
Pada hari itu Ling Yun sedang berlatih bersama Chen Xiang. Pemuda itu bukannya tidak tahu kalau gadis yang dipujanya itu merasa sangat bersedih semenjak kepergian Liu Tong. Meskipun tampak tegar di hadapan sang guru tetapi sering kali Ling Yun memergokinya sedang menangis saat berada di tempat sepi. Telah banyak murid - murid perguruan yang dikerahkan untuk mencari tahu keberadaan Liu Tong namun hasilnya nihil.
Tak dapat dipungkiri gadis itu memang amat terpukul mengetahui sang kekasih pergi dari perguruan tanpa sepatah katapun. Dirinya merasa terbuang. Tapi meskipun demikian Chen Xiang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya. Pada saat sedang berlatih fokusnya tetap terjaga.
Ketika itu sebuah suara keras membuat mereka menghentikan latihan dan bergegas menuju gerbang perguruan tempat di mana asal suara tadi.
***
"Liu Tong...!!! Apa yang kau lakukan ini?" Wu Qin Feng berteriak marah melihat Liu Tong datang masuk ke perguruan dengan menghancurkan pintu gerbang. Ini memberikan penjelasan bahwa murid tertuanya datang dengan tidak membawa niat baik. Terlebih muridnya itu membawa juga bersamanya tiga orang lelaki berwajah dingin dan bertubuh kekar yang ukurannya dua kali tubuh manusia normal.
Liu Tong tersenyum mengejek.
"Apa yang aku lakukan? Hahaha.... Apa kau masih belum bisa menebaknya, guru tercinta?" tanya balik Liu Tong sambil membungkukkan kepala seolah memberi hormat.
Namun Wu Qin Feng sebagai seorang pendekar tua yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan tentu saja mengerti gerakan itu tidak lebih dari sebuah ejekan. Pendekar Api Langit itu pastinya merasa marah karena telah dikhianati oleh muridnya tapi bahkan untuk bertindakpun dia masih sangat berhati - hati mengingat dia merasakan kekuatan yang sangat besar dari ketiga manusia raksasa yang menyertai Liu Tong.
"Anak kurang ajar. Bertahun - tahun aku sudah merawatmu seperti anak kandungku sendiri. Aku mengajarimu ilmu kepandaian yang aku miliki. Sekarang balasan ini yang aku dapat darimu? Rupanya selama ini aku tanpa sadar sudah membesarkan anak harimau"
Wajah Liu Tong memerah mendengar ucapan mantan gurunya itu. Dia lalu memperlihatkan seringai jahat dan menjawab.
"Ini semua karena kau terlalu pilih kasih. Kau tahu sendiri bahwa aku jauh lebih berbakat dari pada Ling Yun. Tapi kenapa justru dia yang kau pilih menjadi penerusmu sebagai ketua perguruan di masa depan?"
Wu Qin Feng atau Pendekar Api Langit menghela nafas berat. Lelaki tua itu kini hanya dapat menggeleng - gelengkan kepalanya saja melihat sifat asli muridnya.
__ADS_1
"Kakak...!!! Kau salah paham dengan maksud guru. Guru tidak pernah pilih kasih pada kita" Ling Yun berjalan perlahan mendekati Pendekar Api Langit.
Sementara itu Chen Xiang berjalan ke arah Liu Tong dengan mata berkaca - kaca. Setelah dekat gadis itu mengembangkan tangannya hendak memeluk lelaki yang selama ini telah dirindukannya siang dan malam.
"Kakak Liu... Kau akhirnya kembali untukku"
Akan tetapi perlakuan Liu Tong kemudian membuat kecewa gadis itu.
Begitu tangan Chen Xiang hampir menyentuh tubuhnya Liu Tong dengan kasar mendorong tubuh Chen Xiang hingga terduduk.
"Adik Xiang ..!!! Kau tak apa - apa?" Ling Yun segera berjongkok memegang bahu Chen Xiang yang kini sudah mulai sesenggukan. Dia tidak mempermasalahkan adik seperguruannya itu yang tidak merespon pertanyaannya. Pandangannya justru dialihkan pada Liu Tong, murid tertua Wu Qin Feng.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tahu, selama berbulan - bulan ini dia tidak pernah lepas dari memikirkan dirimu?" seru Ling Yun keras dengan wajah merah karena marah.
"Huh... Memangnya apa untungnya hal itu untukku? Dia hanya akan menjadi penghambat dalam perkembanganku. Lagipula dengan kekuatan besar yang menaungi aku, apa yang tidak bisa aku dapatkan di dunia ini?" katanya dengan nada pongah.
Liu Tong hendak melanjutkan kembali kata - katanya namun segera dibatalkan begitu melihat Ling Yun menerjangnya dengan serangan yang cepat dan ganas.
Angin panas menghampar begitu cengkeraman Ling Yun dengan cakar merah membara berusaha meremas wajah Liu Tong dengan jurus Sambaran Camar Menyambar Mangsa.
Liu Tong memiliki tenaga dalam lebih tinggi dari Ling Yun. Karena dia belajar pada guru yang sama maka tentu saja Liu Tong mengenali betul jurus yang dikerahkan Ling Yun terlebih lagi dirinya yang unggul dalam tenaga dalam maka jurus - jurus Ling Yun dapat dengan mudah dielaknya.
Serangannya yang terus menerus gagal membuat Ling Yun penasaran. Karena sudah terlanjur dikuasai kemarahan Ling Yun mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya ke tangan kanan dan menghantamkannya ke depan.
__ADS_1
"Hmph... Bakatmu lebih rendah dariku, adikku. Kau tidak sebanding dengan diriku"
Sambil mengejek demikian Liu Tong juga segera melakukan gerakan yang sama dengan Ling Yun. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menghantam balik tangan adik seperguruannya.
Karena kalah tenaga dalam Ling Yun terdorong mundur sejauh sepuluh langkah. Tanpa sadar tangan kiri meraba dadanya yang terasa sesak karena adu tenaga dalam tadi. Nyatalah bahwa perbedaan kekuatan mereka memang cukup jauh. Tapi meskipun begitu Ling Yun tidak putus asa. Dia kembali hendak menyerang Liu Tong.
Liu Tong memberikan isyarat pada tiga orang raksasa di belakangnya dengan melambaikan tangan kirinya. Maka salah satu dari manusia besar tersebut datang menyambut telapak tangan Ling Yun yang telah dialiri tenaga dalam inti langit yang menjadi andalan perguruan mereka.
"Ling Yun ...!!! Mundur....!!!" teriak Wu Qin Feng khawatir. Tapi terlambat...
Raksasa pengawal Liu Tong itu meskipun memiliki bentuk ukuran tubuh yang begitu besar tapi ternyata dapat juga melakukan gerakan secepat kilat. Liu Tong yang tidak menduga sama sekali akan gerakan raksasa yang sejak tadi hanya diam itu terkejut bukan kepalang.
"Aku merasakan ancaman yang sangat besar dari makhluk besar ini" batin Ling Yun dalam hati.
Mendapatkan firasat buruk Ling Yun akhirnya mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya dan benturan pun tak dapat lagi dielakkan.
"Plak...!!!"
Benturan tersebut tampak hanya perlahan saja namun akibatnya sungguh di luar dugaan. Ling Yun terlempar lima tombak ke belakang dan memuntahkan seteguk darah kental begitu tapak tangannya bertabrakan dengan tangan raksasa itu.
"Kakak Ling...!!!" Chen Xiang berseru tertahan. Gadis cantik itu segera melayang cepat ke arah tubuh Ling Yun. Dibangunkannya tubuh saudara seperguruannya itu dengan mata sembab.
"Sudahlah, Kakak Ling. Tidak usah dilanjutkan. Mungkin memang ini sudah menjadi suratan nasibku. Aku akan menerimanya dengan tabah"
__ADS_1
Dalam keadaan seperti itu Ling Yun merasa sedih dan kecewa. Dia merasa sedih karena tak bisa membantu orang yang dicintainya di saat dibutuhkan. Dia juga merasa kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu lemah untuk melawan saudara seperguruannya yang lebih kuat darinya. Dari rasa sedih dan kecewa itu terciptalah bibit - bibit dendam di hati Ling Yun.