
Nafas Yamada Ayame telah berada di ujung tenggorokan ketika Argadana mengeluarkan Pedang Siluman Darah dari rajah pedang merah di dahinya.
Semburat cahaya merah menyilaukan berkiblat memancar ke segala arah. Semua orang merasa kesulitan bernafas bahkan lima ketua pecahan juga merasakan tekanan yang amat berat di tubuh mereka.
"Pamor pedang itu sangat mengerikan. Entah dari mana datangnya. Pedang itu muncul dengan sendirinya. Dan... Darah apa yang mengalir di badan pedang itu?" Nakamura Hayate bertanya - tanya dalam hati sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Pengelana Pedang Darah...!!! Ya... Ketua layak menyandang gelar Pengelana Pedang Darah"
"Iya, benar. Pengelana Pedang Darah...!!!"
"Pengelana Pedang Darah...!!!"
"Pengelana Pedang Darah...!!!"
Para murid mengeluh - elukan gelar Argadana yang baru dengan pedang yang mengalirkan darah tergenggam di tangannya.
Argadana menorehkan pedang siluman darah ke nadi tangannya hingga mengalirkan darah. Diteteskannya darah itu ke badan pedang hingga hawa merah yang memancar di pedang itu semakin mencekam. Beberapa orang murid yang tenaga dalamnya rendah pingsan karena tak kuat menahan tekanan yang dikeluarkan oleh pedang yang sudah menyerap darah Argadana.
Ujung lancip pedang siluman darah diarahkan ke mulut Yamada Ayame. Gadis itu lalu menelan lima tetes darah Argadana yang terserap pedang pusaka siluman darah.
Warna biru di wajah Yamada Ayame perlahan - lahan menghilang berganti warna merah. Setelah memakan waktu sepembakaran dupa akhirnya luka di tubuh Yamada Ayame telah mengering dan sembuh.
"Emm.... Aku... Aku tidak jadi mati?" berkata Yamada Ayame mengerjapkan matanya memandang semua orang yang tengah menatapnya dengan wajah sembab.
"Dia... Dia sembuh, Yunda!!!" Yalina berseru kegirangan tanpa sadar memeluk tubuh Yamada Ayame yang masih setengah sadar.
"Nah... Sebentar lagi kamu akan segera menjadi adik kami. Kamu harus jadi adik yang baik yah... Hik.. Hik... Hik...!!!" tawa Ningrum.
Fajar menyingsing di ufuk timur pertanda pagi telah tiba. Argadana mengajak para anggota lain yang masih punya cukup tenaga untuk mengumpulkan jenazah para murid yang gugur untuk dikebumikan dengan baik sementara mayat para ninja dikumpulkan dalam sebuah lubang lalu dibakar.
***
Proses pemakaman seluruh anggota Perguruan Elang Emas yang gugur dalam pertempuran melawan para ninja klan Koga berjalan hening.
Tampak para murid yang terluka dan beberapa yang kehilangan tangan atau kaki mereka dalam pertempuran itu ikut juga menghadiri prosesi pemakaman. Awalnya para tetua melarang mereka ikut karena alasan kondisi kesehatan yang masih belum pulih tapi rasa solidaritas dan persaudaraan yang telah terbentuk selama bernaung dalam perguruan membuat mereka tidak mempedulikan kondisi mereka sendiri. Akhirnya para murid lain mengangkat murid yang terluka menggunakan tandu sehingga mereka dapat mengikuti proses sakral tersebut.
Isak tangis mewarnai pagi hari yang murung tersebut. Mata - mata sembab terlihat dari para murid yang hadir di sana mendoakan kebaikan untuk para pejuang yang gugur dalam pertempuran.
__ADS_1
Argadana memimpin doa pada pagi itu, semua wajah tertunduk.
Derita...!!!
Lakukan seluruh yang kau mampu
Karena badai pasti berlalu
Malammu bercerita, wajah pagi segera tiba
Bintang - bintang menghias malam kelam
Hingga raja siang datang menjelang
Awan tebal menimang hujan yang pasti datang
Menanti titah yang kuasa
Anugerahnya tiada hingga, menghibur jiwa yang tersisa
Maupun yang telah fana
Kejarlah taman bahagia harum mewangi
(Disadur dari terjemahan sholawat Munfarijah, Isytaddi. Orang NW pasti tau yah, khususnya orang lombok.. 😊😊)
Ketika Argadana membacakan doa, burung - burung dan bahkan suara - suara sumbang binatang - binatang hutan terhenti seketika, sunyi senyap.
"Saudara - saudaraku sekalian...!!!" Argadana menyapa dengan suara keras dibarengi dengan pengerahan tenaga dalam hingga suaranya terdengar merambah ke seluruh area tanah pemakaman.
"Hari ini kita menangis...!!! Hari ini kita alam menyaksikan menyaksikan duka kita. Tapi kita tidak akan duduk diam saja!!! Kita akan mengembalikan rasa sakit ini seratus kali lipat" teriak Argadana berapi - api.
"Yaa... Kita hancurkan klan Koga...!!!"
"Hancurkan klan Manjidani..."
"Bunuh para ninja...!!!"
__ADS_1
***
Seusai pemakaman berlangsung Argadana mengumpulkan semua orang di balai pertemuan yang dihadiri oleh semua tetua perguruan termasuk lima ketua pecahan. Rupanya Nakamura Hikone juga ikut hadir dalam pertemuan itu.
"Kita sudah kehilangan hampir dua ratus murid pada penyerangan semalam. Aku sudah bertekad dalam tujuh hari ke depan semua murid akan berlatih di bawah bimbinganku secara langsung. Ada yang punya usulan?" kata Argadana.
"Emm... Keputusan mutlak di tangan ketua. Kami tidak punya usulan lain" menjawab Brajamusti mewakili tetua yang lain.
"Baiklah... Kalau begitu beristirahatlah, kalian sudah berjuang mati - matian semalaman. Emm... Aku ingin meminta tolong tuan Nakamura, boleh?" Argadana menoleh pada Nakamura Hikone. Ketua klan Nakamura itu mengiyakan saja pertanyaan Argadana. Mereka berdua lalu berjalan keluar.
"Tolong tunjukkan di mana letak tepatnya Gunung Koga dari sini, tuan" kata Argadana.
"Menurut peta kalau tidak salah dari sini gunung itu berjarak sekitar lima ratus mil ke arah timur laut. Em... Memangnya ada apa, ketua?" bertanya Nakamura Hikone penasaran.
"Sebentar lagi kalian semua akan tahu"
Tidak lama setelah itu datanglah Jendral Thalaba membawa tombak emas yang memendarkan cahaya kekuningan menyilaukan mata.
"Silakan, yang mulia...!!!" Jendral Thalaba berlutut khikmad mengangkat tombak emas di depan wajah sejajar dengan dahinya.
Argadana menggenggam tombak tersebut dengan erat. Dan menatap lurus ke depan.
"Krekk... Krekk...!!!" terdengar bunyi berkeretekan di tubuh Argadana yang perlahan - lahan membentuk sisik - sisik berwarna hitam pudar.
Nakamura Hikone melengak kaget melihat perubahan bentuk tubuh Argadana dalam wujud Naga Bumi. Terlihat taringnya sedikit memanjang.
Ya...!!! Argadana memang menggunakan ilmu perubahan tubuh Naga Bumi untuk mengetahui lokasi tepatnya Gunung Koga.
Ningrum lalu memberikan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit binatang. Gulungan tersebut kemudian diikatkan pada gagang tombak emas.
"Ini akan menjadi peringatan pertama bagi klan Koga. Jika mereka tidak ada niatan untuk meminta maaf dan memberikan kompensasi yang memuaskan, dalam tujuh hari ke depan tidak akan ada lagi yang namanya klan Koga"
Argadana lalu mengambil ancang - ancang dan melemparkan tombak emas sekuat tenaga. Dalam sekejap saja tombak tersebut menghilang.
***
Tidak ada yang mengetahui bahwa saat ini di Gunung Koga saat ini tengah terjadi kegemparan yang disebabkan oleh tombak emas yang terjatuh dari udara.
__ADS_1
Tombak itu tadinya tampak mengincar ketua klan Koga. Kyoko Sumite yang selalu bersikap waspada menyadari ada hal janggal yang terjadi waktu itu segera melompat ke samping begitu mendengar suara atap rumah yang ambrol. Tapi karena gerakan menghindarnya sedikit terlambat tak urung ujung tombak menggores pipinya meninggalkan luka goresan yang terasa sangat pedih.