Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Terbunuhnya Sepuluh Pendekar Taring Maut


__ADS_3

Jurus Seribu Naga...!!!


Argadana mengerahkan jurus terbaik dari Kitab Ajian Seribu Naga untuk menggandakan dirinya menjadi Sembilan bagian mengejutkan Taring Satu dan yang lainnya.


Ilmu Jurus Seribu Naga ini memungkinkan penggunanya menggandakan dirinya menjadi Seribu dengan tingkat kekuatan yang sama. Terbayang jika penggunanya saja sudah begitu kuatnya akan bagaimana nanti jika menggandakan dirinya menjadi seribu orang dengan kekuatan sama?Benar - benar mengerikan.


"Jurus menggandakan diri? Jadi ini yang dimaksud menyamakan jumlah? Dia benar - benar luar biasa. Jika aku bisa diberi kesempatan kedua untuk hidup kembali setelah kematian ini, aku ingin mengabdikan diriku sepenuhnya pada dirinya" kata Taring Satu dalam hati


Pukulan Naga Murka..!!!


Tangan kesembilan Argadana berubah merah dari ujung kuku hingga siku mengepulkan asap berbau sangit.


"Ayo, anak muda. Ilmu kesaktianmu amat tinggi. Tapi kami juga bukan orang yang penakut. Kita selesaikan sekarang juga. Hiattt...."


Sembilan cahaya biru melesat cepat dari telapak tangan Pendekar Taring Maut dan bertubrukan di udara dengan cahaya merah dari kepalan tangan sembilan orang Argadana dan... Duar...


Terjadi ledakan menyebabkan gempa kecil yang membuat semua orang menghentikan pertarungan karena tertarik dengan ledakan keras barusan. Tetapi tidak terlalu lama mereka kembali melanjutkan kembali pertarungan karena tidak ingin menjadi lengah dan musuh memanfaatkan kesempatan.


Dari ledakan tersebut tampak sembilan orang Pendekar Taring Maut terlempar sejauh beladan tombak dan jatuh berdebum di tanah tanpa terdengar suara keluhan karena sejak kedua jenis pukulan beradu mereka telah mati. Tubuh kesembilan orang itu tampak hangus matang bagai terpanggang api yang sangat panas.


"Aku sangat menyesal harus membunuh kalian semua. Aku tadinya hanya ingin melumpuhkan saja kekuatan kalian, tapi kalian juga membahayakan jiwaku. Maafkan aku karena harus meladeni kalian dengan Pukulan Naga Murka. Tetapi sesuai janjiku, setelah perang ini berakhir aku akan mengubur sendiri jenazah kalian" kata Argadana masygul. Pemuda sakti itu kemudian membungkukkan tubuhnya pada mayat Sepuluh Pendekar Taring Maut.


***


"Wiranda..." panggil Panglima Besar Askar pada bawahan yang paling dipercayainya.


"Iya, tuanku..."


"Bagaimana situasi prajurit yang dibawa Yang Mulia di medan peperangan saat ini?"


"Sampai saat ini situasi perang masih stabil dan sesuai perkiraan tuanku berkat kedatangan para Pendekar dari aliran putih yang mengambil alih urusan para Pendekar gabungan aliran hitam. Panglima Danang Kamba tampaknya sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya karena ikut campurnya orang - orang persilatan yang mengacaukan rencana mereka"


"Hmm... Karena situasi perang di luar dugaan, mereka sebentar lagi pasti akan mengambil langkahmundur. Kita akan menunggu setelah kedudukan pasukan Sakra bergeser dua puluh tombak dari tempat mereka sekarang. Kemudian kirim seluruh pasukan yang kita bawa untuk mencegat mereka dari melarikan diri. Yang menyerah tangkap dan jadikan tawanan perang, siapapun yang melawan bunuh di tempat" kata Panglima Askar mengepalkan tinjunya.

__ADS_1


Sementara itu situasi di pihak pasukan yang dibawa Raja Sangkala sangat terkendali. Dengan dipimpinnya perlawanan oleh raja mereka secara langsung membuat semangat juang para prajurit begitu terjaga .


"Pasukan sayap kiri dan kanan. Maju... Terus serang... Bentuk barisan bulan sabit untuk mempersempit ruang gerak musuh" teriak Raja Sangkala memberi aba - aba mengatur barisan perang pasukannya.


"Serbuuu..... "


"Bunuh,,"


"Bunuh...!!!"


Teriak para prajurit di bawah pimpinan raja Kerajaan Datu Gumi itu dengan suara keras menggetarkan nyali para pasukan Kerajaan Sakra yang memang telah kesulitan untuk melawan karena telah merasa ciut di awal pertempuran begitu murid - murid Perguruan Tengkorak Darah tidak lagi memberikan bantuan.


Cras... Crabb...


"Akkhh.... "


"Ughh..... "


Teriakan kesakitan dan kematian bergema di menghiasi melodi perang yang dikumandangkan aduan pedang dan tombak para prajurit gagah berani itu. Perang memang selalu membawa korban yang tidak sedikit... Dengan demikian, benarlah kata pepatah 'Menang kita jadi arang, kalah kita jadi debu'.


***


Situasi perang antar aliran telah mulai berjalan dengan seimbang. Puluhan orang dari aliran putih yang bergabung dalam pertempuran semakin banyak menyulitkan para anggota gabungan aliran hitam.


"Bangsa*t... Bagaimana mereka bisa para pendekar aliran putih itu sampai di tempat ini? Siapa yang memanggil?" umpat La Huda kesal bukan main karena semua usaha dan bayangan kemenangan yang tadinya telah berada di depan mata kini hancur berantakan.


"Tuan... Ketua Perguruan Tengkorak Darah telah sampai. Beliau memohon melapor" kata seorang prajurit dengan tergopoh - gopoh.


"Biarkan dia masuk"


"Baik, tuan. Saya permisi dulu"


"Leluhur... Murid ini, Singa Maruta datang menghadap"

__ADS_1


Seorang lelaki berpakaian serba hitam datang menghadap La Huda. Rambutnya bergelombang dibiarkan tergerai. Dia adalah Singa Maruta, ketua Perguruan Tengkorak Darah.


Pendiri Perguruan Tengkorak Darah itu lalu membalikkan badan dan menatap muridnya yang baru saja sampai.


"Aku ingin kau menghabisi anak muda di sana itu. Jangan meremehkan kemampuannya, dia baru saja menghabisi Sepuluh Pendekar Taring Maut seorang diri"


"Apa? Apakah pemuda itu begitu tinggi ilmunya sehingga dapat membunuh sepuluh orang itu?" tanya Singa Maruta tidak percaya dengan perkataan La Huda.


La Huda yang kesal karena muridnya tidak mempercayai ucapannya menatap dengan tajam Singa Maruta dengan tatapan membunuh.


"E.. Ehm.... Baik, guru... Saya akan membunuh anak muda itu. Guru tenanglah, dengan Pukulan Tengkorak Darah dan Ajian Raja Neraka yang sudah saya kuasai sampai di tahap sempurna saya pastikan akan membawa kepala anak muda itu ke hadapan guru"


Singa Maruta lalu segera menyingkir dan terbang ke arah Argadana.


Merasakan ada kekuatan besar datang menghampirinya Argadana segera mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat seorang lelaki yang sebagian rambutnya telah memutih berpakaian serba hitam menghampirinya dengan tatapan tajam seolah ingin memakannya mentah - mentah.


"Siapa kau, orang tua?" tanya Argadana setelah Singa Maruta tiba di hadapannya dengan wajah yang sama sekali tidak enak di pandang.


"Apa kau yang telah membunuh Sepuluh Pendekar Taring Maut?" tanya balik Singa Maruta tanpa menjawab pertanyaan Argadana.


Pemuda sakti berjuluk Ksatria Lembah Neraka itu yang melihat orang meremehkan dirinya juga tidak diam saja. Argadana lalu bertanya lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Singa Maruta.


"Kau punya hubungan dengan mereka?"


Wajah Singa Maruta yang memang sejak awal sudah tidak enak dipandang jadi bertambah buruk karena kemarahannya.


"Hmph... Memiliki ilmu tinggi membuatmu terlalu sombong, anak muda. Tapi biarlah, hari ini kau juga akan tetap mati di tanganku" kata Singa Maruta jumawa.


"Mulai saja bertarungnya kalau kau punya kemampuan yang cukup. Aku tidak terbiasa mengobrol terlalu lama dengan orang yang sebentar lagi akan kubunuh" balas Argadana tak mau kalah.


"Jumawa.... Akan kulihat apa mulutmu masih bisa berkata angkuh seperti itu setelah kurobek. Terimalah jurusku ini. Lihat tangan...!!!"


Seiring dengan bentakan kerasnya Singa Maruta melesat dengan kecepatan tinggi menyerang bagian terlemah di tubuh Argadana.

__ADS_1


__ADS_2