Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Ketua Besar Perguruan Siluman


__ADS_3

Kerajaan Sampang Daru merupakan kerajaan yang berbentuk kepulauan. Wilayahnya cukup luas dan merupakan satu - satunya kerajaan yang dikelilingi lautan. Sehingga jika ada kerajaan lain yang ingin menjajah negeri itu mereka harus berpikir ribuan kali sebab posisi dan sistem pertahanan yang diterapkan oleh kerajaan satu ini sangat baik. Prajurit - prajurit tangguh dan para pemanah handal berada di tiap - tiap pulau sehingga ketika ada pasukan asing yang berniat ingin menyerang akan segera dihabisi oleh para prajurit pemanah sebelum mereka mencapai pulau. Kalau pun ada yang selamat mencapai pulau, di sana masih ada prajurit tangguh lagi yang telah siap untuk menyambut mereka dengan pedang dan tombak. Penempatan posisi yang digunakan memungkinkan Kerajaan Sampang Daru sulit diserang tetapi mudah untuk menyerang balik musuh. Itu sebabnya di sepanjang sejarah, hanya Kerajaan Sampang Daru lah yang terkenal paling aman.


"Ada kabar apa yang kau dapatkan seputar dunia persilatan?"


Seorang pria separuh baya mengenakan pakaian kebesaran Kerajaan Sampang Daru dan tersemat mahkota yang terbuat dari emas menghiasi kepalanya sedang duduk di singgasananya. Tampak wibawa seorang pemimpin darinya. Dia adalah Raja Kurawa, Raja Kerajaan Sampang Daru.


Di samping kirinya duduk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Namun demikian wajahnya tetap berseri terawat dengan baik. Untaian kalung emas dan gelang berlian menghiasi tubuhnya. Dia adalah permaisuri Raja Kurawa, Ratu Malini.


Di samping kanannya ada putra sulungnya yang sekaligus putra mahkota Kerajaan Sampang Daru, Pangeran Danu Kusuma.


Sedangkan di sebelah kiri Ratu Malini ada gadis jelita berpakaian serba hijau yang penampilannya paling berbeda dari ketiga orang tadi. Dia lebih terlihat seperti orang dunia persilatan dari pada seperti seorang putri raja, karena pakaiannya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang bangsawan terlebih lagi ada pedang dengan sarung indah berwarna putih kebiruan tergantung di punggungnya. Padahal gadis cantik itu sebenarnya adalah putri Raja Kurawa.


Yaa... Gadis itu tidak lain adalah Ningrum. Setelah sampai di Kerajaan Sampang Daru gadis itu lebih banyak berdiam diri di istana dan suka berpakaian layaknya orang persilatan. Ayah dan ibunya, Raja Kurawa dan Ratu Malini hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuan putri mereka itu. Ningrum bahkan tidak banyak menceritakan pengalamannya ketika menimba ilmu pada Sepasang Pendekar Naga di Lembah Neraka. Gadis itu hanya menceritakan sedikit saja dan tidak pernah bercerita apa pun tentang Argadana yang menjadi kakak seperguruannya, sehingga Raja Kurawa dan Ratu Malini hanya tahu bahwa putri merekalah satu - satunya murid Sepasang Pendekar Naga.


Raja Kurawa memang gemar mengutus seorang bawahannya langsung untuk mencari informasi seputar dunia persilatan. Hal itu tentu saja untuk memperhatikan gerak - gerik aliran hitam dan putih, khawatirnya akan berpengaruh pada sistem kepemerintahan kerajaan.


"Lapor, yang mulia. Pendekar muda yang berjuluk Ksatria Lembah Neraka kembali membuat gempar di Pasar Danau Silibua yang menjadi wilayah Kerajaan Giliq Rurung. Pendekar muda itu berhasil membunuh beberapa orang murid si Pengasuh Harimau dan bahkan melukai putranya. Si Pengasuh Harimau itu bahkan menurut penuturan warga tampak pucat wajahnya ketika melihat pendekar muda itu dan tidak berani meneruskan permasalahan"


"Hmm. . . Pendekar muda itu lagi, dia baru memasuki kancah dunia persilatan tapi sudah membuat gempar di sana - sini. Semoga dia tidak berubah haluan dan menjadi tokoh sesat nantinya. Karena kudengar pendekar berjuluk Pengasuh Harimau itu juga bukan pendekar sembarangan, yang membuat dia takut itu hanyalah Sepasang Pendekar Naga. Kalau dia sampai terlihat takut - takut pada seseorang, maka orang itu pastilah orang berilmu tinggi"


"Semoga saja begitu, yang mulia" kata mata - mata bawahan Raja Kurawa itu.


Mata - mata Raja Kurawa yang bernama Suta itu pun pamit pergi setelah melaporkan semua hasil pengamatannya.


"Ksatria Lembah Neraka. Aku jadi penasaran, seperti apa orangnya" kata Pangeran Danu Kusuma tanpa sadar.


"Hik..hik..hik... Kakang nanti juga pasti bisa bertemu dengan dia" terdengar oleh Pangeran Danu Kusuma suara adik kandungnya, Putri Ningrum.


"Eh. . .??? Kau kenal dengan pendekar muda itu, Dinda?" tanya Pangeran Danu Kusuma terkejut.


"Ahh. . . Eh... Tit...tidak, kanda. Saya hanya merasa yakin kalau Ksatria Lembah Neraka itu pasti suatu saat kita akan dapat bertemu dengannya" kata Ningrum tergagap menyadari dia telah kelepasan berbicara.


Raja Kurawa, Ratu Malini dan Pangeran Danu Kusuma menatap heran melihat wajah Ningrum memerah bak tomat ketika menyebut Ksatria Lembah Neraka.


"Tidak biasanya Dinda Ningrum bertingkah aneh seperti ini" kata Pangeran Danu Kusuma dalam hati.


"Ahh... Tunggu dulu, putriku" Ratu Malini menahan Ningrum yang hendak pergi untuk menghindari pertanyaan lebih jauh dari ketiga orang itu.


"Ada apa lagi, ibu?" tanya Ningrum masih dengan wajah merah.


"Pemuda itu berjuluk Ksatria Lembah Neraka. Dan kau berguru pada Sepasang Pendekar Naga di sebuah tempat bernama Lembah Neraka. Apakah pendekar muda itu ada kaitannya dengan tempatmu berguru?"


Raja Kurawa dan Pangeran Danu Kusuma membenarkan pemikiran Ratu Malini. Sedangkan Ningrum semakin jengah ditodong dengan pertanyaan yang tepat mengenai rahasia yang disembunyikannya.


"Ahh. . . Ibu ..." Ningrum merajuk manja dan segera berlari meninggalkan ketiga orang itu yang tersenyum.


"Putri kita tampaknya sudah dewasa. Hehehe. . ." kata Raja Kurawa


"Semoga saja Dinda Ningrum tidak menjatuhkan hatinya pada orang yang salah, ayah" kata Pangeran Danu Kusuma menambahkan.

__ADS_1


***


Kita beralih pada Argadana yang telah tinggal di rumah Wisesa selama seminggu. Dan selama di tempat tinggal Wisesa yang megah bak istana itu dia diperlakukan seperti tuan muda kaya raya.


Wisesa begitu terkejut ketika Argadana mengatakan bahwa dia ingin mencari informasi keberadaan Perguruan Siluman. Ketika ditanya alasannya Argadana hanya tersenyum saja. Wisesa tidak mempermasalahkan hal itu, dia mengerti keengganan Argadana.


Kebetulan Wisesa juga punya kenalan salah seorang anggota Perguruan Siluman, sehingga Wisesa berjanji akan membawa Argadana untuk menjumpai orang tersebut.


Hari ini adalah hari yang dijanjikan Wisesa untuk mengantarkan Argadana menemui orang yang dimaksud.


Perguruan Siluman itu memang terkenal sangat tertutup dan misterius. Lalu bagaimana Wisesa dapat mengenal salah seorang anggotanya yang bahkan orang - orang persilatan sekali pun yang pernah melihat kehebatan mereka masih dapat dihitung dengan jari?


Sepuluh tahun yang lalu ketika Wisesa dalam perjalanan pulang menemukan seorang pria terluka parah tengah pingsan di jalan. Wisesa lalu membawanya ke tempat tinggalnya dan mengobati orang itu di sana sampai sembuh. Orang itu yang ternyata merupakan salah satu anggota Perguruan Siluman merasa berhutang Budi sehingga sebelum pergi dari kediaman Wisesa dia sempat memperkenalkan nama dan tempat tinggalnya juga tentang siapa dia sebenarnya. Dia berpesan kelak jika membutuhkan pertolongan agar datang menemui dirinya di tempat tinggalnya yang terletak di ujung selatan Kota Rembiga.


"Kau sudah siap, Argadana?" tanya Wisesa


"Sudah, paman"


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang"


Akhirnya berangkatlah mereka ke arah selatan ke tempat yang dimaksud oleh Wisesa.


Tidak ada halangan selama perjalanan mereka menaiki kereta. Hanya ada beberapa perampok yang lari pontang - panting setelah dihajar babak belur oleh Argadana.


Tempat yang dituju Wisesa dan Argadana sangat bersih dan terawat dengan baik. Halamannya luas dan ada beberapa orang pembantu terlihat lalu lalang membersihkan kotoran dari dedaunan yang berserakan di sekitar rumah itu.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu.


"Ah. . . Saya ingin bertemu tuan Lodra. Beliau ada di rumah?" jawab Wisesa.


"Emm. . . Tamu tuan rupanya. Silakan ikuti saya, tuan. Tuan Lodra berada di kediamannya saat ini"


Pembantu itu pun mengajak Wisesa dan Argadana berjalan menuju bangunan yang berada di bagian tengah - tengah dan merupakan bangunan yang terbesar. Wisesa dan Argadana terkagum - kagum menoleh ke kiri dan ke kanan sepanjang yang mereka lihat bangunan di sana tidak ada yang sederhana. Semua merupakan banguna yang dipahat oleh orang - orang ahli.


"Benar - benar. Orang hebat selalu menampilkan yang juga hebat" batin Wisesa.


Tok... Tok... Tok...


"Tuan ada orang yang ingin bertamu" kata pria berusia tiga puluhan tahun itu.


"Namanya ..."


"Wisesa" serobot Wisesa sebelum pembantu Mahesa Lodra bertanya.


"Eh... Iya, namanya Wisesa tuan"


"Ahh. . . Tamu kehormatan rupanya"


Seorang lelaki berusia empat puluh lima tahun membukakan pintu rumah paling besar tersebut. Orang itu adalah Mahesa Lodra, salah satu anggota Perguruan Siluman yang dulu pernah diselamatkan nyawanya oleh Wisesa.

__ADS_1


"Silakan masuk, tuan. Biar kuperkenalkan tuan dengan anak dan istriku. Mereka sudah lama ingin bertemu dengan penyelamatku. Kami akan menjamu tuan di dalam" kata Mahesa Lodra. Wisesa dan Argadana pun mengikuti tuan rumah masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat luas.


"Hehehe. . . Tuan Lodra terlalu sungkan. Karena sudah ditawarkan rasanya akan sangat tidak sopan untuk menolak. Ayo, Argadana" kelakar Wisesa.


Argadana saat ini tengah duduk bersama Wisesa berhadap - hadapan dengan Mahesa Lodra yang di sampingnya juga telah ada dua orang anak dan istrinya.


"Perkenalkan, tuan. Mereka adalah anak dan istri saya" berkata Mahesa Lodra dengan raut wajah nampak gembira. Dia lalu menoleh ke arah anak dan istrinya


"Ini adalah istri saya, tuan. Namanya Wirda" kata Mahesa Lodra memperkenalkan istrinya.


"Hehe. . . Senang berkenalan dengan nyonya" kata Wisesa


"Kakang Lodra banyak menceritakan kebaikan tuan. Dan saya sangat berterimakasih" kata Wirda.


"Nyonya sebagai sesama manusia memang sudah seharusnya saling menolong. Jadi tidak perlu sesungkan itu" sanggah Wisesa


Setelah memperkenalkan istrinya Mahesa Lodra kemudian melanjutkan dengan memperkenalkan putra dan putrinya yang bernama Asoka dan Kinanti.


Asoka dan Kinanti tampak sangat senang berkenalan dengan orang dermawan yang telah menolong ayahnya, mereka berkali - kali mengucapkan terimakasih. Terkadang Kinanti terlihat mencuri - curi pandang pada pemuda tampan berambut emas di samping Wisesa yang di tengah - tengah dahinya terdapat gambar pedang berwarna merah.


"Jadi bantuan apa yang tuan inginkan dari saya? Dan anak muda ini ..."


"Ahhh. . . Maaf, tuan Lodra. Saya jadi lupa memperkenalkan anak muda ini" Wisesa jadi kikuk sendiri terlalu serius dengan obrolan mereka.


"Perkenalkan, tuan. Pemuda ini namanya Argadana. Dan Argadana, ini Tuan Lodra yang kuceritakan padamu" kata Wisesa seraya menoleh pada Argadana.


"Tuan Lodra, sebenarnya Argadana inilah yang ingin meminta pertolongan pada tuan"


Mahesa Lodra mengerenyitkan dahinya.


"Silakan disebutkan, anak muda. Jika aku bisa membantu, maka akan kubantu"


"Ahh ... Sebelumnya maafkan kelancangan saya, tuan"


Argadana mengakhiri ucapannya dengan mimik wajah serius.


Tiba - tiba tekanan atmosfer di tempat itu berubah. Tidak ada yang dapat bergerak bahkan Mahesa Lodra sekalipun. Tubuh Argadana mengeluarkan uap berwarna merah memancarkan hawa yang sangat mengerikan.


Wisesa terkejut. Dia mengira Argadana akan menyerang Mahesa Lodra dan ingin menghentikan Argadana. Tetapi tekanan aura Pedang Siluman Darah membuatnya tidak bisa bergerak bahkan untuk sekedar bernafas pun sudah sulit.


Mahesa Lodra pun demikian. Tetapi keterkejutannya berbeda dengan Wisesa. Jika Wisesa terkejut karena salah paham, maka Mahesa Lodra terkejut karena bahagia. Terlihat wajahnya berubah ceria.


"Aura Pedang Siluman Darah" kata Mahesa Lodra dan Wirda. Sepasang suami istri itu lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada mereka dengan tubuh sedikit dibungkukkan.


"Hamba, Mahesa Lodra murid dari Pecahan Kelicikan siap menerima titah Ketua Besar"


"Hamba, Wirdaniati dari Pecahan Kelemahan siap menerima titah Ketua Besar"


Wisesa lagi - lagi dibuat terkejut sampai hampir terjungkal. Dia masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Asoka dan Kinanti pun demikian juga. Apa itu Pecahan Kelicikan dan apa itu Pecahan Kelemahan? Begitulah yang ada dalam pemikiran ketiganya.

__ADS_1


__ADS_2