Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Kematian Sang Guru


__ADS_3

Dalam kemarahan yang teramat sangat Ling Yun berkelebat cepat dengan ‘jurus terjangan selaksa api’. Dikerahkannya seluruh tenaga dalamnya karena sadar ia bukan tandingan tiga manusia raksasa yang telah melukai gurunya. Anehnya Ling Yun sama sekali tidak terdesak walau pertarungan telah berlangsung tiga puluh jurus. Liu Tong yang mengenali jurus tersebut terkejut dengan kening berkerut.


Setelah lima jurus kembali berlalu Ling Yun merubah pola gerakannya yang tadinya paling banyak gerakan tangan dan hanya sesekali saja melancarkan tendangan kini berubah menjadi sebaliknya.


“Jurus terjangan ribuan badai!!! Kau telah berhasil menyempurnakannya, adikku” Liu Tong berseru puas. Ini seharusnya merupakan sebuah hal yang aneh mengingat mengingat Liu Tong saat ini telah mengikat sampul permusuhan dengan guru dan kedua adik seperguruannya. Entah apa yang direncanakannya dengan semua tindakan – tindakannya selama ini.


Sementara itu di sisi lain Wu Qin Feng juga tersenyum puas melihat muridnya yang tiba – tiba menjadi sangat kuat dan bahkan mampu bertarung imbang melawan tiga manusia raksasa sampai puluhan jurus. Chen Xiang yang duduk menemaninya pun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Itu api kemarahan!!!” ucap Wu Qin Feng pelan.


“Ehh?? Apa itu api kemarahan, guru? Mengapa aku tak pernah ingat guru menyebutkannya sebelumnya?” tanya Chen Xiang penasaran.


Tanpa memalingkan wajahnya dari pertarungan Ling Yun Wu Qin Feng menjawab


“Itu kekuatan maha dahsyat yang hanya akan muncul saat seorang pendekar merasa marah. Api kemarahan akan memberikan pemiliknya kekuatan tiga kali lipat dari kekuatan penuh pemiliknya. Tetapi ini bukan sesuatu yang bisa didapat melalui pelatihan dan pengalaman karena bahkan aku pun tidak memilikinya. Kata guruku dulu, api kemarahan hanya akan berjodoh dengan pendekar yang memiliki bakat tertinggi dalam ilmu yang menggunakan inti panas sebagai dasarnya seperti Ilmu Api Langit salah satunya.”


“Jadi maksud guru kakak Ling...” belum sempat Chen Xiang menyelesaikan ucapannya terdengarlah suara berdebum di arah pertarungan Ling Yun. Ternyata itu adalah bunyi jatuhnya tubuh salah satu raksasa setelah beradu pukulan dengan Ling Yun yang telah berhasil membangkitkan api kemarahannya.


“Serang bersama!!!” teriak Liu Tong seraya melompat masuk ke kancah pertarungan diusul manusia raksasa yang tadi sempat terpental oleh Ling Yun.


Senyum Wu Qin Feng memudar melihat Ling Yun kelabakan setengah mati menahan gempuran serangan empat orang sekaligus. Pendekar Api Langit berkelebat menyambar tubuh Ling Yun yang tengah terhuyung – huyung setelah menerima tendangan Liu Tong di bagian pinggangnya.

__ADS_1


Tidak mau tinggal diam Liu Tong mengejar tubuh Pendekar Api Langit setelah menghunuskan pedangnya yang menyala merah terang.


“Srang!!!” Chen Xiang tidak hanya berpangku tangan saja melihat serangan ganas Liu Tong mengincar punggung Pendekar Api Langit. Setelah mengeluarkan bentakan nyaring tubuhnya berkelebat cepat bagai angin menyambut tusukan Liu Tong dengan pedang pusaka pemberian Wu Qin Feng.


“Trangg!!!” Tangan Chen Xiang bergetar hebat saat pedangnya berbenturan dengan pedang terjadi. Hampir pedang di tangannya terlepas jika tidak digenggamnya dengan kuat. Ini saja sudah cukup menyadarkan Chen Xiang kalau tenaga dalamnya masih kalah setingkat dari Liu Tong.


“Jurus pedang tunggal!!!”


Dengan mengabaikan kenyataan bahwa tenaga dalamnya masih lebih rendah daripada Liu Tong Chen Xiang menyerang ganas memberi Pendekar Api Langit waktu untuk menurunkan tubuh Ling Yun. Tapi akibat yang sangat fatal harus ditanggungnya untuk tindakan itu.


“Jurus api langit!!!”


Telapak tangan Chen Xiang berubah merah sampai sebatas pergelangan tangan dan mengeluarkan asap. Ini adalah jurus terakhir yg diterimanya dari Wu Qin Feng selama berguru padanya. Tatapan gadis itu yang pada awalnya tadi dipenuhi dengan kerinduan kini telah berubah menjadi tatapan kebencian. Meskipun demikian tak terbendung juga airmata mengalir di kedua pipinya. Ia membatin


Gerakan Chen Xiang mulai kacau karena perasaan rindu dan benci berbaur menjadi satu dalam benaknya sehingga tanpa sadar gadis itu membuat celah dalam pertahanannya. Liu Tong yang cerdas dapat melihat kelemahan itu. Dengan mengerahkan ‘Jurus pedang neraka’ dihantamnya pedang di tangan Chen Xiang hingga pedang tersebut terlepas dari genggaman tangannya. Tidak mau melewatkan kesempatan emas, Liu Tong menusukkan pedang merahnya ke perut Chen Xiang yang telah mati langkah.


“Chen Xiang!!!”


“Xiang Xiang!!!”


Wu Qin Feng dan Ling Yun berseru tertahan melihat Liu Tong yang tidak ragu-ragu menusukkan pedangnya untuk mengakhiri perlawanan Chen Xiang.

__ADS_1


“Rupanya perseteruan kita hanya sampai di sini saja. Jika aku lebih kuat, aku akan melawanmu lagi dan lagi. Kau telah merenggut segalanya dariku. Cinta, usia dan semua senyumanku. Semua khayalan manisku tawar dalam panjangnya penantian. Meskipun aku enggan untuk mengakuinya, tapi kali ini aku memang telah benar-benar kalah darimu, waktu. Tapi tak apa. Mati di ujung pedangmu juga adalah sebuah kebanggaan” Chen Xiang menutup matanya menanti ujung pedang Liu Tong menembus tubuhnya.


Chen Xiang keheranan setelah menunggu cukup lama pedang Liu Tong tidak juga sampai di tubuhnya padahal jarak mereka sangatlah dekat. Karena penasaran ia coba membuka matanya dan mata gadis cantik itu terbelalak tak percaya melihat Wu Qin Feng berdiri di depannya menahan pedang Liu Tong dengan tubuhnya. Darah menetes di ujung pedang yang menusuk tembus tubuh Pendekar Api Langit.


“Guru!!!” desis Chen Xiang menutup mulutnya dengan wajah tak percaya. Terlihat jelas di depan wajahnya Liu Tong dengan senyum angkuh mencabut pedang dari tubuh Wu Qin Feng. Di belakangnya Ling Yun tampak lemas seolah tulang-tulang di sekujur tubuhnya telah diloloskan. Tidak ada yang sempat bereaksi melihat pedang merah dengan kejamnya menembus tubuh tua Wu Qin Feng.


“Brukk!!!” setelah tubuh itu ambruk barulah Ling Yun dan Chen Xiang tersadar dan segera menghampiri tubuh lunglai sang guru.


“Guru, Guru bertahanlah. Aku dan Chen Xiang pasti akan menyelamatkan guru” kata Ling Yun dengan wajah sedih menggenggam tangan Wu Qin Feng. Pria tua itu hanya tersenyum melihat betapa muridnya itu sangat menyayanginya.


“Tidak, anakku” Wu Qin Feng menggelengkan kepalanya.


“Luka ini sudah sangat parah. Waktu guru sudah tidak banyak lagi. Dengarkan baik-baik. Setelah kepergianku kelak kalian akan menemui sangat banyak kesulitan. Pesanku adalah agar kalian selalu berada di dalan yang lurus. Jangan kalian terjerumus seperti dia” Wu Qin Feng berkata dengan suara parau dan nafas kembang kempis. Ia menatap lembut kedua muridnya. Setelah berpesan kepada Ling Yun dan Chen Xiang tidak lama kemudian Wu Qin Feng akhirnya menhembuskan nafasnya yang terakhir.


Tanpa ada yang menyadari wajah Liu Tong sempat terlihat sedikit berubah setelah mencabut pedang dari tubuh Wu Qin Feng. Tampak ada rasa bersalah di wajahnya yang berusaha ia tutup-tutupi dengan memelototkan matanya. Ia tidak menyerang atau memberi perintah pada raksasa untuk menyerang Ling Yun dan Chen Xiang. Yang terlihat justru ia seperti sengaja membiarkan Wu Qin Feng berbicara dengan kedua muridnya itu.


“Guruuu!!!”


Teriak Chen Xiang histeris mengguncang tubuh pucat Wu Qin Feng.


Ling Yun berbalik badan menghadap kea rah Liu Tong dengan pandangan berapi-api.

__ADS_1


“Manusia tak beradab. Meskipun harus mati hari ini aku akan membawamu ikut bersamaku ke neraka”


Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang menerbangkan debu-debu berhamburan seolah merespon kemarahan Ling Yun. Karena api kemarahannya telah bangkit sebelumnya dan kini amarahnya kembali terpicu dengan kesedihan atas kematian guru sekaligus ayah angkatnya, Ling Yun tanpa sadar telah menciptakan sejenis ilmu pukulan baru yang sangat dahsyat.


__ADS_2