...
(Maklum... Gk tau mau bikin mantra apa 🤣🤣)
Raja Teluh mengambil boneka di samping baki berisi air dan mengusap kan ibu jarinya di kepala boneka tersebut.
Kulkunub... Cing.. Kecial koneng
Ni serioq.. Engat... Gitaq...
Seherku... Seher macan laut...
Puiihhhh....
Setelah membaca mantra dengan nada sumbang tersebut Raja Teluh mengambil lima batang jarum kecil dari dalam baki air di depannya. Jarum tersebut ditusukkan di lima bagian tubuh boneka yaitu bagian kepala, kedua tangan dan kedua kakinya.
***
"Aku menggunakan jejak tubuhnya yang masih berada di tanganmu sebagai penanda. Ilmu teluhku pasti akan tersampaikan padanya. Kita tunggu kabar dari peliharaanku sebentar malam" kata Raja Teluh.
"Hmm... Baiklah. Aku ingin memulihkan luka dalamku dulu. Mungkin akan butuh waktu dua hari. Si jahanam itu kekuatannya sangat besar. Aku bahkan harus lari seperti pengecut. Setelah dia melemah karena ilmu teluhmu itu, aku akan datang untuk membuat perhitungan" desis Zatou Natsu mengepalkan tangannya.
"Kau tampaknya sangat meremehkan luka dalammu, Zatou. Asal kau tahu saja, dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh Ilmu Pukulan Gugur Gunung itu sulit terbayangkan"
"Apa maksudmu, Raja Teluh?"
Zatou Natsu mengerutkan dahi keheranan.
"Luka dalam yang kau rasakan saat ini hanya merupakan pertanda awal. Pukulan itu mengandung racun yang dapat menghisap seluruh cairan di tubuh sasarannya. Jika dihitung dari waktu bertarungmu, kuperkirakan siang hari nanti jika kau tidak segera meminum obat pemulihan darah, tubuhmu akan mengering dan perlahan - lahan akan retak"
Meremang bulu kuduk Zatou Natsu mendengar dampak kerusakan yang diakibatkan luka yang dideritanya saat ini.
__ADS_1
"Jangan menakut - nakuti aku, Raja Teluh. Bercandamu sungguh tidak lucu" bentak Zatou Natsu dengan wajah merah padam.
"Kau lebih tahu aku tidak pernah suka bercanda, Zatou Natsu" jawab Raja Teluh sinis.
"Lalu apakah ada penawar untuk racun pukulan itu?"
"Penawarnya sangat sulit untuk dibuat terlebih lagi bahan - bahan pembuatannya sangat langka. Perlu waktu tujuh hari untuk membuatnya. Beruntung kau telah menelan obat yang dapat meringankan efeknya. Itu akan bekerja selama dua hari. Jadi setiap dua hari kau harus meminum lagi pilnya atau tangan kirimu akan mengawali keretakan di seluruh tubuhmu"
***
Pagi - pagi setelah matahari terbit cukup tinggi di arah timur murid - murid Perguruan Elang Emas berlatih dengan tekun dan penuh semangat di bawah bimbingan masing - masing lima ketua pecahan.
Argadana sedang duduk mengobrol bersama Nakamura Hayate dan memberitahukan perihal kejadian semalam tadi pada Nakamura Hayate.
"Hmm... Benda itu namanya bintang, merupakan senjata rahasia milik para ninja dan di permukaannya dibubuhi racun yang sangat mematikan" kata Nakamura Hayate mengerutkan dahi.
"Hmm... Senjata ini memang beracun. Itu sebabnya delapan orang itu tewas dengan mulut berbusa setelah benda ini menancap di kening mereka"
"Tapi... Apa masalah mereka denganku sehingga mereka menginginkan jiwaku?" Argadana tampak berfikir keras.
"Besar kemungkinannya hal itu berhubungan dengan perangai melawan klan Tokugawa waktu itu, ketua" kata Nakamura Hayate dengan wajah cerah.
"Sudah bukan rahasia lagi tentang Tokugawa Chirou yang memiliki hubungan sangat dekat dengan ketua organisasi pembunuh bayaran itu. Jadi tujuan mereka mungkin adalah untuk membalaskan dendam atas kematian Tokugawa Chirou"
"Baiklah, paman... Setidaknya sudah ada titik terang tentang orang yang menyerangku malam itu. Sisanya biar kuurus sendiri" kata Argadana yang telah mulai terbiasa memanggil Nakamura Hayate dengan sebutan paman. Hal itu atas permintaan Nakamura Hayate sendiri.
"Mungkin beberapa hari ke depan aku akan keluar dalam waktu yang cukup lama. Aku ingin menyelidiki markas mereka. Ketuanya memiliki ilmu yang cukup tinggi, akan merepotkan bagi perkembangan perguruan di sini jika mereka tidak segera diatasi"
"Ada apa, paman? Katakanlah...!!! Jika aku ada kesanggupan, aku akan berusaha memenuhi apapun kondisi paman"
"Anu... Emm... Semalam kelima muridku itu datang kepadaku. Mereka meminta tolong aku untuk menanyakan pada Ketua soal Ilmu Pukulan Naga Murka itu apakah mereka masih bisa meminta diajarkan oleh ketua?" tanya Nakamura Hayate takut - takut.
Argadana tersenyum mendengar permintaan Nakamura Hayate.
"Aku sudah menunggu pertanyaan itu sejak lama, paman. Kalau begitu biar kutunda keberangkatanku selama sebulan. Nah, tolong kumpulkan mereka di aula pelatihan selepas makan pagi nanti"
"Baik... Baik, ketua... Terimakasih..." jawab Nakamura Hayate dengan wajah cerah.
Selepas makan pagi Takahashi Rikimaru bersama empat orang adik seperguruannya yang lain datang menghadap Argadana yang tengah ditemani oleh kedua istrinya Ningrum dan Yalina di aula pelatihan.
"Ketua...!!!" sapa kelimanya serentak membungkukkan badan kepada Argadana yang membalas dengan lambaian tangannya.
Setelah berbasa - basi sebentar menjelaskan tentang persyaratan yang harus dipenuhi untuk menguasai Ilmu Pukulan Naga Murka, Ningrum lalu mengajarkan mantra pembuka ilmu tersebut yang dengan cepat dihafalkan oleh mereka berlima karena memang mereka memiliki daya ingat yang tinggi selain bakat yang cukup baik.
"Sekarang aku ingin menguji kekuatan tenaga dalam kalian. Nah, kalian harus menyerang aku dengan kekuatan penuh. Dimulai dari Takahashi Rikimaru. Lakukan! Serang aku dengan tenaga penuh..!!!"
"Baik, ketua. Tolong maafkan kelancangan saya..." kata Takahashi Rikimaru sebelum mengepalkan tinjunya.
Takahashi Rikimaru melayangkan tinjunya menghantam dada Argadana.
__ADS_1
Buk...
Takahashi Rikimaru merasakan tangannya kesemutan setelah memukul dada Argadana.
"Tenaga dalammu cukup tinggi. Kau bisa langsung mempelajari Ilmu Pukulan Naga Murka"
"Terimakasih, ketua..." kata Takahashi Rikimaru membungkukkan badannya.
Setelah Takahashi Rikimaru kembali ke tempatnya semula empat murid Nakamura Hayate yang lain bergantian menyerang Argadana dengan kekuatan penuh mereka. Akan tetapi dari keempatnya hanya Yamada Ayame saja yang memenuhi syarat untuk langsung mempelajari Ilmu Pukulan Naga Murka seperti Takahashi Rikimaru karena tenaga dalam mereka bertiga masih belum cukup kuat untuk menanggung kekuatan besar dari ilmu pukulan tersebut.
"Takahashi Rikimaru akan belajar denganku sedangkan Yamada Ayame bisa langsung mengikuti dinda Ningrum. Untuk kalian bertiga, temui aku besok di halaman berlatih saat subuh untuk membantu peningkatan tenaga dalam kalian"
"Baik, ketua"
Takahashi Rikimaru dan Yamada Ayame belajar dengan giat di bawah bimbingan Argadana dan Ningrum hingga tak terasa keduanya berlatih sampai malam dan baru sadar setelah kantuk menghampiri mereka. Latihan hari itu akhirnya disudahi.
Saat ini Argadana tengah duduk santai bersama Ningrum dan Yalina. Pasangan suami istri itu tampak sangat mesra. Ningrum dan Yalina bergelayut mesra di pundak kiri kanan Argadana.
"Yamada Ayame memiliki bakat yang sangat besar. Dia dapat dengan mudah menangkap semua penjelasanku. Kukira, tidak akan perlu waktu lama untuk dia menguasai Ilmu Pukulan Naga Murka" kata Ningrum menggerling manja kepada Argadana. Tangan kirinya secara diam - diam mencolek tangan kanan Yalina dari belakang sehingga tidak diketahui oleh Argadana.
"Aku juga melihat kalau dia sangat bersungguh - sungguh dalam berlatih. Dan dia juga sangat cantik... Aku tidak keberatan jika dia menjadi adikku..."
Yalina yang juga mengerti isyarat yang diberikan oleh Ningrum ikut menambahkan dengan senyum manisnya.
"Hmm... Apa yang kalian bicarakan? Memang apa hubungannya dia berbakat dengan wajahnya yang cantik?" tanya Argadana tidak mengerti.
"Haahhh... Kakang benar - benar tidak peka rupanya" kata Ningrum dengan senyum manja.
"Ahh... Sudah... Jangan bicara ngelantur.. Sudah malam. Ayo kita tidur. Emm... Dan aku ingin... Itu...!!!" kata Argadana memasang senyum nakal. Ningrum dan Yalina bersemu merah wajahnya.
Ketika Argadana hendak memboyong kedua istrinya masuk ke kamar Argadana tiba - tiba merasakan sesuatu yang ganjil pada tubuhnya. Itu berasal dari Raja Naga yang mendadak menghembuskan nafas berhawa panas.
"Hanya seorang pengecut yang berusaha memainkan trik licik, tuanku. Biarkan hamba yang mengurusnya" kata Raja Naga.
"Ada apa, kakang?" tanya Ningrum dan Yalina bersamaan melihat reaksi suami mereka yang seperti melihat suatu kejanggalan.
"Ahh... Tidak ada apa - apa. Hanya saja sepertinya ada orang yang ingin bermain denganku menggunakan Ilmu teluh. Raja Naga sudah mengurusnya. Ayo... Kita ke kamar... Kita bermain sampai pagi yah... Hahahaha..."
"Iihh... Dasar...!!!"
***
Raja Teluh tampak sedang duduk bersemedi. Dupa yang dibakarnya sudah hampir habis.
Krak... Krak...
Duar...
Baki air bunga tujuh warna itu retak perlahan dan meledak. Raja Teluh terjungkal dari duduknya dan bangkit dalam keadaan muntah darah.
__ADS_1
"Bangsa*t. Uhukk... Uhuk..!!!" umpatnya sambil terbatuk - batuk darah.