
Ranjani terus berlari kencang dengan nafas yang sudah tersengal. Entah sudah beberapa kali ia terjerembab jatuh karena kelelahan. Hal itu tiada difikirkannya karena gadis cantik itu sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Air mata dan titik peluh keringat membasahi pipinya.
"Bertahanlah, ayah... Aku akan mencari bantuan untuk menyelamatkan ayah dari prajurit yang berkhianat itu" kata Ranjani dalam hati.
Ranjani baru terhenti setelah tubuhnya terjatuh karena tidak kuasa lagi menahan lelah. Gadis itu jatuh pingsan.
Dari arah berlawanan terlihat empat orang yang masing - masing dari mereka menunggangi seekor kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi. Kuda - kuda tunggangan mereka mengangkat kaki depan karena terkejut melihat tubuh seorang gadis yang terbaring di jalan.
Salah satu penunggang kuda tersebut yaitu seorang gadis cantik berkulit putih turun dari kudanya dan memeriksa tubuh gadis yang terbaring di jalan tersebut yang tidak lain adalah Ranjani.
Perempuan cantik itu menoleh pada pemuda yang memimpin perjalanan mereka yaitu pemuda tampan berrambut emas yang di tengah - tengah dahinya terdapat rajah gambar pedang berwarna merah.
Dari ciri - ciri pemuda tersebut kita tentu sudah tahu bahwa itu adalah Argadana, Ksatria Lembah Neraka. Gadis cantik yang memeriksa tubuh Ranjani itu adalah Ningrum, alias Dewi Pedang Guntur. Dua kawan mereka yang lain tentu saja adalah Macao dan Jaya Ruma.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju kota raja dan berniat singgah di perkampungan terdekat untuk menangsal perut yang sudah keroncongan.
"Masih bernafas... " kata Ningrum.
"Kalau begitu kita istirahat dulu di sini. Kita terpaksa mencari makan di hutan ini. Aku akan pergi mencari ayam hutan, kalian siapkanlah api" kata Argadana pada Macao dan Jaya Ruma yang dijawab oleh keduanya dengan anggukan kepala.
***
"Ughh. . . Di mana aku?"
Ranjani terbangun dari pingsannya dan melihat - lihat di sekitarnya masih merupakan hutan yang ditumbuhi pepohonan lebat.
"Ahh. . . Kau sudah bangun, nisanak. Kemarilah, makan bersama kami" sebuah suara menegur Ranjani dari arah belakang membuat gadis cantik itu seketika menoleh ke arah suara.
Di sana dia melihat empat orang yang sama sekali asing baginya. Ranjani lalu mendekat dan duduk di samping Ningrum.
"Rupanya Nisanak dan Kisanak sekalian yang telah menolongku tadi. Saya Ranjani, terimakasih atas bantuannya" kata Ranjani.
"Tidak usah sungkan begitu. Nah, namaku Ningrum. Ini kakang Argadana" kata Ningrum memperkenalkan.
"Senang berkenalan dengan, nona Ranjani"
Ranjani hanya menundukkan kepalanya dan menjawab.
"Ahh.... Panggil nama saya saja, tuan. Supaya tidak berkesan terlalu kaku" balasnya.
"Yang ini namanya Macao, dia orang dari daerah yang sangat jauh di Eropa sana"
Begitulah Ningrum memperkenalkan ketiga kawan seperjalanannya pada Ranjani.
Macao yang seperti tersihir melihat wajah Ranjani tidak bisa memalingkan tatapan nya dari wajah ayu putri Rimang itu. Ranjani pun demikian.
Saling pandang di antara keduanya tertangkap mata awas Ningrum.
"Eheemm. . ."
__ADS_1
Suara deheman Ningrum membuat sadar Ranjani dan Macao dan sekaligus membuyarkan lamunan indah keduanya seketika itu juga.
"Jadi, bagaimana kau bisa tergeletak pingsan di tengah jalan tadi, Ranjani?"
tanya Ningrum.
"Oh.... Ayah. Ningrum, tolong ayahku.... Tolong ayahku.... "
Pertanyaan Ningrum membuat Ranjani jadi mengingat ayahnya. Dia menggoncang tubuh Ningrum dan berteriak histeris karena saking khawatirnya.
"Tenang.... Tenanglah, Ranjani"
Ningrum berusaha menenangkan Ranjani.
"Nah, sekarang katakan apa yang terjadi pada ayahmu" pinta Ningrum.
"Jadi..... "
Ranjani memceritakan tentang ia dan ayahnya yang ternyata merupakan salah satu prajurit Kadipaten Huwawey tanpa sengaja mencuri dengar percakapan sang Adipati dengan seseorang yang tidak dikenal. Dari percakapan itu Rimang mengetahui bahwa Adipati Mirida telah bersekutu dengan musuh kerajaan Datu Gumi yaitu Kerajaan Sakra dan menerima misi untuk menghancurkan pasukan Datu Gumi dari dalam nanti pada saat peperangan kedua kerajaan.
Hal itu diketahui oleh salah seorang pengawal pribadi Adipati Mirida yang segera memberi tahukan hal itu pada atasannya langsung.
Rimang langsung pulang ke rumah hari itu juga begitu mengetahui ada yang melihatnya menguping pembicaraan sang Adipati. Setelah memberitahukan pada Ranjani putrinya tentang apa yang didengarnya di gedung kadipaten tidak lama kemudian puluhan prajurit Kadipaten Huwawey sudah berada di depan rumah Rimang.
Rimang dan Ranjani melarikan diri lewat pintu belakang, namun ketahuan oleh salah seorang prajurit yang memeriksa belakang rumah saat itu juga. Akhirnya kejar - kejaran terus berlangsung sampai setengah hari lamanya...
"Ayah lalu menyuruh aku melarikan diri, sementara dia menahan para prajurit pemberontak itu"
"Aku... Aku mohon, Ningrum. Tolong bantu aku selamatkan ayahku... Hikss.... Hikss.... "
Ranjani menangis terisak membuat iba Ningrum. Ningrum menoleh pada Argadana yang dibalas dengan anggukan.
"Tunjukkan jalannya, kita akan menyelamatkan ayahmu... "
"Benarkah?"
Ranjani tampak cerah wajahnya. Ningrum hanya mengangguk dan tersenyum.
Mereka lalu segera berangkat mengendarai kuda dengan Ranjani menumpang di kuda milik Ningrum.
***
"Bangs4t, musim kemarau begini bagaimana mungkin tanah di sini begini beceknya" maki Sudra kesal.
Beberapa kali dia terpeleset jatuh dikarenakan tanah yang dipijaknya tiba - tiba jadi berair dan berlumpur.
Keanehan demi keanehan terjadi begitu kelompok Sudra menghadapi pemuda urakan ituitu mulai dari palu yang entah bagaimana tiba - tiba terjatuh dari langit menimpa kepala anggota mereka, tangan mereka yang bergerak sendiri saling menangkis serangan yang mengarah pada pemuda itu, dan bahkan tidak jarang pukulan mereka meleset mengenai teman sendiri.
"Serang terus..." kata Sudra memberi perintah pada anak buahnya yang kini hanya tersisa tinggal lima orang lagi karena yang lainnya telah berhasil dilumpuhkan oleh pemuda itu.
__ADS_1
"Tidak berguna"
Sudra semakin geram melihat serangan anak buahnya tidak ada satupun yang mengenai sasaran. Dia lalu memberi perintah untuk menggabungkan kekuatan.
"Satukan kekuatan, dan kita gempur dia dengan ilmu ajian segara geni"
Sudra dan anak buahnya yang tersisa berkumpul dan berdiri di satu tempat menghadap pemuda yang membuat mereka kesulitan.
Enam orang tersebut termasuk Sudra segera melakukan gerakan serempak menyatukan tangan di depan dada dengan posisi tangan menelungkup di atas tangan kiri menengadah. Mulut mereka berkemak - kemik membaca mantra ajian segara geni. Tidak lama kemudian kedua tangan mereke berubah warna menjadi merah dan mengepulkan asap.
Ketika ajian pamungkas tersebut hendak mereka lepaskan, warna merah dan asap yang mengepul di tangan mereka mendadak lenyap meninggalkan keheranan di antara mereka semua.
"Set4n... Aku sudah menekuni ilmu segara geni selama dua puluh tahun. Tapi baru sekarang aku mengalami hal yang begini anehnya" maki Sudra dalam hati.
Para bawahannya pun demikian membatinnya
"Bagaimana mungkin? Bisa - bisanya kami mendadak jadi lupa dengan mantra kunci segara geni"
Pemuda yang menjadi lawan mereka hanya tertawa cengengesan menyebalkan.
"Apa?? Kalian lupa bagaimana mantra ajian segara geni kalian itu?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Hahahaha. . . Kalian ternyata bukan hanya rabun, tapi juga sudah pikun. Hahahaha...." si pemuda tertawa terbahak - bahak.
***
Argadana menghentikan lari kudanya dan mengangkat tangan memberi isyarat agar yang lain berhenti. Pemuda itu menelengkan kepalanya karena mendengar suara pertarungan. Argadana berjalan terus mengendap - endap di balik semak yang tumbuh tinggi diikuti oleh Ningrum, Ranjani, Macao dan Jaya Ruma.
"Yang mana ayahmu, Ranjani?" Ningrum bertanya pada kawan barunya itu.
"Itu ayahku, yang duduk di belakang. Sepertinya pemuda itu berusaha menolong ayahku" kata Ranjani.
Mereka menyaksikan sebuah tontonan yang aneh, yaitu pertarungan yang lebih tepat jika dikatakan seperti sebuah permainan dagelan karena di sana ada beberapa orang yang mengeroyok seorang pemuda. Namun yang terjadi adalah kesialan demi kesialan menimpa para pengeroyok. Hal itu terlihat sangat lucu dalam pandangan mereka.
Dari lima orang tersebut hanya Argadana yang tampak tidak tertawa sama sekali. Dahinya berkerut melihat pertarungan aneh tersebut dan tanpa sengaja berucap
"Dewa Linglung Pemikat Nasib..."
Empat orang kawan seperjalanannya sama menatap Argadana yang terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kau kenal dengan orang itu, Kakang?" tanya Ningrum.
"Ah... Pemuda itu menggunakan ilmu yang dapat menghilangkan nasib lawannya sehingga siapapun yang berhadapan dengannya akan ditimpa kemalangan yang tiada akhir sampai lawan memutuskan untuk berhenti menyerang" Argadana menjelaskan.
"Ehh... Memang ada ilmu aneh seperti itu, Kakang?" celetuk Ranjani.
"Yahh... Ilmu itu adalah perpaduan antara ilmu kedigdayaan dan ilmu sihir. Jadi siapapun yang berhadapan dengan orang yang menguasai ilmu ajian dewa linglung pemikat nasib itu akan tertimpa kesialan - kesialan yang tiada ujungnya jika tidak segera menghentikan perlawanan"
"Oohh. . ." Ningrum, Ranjani, Macao dan Jaya Ruma hanya merespon dengan singkat karena baru kali ini mendengar ilmu yang aneh dan terdengar konyol seperti yang dijelaskan oleh Argadana.
__ADS_1
"Kakang, dari mana kau bisa mengetahui tentang ilmu aneh itu? Seingatku guru dulu tidak pernah bercerita tentang ilmu itu di lembah" tanya Ningrum penasaran.