
Cukup jauh dari perkampungan warga, seorang lelaki tegap tengah berlari kencang bersama seorang gadis yang berambut panjang berombak menjuntai hingga punggungnya. Rambut pria itu sebagian nya telah memutih pertanda umurnya sudah tidak muda lagi, sedangkan gadis cantik di sampingnya itu yang merupakan putrinya meskipun wajahnya tampak pucat di penuhi titik - titik peluh keringat namun tak dapat menutupi kecantikan wajahnya.
Mereka tampak sangat terburu - buru bagai dikejar set4n. Sementara itu di belakang mereka berjarak sekitar seratus batang tombak terlihat tidak kurang dari dua puluh orang tengah mengejar keduanya.
Kedua orang ayah dan anak itu terus berlari kencang sampai sang ayah kakinya tersandung batu hingga tubuhnya jatuh tertelungkup di tanah. Putrinya lalu membantu sang ayah untuk bangun dengan napas tersengal - sengal.
"Hahh... Hahhh.... "
Dada lelaki tersebut turun naik dan dadanya kembang kempis.
"Ranjani, kau larilah dari sini. Ayah akan menahan mereka untukmu" kata sang ayah lemah.
"Tidak, ayah. Aku tidak akan membiarkan ayah berjuang sendiri, aku akan ikut membantu ayah untuk melawan mereka" jawab gadis cantik bernama Ranjani itu.
"Putriku, kau harus pergi dari sini sebelum mereka menyusul kita. Jika kita berdua terbunuh di sini rahasia ini tidak akan ada yang tahu"
"Tapi, ayah..."
Ranjani yang ingin membantah perkataan ayahnya berhenti ketika sang ayah menatapnya dengan tatapan memelas.
"Cepatlah, putriku. Ini demi tanah air kita yang tercinta. Meskipun harus mati di sini ayah akan merasa bangga kalau sedikit informasi rahasia itu dapat membantu pihak kerajaan untuk menumpas semua gembong pemberontak itu. Nah, sekarang pergilah"
"Ayah berjanjilah, untuk bertahan sebisa mungkin. Aku akan mencari bantuan dari daerah terdekat"
"Iya, putriku. Ayah akan berusaha sekuat ayah..." kata sang ayah tersenyum pahit.
Akhirnya Ranjani berlari kencang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang dikerahkan dengan kekuatan penuh untuk mencari bantuan secepat mungkin guna menyelamatkan sang ayah.
Setelah sosok Ranjani tidak terlihat lagi pria separuh baya yang bernama Rimang itu menghela nafas lega. Tubuhnya lalu berbalik menatap dua puluh orang pengejar yang baru saja sampai dan telah berada di depannya.
"Huhh.... Kejar gadis itu, jangan sampai lolos. Kepala kita bisa dipenggal jika informasi itu sampai tembus ke kota raja" perintah pemimpin dua puluh orang tersebut. Lima orang segera berlari hendak melewati Rimanga.
"Langkahi dulu mayatku" teriak Rimang menghunus pedang berusaha menghadang kelima orang tersebut.
Tapi tanpa diduga lima belas yang lainnya segera bergerak menutup jalan bagi Rimang.
"Hehehe. . . Sebentar lagi kau akan melihat kami bermain - main dengan putrimu yang cantik itu, Rimang. Hahaha"
"Kalian benar - benar biad4b. Aku akan mengadu jiwa dengan kalian"
__ADS_1
Rimang berteriak keras dan menerjang lawan terdekat yang berada di depannya. Ayunan pedangnya cukup gesit, namun karena jumlah lawan terlalu banyak lambat laun Rimang mulai tersudut hingga tidak dapat menahan tendangan salah seorang dari lima belas pengeroyok itu yang bernama Barda.
Des...
"Ughh. . ." terdengar suara Rimang melenguh karena dadanya yang tertendang tadi terasa sesak.
"Hahaha. . ."
Pemimpin pengeroyok yang bernama Sudra tertawa terbahak - bahak saking bahagianya.
"Rimang, kelihatannya kau tidak akan sempat melihat putrimu bermain - main dengan kami" katanya dengan seringai mengejek.
"Prajurit murtad, bahkan sampai ke liang lahat sekalipun aku mengutuk kalian semua akan berakhir dengan kematian yang mengenaskan." kecamatan Rimang dengan suara bergetar menahan marah. Hendaklah melawan dia tak lagi sanggup berdiri karena sudah kelelahan.
Sudra melangkah pelan mendekati Rimang dengan menghunus senjata andalannya berupa sebilab keris putih berkilat. Tinggal dua langkah lagi Sudra akan mencapai tempat Rimang yang sudah tak berdaya, entah dari mana datangnya tiba - tiba saja sebuah kulit pisang telah berada di depan Sudra yang tidak memperhatikan pijakannya. Akhirnya Sudra tergelincir dan jatuh ke tanah menimbulkan suara gedebuk.
"Hahaha. . . "
Semua yang menyaksikan kejadian aneh itu tertawa tidak terkecuali Rimang yang sudah tak lagi bertenaga.
"Diam ...."
Semuanya seketika terdiam mendengar bentakan Sudra yang sudah dikuasai amarah.
Tiba - tiba terdengar seruan seseorang bergema di seantero hutan tempat pertarungan tersebut. Semua memandang ke atas, ke arah sebuah pohon bersamaan.
Di sana terlihat seorang lelaki berambut panjang sebahu yang tampak awut - awutan.. Di tangan kanan lelaki yang sedang ongkang - ongkang kaki itu tergenggam senjata berbentuk celurit yang di bagian gagangnya diberi hiasan berupa rumbai - rumbai berwarna merah.
"Huhhh. . . Kukira pendekar sakti, tapi ternyata hanya seekor monyet" balas Sudra tidak mau kalah gertak.
Si pemuda yang diejek hanya tertawa renyah membuat hati Sudra semakin sebal melihatnya.
"Hehehe... Kasiaaann. . . masih muda sudah rabun. Hehehe" balasnya dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Anak set4n. Kalau berani, turun sini. Jangan hanya membacit di atas pohon, dasar pengecut" teriak Sudra yang semakin lama semakin bertambah geram.
Pemuda itu pun melayang turun ke arah mereka. Kakinya menyentuh tanah tanpa suara pertanda memiliki tenaga dalam tinggi. Sudra memasang ekspresi waspada.
"Hehehe. . . Kau ini, tampangnya saja yang gagah. Ternyata matanya sudah rabun. Hehehe.... " ejek pemuda itu lagi begitu sampai di hadapan Sudra.
__ADS_1
"Bedeb4h... Lihat serangan!!!"
Sudra mengencangkan genggaman pada pedangnya dan berkelebat menyerang pemuda yang membuat hatinya mangkel itu berniat membelah kepalanya. Tetapi hal itu hanyalah angan - angan semata.
Entah bagaimana rerumputan yang cukup tinggi di sekitar mereka tiba - tiba saja bergerak sendiri seperti di sihir membentuk beberapa ikatan yang melilit kaki Sudra. Spontan saja Sudra terjatuh dalam keadaan tertelungkup.
"Hahaha. . . Kan sudah kubilang, kau itu sudah rabun"
Kali ini hanya pemuda itu saja yang tertawa mengejek. Sedangkan anak buah Sudra hanya terdiam menahan tawa mereka karena tidak ingin dibentak lagi.
"Set4n. Aku akan meminum darahmu setelah kau mampu*s, anak muda" teriak Sudra sarat akan kemarahan.
Wajahnya terlihat memerah karena tak kuasa menahan amarah. Dia bangkit kembali ingin menyerang lagi pemuda urakan itu, tapi lagi - lagi nasib sial menimpa dirinya. Ranting kayu di atas kepalanya patah dan menimpa tubuhnya tanpa bisa dia hindari karena tidak dalam keadaan siap. Akibatnya tubuh Sudra kembali terhempas di tanah tertindih patahan ranting kayu tersebut.
"Sial sekali nasibku hari ini.... Bangs4t" umpatnya dalam hati.
"Hey... Apa yang kalian tunggu? Cepat bantu aku, angkat ranting sialan ini dari tubuhku"
Sudra semakin kesal saja dengan anak buahnya yang tidak segera bergerak membantunya.
"Kau pemuda tukang sihir rupanya. Bersiaplah untuk mampu*s. Serang....!!!" kata Sudra memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengeroyok pemuda yang dikiranya tukang sihir itu.
Pemuda urakan itu meladeni serangan - serangan kelima belas orang tersebut dengan jurus - jurus yang tampak biasa saja. Tapi entah kenapa setiap serangan yang dilancarkan lawannya selalu saja gagal menyentuh tubuhnya. Pengeroyok tersebut kalau tidak tergelincir jatuh, maka pasti senjatanya akan secara tiba - tiba beradu dengan senjata kawannya sendiri. Bahkan ada yang suka memanfaatkan kelengahan pemuda tersebut dengan menyerang dari arah belakang, sialnya kepalanya tertimpa palu besar yang entah dari mana datangnya. Hal itu terjadi berulang - ulang kali terhadap lawan yang melakukan serangan dari arah belakang.
"Nah... Saatnya untuk serius... " kata pemuda itu sebelum merubah gerakannya.
Tendangan halilintar...
Jurus yang digunakan si pemuda sangat unik karena hanya mengandalkan kedua kaki saja, namun begitu lima belas orang lawannya kelabakan menghindari serangan tersebut.
Dess.... Salah seorang terlempar jauh dan membentur pohon sepelukan orang dewasa begitu tercium jurus tendangan halilintar.
Selagi semua orang terkejut kaki pemuda itu kembali mencari sasaran lain yaitu Sudra. Pemimpin keroyokan itu segera mengayunkan goloknya berniat menebas kutung kaki lawan.
Trangg. . .
Golok Sudra beradu dengan pedang salah seorang anak buahnya sehingga niatnya untuk menebas kaki tidak kesampaian.
Kemarahan membuatnya lengah hingga tendangan lawan berhasil menggedor dadanya hingga dia terpental sejauh dua puluh batang tombak dan muntah darah.
__ADS_1
Anak buah Sudra itu hanya tercengang dengan apa yang dilakukannya tadi, tangannya seolah bergerak sendiri menangkis serangan Sudra yang mengarah kaki musuhnya.
Pemuda aneh itu tidak menyia - nyiakan kesempatan segera mengirimkan tendangan memutarnya yang mengenai rahang musuhnya yang terbengong itu dengan telak. Akibatnya anak buah Sudra itu terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.