Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Terbunuhnya Naga Sejati


__ADS_3

Teknik Terlarang: Tubuh Dewa Naga...!!!


Argadana mengerutkan dahinya melihat perubahan terjadi pada Naga Iblis. Kali ini Argadana dapat dengan jelas merasakan kekuatan besar yang berasal dari tubuh naga itu.


Naga Iblis yang tubuhnya telah berubah warna merah itu mengepakkan kedua sayapnya dengar keras. Dari kepakan sayap tersebut menderulah angin kencang membawa hawa panas yang sangat menyengat membuat Argadana sedikit kesulitan bernafas.


"Ini penggabungan antara kekuatan fisik dan jiwa. Tekhniknya mengandung sedikit ilmu sihir. Baiklah... Akan kuhadapi dengan Jurus Tarian Naga Membius Semesta...!!!" (Jurus ini ada tercantum di kitab Seribu Naga)


Argadana memperbaiki posisi kuda - kuda kokoh dan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan tangan kanan menengadah di depan wajahnya. Pose itu terlihat seperti sedang menantang Naga Iblis yang seketika dari hidung dan telinganya mengeluarkan asap berhawa panas karena terpancing kemarahannya.


"Manusia sombong. Rasakanlah jurus terkuat dewa ini"


Jurus Dewa Naga Pengguncang Semesta...!!!


Wutt...


Naga Iblis mengibaskan ekornya mengancam tubuh Argadana. Kecepatannya sungguh luar biasa tidak terpengaruh oleh Jurus Bulan Darah dan Jurus Sembilan Bulan.


Dess...


Kali ini Argadana terlempar sejauh tujuh batang tombak. Untuk mengimbangi tubuhnya pendekar kita bersalto sebanyak tiga kali di udara. Tubuhnya terjengkang hampir jatuh.


Argadana memegang dadanya yang terasa sesak. Tatapannya berubah serius.


"Jurus - jurus biasa tidak akan berdampak besar padamu. Kalau begitu cobalah ini"


Ilmu Raja Naga: Tubuh Raja Api Tingkat II...!!!


Api merah yang menyelimuti tubuh Argadana kini perlahan - lahan berubah warna menjadi kebiruan. Jangkauan hawa panas yang ditebarkan oleh Jurus Tubuh Raja Api melebar sampai dua kali lipat dari Jurus Raja Api Tingkat I.


Jika ada orang yang berada dekat di sana bahkan dalam jarak dua puluh tombak saja makan mereka akan terbakar hangus karena Argadana melepaskan seluruh potensi dari jurus tersebut. Beruntungnya tempat pertarungan mereka berdua sudah berada jauh dari para pendekar lain sehingga dampaknya meskipun masih terasa oleh mereka namun tidak sampai menyebabkan luka.


Naga Iblis membelalakkan matanya melihat api di tubuh Argadana menjadi biru.


"Itu... Itu... Bagaimana kau bisa menguasai Tubuh Raja Api sampai ke tingkat itu? Bahkan Raja Naga tidak mampu mencapainya dulu" teriak Naga Iblis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Argadana hanya membalasnya dengan senyum sinis merendahkan.


"Hm... Kau sejak tadi selalu berkoar tentang kemampuan dan kekuatan. Apa kau tidak sadar kalau kau sesungguhnya hanyalah naga yang lemah?"


"Apa maksudmu, manusia. Kau bahkan merasakan sendiri kemampuanku tadi, dan kau masih saja mengatai aku lemah. Apa kau tidak bisa melihat kenyataannya?" bentak Naga Iblis mulai terpancing.


"Huh... Bahkan para ras naga yang telah terbunuh itu jauh lebih hebat darimu. Mereka sadar jika mereka melawanmu mereka akan menerima resiko yang tidak kecil, yaitu kematian. Tetapi demi ras naga, demi kebanggaan ras mereka sebagai naga sejati mereka rela menyabung nyawa denganmu untuk mempertahankan kegagahan mereka. Sementara kau... Apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya bisa menindas mereka yang lemah, tetapi begitu kau bertemu lawan kuat yang tidak bisa kau jangkau kau lalu melarikan diri membawa rasa takut dan bahkan bersembunyi sampai ratusan tahun lamanya"


"Manusia hina... Kau masih saja mengatai aku lemah. Biar kutunjukkan kepadamu sekuat apa aku sebenarnya"

__ADS_1


Tubuh Naga Iblis mengeluarkan uap berwarna hitam kebiruan pertanda ia telah menyerahkan seluruh tenaga dalamnya.


Semburan Dewa Pembunuh Naga...!!!


Haa....


Begitu Naga Iblis membuka mulutnya sebuah gumpalan energi berbentuk bulat berbau amis menebarkan hawa yang sangat menyengat menerpa tubuh Argadana.


Mengetahui lawan menggunakan kekuatan penuh pendekar kita hanya tersenyum ringan. Sisik - sisik berwarna kebiruan mulai menutupi sebagian tubuhnya.


Ketika gumpalan energi dari semburan Dewa Pembunuh Naga milik Naga Iblis hanya berjarak sekitar setengah batang tombak saja Argadana segera menggerakkan tinjunya yang telah dilapisi sisik biru yang amat tebal melabrak gumpalan energi tersebut dan... Duarrr....


Sebuah ledakan keras memekakkan telinga terdengar mengakibatkan guncangan yang cukup keras di tempat berpijak keduanya.


Agar tidak terpengaruh oleh guncangan itu Argadana mengepakkan sayap api birunya untuk melayang di udara dan Naga Iblis juga melakukan hal yang sama.


Setelah ledakan tadi mereda Argadana menggunakan Jurus Nafas Silumannya untuk bergerak cepat dan tahu - tahu telah berada di belakang Naga Iblis. Tangan kanannya yang telah dilapisi Ilmu Pukulan Gugur Gunung menghantam keras kepala Naga Iblis bagian belakang hingga tubuhnya terhempas dengan sangat keras ke tanah menciptakan sebuah cekungan yang cukup dalam saking kerasnya pukulan Argadana.


Dari bekas pukulan itu nampak belasan buah sisik Naga Iblis terkelupas. Dengan demikian jika Argadana mau melepaskan satu serangan lagi yang sekuat barusan maka bisa dipastikan Naga Iblis itu akan terbunuh seketika itu juga.


Tubuh Naga Iblis kali jni terlihat sedikit tergetar melihat kekuatan fisik Argadana.


"Kau memiliki tubuh sekuat itu? Bagaimana kau melatihnya? Aku sendiri bahkan tidak akan sepercaya diri itu untuk menahan Jurus Semburan Dewa Pembunuh Naga dengan tangan kosong. Dan kau bahkan dapat bergerak cepat sampai berhasil merontokkan sisik tebalku. Kau hanya manusia lemah, tidak mungkin kau lebih kuat dariku"


Naga Iblis mulai terlihat frustasi karena serangan terkuatnya masih dapat ditahan dengan tangan kosong oleh Argadana.


Argadana tersenyum sinis.


"Asal kau tahu saja. Raja Naga juga sudah bisa menguasai Tubuh Raja Api Tingkat III. Sekarang kau bukanlah lawannya yang sepadan jika dia melawanmu dengan seluruh tenaganya" kata Argadana.


"Tidak... Itu tidak mungkin... Aku lebih kuat darinya ratusan tahun yang lalu. Sekarang pun juga demikian, aku tidak akan pernah kalah darinya"


"Kau sudah mengkhianati bangsamu, Naga Iblis. Kau mengkhianati prinsip bangsa naga yang gagah berani meski harus bertaruh nyawa. Kau lari terbirit - birit seperti tikus dikejar kucing setelah bertemu lawan yang lebih kuat. Kau lebih buruk dari mereka para naga yang telah gugur dengan membawa kehormatan mereka sebagai ras yang gagah berani" kalimat Argadana semakin lama semakin mengacaukan pikiran Naga Iblis.


Lama sekali Naga Iblis terdiam mendengar penuturan Argadana yang seolah menusuk dalam jantungnya. Kepalanya tertunduk merenungi kata - kata Argadana.


"Apakah aku benar - benar sudah salah jalan selama ini? Jadi semua yang aku pelajari selama ratusan tahun hanyalah sebuah kesia - siaan. Aku hanya mendapatkan kekuatan yang semu." katanya dengan nada lebih rendah.


"Bicaralah terus terang, wahai manusia. Aku tidak pernah merasakan rasa gentar di hatiku ketika berhadapan dengan musuh yang kuat sekalipun. Tetapi hanya orang itu... Kekuatannya sungguh tidak masuk di akal, dan itu sampai sekarang masih membekas di hatiku. Bertarung denganmu membuatku merasa seolah - olah aku bertarung dengan orang itu. Dia satu - satunya orang yang pernah mengalahkan aku. Katakanlah, manusia. Apakah kau adalah keturunannya?" tanya Naga Iblis.


"Kau salah, Naga Iblis" Argadana menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut.


"Orang yang mengalahkanmu sampai terluka parah itu, aku bukanlah keturunannya. Tetapi dia adalah orang penting yang paling banyak jasanya dalam kelangsungan hidup dari para leluhurku. Orang itu bernama Kamandaka... Dia adalah Pengawal Pribadi kakekku. Dia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan nyawa kakekku dalam perang melawan sepuluh kerajaan kuat dari negeri kami... Melebur tubuh dan jiwanya menjadi pedang"


Perlahan - lahan tubuh Argadana mulai mengeluarkan cahaya merah yang menekan tubuh Naga Iblis hingga tubuhnya yang tadinya tegak kini telah merayap di tanah layaknya ular biasa namun memiliki ukuran tubuh yang besar

__ADS_1


"Ini... Ini adalah aura milik orang itu" kata Naga Iblis dengan tubuh gemetar ketakutan.


Rajah pedang merah di dahi Argadana menyala terang. Seiring diangkatnya tangan kanannya ke udara tiba - tiba tergenggamlah sebatang pedang yang memancarkan cahaya merah mengerikan. Dari ujung pedang itu tampak menetes darah segar yang tiada berkesudahan.


"Ini Pedang Siluman Darah, jelmaan Kamandaka. Untuk menghormati kesetiaan dan pengorbanannya kerajaan kami menjadikannya sebagai lambang kekuasaan tertinggi"


"Hahh.... Aku rupanya telah dikalahkan oleh orang hebat dari negerimu. Baiklah, manusia. Aku mengaku kalah. Jika ada kehidupan selanjutnya setelah kematian di dunia ini aku berharap dapat menjadi naga yang ke sepuluh dari sembilan naga yang mengikutimu"


"Kenapa? Bukankah kau masih hidup sekarang? Kau masih bisa menjadi seperti mereka jika kau mau" kata Argadana menurunkan tangan kanannya yang memegang Pedang Siluman Darah.


"Ilmu terlarang Naga Iblis adalah ilmu yang bermata dua. Siapapun naga yang mempelajarinya akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar, tetapi mereka harus menerima kutukan langit. Mereka tidak akan bisa keluar dari lingkaran kejahatan kecuali tubuh mereka hancur" desah Naga Iblis


"Jadi maksudmu..."


"Benar, tuan. Naga Iblis ini ingin menebus kembali semua kesalahannya. Aku tidak akan bisa kembali menjadi Naga sejati layaknya Raja Naga dan delapan naga lainnya. Ketika hal itu terjadi kutukan langit yang telah tertanam di tubuhku akan mengambil alih kesadaranku. Akibatnya kutukan itu akan menebar angkara dan menjadi asbab kehancuran" jelas Naga Iblis panjang lebar.


"Tuan... Aku ingin menebus dosaku yang telah mengkhianati prinsip bangsaku sebagai makhluk yang gagah berani. Hari ini tolong sempurnakan tekadku... Aku ingin menjadi naga sejati...


Aku ingin mati membawa kehormatanku sebagai naga yang sesunggugnya. Aku tidak ingin tubuh yang penuh dosa ini disalah gunakan oleh ilmu yang selama ini telah menyesatkan aku. Setelah kematianku"


Naga Iblis merundukkan tubuh serendah - rendahnya kepada Argadana.


"Baiklah... Demi kegagahanmu sebagai naga sejati... Biarkan aku menghormatimu untuk yang terakhir kalinya" kata Argadana menjura menghormati Naga Iblis.


Tubuh Argadana melayang di udara diselimuti api biru yang amat panas sementara Naga Iblis hanya pasrah menunggu kematian dengan dada lapang tanpa rasa takut.


Pendekar kita mengangkat Pedang Siluman Darah dengan tangan kiri ke udara.


"Dengan darah Naga yang mengalir di tubuhku, aku memanggil seluruh kekuatan para naga. Beri aku kekuatan kalian... Beri aku segala kehormatan kalian... Seekor naga sejati bertaubat menemui jalan sesungguhnya... Beri dia kehormatan sebagai naga sejati. Mulai hari ini aku menyatakan tiada lagi Naga Iblis. Sebagai majikan para Naga, aku menobatkanmu sebagai Naga Sejati yang Agung"


Duarr....


Salakan petir menyambar ujung Pedang Siluman Darah. Mendung bergulung - gulung seolah menyambut kedatangan sang Naga Sejati.


"Bersiaplah, wahai Naga Sejati. Ini saatnya kau melangkah ke pintu yang akan mengantarmu menuju keabadian yang sesungguhnya"


Jurus Rahasia Pembunuh Naga...!!!


Hukuman Tujuh Bintang...!!!


Tubuh Argadana memancarkan cahaya yang sangat terang menyilaukan bahkan hingga ke tempat yang berjarak ratusan tombak.


Langit berubah menjadi gelap bagai malam datang secara tiba - tiba. Tidak lama kemudian dari langit itu terpendar tujuh buah cahaya berwarna putih yang turun dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat mata dan menghantam tubuh Naga Iblis yang namanya kini telah berubah menjadi Naga Sejati.


Duarrr....

__ADS_1


Ledakan lagi - lagi terjadi namun kali ini dengan skala yang lebih besar dari yang sebelumnya dan menyebabkan gempa besar yang merobohkan beberapa batang pohon di sekitar tempat pertarungan.


Terlihat di bekas tempat Naga Sejati tadi ada terbentuk sebuah lubang yang sangat dalam sepanjang ratusan batang tombak bagai muara. Kelak muara ini akan dinamai Muara Naga Sejati. Ya... Tubuh Naga Sejati telah hancur oleh jurus rahasia Argadana, tetapi namanya akan tetap abadi sepanjang masa.


__ADS_2