
Pertarungan Surasena melawan Pendekar Abadi yang memakan sampai setengah hari menyebabkan perjalanan terhambat sehingga Argadana memutuskan untuk menginap semalam di kampung terdekat.
Keesokan harinya perjalanan kembali diteruskan. Namun belum lama mereka meninggalkan perkampungan tersebut, seekor burung merpati terbang di atas kepala Argadana.
Argadana yang mengerti bahasa isyarat dari burung tersebut kemudian memalangkan tangannya dan merpati tersebut hinggap di lengan Argadana.
"Apa ada informasi penting?" tanya Argadana tersenyum pada burung merpati itu.
"Uhukk.... Uhukk..."
Surasena tersedak ludahnya sendiri melihat majikannya berbicara kepada burung merpati di lengannya itu. Pasalnya dia belum pernah seumur hidupnya sekalipun melihat ada orang yang bisa berkomunikasi dengan binatang.
"Tampaknya kami tidak salah memilih ..." batin Nila Sari.
Tiba - tiba senyum di wajah Argadana menghilang berganti raut wajah bengis. Rajah pedang merah di dahinya menyala terang menekan semua orang yang ada di situ, tidak terkecuali juga Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam karena hawa Pedang Siluman Darah yang merembes keluar dari tubuh Argadana tanpa dapat dikendalikan.
"Ada apa, kakang?" tanya Ningrum cemas melihat perubahan pada raut wajah Argadana.
"Kita ketinggalan informasi. Sakra melakukan serangan mendadak. Perangnya mungkin akan pecah hari ini" desis Argadana dingin.
Pemuda sakti itu kemudian membuat sebuah surat yang ia ikatkan di kaki merpati tersebut.
"Serahkan surat ini pada kakek Brajamusti di perguruan pusat" perintah Argadana sebelum menerbangkan merpati itu.
__ADS_1
"Jadi kita harus bagaimana, kakang?"
"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Jika terjadi sesuatu pada ayah, aku bersumpah akan mengobrak - abrik Kerajaan Sakra"
Setelah beberapa detik menenangkan kemarahannya, Argadana mengangkat tangan kanannya ke atas terkepal sementara mulutnya terlihat berkemak - kemik.
Tidak lama kemudian....
Wusss....
Angin kencang tiba - tiba bertiup menerbangkan debu - debu serta dedaunan di sekitar tempat itu. Pohon - pohon bergoyang dan ada beberapa yang tumbang akibat angin kencang tersebut.
Sontak saja, Ningrum dan yang lainnya terkejut setengah mati sekaligus keheranan karena angin kencang yang berhembus secara tiba - tiba itu.
Pedang di tangan Argadana itu muncul secara mendadak bagai datang dari ruang kosong. Hal itu membuat melotot mata Jaya Ruma dan Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam.
Bukan hanya karena keanehannya saja. Tetapi juga karena pedang itu memberikan kesan berbahaya bagi mereka. Bahkan Ningrum pun cukup bergetar melihat pamor pedang tersebut yang sangat mengerikan.
Ya... Pedang di tangan Argadana itu adalah Pedang Siluman Darah. Kali ini Putra Dyah Ayu Pitaloka hendak mempercepat perjalanannya karena telah diburu waktu.
"Hari ini kita akan bertarung bersama.... Raja Naga" teriak Argadana sebelum menebaskan pedangnya dengan gerakan datar.
Setelah tebasan tersebut, kejadian aneh terlihat di depan mata mereka semua yang ada di sana.
__ADS_1
Di atas kepala Argadana tampak muncul robekan ruang. Dari robekan ruang tersebut keluarlah seekor naga berwarna kuning keemasan bermata merah. Di atas kepala naga tersebut terlihat sebuah mahkota terbuat dari emas.
Pemandangan naga itu tampak sangat mengerikan. Aura yang dikeluarkan sang naga terasa sangat menekan siapa pun yang berada di sana.
"In.. Ini... Apa aku tidak bermimpi? Ini Naga sungguhan" batin mereka yang berada di sana.
"Inikah Raja Naga, roh pusaka penghuni Cambuk Raja Naga milik Kakang Argadana?" tanya Ningrum dalam hati.
Naga yang baru saja keluar melalui celah ruang di atas kepala Argadana itu memang adalah Raja Naga. Pemimpin ras para naga itu datang atas panggilan Argadana tadi namun tidak dalam bentuk ukuran tubuh aslinya. Karena hutan tempat mereka saat ini sangat sempit, sehingga Raja Naga harus menyesuaikan tubuhnya dengan tempat dia keluar.
"Aaaarrrrghhhh..... "
Auman Raja Naga terdengar memggelegar memenuhi seantero hutan tersebut.
"Huppp.... "
Argadana melompat tinggi dengan ilmu meringankan tubuhnya dan berdiri di atas kepala Raja Naga.
"Ayo... Kalian juga naiklah, kita harus menghemat waktu. Perguruan Anak Naga akan menyusul kita di belakang" kata Argadana sedikit keras menyadarkan Surasena dan yang lainnya dari lamunan mereka, sedangkan Ningrum telah lebih dulu melompat ke punggung Raja Naga.
Surasena, Nila Sari dan Jaya Ruma tersadar seketika dari lamunan mereka. Mereka melangkah ragu - ragu namun akhirnya tetap memaksakan keberanian mereka melompat ke atas punggung Raja Naga di belakang Ningrum.
"Ayo, Raja Naga. Kita harus cepat... " perintah Argadana.
__ADS_1
Raja Naga hanya mengangguk sebelum kemudian mengepakkan sepasang sayap indahnya dan terbang melaju dengan kecepatan tinggi yang hampir membuat Surasena, Nila Sari dan Jaya Ruma terjatuh dari punggungnya jika tidak berpegang dengan erat.