
Choziro yang telah terlanjur merasa dipermalukan oleh Argadana bangkit berdiri dengan wajah merah padam. Tetua dari Perserikatan Samurai itu tidak Terima dengan perlakuan yang diterimanya.
Dia menatap Argadana dengan tatapan buas ingin mencabik - cabik tubuh orang yang sangat dibencinya itu akan tetapi Ningrum menghadang di depannya dengan tangan terkepal. Untuk melampiaskan kemarahannya Choziro mengeluarkan bentakan nyaring.
Tubuhnya melesat ke arah Ningrum. Wajahnya tampak keheranan melihat lawan tampak limbung seperti orang mabuk namun setiap serangan yang dilakukannya selalu berhasil dielakkan dengan sangat baik. Beberapa kali tetua Perserikatan Samurai itu menggunakan taktik serangan menipu tapi hasilnya masih saja nihil.
Dengan geram Choziro menghantam ke depan dengan Jurus Tapak Peregang Nyawa berharap dapat menghabisi Ningrum dalam satu serangan.
Tapi tidak semudah itu untuk menghabisi Ningrum. Pada saat serangan lawan baru bergerak setengah jalan dia sudah buru - buru menyingkir ke samping lalu dari sana mengirimkan serangan balasan berupa tamparan mengarah ke siku Choziro. Jika serangan itu berhasil tentu saja sambungan siku Choziro akan terlepas.
Terkejutlah Choziro. Serangan nya yang sekuat itu bukan saja dapat dihindari lawan tapi justru kebalikannya, kini malah dia yang kena diserang. Choziro segera menjejakkan kakinya di tanah. Tubuhnya melesat tinggi ke atas menggagalkan serangan balik Ningrum. Kemudian kaki Choziro dengan cepat menendang ke arah perut sedangkan tangan kanannya menyerang batok kepala Ningrum.
Ningrum mengeluarkan bentakan keras. Tubuhnya berkelebat menghindar. Lagi - lagi Choziro dibuat terkejut. Dia sungguh tak habis fikir bagaimana bisa perempuan semuda itu bisa menghindari kedua serangan kuatnya sekaligus.
Pada saat itu Ningrum telah mengayunkan telapak tangannya mengincar dada kiri Choziro dalam satu gerakan yang mendatangkan angin keras.
Dengan penasaran Choziro bergerak melintangkan tangannya menangkis tamparan Ningrum. Kalau jurus lawan boleh diandalkan, dalam hal tenaga dalam tentu gadis muda itu tidak akan menang, begitulah fikiran Choziro.
"Buk...!!!" Maka beradulah kedua lengan itu.
Choziro berseru tertahan! Tubuhnya terjajar sampai sepuluh langkah sedangkan tangannya yang beradu dengan Ningrum bukan saja terasa bergetar tapi juga sakit bukan main. Ketika ditelitinya baik - baik tangannya yang beradu dengan Ningrum tampak kemerahan. Menciut nyali Choziro menyadari kekuatan lawan tidak berada di bawahnya.
"Sial...!!! Bagaimana ini mungkin? Kekuatan perempuan ini sangat besar. Menurut perkiraanku tenaga dalamnya mungkin lebih tinggi satu atau dua tingkat di atasku" batin Choziro seraya mengalirkan tenaga dalam ke tangannya untuk mengurangi rasa sakit.
Sebenarnya dugaan Choziro itu meleset jauh. Jika dia tadi menangkis serangan Ningrum dengan tenaga dalam penuhpenuh maka Ningrum hanya menggunakan sepersepuluh saja dari tenaga dalamnya. Lengan Ningrum hanya terasa sedikit kesemutan.
"Kau sudah membuatku marah, orang tua. Sebagai tebusan aku akan minta tangan kirimu dulu"
Ningrum lalu menerjang ke depan dengan lima jari tangan terkembang membentuk cakar mencengkram lengan kiri Choziro.
Pucat wajah Choziro melihat serangan Ningrum yang sangat cepat. Maka untuk melindungi lengannya segera dia cabut katana yang sejak tadi tersampir dipinggangnya dan diayunkan berusaha menebas putus pergelangan tangan lawan.
Melihat tebasan yang mengancam tangannya Ningrum batalkan serangan ke arah lengan kiri sebagai gantinya cakar Ningrum berbelok ke kiri menotok urat di pergelangan tangan Choziro yang memegang pedang.
__ADS_1
"Prangg...!!!" Pedang Choziropun jatuh menyentuh tanah berbatu di luar kedai itu.
Serangan Ningrum tidak berhenti di situ saja. Tangan kirinya secepat kilat mencengkram leher Choziro dengan erat hingga wajahnya berubah merah karena aliran darah yang terhambat.
Kanryu yang melihat keganasan serangan Ningrum hendak membantu kawannya. Seberkas cahaya berwarna hijau terlihat melesat dari telapak tangan Kanryu yang didorong ke depan ke arah Ningrum yang tampak tidak peduli dengan serangan pengecut tetua dari Perserikatan Samurai itu.
Sedetik lagi cahaya hijau itu mengenai tubuh Ningrum tiba - tiba sesosok bayangan putih berkelebat cepat menghantam cahaya hijau tersebut dengan tangan kosong hingga...
"Duarr...!!!"
Ledakan keras menulikan teling terdengar begitu tangan sosok berwarna putih yang tidak lain adalah Argadana menghantam cahaya hijau itu dengan tangan kanannya.
Ledakan tersebut menciptakan gelombang api yang cukup besar menutupi pandangan semua orang.
"Dasar bodoh... Pukulan racun api kau mau lawan dengan tangan kosong itu sama saja dengan mencari mati"
Kanryu menyeringai seram melihat serangannya meledak ketika dihantam Argadana. Dia mengira serangan tersebut bisa melukai tubuh orang yang memapak serangannya.
"Apa - apaan api ini? Apa kau sungguh - sungguh ingin memanggang tubuhku dengan ini? Sial sekali... Baru kali ini akau mencicipi api yang rasanya sangat tidak enak"
"Apa??? Orang ini apa masih manusia? Dia bahkan bisa memakan api?" seru beberapa orang yang menyaksikan kejadian aneh tersebut.
Kanryu amat terkejut melihat orang bukan hanya bisa menahan serangannya tapi juga bahkan menelan api dari pukulan yang dia lepaskan.
"Bahaya... Aku dan Choziro baru dua tahun ini diangkat menjadi tetua. Ketua pasti marah besar jika masalah ini sampai tersebar di luaran."
"Hehh... Kau orang tua pandai membokong. Temanmu sendiri yang menyerang gadisku lebih dulu, jadi dia harus siap juga untuk mendapatkan perlawanan" seru Argadana mengusap mulutnya dengan tangan kanan.
Kanryu maju ke depan Argadana beberapa langkah.
"Kemampuanmu cukup hebat, anak muda. Aku penasaran apa kau mau mendengarkan penawaranku?"
"Coba sebutkan kondisimu, siapa tahu aku tertarik" pancing Argadana.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan serikat kami? Dengan kemampuanmu tadi kurasa kau bisa langsung mendapatkan pangkat yang tinggi, ya paling tidak sedikit di bawah ku. Bagaimana?"
"Lancang...!!!"
Teriak Jendral Thalaba menggeledek.
"Manusia fana berumur pendek berani menawari yang mulia posisi rendah seperti itu sama dengan mencari mati. Kau sudah tidak sayang lagi dengan nyawamu?" hardiknya murka dengan wajah merah bagai kepiting rebus.
"Tombak emas...!!!"
Jendral Thalaba mengangkat tangannya sejajar bahu. Tombak emas kesayangannya yang selalu tersimpan di dalam Kereta Hantu tiba - tiba bergerak sendiri melesat dan tiba di genggaman tangan Jendral Thalaba seolah seperti tertarik magnet.
Begitu tombak emas tergenggam di tangan kanan Jendral Thalaba mengetuk tanah dengan keras hingga terjadilah gempa kecil dan terlihat beberapa retakan sejauh lima batang tombak dari tanah yang diketuk menggunakan Tombak Emas.
Wajah semua orang yang berada di situ berubah pucat pasi. Ningrum tidak peduli dengan gempa yang dibuat Jendral Thalaba. Dia dengan gemas membetot tangan kiri Choziro hingga lengan itu terlepas dari tubuh.
"Aaahhkk....!!!"
Teriakan Choziro menyadarkan semua orang dari lamunan mereka termasuk Kanryu yang menatap ngeri melihat keganasan Ningrum.
"Dia... Dia... Aku ingat sekarang. Dia itu yang biasa disebut orang si Kusir Setan. Orang yang melenyapkan seluruh klan Tokugawa dengan satu pukulan"
"Apa??? Apa kau tidak salah lihat?"
"Tidak... Aku yakin itu dia orangnya"
Perkataan beberapa orang itu berhasil mengejutkan Sakamoto Yajima dan kawanannya termasuk juga Kanryu yang sudah sejak tadi wajahnya pucat pasi bagai kain kafan.
"Karena kau berani menghina raja, maka tanggunglah hukumannya" Jendral Thalaba telah mengangkat tangannya tinggi menyiapkan Ilmu Kutukan Darah namun dicegah oleh Argadana.
"Aku sedang ingin sedikit bersenang - senang, paman. Jangan gunakan pukulan itu, mana tahu masih banyak dari keluarganya yang berhubungan darah adalah orang baik - baik" kata Argadana mengangkat tangan kirinya.
"Huh... Masih bagus Yang Mulia melarangku. Jika tidak bahkan rajamu sendiri tidak akan mampu menyelamatkan seluruh garis keturunanmu" dengus Jendral Thalaba.
__ADS_1
Sementara itu Choziro tengah berusaha sekuat mungkin untuk bangkit berdiri. Setelah tangan kirinya terbetot oleh Ningrum dia jadi kehilangan banyak darah. Beberapa kali dia berusaha menotok jalan darah di bahu untuk menghentikan darah yang keluar tapi lama kelamaan tenaganya terkuras juga karena harus pontang panting menyelamatkan diri dari terjangan Ningrum.
Kini perlawanannya mulai mengendur hingga di satu kesempatan tendangan berputar Ningrum menghantam dagunya hingga tubuhnya terlempar sehauh lima langkah lalu terjatuh dan pingsan.