
"Hiaaatt. . .!!!"
Wusss. . .
Desss. . .
Argadana terjajar mundur lima langkah ke belakang setelah dua buah tinjuan dari Kasih Pertiwi dan Anung Pramana berhasil menggedor dadanya. Anung Pramana dapat bernafas lega setelah istrinya datang membantu.
"Auurrghhhh. . ."
Jendral Thalaba mengaum memberi semangat pada tuannya.
"Hehehe. . . Kita benar - benar sudah tua, dinda. Bahkan murid sendiri sudah membuat kewalahan" kata Anung Pramana tersenyum senang.
"Benar, kakang. Aku bahkan tadi juga kesulitan melawan Ningrum, dan kulihat Argadana masih sanggup bertarung" Kasih Pertiwi berkata sambil menoleh ke arah Argadana.
"Hmm. . . Guru tadi main keroyokan, jadi saya sedikit kerepotan" kata Argadana.
"Yahh. . . Kami anggap ini kenang - kenangan terakhir sebelum kalian meninggalkan lembah ini. Hik.. Hik.. Hik.." suara tawa khas milik Kasih Pertiwi terdengar.
"Haa. . . Baiklah, baiklah. Guru berdua bersiap, kali ini saya akan menyerang duluan" Argadana mengingatkan.
Beberapa puluh tombak jaraknya dari pertarungan Argadana melawan kedua gurunya, Ningrum yang telah pulih tenaga dalamnya sedang giatnya mengamati pertarungan antara Argadana melawan Sepasang Pendekar Naga.
Gadis itu dibuat takjub dengan kekuatan Argadana yang bahkan tidak kelihatan terdesak sama sekali melawan keroyokan kedua gurunya.
Saling serang, pukul dan tendang terjadi. Argadana berkelit kesana - kemari di antara kesiuran angin serangan Sepasang Pendekar Naga yang telah menggabungkan kekuatan mereka.
Lima puluh juru telah berlalu. Pakaian Argadana sudah sobek sana - sini, sedangkan Anung Pramana dan Kasih Pertiwi sudah mulai keteteran hingga pada jurus ke enam puluh lima keduanya terjengkang setelah menerima tendangan Argadana di bagian perut.
"Aurghhh. . ."
Jendral Thalaba mengaum senang melihat kemenangan tuannya..
"Kedua guru hanya mengalah saja, Paman Belang. Paman terlalu memuji" kata Argadana pada Jendral Thalaba yang memuji kemampuan Argadana.
"Aurghhh. . ."
Jendral Thalaba hanya mengaum pelan mendengar tuannya bersikap merendah.
"Kau sudah melampaui kedua gurumu ini, nak. Guru sangat bangga padamu, dan Ningrum kemajuanmu sangat pesat. Benar - benar tidak terduga" puji Anung Pramana.
__ADS_1
"Ah. . . Semuanya karena bimbingan guru, kami tidak akan jadi begini kalau tidak ada guru" jawab Ningrum merunduk malu - malu karena Argadana terus menatapnya tanpa berkedip seakan tidak ingin melewatkan sejengkal pun dari wajah ayu gadis itu.
"Ahem. . . "
Suara deheman Anung Pramana cukup keras mengejutkan Argadana yang matanya tak lepas dari wajah cantik Ningrum.
"Cantik kan?" Kasih Pertiwi mulai menggoda membuat risih kedua muda - mudi yang sedang dimabuk asmara itu.
"I.. Iya, guru. E, eh... Emm.... " Argadana jadi salah tingkah sendiri karena bingung harus menjawab bagaimana.
Ningrum yang mendengar jawaban Argadana tersenyum cerah.
"Kakang Argadana mengatakan kalau aku cantik, apa dia juga menyukai aku?" kata Ningrum dalam hati. Rona merah terlihat di wajahnya yang berseri - seri.
"Hey. . . Kau juga jangan ikutan melamun, Ningrum. Lihat, wajahmu sudah seperti kepiting rebus. Hahaha. . . " kata Anung Pramana tertawa terbahak - bahak.
"Ah... Guru" kata Ningrum merunduk saking malunya karena kedapatan sedang melamun.
***
Dua hari kemudian
Anung Pramana, Kasih Pertiwi, Argadana dan Ningrum berkumpul di dalam satu ruangan khusus milik Anung Pramana setelah sarapan pagi.
"Tetapi ingat - ingatlah oleh kalian semua agar kalian tidak menjadi sombong dengan apa yang sudah kalian miliki" Anung Pramana menghela nafas panjang.
"Kesombongan pada akhirnya akan menghancurkan diri sendiri. Pesan kami berhati - hatilah, karena dunia persilatan penuh tipu muslihat. Bisa jadi yang terlihat baik di luar belum tentu baik di dalamnya. Begitu pula sebaliknya"
Banyak sekali pesan dan nasehat dari Anung Pramana dan Kasih Pertiwi sebagai bekal Argadana dan Ningrum kelak dalam pengembaraan di dunia persilatan. Tak terasa mereka berempat berbincang hingga sore hari.
"Nah, sekarang kalian boleh mempersiapkan keperluan kalian sebelum pergi besok" kata Kasih Pertiwi menutup perbincangan mereka.
Malam harinya Ningrum telah tertidur lelap di tempat tidurnya. Sedangkan Argadana masih duduk menekuk lutut di atas batu besar bersama Jendral Thalaba.
Anung Pramana dan Kasih Pertiwi yang baru kembali dari perkampungan untuk membeli beberapa keperluan melihat Argadana tampak dipenuhi kebimbangan segera menghampirinya.
"Eh. . . Guru sudah pulang?" sapa Argadana berbasa - basi.
"Hmm. . . Apa ada yang sedang kau fikirkan muridku?" tanya Anung
"Tidak ada, guru. Hanya saya teringat akan nasihat ibu saya dulu" Argadana menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Beliau berkata bahwa nikmat yang diberikan sang Pencipta alam semesta kepada seekor gajah tidaklah sama dengan nikmat yang diberikanNya pada seekor semut"
Anung Pramana mengerti maksud nasihat tersebut, tetapi dia diam saja tanpa menjawab memberikan Argadana kesempatan untuk melanjutkan kata - katanya.
"Kekuatan yang besar akan mendatangkan tanggung jawab yang juga besar, kata ibu. Saya memahami hal itu, guru. Tetapi saya takut tidak bisa memikul tanggung jawab ini" Argadana merasa tidak percaya diri.
Anung Pramana hanya menggeleng pelan, dia lalu mengusap lembut punggung Argadana.
"Nak, jika engkau sampai berfikir demikian maka itu artinya kau pasti bisa memikul tanggung jawab itu"
Di luaran sana seberapa banyak orang yang berkata bahwa dirinya bertanggung jawab dengan begitu percaya dirinya, tetapi setelah diberi amanah dia lalu berkhianat.
Ada orang yang rendah hati tetapi memiliki kekuatan yang besar, itu pertanda dia pandai membawa diri.
Ada lagi orang yang suka memamerkan kemampuannya, padahal kemampuan itu tidak seberapa niscaya keangkuhan itu akan menghancurkan diri sendiri.
Allah tidak meletakkan gunung di permukaan air. Semua takdir sudah dalam genggaman skenario-Nya di lauh mahfuzh, sedangkan kita manusia hanyalah pelaku yang menjadi lakon ksatria atau justru menjadi lakon para penjahat. Kalau pun nanti engkau terjerumus dalam kegelapan, maka akan ada Ksatria - Ksatria hebat lain yang akan menghentikanmu. Begitulah, Allah selalu memastikan keseimbangan terjaga di alam ini.
Argadana akhirnya mengangkat wajahnya menatap sang guru. Tidak lama kemudian Kasih Pertiwi pun ikut menimbrung dalam obrolan mereka.
"Guru, jika seandainya saya bukanlah manusia seutuhnya apakah kedua guru akan membenci saya?" tanya Argadana membuat dahi Sepasang Pendekar Naga berkerut.
"Maksudnya?" tanya Kasih Pertiwi tidak mengerti.
"Maksudnya, jika seandainya saya berasal dari bangsa jin apakah guru masih akan menyayangi saya?" Argadana kembali memperjelas
"Haiiisss. . . Kau ini bicara apa, nak? Bangsa jin itu juga ada yang baik dan ada pula yang jahat, sama seperti manusia. Dan lagi dari bangsa mana pun kau berasal, kau tetaplah murid kami. Selagi kau tidak berbuat jahat, menimbulkan kerusakan di muka bumi siapapun dirimu kami akan tetap menyayangimu" kata Kasih Pertiwi menyerobot Anung Pramana yang hendak menjawab.
"Benarkah, guru?"
Sepasang pendekar yang sudah sepuh itu hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
"Kalau begitu, ini sudah saatnya saya memberitahukan kedua guru. Seperti janji saya sepuluh tahun yang lalu, tidak ada rahasia antara guru dan murid" kata Argadana.
Argadana menundukkan hormat pada kedua gurunya lalu menjelaskan perihal jati dirinya yang selama ini dia tutupi.
"Guru, nama saya sebenarnya adalah Lalu Argadana. Ibu saya bernama Dyah Ayu Pitaloka, Ratu Kerajaan Siluman Darah mewariskan takhta kepemimpinan kerajaan kepada saya sepuluh tahun yang lalu. Sekar..."
"Tu.. Tunggu dulu, nak. Kerajaan apa yang kau maksud? Kami tidak pernah mendengar ada Kerajaan yang namanya terdengar sedikit aneh seperti itu" potong Kasih Pertiwi.
"Hal itu wajar saja, guru. Saya justru akan lebih heran jika guru pernah mendengarnya. Menusia biasa tidak akan dapat melihat wilayah Kerajaan itu karena ada sekat yang membatasi pandangan manusia. Tempatnya kalau menurut manusia itu merupakan alam lelembut" kata Argadana.
__ADS_1
"Sebentar dulu, nak. Jadi maksudmu kau sejenis bangsa lelembut, atau yang dinamakan bangsa jin itu?" Anung Pramana ikut memotong pembicaraan juga.
"Lebih tepatnya setengah jin, guru. Ayah saya bernama Lalu Askar Wirajaya dari Kerajaan Datu Gumi" jelas Argadana.