
Peperangan akhirnya pecah antara kelompok yang dibawa Argadana melawan lima puluh orang kelompok yang dipimpin oleh Kyokko Sumite dan Aoki Suzurumi.
Dengan ilmu nafas siluman yang memungkinkannya untuk bergerak cepat Argadana tiba - tiba muncul di tengah - tengah antara Kyokko Sumite dan Aoki Suzurumi.
Terkejut kedua pemimpin klan ninja itu manakala merasakan lengan mereka dicengkram dengan erat.
"Kita cari tempat sendiri!!" kata Argadana seraya mengayunkan tangan yang mencengkram lengan Kyokko Sumite dan Aoki Suzurumi dengan mengerahkan beberapa bagian tenaga dalamnya. Keduanya lantas melayang sejauh puluhan tombak disusul lesatan tubuh Argadana yang mengerahkan ilmu nafas siluman.
Tidak jauh di samping Argadana Ningrum tengah dengan gigihnya meladeni serangan - serangan yang dilancarkan oleh empat orang tetua tingkat atas klan Manjidani.
Tetua Zeref, nama salah seorang tetua tingkat atas klan Manjidani tidak mau ambil resiko meremehkan musuhnya. Dia segera menghunus katana di awal pertarungan. Hal itupun diikuti oleh tiga tetua yang menyertainya.
"Wukkk....!!!"
Sabetan dan tebasan yang dilakukan Tetua Zeref dan para tetua menimbulkan suara deru angin keras. Meskipun serangan itu amat luar biasa ganasnya Ningrum tidak kesulitan untuk mengelak.
Dengan ilmu sembilan langkah ajaib tubuhnya berubah jadi tampak amat lentur. Berdirinya tidak tegap dan lebih terlihat seperti orang yang sedang dalam keadaan mabuk. Akan tetapi gerakan sempoyongannya itulah yang selalu menggagalkan serangan empat orang pengeroyoknya.
'Jurus cecaran air'
Karena penasaran dengan pertahanan Ningrum yang amat kokoh salah satu anggota Zeref yang bergerak di samping kiri Ningrum mengubah gerakan yang tadinya bersifat lembut kini menjadi gesit dan penuh niat membunuh. Katana di tangannya bergerak secepat kilat menusuk bagian perut.
Ningrum tentu saja tidak mau perutnya tertembus senjata tajam musuh segera membuang tubuhnya ke samping kanan lengan tetua itu sambil tangan kirinya berusaha menotok pergelangan tangan.
Jika totokan itu berhasil makan pasti katana di tangan lawan akan terlepas. Namun rencana Ningrum tidak terlaksana dengan baik karena salah satu tetua yang berada di belakang dengan cepat mengayunkan katana dari atas ke bawah memapas tangan Ningrum yang sedikit lagi berhasil dengan serangannya.
"Hmph...!!!"
Ningrum mendengus kesal karena terpaksa menarik pulang tangannya dan bergulingan menjauh.
__ADS_1
Dua tetua lain tidak tinggal diam. Di saat bergulingan itu Ningrum melihat puluhan buah benda yang tampak mengkilat terkena sinar bulan purnama.
Benda yang ternyata adalah shuriken itu mencecar Ningrum yang dengan kelabakan berusaha menghindar. Istri pertama Argadana itu memang berhasil mengelakkan shuriken itu tanpa luka sedikit pun. Tetapi ada salah satunya yang sempat merobek lengan baju kirinya sepanjang sejengkal hingga memperlihatkan bagian pangkal lengannya yang putih.
"Kalian telah melihat bagian tubuhku yang hanya boleh dilihat suamiku. Dan bayaran untuk ini tiada lain adalah mata kalian" suara Ningrum terdengar bergetar menandakan kemarahannya.
Dua tetua yang menyerang Ningrum secara diam - diam tadi cukup tertegun melihat aksi Ningrum. Biasanya sepanjang karir mereka sebagai ninja tingkat tinggi tidak pernah sekalipun serangan diam - diam mereka meleset. Ini pertama kalinya bagi mereka.
Sinar putih kebiruan berkiblat di kegelapan malam disertai badai guntur menggelegar di cakrawala begitu Pedang Naga Guntur keluar dari warangkanya.
"Apa - apaan?"
Dua tetua yang paling dekat dengan Ningrum melompat ke belakang saking terkejutnya mereka dengan fenomena aneh di hadapan mereka.
"Katana aneh di tangan gadis itu kelihatan sangat bagus. Gadis itu harus dibunuh. Lalu aku akan mengambil senjatanya itu" kata Zeref dengan mata berbinar - binar melihat pamor pedang naga guntur yang amat hebat.
"Kalian boleh bermimpi untuk mendapatkannya...!!! Hiattt...!!!" Ningrum berteriak menggeledek.
Sementara itu Jendral Thalaba dalam bentuk harimaunya mempermainkan lima orang tetua klan Manjidani yang mengelilingi tubuhnya.
Pada awalnya kelima orang tersebut meremehkan binatang aneh yang menjadi lawan mereka itu. Mereka baru menyadari kesalahan mereka setelah lima tebasan mereka gagal membunuh harimau tersebut.
Bagai menebas kapas, senjata mereka membalik dan hampir saja mengenai kepala sendiri.
"Bangs4t...!!! Sekeras apa sebenarnya kulit binatang jadi - jadian ini?" umpat salah satu tetua yang kepalanya hampir saja rengkah karena terbentur katana yang membalik tadi.
"Dasar tidak ada akhlak...!!! Tebasan kalian membuat rontok bulu indah orang tua ini. Kegagahanku bisa memudar nanti karena tubuhku botak" balas Jendral Thalaba kesal.
"Hmph.... Aku tidak bisa percaya hal ini. Biar kulihat seberapa tebal kulitmu itu"
__ADS_1
Salah seorang tetua itu menyerang dengan ganas.
"Gunakan jurus bayangan perenggut sukma...!!!"
Mendengar aba - aba tersebut lima tetua klan Manjidani dengan katana di tangan secara bersamaan menyerang ke arah Jendral Thalaba namun baru saja mereka melangkah setindak gerakan mereka terhenti karena tubuh harimau Jendral Thalaba mendadak lenyap seiring asap tebal yang menyelubungi sekitarnya.
Lima orang itu menatap waspada dengan dahi berkerenyit. Wakaba yang merupakan tetua yang terkuat di antara kelima orang itu merasakan firasat buruk dari keanehan di depannya tetapi tidak berani bertindak gegabah karena bahaya apa yang akan menimpa mereka masih belum diketahui.
Perlahan - lahan asap tersebut mulai menipis menampakkan bentuk tubuh tegap berisi seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun berambut panjang. Jendral Thalaba alias Kusir Setan telah mengambil bentuk manusianya.
"Kemana harimaunya tadi? Tidak mungkin berubah jadi manusia itu kan? Apa jangan - jangan harimau itu siluman?" desis Wakaba penasaran sekaligus waspada karena merasakan tekanan yang kuat berasal dari orang yang muncul dari balik asap yang melenyapkan sosok harimau putih tadi.
"Sekarang kita sama... Bersiaplah untuk menghadapi senjata andalanku. Datanglah, tombak...!!!" seru Jendral Thalaba seraya mengangkat tangan kanannya tinggi.
Setelah sepuluh helaan nafas kemudian dari arah selatan tampak sebuah cahaya panjang kuning terang melesat dengan kecepatan tinggi dan berhenti setelah tergenggam di tangan kanan Jendral Thalaba.
Wakaba terkejut bukan kepalang melihat benda yang tergenggam di tangan Jendral Thalaba.
"Itu... Itu kan tombak emas yang menancap di ruangan pribadi ketua Kyokko. Hati - hati kalian semua. Tombak itu beracun" katanya mengingatkan teman - temannya.
Tidak mau mengambil resiko diserang duluan, kelima tetua klan Manjidani itu dengan cepat mengepung Jendral Thalaba.
***
Di puncak Gunung Koga malam itu tampak tiga orang sedang duduk mengelilingi api unggun kecil untuk menghangatkan tubuh mereka.
Tiga orang tersebut dua di antaranya mempunyai bentuk tubuh yang dua mali lebih besar dua kali lipat dari orang yang menyandang pedang bersarung merah di punggungnya. Orang itu selalu menampakkan senyum seringai licik sementara dua manusia besar di hadapannya hanya diam tanpa ekspresi.
"Hmm... Kalau bukan karena perintah ketua untuk menguras tenaganya lebih dulu dengan memanfaatkan kekuatan para ninja bodoh ini, sudah sejak tadi aku menghabisi nyawa orang - orang dari daratan tenggara itu" gerutu Liu Tong kesal sambil melemparkan ranting kecil ke arah api.
__ADS_1
"Baiklah... Setelah ini aku akan melihat seberapa hebat kemampuan seorang pendekar yang amat tersohor di daerah tenggara itu" Liu Tong lalu berdiri dan diikuti dua Prajurit Abadi memasuki gubuk tempat tinggal yang telah disediakan untuknya.