Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Argadana vs Ningrum


__ADS_3

"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"


Argadana kembali berbalik badan mendengar suara yang sangat dikenalnya dari arah belakang. Suara yang selama ini amat dirindukannya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Ningrum.


Argadana tersenyum hangat pada Ningrum yang baru saja datang dengan pedang naga guntur telah terhunus di tangan kanannya. Mau berapa kali pun ditatapnya, wajah wanita itu tetap saja terlihat semakin cantik di mata Argadana.


"Hiaatt. . ."


Belum lama pemuda itu melamun, dia harus berjibaku menghindari serangan gencar yang dilepaskan Ningrum secara tiba - tiba. Pedang Naga Guntur mengeluarkan percikan - percikan petir ketika diayunkan ke tubuh Argadana.


Semua orang memandang heran dan takjub. Heran kenapa tuan putri mereka menyerang pemuda itu dengan begitu ganas dan takjub pada pamor pedang naga guntur yang luar biasa itu.


"Itu .. itu pasti pedang naga guntur. Jika aku bisa menikahi Putri Ningrum, bukan saja Sampang Daru akan menjadi sekutu tetapi aku juga berkesempatan untuk mendapatkan pedang pusaka itu" kata Damar Sena dalam hati dengan niat serakahnya.


Ningrum bergerak menusuk ke arah perut. Argadana menggerakkan tangannya dengan cepat menjepit pedang naga guntur dengan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga serangan Ningrum meleset setelah ujung pedang naga guntur dibelokkan ke kanan karena jepitan Argadana.


Ningrum melompat lima langkah ke belakang dan mengubah kembali gerakannya.


"Hati - hati, kakang. Ini jurus baru yang aku dapatkan dari Naga Guntur" kata Ningrum sambil tersenyum manis membius hati Argadana.


"Kakang???"


Semua yang menyaksikan pertarungan kedua muda mudi itu melengak mendengar panggilan yang disebutkan Ningrum untuk pemuda lawan bertarungnya itu.


Sementara mereka semua keheranan pertarungan telah mencapai jurus ke tiga puluh. Peluh keringat telah membanjiri tubuh Ningrum, sedangkan Argadana sendiri hampir tidak berkeringat sedikitpun. Jurus sembilan langkah ajaib tidak pernah dapat digunakannya karena Ningrum mengetahui kelemahannya.


"Pria itu tidak terkena dampak dari percikan energi pedang naga guntur. Itu membuktikan kalau dia bukanlah orang sembarangan" gumam Pangeran Danu Kusuma.


"Benar. Dan kulihat, dia tidak sungguh - sungguh melawan Ningrum. Padahal ketika adu tanding dulu, bahkan Panglima Guntara pun dibuat kelabakan oleh jurusnya yang barusan. Tapi pemuda itu terlihat santai - santai saja" balas Ratu Malini.


"Hmm ... Jika saja kita bisa merekrut anak muda itu, kerajaan kita pasti mendapatkan tambahan kekuatan yang besar nantinya"


Raja Kurawa berandai - andai.


"Haiisss. . . Ayah rupanya sudah mulai pikun. Hal seperti itu saja tidak bisa dimengertinya" kata Handra Wiraguna mengejek sang ayah.


"Hussyy ... Jangan kurang ajar kalau bicara dengan orang tua. Kau ini, sikap ugal - ugalanmu itu masih saja belum hilang" sergah Ratu Malini.


Pangeran Danu Kusuma hanya tersenyum mendengar kalimat adik bungsunya itu. Dia tahu apa yang sedang ingin direncanakan oleh Handra Wiraguna.

__ADS_1


"Tapi ada benarnya apa yang dikatakan dinda Handra, Ibunda. Coba perhatikan, wajah Ningrum selama berada di dalam istana apa pernah tampak seperti itu?" kata Danu Kusuma menunjuk ke arah pertarungan Ningrum dan Argadana.


Dess. . .


Kedua kaki Ningrum dan Argadana saling bertemu di udara membuat mereka sama - sama terdorong ke belakang.


Ilmu Naga guntur: Tubuh petir


Cress... Cresss. . .


Terdengar bunyi desisan seperti tenaga listrik menyelimuti sekujur tubuh Ningrum. Perlahan - lahan tampak garis - garis berwarna biru di pipi kiri dan kanan gadis cantik itu. Garis - garis itu merupakan sisik Naga Guntur yang hanya akan keluar ketika menggunakan kekuatan penuh tubuh petir saja.


Semua yang menyaksikan pertunjukan itu terlongong bengong, bahkan Raja Kurawa juga rahangnya seperti hampir terjatuh melihat kekuatan asli milik putrinya itu.


Pangeran Danu Kusuma menatap Ningrum dengan mata melotot dan mulut ternganga lebar hingga akhirnya terbatuk - batuk cukup lama karena nyamuk tertelan di tenggorokannya.


Yang paling cerah wajahnya melihat kekuatan penuh Ningrum adalah Handra Wiraguna. Dia sangat senang karena ternyata kakak perempuannya itu memiliki kekuatan yang bahkan melebihi semua orang yang tinggal di keraton.


"Kekuatan seperti itu bahkan tidak sebanding separuhnya dengan kekuatan penuhku. Jika kekuatan yunda saja sudah sebesar itu, lalu bagaimana kekuatan kakang Argadana yang sebenarnya?"


Handra Wiraguna bertanya - tanya dalam hati.


Semua yang berada dalam jarak sekitar lima tombak dari tubuh Argadana merasa tertekan oleh kekuatan pemuda itu, bahkan beberapa di antaranya kesulitan bernafas.


"Kau sudah menguasainya secara sempurna rupanya, hebat" puji Argadana.


"Hmm ... Kakang akan merasakannya sendiri. Hiaaahhh ..."


Ningrum kembali menerjang Argadana yang tampak mulai serius meladeni serangan Ningrum karena tidak ingin celaka oleh tekhnik tubuh petir gadis itu yang saat ini sudah tidak bisa dia sentuh sebab akan berpotensi melukai dirinya.


"Benar juga. Aku baru memperhatikannya. Wajah adikmu itu tampak sangat bersemangat dan selalu merona merah. Jangan - jangan..."


Belum selesai Raja Kurawa berbicara Handra Wiraguna sudah memotongnya.


"Hehehe. . . Ayah hanya tinggal merestui hubungan mereka saja. Dengan begitu, dua kekuatan besar yunda Ningrum dan kakang Argadana pasti akan melindungi kerajaan kita seratus tahun lagi" katanya nyengir kuda.


"Hmm ... Benar juga apa katamu, Handra"


Raja Kurawa tersenyum memegang dagunya.


"Kita hanya perlu merestui mereka berdua, dan pemuda itu akan menjadi bantuan besar jika dia jadi mantuku" lanjutnya sambil memperhatikan kembali pertarungan antara Ningrum dan Argadana.

__ADS_1


Kali ini Argadana mengangkat tangannya tinggi sambil mulutnya berkemik memanggil cambuk raja naga.


Lagi - lagi mata semua orang melotot melihat cambuk yang entah datang dari mana tiba - tiba berada di tangan Argadana seperti diambil dari ruang hampa. Sebuah cambuk berwarna emas dengan pangkal gagang berbentuk kepala ular naga bermata merah. Itu adalah pusaka cambuk raja naga.


"Itu... Itu pusaka cambuk raja naga" kata Handra Wiraguna dengan gugup.


"Kau kenal dengan senjata itu, dinda?" tanya Danu Kusuma.


"Cambuk itu yang belakangan ini dikabarkan berada di tangan murid Pendekar Cambuk Naga, Anung Pramana yang dikenal berjuluk Ksatria Lembah Neraka" jawab Handra Wiraguna pelan.


"Apa??? Jadi, dia adalah pendekar yang kondang itu?" Ratu Malini kali ini ikut menyahuti.


"Jadi ini maksud Dinda Ningrum waktu itu ketika dia mengatakan bahwa kita suatu saat akan dapat bertemu pendekar itu dengan percaya dirinya. Ternyata putriku mempunyai hubungan khusus dengannya" Raja Kurawa tersenyum lebar. Kali ini dia yakin dengan pasti kalau adik seperguruan yang dimaksud Argadana adalah putrinya itu. Alasannya adalah karena Dewi Obat, guru Ningrum adalah istri Anung Permana yang dikenal dengan julukan Pendekar Cambuk Naga.


Ningrum menerjang ganas berusaha memotong jarak, tetapi Argadana yang sudah tahu maksud Ningrum tidak mau memberi kesempatan. Cambuk raja naga bercahaya emas terus berputar bagai baling - baling menyemburkan api ke segala arah dalam jangkauan satu batang tombak dari ujung cambuknya.


Ketika Ningrum terlihat lengah karena kesulitan menembus pertahanan Argadana, pemuda itu memanfaatkan kesempatan dengan membelit pedang naga Guntur dengan cambuk raja naga lalu membetotnya dengan keras.


Ningrum yang terlambat bereaksi terkejut. Karena tangannya memegang pedang dengan erat, maka ketika Argadana membetot pedangnya, tubuh gadis itu pun ikut terbawa dan menubruk tubuh Argadana setelah ujung pedang naga guntur disentil dengan pengerahan tenaga dalam tinggi hingga terlepas dari tangan Ningrum. Pedang tersebut lalu melayang dengan sendirinya dan masuk kembali ke dalam warangkanya di punggung Ningrum.


Tubuh Ningrum yang terbetott terus meluncur menubruk tubuh Argadana yang gelagapan menangkapnya. Pertarungan itu berakhir dengan adegan saling peluk antara keduanya.


"Kenapa lama sekali baru datang, kakang" bisik Ningrum Pelang di telinga Argadana.


"Emm ... Maafkan aku, Dinda. Aku terlambat karena harus mempersiapkan hadiah terindah untukmu" balas Argadana berbisik.


"Dan ..."


"Ahem ..."


Ucapan Argadana terputus oleh suara deheman Raja Kurawa.


"Ahh ..."


Keduanya lalu melepaskan pelukan dengan wajah merah. Argadana sendiri bahkan jadi salah tingkah di hadapan raja itu.


"Haiiisss. . . Putriku sudah besar rupanya. Dia sampai lupa kalau di sini ada ayahnya" sindir Raja Kurawa tersenyum.


"Ahh... Ayah ..."


Ningrum lari meninggalkan Raja Kurawa dan yang lainnya masuk ke dalam istana dengan wajah merah. Sementara Raja Kurawa dan Ratu Malini yang berada di situ tertawa senang karena berhasil mengerjai kedua muda mudi pasangan serasi itu.

__ADS_1


__ADS_2