
Mata Liu Tong terpejam menantikan ujung Tombak Pemburu Arwah menembus tepat jantungnya. Saat sejengkal lagi ujung tombak itu mengenai sasaran terdengarlah suara menderu - deru dari arah samping dan...
"Trang...!!!"
"Siapa???"
"Siapa???"
Ling Yun dan Liu Tong berdiri tegak dengan wajah tegang. Terlihat oleh keduanya bahwa benda yang membentur Tombak Pemburu Arwah yang mennggagalkan kematian Liu Tong itu adalah sebatang tombak yang memendarkan cahaya berwarna kuning terang menyilaukan.
"Wunggg...!!!"
Tombak kuning yang tak lain adalah tombak milik Jendral Thalaba itu bergetar kuat setelah menancap di tanah usai membentur Tombak Pemburu Arwah.
Kedua pemuda Ling Yun dan Liu Tong merasa khawatir kalau - kalau ada musuh yang datang menyerang pada saat - saat mereka telah kelelahan sesudah bertarung sengit tadi.
Cukup lama kedua pemuda itu berdiri tegak dengan harap - harap cemas. Setelah menunggu beberapa saat tidak ada serangan susulan maka yakinlah keduanya bahwa orang yang tadi membentur tombak Ling Yun tidaklah berniat untuk menyerang keduanya. Berfikir demikian, Ling Yun maju selangkah ke depan. Ia kemudian sambil membungkukkan badan berkata
"Kawan yang bersembunyi di sana, jika tiada niatan jahat mohon segera tunjukan diri" seru Ling Yun dengan mengerahkan tenaga dalam sehingga suaranya terdengar menggelegar.
Sekejap kemudian sosok bayangan putih berkelebat dari balik pohon dan mendarat ringan di depan Ling Yun dan Liu Tong. Setelah bayangan itu mendarat terlihatlah oleh kedua murid Pendekar Api Langit itu wajah seorang pemuda yang mereka yakini bukan merupakan penduduk asli negeri itu.
Perawakan pemuda di hadapan mereka terlihat sedang saja. Tatapan mata yang mencorong tajam dapat terlihat walau dalam keadaan gelap. Tiada yang tampak istimewa menurut Ling Yun, selain rambutnya tentu saja yang palong mencolok. Ya.. Jika orang - orang pada umumnya memiliki rambut berwarna hitam, maka pemuda di depan mereka ini rambutnya berwarna kuning bercahaya seperti emas.
"Wajah tampan dan rambut emas...!!! Aku kenal ciri - ciri orang ini. Jangan - jangan... Argadana!!!"
Jika malam tidak membatasi penglihatan orang maka saat itu akan terlihat wajah Liu Tong yang pucat bagai mayat begitu dia mengetahui orang yang baru saja berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Siapa tuan? Mengapa mencampuri urusan kami? bertanya Ling Yun penasaran.
Belum sempat Argadana menjawab, Liu Tong melompat dan berdiri tepat di depan Ling Yun dengan merentangkan kedua tangannya.
"Kau Argadana?" Liu Tong bertanya dengan jantung berdegup kencang.
"Ya ... Aku Argadana" menjawab pemuda itu yang tak lain memang adalah Lalu Argadana.
"Orang di belakangku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Kalau mau membunuh kau bunuh saja aku. Aku yang telah memprovokasi para ninja itu untuk menyerang perguruanmu" kata Liu Tong dengan nada panik.
"Orang ini kemampuannya sulit diukur. Meskipun aku tidak yakin dia lebih kuat dari kami berdua, kondisi kami yang kelelahan tidak mungkin bisa bertahan lama jika dia membawa pasukannya" kata Liu Tong dalam hati sembari ia mengerahkan sisa tenaga dalam yang telah terkumpul sedikit setelah beberapa saat pertarungan tadi.
Pedang Merah melesat cepat ke arah tangan kanan Liu Tong. Pemuda berjuluk Pendekar Pedang Merah dengan sigap menyambut pedangnya.
"Kedatanganku untuk menghentikan seseorang melakukan perbuatan dosa yang berantai" jawab Argadana setelah mencabut tombak emas yang menancap dalam di tanah.
"Aku memang ingin membuat perhitungan denganmu... untuk ratusan jiwa murid - murid perguruanku yang melayang akibat dari propaganda yang kau buat" kata Argadana seolah tahu apa yang difikirkan Liu Tong.
Mendengar itu Liu Tong memghembuskan nafas lega. Pedang merah dimasukkan kembali ke dalam warangkanya.
"Walau tidak semuanya berjalan sesuai rencana guru, paling tidak aku masih bisa melindungi amanah terakhirnya. Untuk kehendak guru, sekarang semuanya berada di tanganmu adikku" ucapnya dalam hati.
Namun berbeda dengan Liu Tong yang memang sejak awal sudah pasrah Ling Yun tidak diam saja menunggu Liu Tong dibunuh oleh orang yang tak dikenalnya.
Saat itu Argadana sudah berada dalam jarak selangkah di depan Liu Tong. Ling Yun maju dan berdiri tegak seolah menjadi pagar untuk Liu Tong. Cahaya hijau terpancar keluar dari Tombak Pusaka Pemburu Arwah yang telah dialiri tenaga dalam Ling Yun sebagai isyarat bahwa pemuda itu telah siap bertarung untuk melindungi Liu Tong.
"Tuan... Saya tidak tahu tuan ada masalah apa dengan saudaraku ini. Tetapi jika tuan menghendaki nyawanya bahkan meskipun harus ditebus dengan nyawa sekalipun saya tidak akan hanya diam saja" berkata Ling Yun dengan tubuh dibungkukkan. Ia membatin
__ADS_1
"Dari daya dorong lemparannya tadi aku yakin tenaga dalam orang ini tidak lebih lemah dariku. Tapi aku tidak akan membiarkan saja dia membunuh Liu Tong, kendati akupun juga begitu membencinya karena telah merahasiakan segalanya dariku"
"Oh ya??? Tapi bukankah barusan kau juga ingin membunuhnya?"
"Aa...aku...!!!"
Ling Yun gelagapan mendapat todongan pertanyaan yang amat sangat mengena di hatinya.
Argadana tersenyum. Ia mengerti kebimbangan Ling Yun. Ia lalu melangkah mendekati kedua pendekar yang berusia sebaya dengannya itu dengan wajah bersahabat.
Tetapi Ling Yun tidak menurunkan kewaspadaannya. Melihat Argadana mendekat tangannya dengan cepat bergerak mengangkat Tombak Pemburu Arwah mengancam bagian tenggorokan Argadana dengan maksud untuk menghentikannya.
"Bajingan cari mati!!!"
"Wushhh...!!!"
Segulung angin menderu mengancam wajah Ling Yun setelah terdengar suara bentakan keras. Ling Yun mati langkah tak dapat mengelak dari serangan mendadak.
Serangan mendadak semacam ini tidak termasuk tindakan pengecut karena si penyerang telah memperingatkan dengan bentakan terlebih dahulu sebelum bertindak.
Hanya saja Ling Yun meskipun memiliki kepandaian yang luar biasa hebat, dia masih tergolong hijau dalam dunia persilatan. Kehidupannya selama ini dia habiskan untuk berlatih di tempat tinggal mereka yang tersembunyi karena merasa terancam terus diburu oleh orang - orang organisasi Bao Yixue. Ia tak mempunyai banyak pengalaman dalam bertarung melawan musuh secara langsung sehingga ia sama sekali tidan siap menerima serangan mendadak.
Tanpa menoleh ke belakang tangan Argadana bergerak secepat kilat. Ling Yun terkejut bukan kepalang melihat tangan Argadana kini tengah mencengkeram sebuah tangan halus milik wanita yang sangat cantik yang kini telah berdiri di samping kanan Argadana.
"Kau selalu saja bertindak ceroboh, dinda" tegur Argadana seraya menoleh kepada wanita di sampingnya yang tidak lain adalah Ningrum.
"Maafkan aku, kanda (enaknya diganti pake kanda aja panggilannya ya)... Aku kelepasan" Ningrum menjawab sambil merunduk setelah Argadana melepaskan cekalan pada tangannya.
__ADS_1