Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Masa Lalu Pendekar Sejoli Pembunuh Naga


__ADS_3

"Tunggu, anak muda.... Jika diperbolehkan, aku ingin menjadi pengikutmu"


Perkataan Surasena itu bagai sambaran petir di siang bolong bagi mereka yang mendengarnya. Sepasang Pendekar Sejoli Pembunuh Naga yang terkenal berilmu tinggi dan sangat menjunjung kesombongannya menjatuhkan diri menjadi pengikut seorang pendekar muda yang baru setahun lebih muncul di dunia persilatan. Mendengar hal itu Argadana lalu angkat bicara.


"Aku sudah melepaskan kalian dengan memberi kalian kebebasan untuk memilih jalan hidup kalian. Kenapa kalian memilih mengikat kebebasan kalian dengan mengikuti aku? Aku tidak ada kelebihan apapun selain dari apa yang terlihat di tubuhku, aku tidak akan bisa menjamin kebahagiaan kalian meski kalian menjadi pengikutku"


"Kau memiliki sifat Ksatria yang jarang dimiliki orang lain, dan itu membuatku kagum" puji Surasena.


"Ini merupakan cerita yang cukup panjang, dan merupakan lembaran kelam yang membawa kami pada jalan keputusasaan. Kami berasal dari Lembah hitam.... " Surasena bercerita tentang kejadian yang dialaminya sebelum menjadi pendekar berhati jahat.


***


Sejak kecil Surasena dan Nila Sari dipungut oleh seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan tahun.


"Kakek... Apa kami sudah boleh mengetahui siapa nama kakek? Kami selalu bingung jika ada orang bertanya nama kakek pada kami" tanya Surasena kecil dengan polosnya.


Sang kakek tersenyum...


"Hahh... Membicarakan nama akan mengungkit kembali luka lama itu, kalian sebaiknya tidak usah tahu"


"Tapi, kek... Bagaimana kalau ada yang tanya nama kakek?" Nila Sari ikut - ikutan bertanya dan sang kakek lagi - lagi hanya tersenyum.


"Jika ada yang tanya, kalian bilang saja kalau kakek kalian adalah orang tua dari Lembah Hitam" pungkas sang Kakek.


Hari demi hari dilalui dengan riang gembira oleh sepasang bocah lelaki dan wanita itu yang dibimbing langsung ilmu silat tingkat tinggi oleh orang tua asuh mereka yang tidak ingin diketahui namanya.


Orang tua asuh si bocah Surasena dan Nila Sari begitu bahagia melihat bahwa kedua anak asuhnya ternyata memiliki bakat yang sangat tinggi dalam ilmu silat.

__ADS_1


Orang tua dari Lembah hitam itupun tidak lagi tanggung - tanggung mengajarkan seluruh kepandaiannya pada kedua anak angkatnya tersebut.


"Heii... Kuda - kudanya salah. Kalau terbalik begini, ketika kau bertemu lawan yang tenaga dalamnya seimbang denganmu makan kau akan dikalahkan dengan telak...!!" tegur Orang Tua Dari Lembah Hitam melihat Nila Sari membuat gerakan kuda - kuda yang salah.


"Nah... Begitu baru bagus.... Dengan pola pergerakan yang tepat seperti ini, kalian akan tetap menang bahkan meski menghadapi lawan yang tenaga dalamnya lebih tinggi dari kalian" kata si Orang Tua lagi - lagi memberikan arahan.


"Yak... Teruskan latihan kalian sampai jurus Amukan Dewa Naga sempurna kalian kuasai, dan jangan berhenti sebelum menyelesaikan tugas yang aku berikan"


Kehidupan sehari - hari Surasena dan Nila Sari kecil sangat keras, namun meskipun demikian mereka tetap merasa senang karena dapat bercanda dan tertawa bersama orang - orang terkasih. Menurut mereka, dapat hidup sederhana bersama sang kakek sudah merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan sehari - hari mereka sehingga sekeras apapun latihan yang mereka terima dari si kakek, mereka tetap menjalaninya tanpa berkeluh kesah sedikitpun.


Hari hari terus berlalu


Bulan dan tahun pun berganti


Sepuluh tahun kemudian, Surasena telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Rahangnya tampak kokoh, tubuhnya penuh dilingkari otot - otot menghiasi badan membuat kesan gagahnya bertambah berkali - kali lipat.


Tumbuh besar di dalam Lembah Hitam yang amat sunyi tanpa bisa melihat keadaan dunia luar membuat mereka lebih akrab. Dan rupanya, keduanya telah sama - sama saling jatuh cinta.


Di usia mereka saat itu mereka sudah dekat untuk turun gunung mengamalkan ilmu - ilmu yang telah mereka dapatkan dari sang kakek. Hal itu tiada lain karena seluruh ilmu kepandaian Orang Tua Dari Lembah Hitam itu telah mereka kuasai dengan sempurna.


Pada suatu hari Surasena dan Nila Sari pergi berburu untuk makan malam mereka, sedangkan si kakek menunggu di dalam gubuk reotnya.


Kedua muda - mudi yang sedang saling jatuh cinta itu pulang dengan hati riang dan wajah berseri. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.


Sesampainya mereka di gubuk sangat kakek, gubuk itu nampak telah hancur dan ada bekas pertarungan di sana. Surasena melemparkan begitu saja seekor rusa yang telah mereka tangkap dan segera melesat mencari sang kakek yang tubuhnya telah tertimpa reruntuhan gubuknya yang hancur karena pertarungan.


"Kakek.... Kakek bertahanlah, aku akan mencari bantuan di kampung terdekat. Kakek pasti akan selamat" kata Nila Sari panik.

__ADS_1


"Biar aku saja yang pergi, kau tunggu di sini saja menjaga kakek" kata Surasena cepat.


Sang kakek tersenyum walau darah dari mulut membanjiri pakaiannya.


"Tidak usah, nak. Umur kakek sudah tidak akan lama..." katanya sambil memaksakan senyumnya.


"Tidak, kek. Kakek pasti akan selamat. Jangan memaksakan diri, kakek berbaringlah dulu" cegah Nila Sari melihat sang kakek berusaha bangun dengan menahan rasa sakit.


"Tidak, cucuku. Kemarilah..... "


kata kakek tua itu dengan napas putus - putus.


"Dengarkan pesan kakek baik - baik. Ketahuilah bahwa Ilmu Silat Dewa Naga yang kalian kuasai saat ini bukanlah satu - satunya ilmu tingkat tinggi" Kakek tua itu berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya yang sudah satu - satu.


"Mungkin... Akan sulit untuk menemui orang yang dapat menandingimu, tetapi jangan kalian berlaku sombong. Seperti kata pepatah 'Di atas langit masih ada langit'. Aku masih melihat kegelapan menyelimuti masa depan kalian berdua.


Kelak, kalian cari dan ikutilah Sang Pembawa Kebenaran. Dia akan menjadi orang pertama yang mengalahkan Ilmu Silat Dewa Naga kalian. Sang pembawa kebenaran itu menguasai ilmu yang bernama Ilmu Serat Darah.... Dan satu hal lagi... Kalian jangan... Membalas..... Den...."


Nyawa orang tua asuh Surasena dan Nila Sari terputus sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"Tidak... Kakek... Kakek... Kakek tidak boleh mati. Kakek.... " teriak Nila Sari terisak - isak.


Pada hari itu wafat lah orang tua asuh yang sudah merawat Surasena dan Nila Sari sejak kecil. Mereka berdua merasakan pukulan yang amat dalam selepas kepergian satu - satunya orang yang paling berharga dalam hidup mereka.


Keduanya mengurung diri selama dua bulan penuh untuk menyempurnakan tenaga dalam mereka. Kemudian diputuskanlah, mereka akan keluar untuk mencari pelaku pembunuhan terhadap sang kakek dan menuntut balas.


Selama dua tahun mereka mencari tahu pelaku pembunuhan itu kedua pendekar muda tersebut karena merasa terpukul dengan kematian sang kakek kepribadian mereka jadi berubah. Siapapun yang berani mengganggu atau berbuat usil pada mereka, tidak akan segan - segan mereka menurunkan tangan maut sehingga keduanya menjadi semakin terkenal dan ditakuti. Nama gelar Pendekar Sejoli Pembunuh Naga yang entah bagaimana bisa mereka dapatkan itu semakin lama semakin santer terdengar di kalangan dunia persilatan.

__ADS_1


__ADS_2