
Perjalanan menuju Kota Raja dilalui Argadana dan Handra Wiraguna dengan cepat karena tidak ada hambatan berarti. Kedua pemuda itu menempuh perjalanan dengan menunggangi kuda masing - masing.
Sepanjang perjalanan Handra Wiraguna hanya tersenyum melihat Argadana yang menunggangi kuda tanpa menggunakan tali kekangnya. Hal itu menimbulkan pemandangan konyol menurut Handra Wiraguna. Bagaimana tidak, cara Argadana menunggangi kuda itu sama sekali bukan seperti tekhnik mengendarai kuda tetapi lebih mirip duduk secara asal - asalan.
Argadana menunggangi kuda dengan posisi miring, kedua kakinya berada di bagian kiri tubuh kuda putihnya tanpa berpegangan pada tali kekang kudanya seperti pengendara kuda pada umumnya.
Terkadang juga Handra Wiraguna merasa aneh dengan saudara angkatnya yang baru itu, karena setiap kali mereka melewati suatu tempat pasti binatang - binatang yang berada di sekitar mereka akan menundukkan kepala seperti menunduk hormat.
"Ternyata ilmunya sama anehnya dengan rambutnya" batin Handra Wiraguna.
Ketika memasuki gerbang Kota Raja, kedua pemuda itu menemukan prajurit penjaga gerbang sedang berdebat dengan seorang pria separuh baya dan seorang lagi pemuda tampan berwajah keras.
Orang tua itu berpakaian hijau pupus dengan kain putih melingkar di pinggangnya, sedangkan si pemuda mengenakan pakaian bagian atas berwarna putih dan bagian bawah berwarna kecoklatan. Di punggung pemuda tersebut tergantung sebuah golok yang di pangkal gagangnya berbentuk kepala burung.
Handra Wiraguna mengenal kedua orang itu yang merupakan sahabat karib gurunya, Pendekar Tongkat Bambu. Orang tua itu dikenal di dunia persilatan dengan sebutan Pendeta Sinting. Kebiasaannya berbicara adalah dengan menggunakan pribahasa yang sangat aneh dan bahkan terdengar sangat kocak. Itulah sebabnya dia dijuluki Pendeta Sinting. Di sampingnya ada seorang pemuda yang usianya kurang lebih sama dengan Handra Wiraguna. Pemuda itu adalah muridnya yang bernama Dirga Indra.
"Kau tetap dilarang masuk, orang tua. Kau tidak punya bukti identitas, tidak memenuhi persyaratan untuk masuk" kata salah seorang prajurit penjaga gerbang dengan nada kesal.
"Iya. Tapi bukankah pepatah mengatakan kalau ada orang kesusahan kita harus mau membantu?"
"Dasar orang sinting ... " umpat prajurit itu kesal
"Aku memang Pendeta Sinting. Aku kan sudah bilang, aku ingin menghadiri acara perayaan ulang tahun Tuan Putri. Pepatah mengatakan ..."
"Paman Gunta ..."
Kalimat Pendeta Sinting terputus mendengar ada orang yang menyebut nama aslinya. Dia dan muridnya lalu memandang ke arah suara tadi yang ternyata adalah suara milik Handra Wiraguna.
"Ehh ... Nak Handra rupanya? Bagaimana kabarnya gurumu?" sapa Pendeta Sinting dengan senyum konyolnya sementara muridnya Dirga Indra hanya menggeleng pelan melihat tingkah sang guru.
"Ahh ... Guru baik - baik saja. Paman mau kemana?"
"Ahh ... Jadi begini, nak Handra. Kami mau mengikuti acara perayaan hari ulang tahun Tuan Putri, tapi prajurit - prajurit itu tidak membolehkan" kata Pendeta Sinting meunjuk prajurit penjaga gerbang tersebut.
Handra Wiraguna lalu menemui prajurit itu. Argadana dan Pendeta Sinting beserta muridnya keheranan melihat prajurit itu tampak sangat menghormati Handra Wiraguna. Tapi Pendeta Sinting yang tidak mau tahu urusan orang segera memalingkan pandangannya pada Argadana dan berkata.
"Anak muda. Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak kenal. Jadi perkenalkan namaku Gunta dan ini muridku, Dirga Indra" kata Pendeta Sinting. Dirga Indra hanya membungkukkan badannya pada Argadana.
Argadana hanya tersenyum mendengar Pendeta Sinting salah dalam mengucap kata pepatah tersebut
"Ahh ... Rupanya aku sedang berhadapan dengan tokoh tua berjuluk Pendeta Sinting. Guruku sering membicarakan kehebatan tuan. Namaku Argadana, senang berkenalan dengan tokoh terkenal seperti paman. Dan saudara Dirga senang berkenalan denganmu" kata Argadana balas membungkuk.
__ADS_1
"Hey .... Jangan terlalu sungkan, anak muda. Oh ya, kau tadi mengenal julukanku. Tapi aku tidak tahu, siapa yang kau maksud gurumu itu?" tanya Pendeta Sinting penasaran.
"Guru tidak suka namanya disebut - sebutkan, tuan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa beliau adalah majikan Lembah Neraka"
"Apa??" kejut Pendeta Sinting dan muridnya bersamaan.
"Jadi, maksudmu kau murid Sepasang Pendekar Naga?" serobot Pendeta Sinting cepat.
Belum sempat pertanyaan Pendeta Sinting terjawab terdengar suara Handra Wiraguna dari arah pintu gerbang.
"Heyy ... Ayo, kita sudah bisa masuk sekarang" kata Handra Wiraguna melambaikan tangannya pada mereka bertiga.
Argadana dengan cepat mengikuti Handra Wiraguna setelah memberi isyarat agar kuda putih mengikutinya tanpa menjawab rasa penasaran Pendeta Sinting.
"Dirga. Kau harus berteman dengan anak itu, aku merasakan firasat bahwa dia itu tidak sesederhana penampilannya. Aku yakin dia pasti murid Sepasang Pendekar Naga" pesan Pendeta Sinting pada muridnya, Dirga Indra.
"Baik guru"
Mereka kemudian mengikuti Argadana dengan langkah cepat. Setelah berhasil melewati pintu gerbang Kota Raja, Pendeta Sinting dan Dirga Indra berpisah dari Argadana dan Handra Wiraguna setelah berpamitan untuk menyelesaikan sesuatu.
"Kakang, kita mungkin akan berpisah di sini. Aku harus menyelesaikan urusan yang telah dipesankan guruku" kata Handra Wiraguna.
"Baiklah, Handra. Mari bertemu kembali di lain hari"
"Ayo, putih"
Argadana menepuk - nepuk leher kuda tunggangannya. Pendekar kita ingin berjalan - jalan mengelilingi Kota Raja yang sangat luas dan indah tersebut. Lagi - lagi Argadana membuat kehebohan di sana.
Semua binatang tunggangan yang hendak melewati Argadana tiba - tiba berhenti dan sebagian justru ada yang mengambil sikap berbaring mengendus kaki Argadana yang masih duduk di atas kuda putih dengan posisi tubuh miring sambil ongkang - ongkang kaki.
Semut dan ayam - ayam ternak pun berkumpul di setiap jalan yang dilewati Argadana membuat orang yang lalu lalang di Kota Raja terganggu oleh tingkah binatang - binatang itu.
"Orangnya aneh, cara menunggang kuda juga aneh. Dia pikir menunggang kuda itu seperti dia duduk di kursi" bisik orang - orang yang dilewati Argadana.
Kuda putih itu baru berhenti di depan kedai yang di bagian atas pintunya terdapat papan bertuliskan Kedai Makan Anugrah. Terlihat di bagian dalam samping pintu ada pelayan yang bertugas menyambut tamu yang berkunjung ke kedai.
Argadana kemudian turun dan masuk kedai untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Murid Sepasang Pendekar Naga itu memutuskan untuk menginap di sana karena hari telah menjelang malam.
***
Dua hari sebelum acara pesta perayaan hari ulang tahun Ningrum. Sebuah panggung dibangun dengan sangat megah. Berbagai macam hiasan melekat di tiang atap maupun lantai panggung. Tempat - tempat duduk khusus untuk para tamu ditata rapi.
__ADS_1
Para tamu kehormatan yang datang dari berbagai kerajaan disediakan tempat tinggal sendiri yang juga ditata indah dengan masing - masing satu pelayan yang melayani kebutuhan mereka. Banyak yang datang sebelum hari perayaan tiba karena jarak tempuh mereka sangat jauh dan tidak ingin menghadiri pesta dalam keadaan tubuh tidak fit karena baru selesai menempuh perjalanan jauh.
Banyak di antara para pangeran dari berbagai kerajaan hendak mengikuti acara tersebut karena merasa penasaran seperti apa putri yang dikatakan paling cantik di antara enam kerajaan itu. Salah satu di antaranya adalah Pangeran Damar Sena dari Kerajaan Sakra. Dia dan rombongannya lebih dulu sampai daripada rombongan lain yang menginap di sana karena dia sampai sekitar lima hari yang lalu, sedangkan yang lainnya baru sampai setelahnya.
Pangeran Damar Sena termasuk tampan juga dengan wajah lonjong dan kulit sawo matang. Rambutnya yang panjang sebahu bergelombang dikuncir kuda. Setiap kali keluar pangeran yang satu ini selalu berpakaian mentereng, menunjukkan kemewahannya seperti kali ini dia mengenakan berbagai macam riasan dari emas. Benar - benar lelaki pesolek.
Hari ini para tamu kehormatan sedang bersantai bersama di halaman dalam gerbang masuk dan melihat seorang pemuda tampan yang di tengah - tengah dahinya terdapat rajah pedang merah menunggangi kuda putih yang terlihat indah. Tetapi warna rambutnya sangat berbeda dari rambut kebanyakan orang, yaitu berwarna mengkilat seperti emas. Hanya saja cara pemuda itu menunggangi kuda sama sekali tidak seperti seorang penunggang kuda, itu lebih terlihat seperti sedang bersantai di atas punggung kuda liar karena kuda tunggangannya tidak memiliki tali kekang yang difungsikan untuk mengendalikannya.
Pangeran Damar Sena yang sombong itu mulai timbul pikiran nakalnya untuk mengerjai pemuda tersebut yang tidak lain adalah Argadana.
"Hey .. lihat. . . Anak gunung dari mana ini beraninya masuk ke tempat kalangan orang - orang bangsawan" katanya dengan seringai menghina
Para bangsawan lain yang sangat tidak menyukai Pangeran Damar Sena hanya menggeleng pelan sambil menahan kedongkolan di hati mereka karena keangkuhan pangeran yang satu ini.
Argadana meski sedikit tersinggung tidak menggubris ocehan Pangeran Damar Sena membuatnya jadi naik pitam.
"Hajar ..." perintah Damar Sena pada pengawal pribadinya yang segera saja melaksanakan perintah majikannya.
Argadana yang mendengar ada kesiur angin tajam mengarah padanya dari arah belakang menggerakkan tangannya tanpa melihat ke arah asal serangan dan yang terjadi berikutnya...
Buk ....
Sikutan tajam Argadana melabrak dada pengawal pribadi Damar Sena membuatnya terpental balik lima batang tombak.
"Bangs4t ... "
Pengawal Damar Sena yang bernama Mitra tidak terima dijatuhkan begitu saja. Kembali dia menyerang, kali ini dengan jurus - jurus ganas yang mematikan.
Kuda putih tunggangan Argadana yang tidak ingin Argadana terkena serangan ganas Mitra segera berbalik badan mengangkat kedua kaki depannya yang mengenai ulu hati Mitra dengan telak tanpa dia dapat menghindarinya.
Des. . .
"Ughh ..."
Mitra mundur lima langkah dan memegangi perutnya yang terasa mulas. Tendangan kuda putih itu sangat keras hingga membuatnya menerima luka dalam. Darah kental mengalir dari sudut bibirnya. Tapi hal itu tidak lantas membuatnya sadar bahwa orang bukanlah lawannya yang sepadan. Mitra menyerang lagi dengan ganas setelah mengeluarkan keris andalannya.
"Ada apa ini? Apa kalian tidak tahu, dilarang bertarung di sini?"
Seorang prajurit tiba - tiba datang dan menghentikan pertarungan.
Damar Sena yang merasa kesal pengawalnya dapat dikalahkan dengan mudah memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak pemuda tak dikenal itu.
__ADS_1
"Dia yang mulai duluan, prajurit. Tangkap saja anak gunung itu" kata Damar Sena menunjuk Argadana.