
"Anak ini... Aku merasakan bahaya yang keluar dari tekanan yang baru saja dia berikan. Masih muda, baru dengan tekanan aura keliatannya saja sudah begini mengerikan. Anak muda ini seharusnya sudah terkenal di dunia persilatan, tapi kenapa aku belum pernah dengar ada pendekar muda yang ciri - cirinya seperti anak ini" kata Pendekar Tangan Hitam dalam hati.
Aku sering melihat kematian menjemput jiwa manusia
Tapi tidak pernah seramai ini
Mayat - mayat berlimpangan tanpa nyawa
Maut membawa jiwa - jiwa fana
Menuju alam penantian
Sebelum pengadilan yang maha adil dimulai
Tiba - tiba terdengar sebuah syair aneh yang membuat gemetar lutut para bawahan Pendekar Tangan Hitam. Suara tersebut terdengar dari seseorang yang baru saja menampakkan diri dari arah belakang kelompok Argadana.
"Itu.... Penyair Maut. Dia Penyair Maut.." teriak anak buah Pendekar Tangan Hitam kalang kabut.
"Hmmm... Dia yang membunuh banyak orang dari aliran hitam dalam waktu singkat. Ilmunya pasti sangat tinggi. Kenapa bisa begini kebetulan" batin Pendekar Tangan Hitam.
Widura terus maju dengan aura aneh berwarna hitam merembes keluar dari tubuhnya menekan semua anak buah Pendekar Tangan Hitam. Aura aneh berwarna hitam pekat itu tidak mempengaruhi Ningrum dan Jaya Ruma sedikitpun. Langkah Penyair Maut atau Widura terhenti tepat di depan Argadana. Dia lalu berbalik badan dan menekuk lututnya memberi hormat.
"Ketua... Beri Widura ini perintah. Dengan titah ketua, aku akan membunuh penjahat - penjahat licik ini" kata Widura.
Semua orang selain Ningrum bagai mendengar petir di siang bolong mendengar pernyataan dan tindakan Widura.
Sebelumnya empat pecahan memang sengaja mengirimkan salah satu anggota terbaik mereka untuk melindungi Argadana secara diam - diam. Tetapi hal itu tidak bisa mengelabui insting Argadana, sehingga murid Sepasang Pendekar Naga itu tidak terkejut ketika Widura menampakkan diri. Pemuda itu tahu bahwa ada tiga orang lagi yang masih belum menampakkan diri dan bersembunyi untuk melihat - lihat keadaan.
__ADS_1
"Seorang Penyair Maut merendahkan tubuh menghormati seorang laki - laki yang lebih muda darinya. Ini pertama kali aku melihatnya"
"Anak muda ini ternyata bukan orang sembarangan"
Begitulah membatin para bawahan Pendekar Tangan Hitam. Lain lagi dengan Jaya Ruma sendiri. Dia tidak menyangka sama sekali kalau pemuda berjuluk Penyair Maut ternyata merupakan salah satu bawahan Argadana.
"Itu artinya Penyair Maut yang terkenal tersebut adalah salah satu anggota Perguruan Anak Naga. Pantas saja dia begitu hebat"
Sementara itu Pendekar Tangan Hitam meskipun sejak awal memang sudah menduga kalau Argadana bukan orang sembarangan tetap saja terkejut melihat apa yang dilakukan Widura.
"Siapa sebenarnya anak muda ini? Penyair Maut terlihat sangat takut padanya. Dan dia menyebut anak itu ketua, entah apa yang dimaksud ketua itu. Apapun itu, pertarungan ini akan menjadi sulit jika mereka bekerjasama melawan kami. Aku terpaksa harus memanggil anggota yang lain kemari"
"Bangunlah, Widura. Orang ini biar menjadi urusanku. Aku ingin melenyapkan mereka dengan tanganku sendiri untuk arwah para warga yang telah mereka bantai dengan kejam, juga untuk mengurangi perlawanan Kerajaan Sakra" kata Argadana tegas.
Widura yang tidak berani membantah segera menyingkir dan memberi jalan untuk Argadana.
"Kau sudah membunuh terlalu banyak orang tak bersalah demi kepuasanmu sendiri. Aku harap kau tidak keberatan jika aku membunuhmu" kata Argadana dingin.
Dia lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk terompet kecil. Benda itu lalu dengan cepat diletakkan di bibir dan ditiupnya.
Terdengarlah suara yang sangat nyaring dari tiupan tersebut. Argadana hanya mendiamkan saja Pendekar Tangan Hitam yang meniup terompet untuk memanggilnya bala bantuan itu.
Tidak lama kemudian muncullah sepuluh orang berlompatan dari arah belakang Pendekar Tangan Hitam. Melihat dari lompatan mereka yang sangat ringan dan kaki mereka yang tidak menimbulkan suara ketika menapak di tanah menunjukkan bahwa orang - orang tersebut memiliki tenaga dalam tinggi.
Tanpa basa basi lagi, Pendekar Tangan Hitam bergerak maju bersama empat orang yang baru dipanggilnya merangsek ke depan mengancam tubuh bagian vital Argadana.
Sisa enam orang yang lain berlompatan mengincar Widura, Ningrum dan Jaya Ruma. Tetapi tiga orang lain tiba - tiba melompat dari balik semak belukar di belakang Widura. Tiga orang tersebut adalah orang - orang kiriman dari Pecahan Kelemahan, Pecahan Kesombongan dan Pecahan Kegelapan. Akhirnya terjadilah pertarungan satu lawan satu di antara mereka.
__ADS_1
Sementara itu Argadana dengan cekatan menghindari setiap serangan cakar yang di lesatkan lima orang pengeroyoknya. Jurus sembilan langkah ajaib yang dipelajarinya di Lembah Neraka membuat kelabakan Pendekar Tangan Hitam dan kawan - kawannya.
Tubuh Argadana terlihat sempoyongan seperti orang mabuk. Ketika salah satu dari keenam pengeroyoknya melayangkan tendangan ke arah kepala, Argadana terlihat seperti tidak dapat bergerak membuat senang hati orang tersebut. Tetapi kesudahannya membuat terkejut Pendekar Tangan Hitam dan kawanannya.
Argadana yang tampak seperti orang mabuk menggelosor ke bawah seperti akan ambruk, tetapi justru dari gerakan itu kepala Argadana yang dialiri tenaga dalam melabrak perut orang itu dengan sangat keras membuatnya terjungkal dan jatuh pingsan setelah memuntahkan darah segar.
"Anak ini terlalu berbahaya. Ayo cepat, kita harus membunuhnya" ucap Pendekar Tangan Hitam panik.
Lima orang yang tersisa masih sadarkan diri kemudian kembali melakukan serangan yang lebih ganas mencecar bagian - bagian yang berbahaya di tubuh Argadana.
Jurus tanpa bentuk...
Tubuh Argadana menghilang secara tiba - tiba berubah berganti bayangan hitam yang melewati tubuh lima orang itu.
"Ahhkkk....."
Satu persatu tubuh kelima orang itu menerima satu sayatan panjang seperti bekas cakaran melintang dari bahu kiri sampai pinggang sebelah kanan. Dari luka sayatan itu mengalir darah segar.
"Ilmu iblis.... " umpat Pendekar Tangan Hitam keras.
"Gabungan kekuatan. Gunakan ilmu pamungkas masing - masing. Kita lihat apakah tenaga dalamnya lebih kuat, atau gabungan kekuatan kita yang lebih besar"
Lima orang itu menyiapkan pukulan maut andalan mereka masing - masing. Pendekar Tangan Hitam tentu saja dengan ilmu andalannya yaitu Pukulan Tangan Hitam. Kelima orang tersebut menitik beratkan seluruh tenaga dalam mereka ke tangan kanan yang akan melepaskan pukulan maut. Mereka sampai lupa mengalirkan tenaga dalam ke kedua kaki untuk menahan agar efek benturan tenaga dalam tidak membuat mereka terpental.
"Ughhh..."
Widura dan tiga orang kawannya yang lain berhasil mendepak lawan mereka dengan tendangan mematikan yang mengenai dada lawan mereka hingga terpental dan diam tak bergerak, mati. Ketika diperiksa, dada keempatnya melesak dalam akibat kerasnya hantaman kaki keempat anggota Perguruan Anak Naga tersebut. Tidak jauh dari mereka Ningrum yang telah lebih dulu membunuh lawannya karena terlalu lemah segera melompat membantu Jaya Ruma yang kepayahan menghadapi musuh yang lebih kuat darinya. Tangan Ningrum yang mengeluarkan percikan petir menghantam kepala orang tersebut yang hendak menikam Jaya Ruma dengan pedang pendeknya.
__ADS_1
Prakkk...
Orang tersebut tewas dengan kepala rengkah terhantam jurus tinju petir Ningrum.