Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Kedatangan Raja Sangkala


__ADS_3

Malam hari itu di tenda kemah Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya sedang diliputi suka cita. Kebahagiaan menyelimuti perasaan panglima pamungkas Kerajaan Datu Gumi itu karena kedatangan putra satu - satunya yang telah beberapa tahun ini dirindukannya.


Sang panglima ingin membuat pesta besar untuk menyambut Argadana, akan tetapi terkendala suasana perang akhirnya keinginan tersebut diurungkannya.


Di dalam tenda tersebut Argadana memperkenalkan Ningrum dan Sepasang Pendekar Suci Dari Lembah Hitam pada Panglima Askar.


Argadana bercakap - cakap ringan tentang pengalamannya. Ketika Panglima Askar menanyakan tentang ibunya Dyah Ayu Pitaloka, Argadana tertunduk sedih. Dia kemudian menceritakan tentang ibunya yang mengidap penyakit yang tak dapat diobati hingga akhirnya memutuskan menggunakan ilmu bangsa siluman, yaitu Lebur Jiwa untuk memasuki badan Pedang Siluman Darah.


Betapa terpukulnya hati Panglima Askar mendengar kematian Dyah Ayu Pitaloka, namun perlahan - lahan akhirnya dia berhasil juga mengikhlaskan kepergian kekasih hatinya itu.


"Generasi demi generasi kehidupan datang dan pergi silih berganti. Aku telah lama mengikhlaskan perpisahan itu. Tetapi aku senantiasa berharap agar dia berbahagia tanpaku. Aku akan berdoa agar dia mendapatkan kehidupan yang berbahagia setelah kematiannya" kata Panglima Askar mengusap dada.


"Ah.... Nak, apakah kau mau bergabung dengan Kerajaan Datu Gumi? Dengan kemampuanmu itu, ayah bisa pastikan kau pasti akan mendapatkan posisi yang bagus di kerajaan" tawar Panglima Askar pada putranya.


Argadana terdiam cukup lama memikirkan jawaban yang tepat agar penolakannya tidak menyinggung hati ayahnya, namun juga tidak memberitahu panglima besar tersebut tentang identitasnya sebagai Raja Kerajaan Siluman Darah.


"Ahh... Untuk itu ananda mohon maaf, ayah. Masih banyak tugas yang harus ananda selesaikan untuk ketenangan dunia persilatan. Ayahanda tahu sendiri saat ini banyak kaum persilatan yang tampaknya ikut campur dalam masalah politik Kerajaan Datu Gumi dan Kerajaan Sakra. Ananda hanya menjadi penyeimbang, kecuali kaum dunia persilatan bergerak atau ayahanda dalam bahaya ananda tidak akan dapat memberikan bantuan. Untuk hal ini, ananda harap ayahanda dapat memaklumi nya" kata Argadana menunduk pada ayahnya.


"Ahh... Itu adalah pilihanmu, anakku. Tidak apa - apa. Nah, kau beristirahatlah dulu. Besok pagi - pagi sekali Yang Mulia akan segera sampai di sini, beliau akan memimpin langsung perang besok. Ayah akan memperkenalkanmu dengan beliau. Kau tidak keberatan?"


"Tidak, ayah"

__ADS_1


"Nah... Baguslah, kalau bagitu istirahatlah dulu. Ayah akan melihat keadaan para prajurit di barak. Dan teman - temanmu juga boleh memilih tempat mereka sendiri kalau ingin beristirahat" kata Panglima Askar menawarkan.


"Ahh... Kalau begitu maaf sudah merepotkan Tuan Panglima" kata Ningrum sambil menangkup kan kedua tangannya di depan dada.


"Ehm... Nak, kau adalah pasangan putraku, kau adalah calon menantuku. Rasanya sangat canggung jika kau memanggilku dengan sebutan seperti itu. Jadi bagaimana kalau kau panggil aku seperti Argadana memanggilku? Kau panggil saja aku ayah, bagaimana?" kata Panglima Askar tersenyum.


"Eh... Tapi, Tuan.... " bantah Ningrum dengan wajah merah karena merasa jengah dengan perkataan Panglima Askar.


"Tidak ada tapi - tapian... Pokoknya mulai hari ini, kamu panggil saja aku ayah. Ya.... Jangan lupa, panggil ayah... Hehehe" seloroh Panglima Askar.


***


Panglima Askar langsung mengenalkan Argadana sebagai anak kandungnya yang saat itu juga kebetulan telah bangun dari tidurnya kepada Raja Datu Gumi itu.


"Yang mulia... Ini adalah putra hamba yang sering hamba ceritakan pada yang mulia, putra hamba dari dinda Dyah Ayu Pitaloka. Dan mereka adalah teman - temannya. Juga berkat bantuan mereka situasi yang tidak terduga dalam perang kemarin masih dapat diatasi. Nak, ayo berikan hormatmu. Beliau adalah Raja Sangkala, Raja Kerajaan Datu Gumi" kata Panglima Askar.


Argadana hanya menurut saja dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Dapat bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan raja yang adil dam bijaksana serta dicintai seluruh rakyat seperti yang mulia merupakan berkah yang sangat besar. Hamba merasa terhormat, yang mulia..." kata Argadana.


"Ahh... Kau terlalu memuji, anak muda. Biar bagaimanapun, aku tetap harus berterimakasih karena kau dan teman - temanmu telah sudi mengulurkan tangan untuk membantu kami" jawab Raja Sangkala merendah.

__ADS_1


"Ehmm.... Maafkan saya, yang mulia. Sebenarnya kami tidak dapat dikatakan membantu Kerajaan Datu Gumi. Terus terang hal itu terjadi karena kami melihat ada campur tangan dari kaum dunia persilatan dalam perang politik ini. Dan yang paling banyak berperan adalah Perguruan Tengkorak Darah. Jadi kami datang untuk menjadi penyeimbang. Terlebih lagi mereka mengancam keselamatan ayah, hamba tidak bisa membiarkan kejahatan mereka terus - menerus"


"Hehehe... Bagus.. Bagus... Sudah seharusnya, memang buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Panglima benar - benar beruntung memilikimu sebagai putranya" kata Raja Sangkala.


"Oh ya... Siapa teman - temanmu ini, anak muda? Ahh... Tunggu sebentar, kalau aku tidak salah lihat bukankah kau adalah putri dari Kerajaan Sampang Daru?" tebak Raja Sangkala begitu melihat Ningrum.


"Ehm... Itu benar, yang mulia. Hamba Ningrum dari Sampang Daru, datang kemari untuk bertemu pama... Ehh... Bagaimana ini?" kalimat Ningrum terputus - putus karena bingung bagaimana dia harus menyebut nama Panglima Besar Askar di depan Raja Sangkala membuat penguasa Kerajaan Datu Gumi itu mengerutkan dahi.


Bukan tanpa alasan.. Hal itu karena Panglima Askar melarangnya memanggil dengan sebutan Tuan Panglima atau sebutan paman.


"Heh...??? Putri Kerajaan Sampang Daru? Nak, apa kau tahu kalau calon istrimu ini berasal dari Sampang Daru?"


Dalam kebimbangan Ningrum itu, Panglima Askar begitu mendengar Ningrum mengaku sebagai putri dari Kerajaan Sampang Daru secara spontan mengeluarkan suara terkejut yang secara tidak langsung menjawab kebingungan Raja Sangkala.


"Itu benar, ayah. Dinda Ningrum memang putri Raja Kurawa" jawab Argadana singkat dan pelan namun terdengar jelas di telinga Panglima Besar Kerajaan Datu Gumi itu.


"Ada apa ini? Jangan bilang kalau kau tidak tahu bahwa gadis yang kau sebut calon menantu ini adalah putri Kerajaan Sampang Daru, panglima"


"Ehh... Mohon maaf yang mulia. Hamba benar - benar tidak mengetahuinya. Yang mulia lebih mengetahui keadaan hamba saat ini. Dan lagi... Nak, kenapa kau tidak memberitahu pada ayahmu kalau calon menantuku adalah putri Kerajaan Sampang Daru?" tanya Panglima Askar sambil mengalihkan pandangan ke arah Argadana dengan wajah malu - malu.


"Ahh... Itu... Lagi pula, Ayah tidak pernah tanya, jadi saya juga tidak memberitahu ayah" kata Argadana tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2