
Brak...
Seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun berambut putih dengan pakaian berwarna hijau. Janggutnya panjang sedada. Matanya yang sipit menatap tajam ke arah Tokugawa Takeshi. Wajahnya tampak merah padam menahan amarah. Dia adalah Tokugawa Chirou, ketua klan Tokugawa.
"Kalian semua berjumlah lima puluh orang mengeroyok tiga orang pendekar dari negeri seberang saja tidak sanggup dan bahkan hanya kalian berdua yang kembali? Tidak berguna. Kalian telah mempermalukan klan Tokugawa...!!!"
"Ta.. Tapi, ketua. Kekuatan ketiga orang itu berada di luar perkiraan kami. Bahkan kusir kudanya saja dengan mudah membabat habis orang - orang yang kubawa. Dan salah seorang pelayannya... Orang itu bisa terbang. Dua orang pelayannya bisa melakukan serangan jarak jauh yang membuat tubuh bawahan saya terpotong menjadi dua" kata Tokugawa Takeshi dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Kalau begitu kenapa kau tidak ikut mati saja bersama anak buahmu?" hardik Tokugawa Chirou marah.
"Hmm... Jika mereka punya kemampuan seperti itu, maka besar kemungkinan mereka memiliki kekuatan setara dengan sepuluh kekuatan teratas di klan. Aku beri waktu sepuluh hari. Kumpulkan mereka di sini secepatnya...!!!" perintah Tokugawa Chirou.
"Baik, ketua. Perintah saya laksanakan..."
***
Berita tentang penyerangan lima puluh orang klan Tokugawa yang dipimpin oleh Tokugawa Takeshi terhadap enam orang pemuda asing segera menyebar luas merambah ke seluruh pelosok - pelosok negeri. Orang - orang dari klan terkuat di Kota Shinsiro mengeroyok dua orang pelayan dan seorang kusir kuda pulang dengan membawa rasa malu atas kekalahan mereka.
Dari ketiga orang yang bertarung itu yang paling sering disebut namanya adalah Jendral Thalaba yang kini dijuluki sebagai Kusir Setan oleh beberapa orang penduduk yang sempat melihat pertarungan itu dari jarak jauh.
Semakin hari semakin santar saja kejadian itu diceritakan orang - orang terutama di Kota Shinshiro.
"Itu benar... Lawan mereka itu sangat kuat. Mereka punya sayap dan dapat terbang ke langit lalu menebas orang - orang klan Tokugawa seperti menyembelih ayam"
"Salah... Aku dengar orang yang mereka lawan itu adalah Dewa Perang. Itu karena di dahinya terlihat ada rajah pedang merah yang merupakan ciri Dewa Perang yang dijelaskan oleh kaisar. Mereka mengetahui hal itu karena mereka termasuk keturunan sangat Dewi Matahari Amaterasu. Jadi wajar saja kalau orang - orang klan Tokugawa dibinasakan dengan sangat mudah"
"Ahh... Aku dengar juga Dewa Perang itu memiliki wajah yang sangat tampan dan ada dua dewi cantik jelita yang membawa busur dan pedang mendampinginya. "
"Ehh... Benarkah??? Waahh.... Aku jadi ingin bertemu dan bertatap muka langsung dengannya"
"Hmm... Aku justru lebih suka dengan yang bernama Kusir Setan itu. Dia memotong - motong orang seperti menyembelih sapi"
Wuss....!!!
__ADS_1
Obrolan beberapa orang lelaki dan wanita di pelelangan barang antik itu terhenti karena ada hawa pembunuh yang menerpa tubuh mereka membuat mereka kesulitan bergerak.
Orang - orang itu lalu serentak menoleh ke arah samping kiri yang mana merupakan asal dari hawa pembunuh tersebut.
Wajah mereka berubah pucat melihat sepuluh orang berperawakan kekar bermata tajam menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Itu... Itu... Mereka sepuluh orang teratas di daftar orang - orang kuat klan Tokugawa. Cepat... Lari... Mereka sangat ganas...!!!"
Orang - orang itu kemudian lari tunggang langgang meninggalkan meja mereka dan tidak lagi mempedulikan pelelangan itu.
Sementara itu sepuluh orang yang tadi mengerahkan hawa pembunuh tersebut hanya dapat menggeram marah.
"Siapa bajingan yang telah berani membuat masalah dengan klan Tokugawa? Setelah pelelangan ini kita harus pulang dan memberi pelajaran yang pantas agar mereka tahu apa akibat yang akan ditanggung karena telah berani memancing kemarahan klan Tokugawa" kata seorang yang paling muda dari sepuluh daftar teratas klan Tokugawa itu mengepalkan tangan dengan erat.
"Aku sudah tidak sabar ingin mencincang tubuh mereka untuk kujadikan makanan anji*ng di rumah" jawab yang satunya.
"Sudah... Sekarang kita fokus dulu untuk mendapatkan barang yang diinginkan ketua itu. Baru setelah itu kita berurusan dengan orang yang sudah bosan hidup itu"
***
"Hiaatt...!!!"
"Hiaatt...!!!"
Nakamura Hayate tengah melatih murid - muridnya jurus terakhir dari ilmu pedang yang dia miliki yang diberi nama Jurus Helai Mawar Darah.
Kehebatan jurus ini terletak pada kecepatan dan sasaran yang dituju. Melepaskan jurus ini seperti menebar sehelai demi sehelai bunga mawar ke segala arah. Itu artinya jurus ini dikhususkan untuk melawan musuh yang banyak saat penggunanya sedang terkepung.
Hanya saja jurus ini menghabiskan banyak tenaga dalam sehingga tidak efektif bila digunakan terlalu sering karena akan berpotensi menguras habis tenaga dalam penggunanya.
"Kalian sudah menguasai Jurus Helai Mawar Darah. Hanya saja tenaga dalam kalian masih terlalu rendah. Jadi jurus ini jangan terlalu sering digunakan apabila tidak dalam kondisi hidup dan mati. Hal ini karena tenaga dalam kalian saat ini hanya memungkinkan untuk menggunakan jurus itu sekali saja. Setelahnya tenaga kalian akan terkuras habis dan kalian akan mudah dibunuh jika bertemu musuh yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi dari kalian. Jadi jangan kalian lupakan hal penting ini..."
"Baik, guru...!!!" jawab kelima murid Nakamura Hayate serentak.
__ADS_1
"Nah... Baiklah. Kalau begitu kalian beristirahatlah. Aku ingin menemui Argadana dan yang lainnya lebih dulu"
"Ehh... Guru...!!! Apa boleh saya ikut guru untuk menemui mereka?" minta Yamada Ayame dengan wajah memelas.
"Ada apa memangnya? Bukankah kalian sebelumnya tidak menyukai mereka?" tanya Nakamura Hayate keheranan.
"Ehmm... Sebenarnya kami ingin meminta maaf pada mereka, guru. Setelah kami fikir - fikir apa yang kami katakan waktu itu memang sudah keterlaluan menghina mereka. Hal itu hanya karena kami tidak terima jika guru mengatakan bahwa ada orang yang lebih hebat dari guru terlebih lagi orang itu masih amat sangat muda" Takahashi Rikimaru menyahut menundukkan kepalanya karena merasa malu dan bersalah.
"Benar, guru... Pertarungan saya dengan Kusir Setan kemarin saya mulai berfikir kalau selama ini kami telah dibutakan oleh ketenaran padahal kekuatan kami ini jika dibandingkan dengan para pendekar di dunia luar bukanlah apa - apa" celetuk Rin Onikage.
Nakamura Hayate hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat murid - muridnya sudah mulai sadar akan kesalahan mereka.
"Baiklah... Aku senang kalian mulai sadar dan mau sedikit membuka mata kalian. Kalau begitu ikutlah denganku...!!!"
***
"Nah... Perhatikan pola pergerakan tangan kalian siku harus sejajar dengan bahu. Kemudian baca mantranya lalu alirkan tenaga dalam ke tangan kanan klian hingga hingga ujung kuku sampai di siku dipenuhi tenaga dalam. Terserah kalian mau mengerahkan hawa tenaga dalam dingin atau panas..."
Argadana tengah mengajarkan Surasena dan Nila Sari tekhnik Ilmu Pukulan Api Salju di sebuah tanah lapang di belakang pekarangan rumah Nakamura Hayate yang diberikan kepada mereka sebagai tempat untuk berlatih.
"Setelah hawa panas atau dingin memenuhi lengan kalian maka dari ujung kuku sampai bagian siku kalian akan berubah warna menjadi putih dan mengeluarkan asap. Kalau sudah maka lepaskanlah ke arah sasaran yang tepat...!!!"
"Hiaatt...!!!"
Wuss...!!!
Duar...
Tanah terbongkar membentuk sebuah kawah yang cukup besar begitu dua buah cahaya putih dari tangan Nila Sari dan Surasena menghantam.
Di kawah tersebut tampak tanahnya berubah warna menjadi kemerahan menebarkan hawa panas, lalu lima detik kemudian berubah putih seperti salju menebarkan hawa dingin. Begitu terus berulang sampai lima kali sebelum efek dari Pukulan Api Salju memudar.
Kejadian itu kebetulan bertepatan dengan kedatangan Nakamura Hayate dan murid - muridnya. Mereka semua seketika terpaku di tempat menyaksikan kedahsyatan ilmu pukulan yang baru saja dilepaskan Sepasang Pendekar Suci itu.
__ADS_1
"Jika pukulan itu diarahkan padaku rasanya tubuhku pasti akan membeku sebelum kemudian meleleh seperti tanah yang menjadi lava itu. Jurus apaan itu? Kekuatannya seperti menyamai dahsyatnya gunung api yang meletus" batin Rin Onikage dengan wajah pucat.
"Wahh... Hebat sekali... Ilmu pukulan yang sangat hebat. Kalau boleh kutahu, apa nama ilmu pukulan itu, Argadana?"