
Sore hari di Gunung Koga sedang terjadi kesibukan luar biasa. Banyak bangunan yang tampak porak poranda bagai habis diterjang sekawanan banteng liar.
Sebagian rumah - rumah penduduk yang keseluruhannya merupakan para ninja klan Koga tampak rubuh.
Kejadian itu tidak terlepas dari ancaman yang dikirimkan Perguruan Elang Emas tiga hari yang lalu melalui surat yang terikat di pangkal tombak emas. Dan sampai saat ini tombak emas itu masih tertancap di ruangan pribadi ketua klan Koga karena tidak ada yang sanggup mencabutnya.
Pada hari ke tiga setelah ancaman itu diberikan klan Koga yang sangat percaya diri dengan kemampuan mereka memilih untuk tidak memenuhi tuntutan Perguruan Elang Emas.
Bahkan dalam pertemuan pertama mereka setelah ancaman dilayangkan para petinggi, klan Koga merencanakan untuk menggunakan semua pengaruh dan kekuatan mereka untuk berperang melawan Perguruan Elang Emas.
Tepat di waktu subuh di saat ayam jantan berkokok nyaring tombak Emas di dalam ruangan pribadi Kyoko Sumite bergetar hebat. Getarannya mengakibatkan gempa yang cukup besar sehingga beberapa rumah dan bangunan yang tidak cukup kokoh roboh.
Bersamaan dengan gempa tersebut terdengar juga bunyi nyaring dari tombak emas yang amat menyakitkan gendang telinga. Ninja - ninja berpangkat satu bergelimpangan jatuh tidak lama setelah tombak emas mulai mengeluarkan bunyi nyaring tersebut.
Setelah matahari berada tepat di atas kepala barulah getaran tombak berhenti. Akan tetapi tidak ada raut kelegaan terlihat dari wajah mereka yang selamat dalam insiden itu.
Puluhan orang ninja berpangkat satu tewas dengan telinga mengalirkan darah dan ada ratusan ninja berpangkat satu juga terluka parah. Mereka tidak tewas karena memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi untuk melindungi gendang telinga mereka yang terasa bagai mau pecah.
"Segera obati yang terluka dan kumpulkan mayat - mayat yang tewas agar tidak mengundang hewan buas...!!!" putri semata wayang ketua klan Koga, Kyoko Fukada memberi perintah untuk memperbaiki keadaan yang kacau balau di gunung.
"Kyoko Fukada...!!!" Kyoko Fukada menoleh ke arah asal panggilan tersebut yang berasal dari Kyoko Sumite, ayahnya.
"Setelah selesai kumpulkan semua anggota di ruangan pribadiku. Kita akan adakan rapat lagi untuk menindak lanjuti kejadian hari ini" pesan Kyoko Sumite yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Kyoko Fukada.
Setelah cukup lama membersihkan sisa - sisa kekacauan para petinggi klan Koga berkumpul di dalam ruangan pribadi Kyoko Sumite guna membahas rencana perlawanan mereka terhadap Perguruan Elang Emas.
Di sana ada ketua klan, Kyoko Sumite dan putrinya Kyoko Fukada juga sejumlah petinggi - petinggi klan.
"Kita tidak bisa membiarkan saja kelakuan perguruan itu. Nama klan kita bisa tercoreng nantinya. Apa usul kalian untuk permasalahan ini?"
Mendengar pertanyaan itu salah seorang tetua yang bernama Hyuga Zashkieu lalu mengangkat tangan dan berkata.
__ADS_1
"Ancaman itu saja sudah cukup sebagai hinaan besar karena kita tidak memberi mereka peringatan yang pantas. Belakangan ini aku sering mendengar berita - berita yang mengatakan kalau klan kita adalah klan pengecut. Jadi sebagai pelajaran untuk yang lainnya aku mengusulkan agar kita mengerahkan saja seluruh kekuatan klan untuk membumi hanguskan mereka agar dunia tahu kebesaran klan Koga kita"
Kyoko Sumite mengangguk mengerti.
"Ada usulan lain?" tanyanya kemudian.
"Ketua...!!!" tetua bernama Maeda Susaku mengacungkan tangan kanannya.
"Menurutku mengerahkan kekuatan penuh hanya untuk menghancurkan perguruan kecil seperti itu akan menjatuhkan nama kita. Dan kita akan kesulitan untuk mendapat pijakan di dunia persilatan"
"Hmm... Kamu benar juga. Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan sebaiknya?" bertanya Kyoko Sumite.
"Aku punya ide bagus untuk itu"
"Cepat katakan, jangan berbelit - belit...!!!" hardik Kyoko Sumite tidak sabaran.
"Hari ini mata - mata kita mengatakan bahwa Pangeran Fujihira mengunjungi perguruan itu. Tujuannya pasti membuat hubungan baik dengan mereka agar saat tiba waktunya nanti dia bisa mempertahankan posisinya sebagai putra mahkota"
"Kau yakin berita itu benar? Kenapa pangeran pertama harus repot - repot mengunjungi kelompok kecil itu untuk mencari dukungan? Bukankah lebih mudah mencari dukungan pada kelompok - kelompok berpengaruh seperti perguruan besar?" sanggah tetua Miyabe, wanita berusia sekitar enam puluh tahun berambut putih.
"Menurut kalian jika pangeran pertama itu terbunuh di saat perjalanan pulang setelah mengunjungi Perguruan Elang Emas siapa yang akan paling disalahkan oleh Kaisar? Dan tindakan apa yang akan diambil kaisar dalam hal itu?"
Mata semua orang terbelalak begitu mereka memahami arah pembicaraan Maeda Susaku. Mampu bertahan melawan serangan orang yang banyaknya dua kali lipat dari jumlah lawan membuat klan kesulitan untuk memprediksi kekuatan musuh.
Masalahnya seribu orang ninja klan Koga yang dikirim ke sana tiada yang bisa pulang dengan selamat sedang musuh hanya kehilangan seratus lebih saja dari jumlah keseluruhan murid.
Jadi dari pada ragu - ragu menyerang dengan kekuatan penuh bukankah lebih baik jika menggunakan tangan orang lain untuk berurusan dengan Perguruan Elang Emas sehingga dengan begitu dendam mereka akan terbalaskan meskipun tidak secara langsung.
Raut wajah Kyoko Sumite dan Kyoko Fukada terlihat cerah. Mata bening gadis itu tampak berkedip - kedip saking senangnya.
"Hmm... Jadi maksudmu kita akan menggunakan kekuatan kaisar untuk berurusan dengan mereka?" kata Kyoko Sumite tersenyum.
__ADS_1
"Jika kita bisa memanfaatkan orang lain untuk melakukannya, kenapa kita harus mengotori tangan kita sendiri hanya demi mengurusi sekelompok kecil?" sahut Maeda Susaku dengan cepat.
"Hehehe....!!! Hahaha...!!! Kau benar - benar cerdas, tetua Maeda. Kalau begitu tugas besar ini akan kuserahkan padamu. Tapi ingat jangan sampai meninggalkan jejak barang secuilpun atau rencana ini akan menjadi senjata makan tuan bagi kita"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kepercayaan ketua klan" jawab Maeda Susaku.
"Baiklah... Kalau begitu pertemuan ini selesai...!!!"
***
Sebuah kereta mewah ditarik dua ekor kuda putih yang tampak tegap dan kuat melewati jembatan yang menyebrangi Sungai Heiwa. Kereta tersebut dikawal oleh puluhan orang tampak kuat dan berbadan kekar dari depan maupun belakang.
Wajah - wajah para pengawal itu kelihatan menyeramkan dengan pandangan serius.
Mereka adalah para pengawal Pangeran Fujihira Fukiaezu. Jadi tentu saja kereta tersebut di dalamnya adalah pangeran pertama Kekaisaran.
Pangeran Fujihira berpamit pulang keesokan harinya setelah kalah dalam pertarungan persahabatan melawan Argadana. Di kesempatan itu Pangeran Fujihira memohon kepada ketua Perguruan Elang Emas itu untuk dijadikan muridnya. Akan tetapi terkendala dengan tekhnik aliran pedang yang dipelajarinya berbeda dengan pemahaman aliran pedang yang digunakan Argadana maka dia diberikan kesempatan selama tiga hari untuk mempertimbangkan keputusannya.
Bersamaan dengan itu juga Argadana menyerahkan padanya Kitab Pedang Matahari sebagai bahan perbandingan untuk mempermudah dia menemukan jalan pedang yang dia inginkan.
"Saya ingin bertanya sesuatu yang sedikit lancang. Entah pangeran bersedia membolehkan atau tidak?" tanya seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun bertubuh kekar berisi yang duduk di samping Pangeran Fujihira. Dia adalah pengawal pribadi Pangeran Fujihira Fukiaezu, Hakamaru Nawa.
"Silakan... Paman tanya saja!!!" jawab Pangeran Fujihira.
"Ehh... Kenapa pangeran perlu repot - repot merendahkan diri pangeran untuk memohon agar di jadikan murid orang itu? Bukankah akan lebih baik kalau pangeran langsung saja meminta dia untuk mendukung pangeran dalam perebutan tahta?"
Pangeran Fujihira Fukiaezu tersenyum hangat mendengar pertanyaan pengawal pribadinya itu.
"Paman...!!! Seorang pendekar yang berilmu seperti dia memiliki harga diri yang sangat tinggi. Mereka tidak suka diatur dan diperintah orang lain. Adapun soal iming - iming hadiah berupa harta dan semacamnya itu tidak akan membuat goyah pendirian mereka" jawab Pangeran Fujihira pelan.
Hakamaru Nawa mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Pangeran Fujihira melanjutkan lagi penjelasannya.
"Lagi pula setelah aku melawannya kemarin itu aku baru sadar kalau kekuatan orang itu tidak setingkat dengan usianya. Entah latihan seperti apa yang dia lakukan hingga dia dapat memperoleh kekuatan semengerikan itu di usianya yang masih sangat muda" Pangeran Fujihira mengembangkan kipas kecil yang terselip di bajunya dan mengipas tubuhnya yang sudah mulai berkeringat. Siang itu kebetulan matahari sedang sangat terik - teriknya.