
Wajah Wu Qin Feng berubah mengelam. Dengan nafas setengah mendengus dia melompat gesit menghampiri tubuh Ling Yun yang terkapar lemah di pangkuan Chen Xiang. Pria berusia setengah baya yang juga berjuluk Pendekar Api Langit itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna hijau pekat.
‘’Telanlah untuk memulihkan luka dalammu’’. Setelah memastikan obat tersebut ditelan oleh Ling Yun Pendekar Api Langit berbalik menatap kea rah Liu Tong. Kali ini wajah yang biasanya memandang dengan tatapan penuh welas asih itu kini berubah bengis. Ditunjuknya Liu Tong yang tengah berdiri congkak melihat lawannya yang tidak berdaya di hadapan pengawal raksasanya
‘’Liu Tong... Tindakan khianatmu kali ini sudah tidak lagi bisa dimaafkan’’ teriak Wu Qin Feng menggelegar. Sementara itu Liu Tong hanya terlihat menyeringai meski dibentak demikian, tiada rasa gentar sedikitpun di hatinya.
“Huh... Aku begini juga karena dirimu, orang tua. Jika kau tidak pilih kasih pada muridmu hal inipun tidak akan pernah ada. Aku tak perlu berkhianat, dan murid kesayanganmu itu juga tidak akan terluka” menjawab Liu Tong dengan mata melotot.
“Murid murtad, durhaka!!! Kubunuh saja kau. Hiattt...!!!”
Di sinilah terlihat bahwa Wu Qin Feng si Pendekar Api Langit merupakan orang yang sarat akan pengalamannya dalam bergelut di dunia persilatan Tiongkok selama puluhan tahun. Walau dalam keadaan marah, ia tak lantas bertindak gegabah. Terlihat dari gerakannya yang sangat tenang namun mantap saat menyerang Liu Tong.
“Ayo, tua bangka. Perlihatkan padaku seluruh kemampuanmu. Dan aku akan memperlihatkanmu apa yang telah kucapai setelah bergaung dengan Organisasi Bao Yixue”.
Liu Tong dengan tenang mengelakkan serangan – serangan berat Wu Qin Feng dan sesekali menyerang balik dengan snagat ganas. Namun karena tenaga dalam Wu Qin Feng lebih tinggi Liu Tong seringkali kelabakan melayani serangan sang guru yang kini telah menjadi musuhnya itu.
Meskipun Wu Qin Feng unggul dalam hal tenaga dalam ia juga tak dapat dengan cepat menumbangkan Liu Tong karena konsentrasinya terbagi pada kedua murid dibelakangnya yang bisa saja diserang oleh pengawal yang dibawa Liu Tong.
Liu Tong yang sangat cerdik juga tidak mau melakukan adu tenaga dalam sehingga ia hanya menhindar atau melompat ketika Wu Qin Feng mendesaknya. Pendekar Api Langit hanya bisa menggeram marah mengetahui sang murid lebih lincah darinya.
Karena kedua belah pihak sama – sama mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing – masing pertarungan berjalan alot hingga jurus ke empat puluh mereka terus beradu.
__ADS_1
“Wush!!!”. Angin kencang berhawa panas menerpa wajah Liu Tong yang seketika itu juga memerah pucat melihat serangan ganas dari telapak tangan mantan gurunya yang telah berubah warna sepenuhnya menjadi merah bagai bara.
“Bangsat!!! Jurus Api Langit!!!” bentak Liu Tong mengerahkan tekhnik pukulan yang sama dengan yang dikerahkan Wu Qin Feng. Tak dapat dihindari lagi telapak tangan kanan Wu Qin Feng dan telapak tangan kiri Liu Tong beradu menimbulkan bunyi nyaring “Plakk!!!”
“Ugh....” Liu Tong berseru tertahan setelah terpukul mundur sejauh lima batang tombak dan terjengkang hamper jatuh. Tangan kanannya secara refleks mengelus dadanya yang terasa berdenyut sakit.
Sementara itu Pendekar Api Langit masih terlihat tenang setelah benturan barusan yang hanya membuat tubuhnya sedkit goyah tanpa membuatnya terdorong ke belakang.
“Aku masih bisa memaafkan kesalahanmu jika kau bersedia bertobat dan meminta maaf pada dua adikmu, Liu Tong. Aku juga bersedia menerimamu kembali sebagai muridku jika kau masih mau” berkata Wu Qin Feng.
“Uhuk... Uhuk!!!” Liu Tong terbatuk darah.
“Setan!!! Bunuh tua bangka ini!!!”
Wu Qin Feng amat terkejut merasakan tekanan serangan kombinasi manusia raksasa yang tampak sangat berat. Namun sebagai seorang pendekar yang telah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, rasa kejutnya itu bisa ia sembunyikan.
“Jurus sayap elang menyibak awan!!!”
Sepasang tangan Pendekar Api Langit bergerak lincah bak sayap elang mengimbangi tubuhnya yang bergerak gemulai menghindari hujan serangan dari tiga manusia raksasa. Dalam sepuluh jurus pertarungan berlangsung beberapa pukulan dan tendangannya berhasil mendarat dengan telak di tubuh raksasa lawannya. Tapi anehnya, tidak terjadi apapun pada ketiga raksasa itu. Wu Qin Feng merasa seolah pukulan maupun tendangannya hanya mengenai benda empuk yang dapat membalikkan serangannya.
Rasa heran itu membuat Pendekar Api Langit sedikit kehilangan konsentrasi sehingga ia sempat lengah. Akibatnya...
__ADS_1
“Bukk!!!”
“Akkkhhh!!!”
Raksasa yang berada di depan melayangkan tinju besarnya mengarah ke ulu hati diiringi bunyi kesiur angin berhawa dingin. Pendekar Api Langit yang telah mendapatkan kembali konsentrasinya terkejut dan secepat kilat berusaha menghindar dengan membuang tubuhnya ke kanan.
Pendekar Api Langit berhasil melindungi ulu hatinya, tetapi karena sedikit terlambat tinju itu sempat menyerempet dada kiri menyebabkan beberapa ruas tulang rusuknya patah saking kuatnya tenaga raksasa tersebut.
Serangan manusia raksasa tidak berhenti di situ. Kedua rekannya yang lain begitu melihat sasarannya bergulingan di tanah dengan segera menyusul dengan pukulan dan tendangan yang telah dilambari pengerahan tenaga dalam tinggi.
Pendekar Api Langit tidak sempat menghidar kali ini. Dua sambaran angin berbau amis melabrak dada dan perutnya hingga ia terlempar belasan tombak.
“Guruuu!!!”
“Guruuu!!!”
Ling Yun dan Chen Xiang berteriak bersamaan melihat tubuh tua sang guru melayang terkena serangan licik musuh. Chen Xiang melompat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang telah sempurna bagaikan terbang menangkap tubuh Pendekar Api Langit yang telah bersimbah darah.
“Hiks... Hiks...” terdengar suara sesenggukan Chen Xiang melihat keadaan mengenaskan sang guru yang juga telah dianggapnya sebagai ayah kandung sendiri sejak kecil. Beberapa kejap berikutnya Ling Yun datang menyusul setelah berhasil memulihkan kondisi tubuhnya. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya bergetar hebat.
Dada Wu Qin Feng, guru mereka melesak cukup dalam akibat pukulan yang diterimanya tadi. Perlahan – lahan Ling Yun bangkit berdiri. Sorot matanya tajam menusuk penuh dengan niat membunuh.
__ADS_1
“Binatang!!! Aku akan mengadu jiwa dengan kalian. Hiattt!!!”