Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Datu Gumi vs Sakra


__ADS_3

"Mereka memiliki persenjataan lengkap, tuanku. Prajurit kita kesulitan melawan senjata jarak jauh mereka yang canggih." kata seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun.


"Prajurit kita kalah dalam persenjataan. Tarik prajurit pedang dan tombak, kemudian luncurkan ketapel raksasa. Kita lihat dulu bagaimana reaksi mereka sebelum membuat rencana berikutnya. Laksanakan..."


Pria paruh baya yang dipanggil tuanku tadi memberi perintah dalam keadaan mata tertutup kain hitam.


"Siap laksanakan, tuanku.... "


Ya... Lelaki paruh baya yang kedua matanya tertutup kain hitam itu tidak lain adalah Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya. Pria di sampingnya adalah bawahannya yang paling setia dan selalu menemaninya dalam setiap peperangan, namanya adalah Wiranda.


Dalam perang melawan Kerajaan Sakra kali ini Kerajaan Datu Gumi bisa dibilang tidak memiliki persiapan yang matang karena serangan mendadak yang dilakukan Kerajaan Sakra.


Sementara itu Panglima Besar Kerajaan Sakra, yaitu Panglima Danang Kamba sedang tersenyum lebar melihat pasukannya berada di atas angin. Persiapan yang matang dan persenjataan yang lebih canggih membuat mental pasukan mereka luar biasa besar.


Prajurit pedang dan tombak dari Kerajaan Datu Gumi semakin terpojok. Mendekati musuh tidak mampu, sedangkan menjaga jarakpun lebih mengancam jiwa. Banyak prajurit berguguran di medan perang. Yang masih hidup dipaksa bertahan sambil mundur.


Para prajurit itu baru bisa bernafas lega setelah batu - batu sebesar pelukan orang dewasa menghujani para prajurit Kerajaan Sakra. Itu adalah serangan ketapel raksasa.


Bummm.....


Suara debuman - debuman dari batu - batu menghujami tanah di sekitar tempat tersebut mengguncang bumi bagai terjadi gempa.


"Bangs4t... Mereka ternyata punya cara seperti itu untuk menghentikan serangan bedil... Serang.... Bunuh sebanyak mungkin prajurit Datu Gumi.... " teriak Panglima Besar Danang Kamba lantang.


"Serbu....."


"Bunuhhh.... "


Teriakan para Prajurit Kerajaan Sakra bergemuruh.


Trang... Trang...


Crashh... Crab...

__ADS_1


"Ughh..... "


"Aaahhhkk.... "


Suara dentingan senjata dan teriakan maut para prajurit menghiasi suasana cerah pada siang hari itu. Perang telah dikumandangkan... Pertumpahan darah tak lagi dapat dielakkan...


***


"Bagaimana sekarang, tuan? Kira - kira kapan kita akan maju menyerang?" tanya Panglima Danang Kamba pada seorang lelaki tua beruban di sebelahnya.


Wajah lelaki tua itu tampak klimis dengan janggut panjang sedada yang juga telah memutih seluruhnya. Dia adalah La Huda, pendiri Perguruan Tengkorak Darah.


"Tunggu sebentar... Kita lihat dulu situasinya. Jika dengan senjata canggih pemberian Tuan Alfonso kita masih kesulitan untuk mendobrak pertahanan musuh, murid - murid Perguruan Tengkorak Darah akan maju untuk meracuni prajurit bagian depan. Itu juga akan menjadi sinyal petunjuk untuk muridku yang menyusup sebagai pengawal Panglima Pamungkas Kerajaan Datu Gumi itu. Setelah panglima itu mampu*s, barulah kita bergerak untuk menghabisi sisa - sisa prajurit mereka" kata La Huda dengan membusungkan dadanya memperlihatkan keangkuhannya.


"Rencana tuan sungguh hebat. Dengan begini, sudah bisa dipastikan kemenangan akan berada di pihak kita. Kerajaan Datu Gumi akan hancur dalam waktu sehari saja. Hahaha...." kata Panglima Danang Kamba terbahak - bahak membayangkan kemenangan dan hadiah besar yang telah dijanjikan Raja Durja padanya.


La Huda dan lelaki berkulit putih dengan bintik - bintik merah di sekujur tubuhnya yang tidak lain adalah Alfonso hanya menanggapi dengan tersenyum.


Alfonso tersenyum karena gembira akan mendapat anugrah berupa jabatan tinggi di Kerajaan Sakra, yaitu sebagai kepala bagian pembuatan senjata dan dijanjikan iming - iming wanita - wanita cantik setiap harinya sebagai pemuas nafsu.


***


"Aku dapat mencium aroma darah di tengah - tengah pasukan kita. Bagaimana kondisinya sekarang, Wiranda?" tanya Panglima Besar Askar.


"Lapor, tuanku... Prajurit kita kesulitan untuk meladeni serangan musuh. Selain karena strategi mereka cukup rumit, Prajurit kita juga sempat menurun mental bertarungnya karena gebrakan pertama musuh yang mengakibatkan gugurnya puluhan prajurit kita dalam waktu beberapa detik saja" jawab Wiranda.


"Hmm... Perang ini tampaknya masih akan berlanjut. Buat barisan pertahanan terbaik... Untuk kali ini kita fokuskan untuk bertahan dan memanfaatkan serangan balik jika ada kesempatan. Prajurit kita harus bisa bertahan sampai petang yang sebentar lagi akan segera tiba. Malam nanti kita atur kembali strategi penyerangan yang ampuh untuk menghadapi bedil dan bom milik mereka"


"Baik, tuanku... "


Wiranda kemudian maju ke medan perang membantu para pejuang bertahan dari serangan Kerajaan Sakra.


Para prajurit Kerajaan Datu Gumi tampak heran melihat pasukan musuh yang tadinya tampak mendominasi tiba - tiba mundur secara perlahan seolah - olah mereka yang terdesak. Para jendral yang ketika itu memimpin ratusan ribu pasukan Datu Gumi tampak keheranan melihat pergerakan prajurit Kerajaan Sakra yang terlihat berubah itu, namun masih tidak dapat menebak rencana musuh yang sebenarnya.

__ADS_1


Setelah pasukan Datu Gumi berada cukup jauh di depan tiba - tiba saja pasukan Kerajaan Sakra yang tadinya berada di belakang maju secara serentak menggantikan posisi prajurit yang berada di depan.


Pasukan itu adalah pasukan berpedang. Setelah pasukan itu maju menerjang ke depan puluhan prajurit terdepan Kerajaan Datu Gumi berjatuhan dengan mulut berbusa. Rupanya mereka terkena serbuk beracun yang ditaburkan oleh para prajurit tersebut yang tidak lain merupakan murid - murid dari Perguruan Tengkorak Darah yang telah menyamar dengan menggunakan seragam prajurit Kerajaan Sakra untuk mengecoh lawannya.


"Bangsa4t curang... Mundur... Ini jebakan... Cepat mundur, musuh menggunakan racun..." teriak Jendral Sapta Yudha memberi perintah melihat banyak prajuritnya berguguran.


***


Dua di antara empat pengawal Panglima Askar yang bertugas mengawal di bagian belakang panglima besar tersebut saling berpandangan setelah melihat kearah medan pertempuran yang tampak dipenuhi kabut berwarna hijau.


Keduanya saling menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk menjalankan rencana. Ya... Kabut hijau tersebut adalah sinyal yang diberikan oleh guru mereka menurut rencana sebelumnya. Itu merupakan tanda agar mereka segera membunuh Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya.


Kedua pengawal itu memang tidak lain adalah murid terbaik dari Perguruan Tengkorak Darah yang ditugaskan menyusup oleh ketua Perguruan Tengkorak Darah atas perintah La Huda.


Penyusup itu serentak menghunuskan pedangnya dan menggerakkan tangan mereka untuk menikam Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya dari arah belakang. Keduanya tersenyum cerah membayangkan tugas berat mereka telah terlaksana dengan baik.


Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Di saat mereka bergerak bersamaan, entah bagaimana kejadiannya tiba - tiba saja kedua kaki mereka menyandung batu. Tak ayal lagi keduanya jatuh tersungkur di samping Panglima Besar Askar.


Bruk....


Suara gede bukan tubuh kedua pengawal yang terjatuh membuat panglima pamungkas Kerajaan Sakra itu membalik badan dan menoleh ke arah belakang. Kedua pengawal yang mengawalnya di bagian depanpun secara otomatis ikut juga menoleh ke belakang.


"Seta*n... Sudah belasan tahun berlatih ilmu kanuragan, baru kali ini kakiku bisa tersandung batu" rutuk salah satu murid Perguruan Tengkorak Darah itu tanpa sadar.


Salah satu pengawal Panglima Askar yang berjaga di bagian depan mengerenyitkan dahinya melihat kedua pengawal bagian belakang yang terjatuh dalam keadaan menghunuskan senjata mereka seolah telah bersiap untuk menyerang musuh.


"Hehehe.... Akhirnya srigala itu kelihatan juga aslinya" kata seorang pemuda yang mengawal Panglima Besar Askar di bagian depan.


"Hmphh... Apa maksud perkataanmu itu, bangsa*t?" bentak kawan penyusup di sebelahnya.


***


Hai readers....

__ADS_1


Maaf yah, kemarin saya gak smpet update. Saya lagi sibuk bgt nyiepin acara pesta ulang tahunnya anak pertama saya yg brnama Baiq Ayra Khoirunnisa... Dan alhamdulillah acaranya berjalan lancar kemarin. Jadi sekali lagi maaf yah... Sekalian juga minta doanya, mudah²an anak saya besarnya nnti jdi anak yg pinter & soleha 🙏🙏🙏


__ADS_2