Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Strategi Penyerangan


__ADS_3

Gunung Koga tampak sunyi di hari itu. Tidak terlihat lalu lalang para anggota klan seperti biasanya yang selalu ramai setiap saat.


Hal itu berkaitan dengan ancaman Perguruan Elang Emas tujuh hari yang lalu.


Benar... Seluruh Klan Koga dan Manjidani berkumpul bersama dan membentuk strategi pertahanan di Gunung Koga yang luas.


Banyak ranjau telah terpasang di sekitar Gunung untuk menjebak para penyerang yang hendak memasuki kawasan Gunung Koga.


Kyoko Sumite membagi pasukan mereka menjadi sepuluh bagian dan menempati sudut - sudut rawan di Gunung Koga yang kemungkinan akan menjadi sasaran empuk bila mendapat serangan dari luar.


Di masing - masing sudut terdapat sekitar dua ratus anggota yang tengah mengintai sedangkan para tetua dan anggota inti lainnya berada di puncak Gunung Koga sebagai kekuatan terbesar yang mengendalikan anggota di tiap sudut.


Sementara itu di kaki Gunung Koga pasukan Perguruan Elang Emas telah bersiap dengan senjata andalan masing - masing.


Argadana memimpin di depan bersama para tetua Klan Nakamura yang datang membantu dan tidak lupa juga orang - orang terkuat Perguruan Elang Emas.


Di belakang mereka tampak murid - murid Perguruan yang tergabung dengan pasukan bantuan yang dibawa Klan Nakamura.


Mereka berdiri dengan gagah berani. Tidak nampak rasa gentar di wajah mereka menyadari sebentar lagi akan terjadi sebuah perang berdarah yang mungkin saja akan mengakhiri nyawa mereka.


Dari keseluruhan orang yang berada di kaki Gunung Koga itu hanya Pangeran Fujihira yang tidak tampak. Argadana sengaja melarangnya untuk ikut karena berkaitan dengan identitasnya sebagai seorang pangeran. Argadana berfikir jika sampai terjadi sesuatu yang di luar dugaan dan membahayakan nyawanya, pihak kekaisaran pasti akan mempersulitnya nanti.


Untuk alasan itulah Pangeran Fujihira dikirim kembali ke istana dan baru boleh melanjutkan latihan di perguruan sepuluh hari kemudian.


"Mereka pasti membangun banyak ranjau di jalan menuju puncak gunung ini. Biar ku periksa...!!!" setelah berkata demikian sebagian tubuh Argadana mulai ditumbuhi sisik - sisik berwarna hitam kecoklatan.


Seluruh urat di tubuhnya mengencang ketika Argadana memejamkan matanya.


Dengan menggunakan kekuatan Naga Bumi Argadana dapat merasakan dengan jelas ranjau - ranjau yang ditempatkan oleh Klan Koga.

__ADS_1


Tangan Argadana tampak bergetar dengan jari - jari terkembang. Begitu kedua tangan diangkat sejajar bahu jari - jarinya disatukan kembali mengepal.


Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Argadana kecuali Ningrum dan Yalina yang menyadari kalau suami mereka tengah menggunakan kekuatan dalam bentuk Naga Bumi untuk mematikan fungsi jebakan - jebakan maut yang berada di gunung tersebut.


Setelah selesai Argadana kemudian membuka kembali gulungan peta yang memuat tata letak Gunung Koga.


"Benar... Titik sudut di sebelah utara ini merupakan yang terlemah. Kita akan memfokuskan serangan di satu titik ini untuk menekan mereka. Aku akan membawa dua ratus murid untuk menggedor pertahanan mereka. Sisanya ikuti lima ketua pecahan bersama Paman Nakamura Hayate bergerak dari sisi kiri dan kanan secara melingkar untuk mencegah jika ada yang melarikan diri" pengaturan yang dibuat Argadana sedemikian matangnya dijawab dengan anggukan oleh seluruh anggotanya.


"Ada pertanyaan???" tanya Argadana sebelum memulai penyerangan ke puncak Gunung Koga.


"Tidak ada, ketua...!!!" menjawab seluruh anggota bersamaan.


"Baik...!!! Kalau begitu kita mulai bergerak, kita hancurkan Klan Koga. Tapi ingat, bergerak dengan hati - hati...!!!"


Dengan demikian bergeraklah Argadana bersama para anggota yang telah dipilihnya. Yang tergabung dalam kelompoknya ada kelima murid Nakamura Hayate, Nakamura Hikone, Sepasang Pendekar Naga dan kedua istrinya tentu saja. Mereka berjalan perlahan memandu ratusan murid di belakang mereka.


***


"Izin melapor, ketua regu...!!!" seorang ninja datang melapor dengan tergopoh - gopoh pada ketua regu yang bertugas mengamankan titik sudut utara.


"Bicaralah...!!!" jawab ninja yang dipanggil ketua regu.


"Emm... Para pasukan musuh sudah mulai bergerak. Mereka memecah menjadi dua pasukan. Pasukan pertama yang memiliki jumlah terbanyak telah bergerak mendaki gunung. Dan pasukan yang kedua tidak bergerak sama sekali"


"Bagus... Persiapkanlah pasukanmu, kita akan menyambut mereka dengan meriah" jawab ketua regu sombong.


"Ehh.... Tapi, ketua. Ada yang aneh dengan pasukan pertama" kata mata - mata itu sedikit ragu.


"Apanya yang aneh?"

__ADS_1


"Anu, ketua... Ranjau dan semua jenis jebakan - jebakan tidak berfungsi. Mereka hanya lewat begitu saja tanpa ada satupun yang memicu jebakan yang sudah kita pasang"


"Apa???" kejut sang ketua regu.


"Kalau begitu segera sambut mereka dengan batu - batu!!! Aku akan segera menyusul setelah melapor ke puncak"


"Baik, ketua..."


***


Di puncak Gunung Koga


Ketua klan, Kyokko Sumite duduk dengan tenang di sebuah altar batu yang biasa digunakan untuk melaksanakan ritual khusus para ninja tingkat tinggi.


Di samping kanannya ada putri semata wayangnya, Kyoko Fukada. Seperti biasa dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.


Di sisi kirinya ada seorang lelaki tua yang sebaya dengan Kyokko Sumite, berjanggut panjang sedada tanpa sehelai rambutpun di kepalanya. Orang itu adalah Aoki Suzurumi. Dia ketua Klan Manjidani yang memiliki kekuatan setara dengan Kyokko Sumite.


Di depan ketiga orang itu berdiri puluhan orang anggota terkuat Klan Koga dan Manjidani yang terdiri dari para tetua tingkat tinggi dan dua orang muda yang tidak lain adalah putra putri Aoki Suzurumi.


"Ketua Kyokko...!!! Apakah mereka sudah mengutus orang mereka untuk membantu?" tanya Aoki Suzurumi.


"Ketua Aoki tenang saja... Orang - orang dari tionggoan itu selalu menepati janji." jawab Kyokko Sumite.


"Fukada...!!! Panggil tuan Liu kemari...!!!" perintah Kyokko Sumite pada putrinya.


"Baik, ayah...!!!"


Kyokko Fukada segera pergi meninggalkan altar batu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian ketua regu yang memimpin pengamanan di titik sebelah utara tiba di puncak. Dia melaporkan situasi yang dihadapi regu di titik sudut sebelah utara.


__ADS_2