
Tiga bulan setelah pernikahan Panglima Askar di Kerajaan Datu Gumi, Kerajaan Sampang Daru menyusul dengan pesta besar pernikahan Pangeran Danu Kusuma dengan putri dari Kerajaan Bima yaitu Putri Gandari sekaligus penobatan Pangeran Danu Kusuma sebagai Raja Kerajaan Sampang Daru yang baru.
Pangeran Danu Kusuma telah terpikat pada kecantikan putri Kerajaan Bima itu ketika dia melihat Putri Gandari maju dan berbicara untuk membela Argadana.
Karena tidak kunjung bisa melupakan gadis cantik itu akhirnya diberitahukannyalah hal itu pada sangat ayah. Tidak berselang lama Raja Kurawa lalu mengajukan pinangan terhadap Putri Gandari yang langsung diterima oleh putri cantik tersebut karena dia juga merasa telah menemukan sosok lelaki yang dicintainya.
Dalam pesta tersebut juga sekaligus diadakan pernikahan antara Argadana dengan Ningrum dan Yalina. Pernikahan itu berlangsung dengan khidmat yang dihadiri oleh banyak kaum bangsawan dan beberapa kerabat Kerajaan Sampang Daru. Tidak lupa Sepasang Pendekar Naga ikut hadir menyaksikan hari bahagia kedua murid mereka.
Pesta tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam. Karena terlalu letih melayani banyak tamu - tamu selama tiga hari Argadana bersama kedua istrinya segera masuk ke kamar begitu para tamu tersebut sudah membubarkan diri.
"Huhh... Melelahkan juga melayani banyak sekali tamu. Pesta besar memang sangat merepotkan" keluh Yalina.
"Tapi memang itu juga merupakan hal yang baik. Pesta besar itu bertujuan agar semua lapisan masyarakat mengetahui pernikahan kita" pungkas Ningrum
"Yaa... Jika pernikahan dilakukan secara sederhana dan sepi tanpa mengundang banyak tamu dikhawatirkan akan menjadi bahan gunjingan orang. Jangan sampai mereka mengira kalau pernikahan kita diadakan secara mendadak karena terjadi... Yaa.. Pokoknya begitulah..."
Argadana tidak melanjutkan kata - katanya karena yakin kedua istrinya itu mengetahui apa maksud perkataannya.
"Nahh... Kalian duduklah dulu. Ada yang ingin kuberitahukan pada kalian. Ini adalah hal yang sangat penting"
Ningrum dan Yalina menurut. Keduanya duduk di samping kiri dan kanan Argadana. Murid Sepasang Pendekar Naga itu kemudian menyentuh Rajah Pedang Merah di keningnya seraya merapalkan mantra untuk memanggil Pedang Siluman Darah.
Begitu pedan tersebut tergenggam di tangan Argadana terpancarlah pamornya yang sangat mengerikan bahkan sampai membuat tertekan Yalina dan Ningrum.
Argadana menenangkan pedang tersebut dengan menyerap semua kekuatan Pedang Siluman Darah dengan Ilmu Serat Darah agar Yalina dan Ningrum dapat menahan tekanan dari pedang itu.
Kedua istri Argadana itu masih bertanya - tanya apa maksud suami mereka mengeluarkan pedang berbahaya itu sampai mereka terkejut bukan kepalang melihat sosok wanita yang amat cantik keluar dari badan pedang yang selalu meneteskan darah itu.
Wanita tersebut berpakaian serba putih dengan rambut digelung rapi. Kulitnya putih halus bagaikan kapas.
Terlintas rasa cemburu di hati kedua wanita itu yang menyangka bahwa Dyah Ayu Pitaloka adalah wanita simpanan Argadana.
"Ibu... Perkenalkan, mereka berdua ini adalah menantu ibu. Emm... Dinda Ningrum, dinda Yalina ini adalah ibuku dan ibu kalian juga" kata Argadana memperkenalkan.
"Eh...? Ibu??" ulang Yalina dan Ningrum bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin ibu kakang Argadana masih semuda ini?" batin Yalina.
"Ibu mertua juga tampaknya memiliki kemampuan manipulasi waktu" kata Ningrum dalam hati.
Dyah Ayu Pitaloka menoleh ke arah Argadana dan kedua istrinya bergantian. Dari tubuhnya terpancar wibawa seorang bangsawan tingkat tinggi.
"Putraku ternyata sudah dewasa dan pandai memilih wanita. Tetapi nak, kau harus berbuat adil terhadap kedua istrimu dan ingat - ingatlah bahwa mereka berdua berada dalam jaminanmu. Jangan pernah sekalipun kau menyakiti hati istrimu"
"Baik, ibu. Ananda akan mengingat petuah ibu"
"Nah... Untuk kalian para menantuku. Selama ini kalian hanya tahu bahwa suami kalian itu adalah putra Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya. Ketahuilah... Bahwa Argadana adalah raja dari sebuah kerajaan yang jauh di sana. Jadi suami kalian bukan hanya milik kalian sendiri saja. Dia adalah juga milik rakyatnya. Jadi aku ingin agar kalian dapat memaklumi jika nantinya waktunya juga akan banyak tersita untuk rakyat kerajaannya" kata Dyah Ayu Pitaloka panjang lebar.
"Emm... Ma... Maaf, ibu. Apakah nama kerajaan yang dipimpin oleh kakang Argadana?"
"Hm... Hal itu nanti suami kalian yang akan menjelaskannya. Oh ya... Nak, menurut pesan gurumu, lima bulan yang akan datang adalah hari keberangkatanmu menuju Negeri Matahari Terbit. Meskipun itu hanya merupakan sebuah perjalanan untuk mewakili guru kalian, tetapi aku memiliki firasat bahwa sesuatu yang besar akan terjadi di negeri itu. Untuk berjaga - jaga aku telah mengirim pesan ke kerajaan agar mereka mengutus seorang pengawal. Nantinya pengawal itu akan bertugas menjadi kusir Kereta Hantu"
"Ehh... Ta... Tapi ibu..."
"Sudah... Ibu tahu kau ingin tetap terlihat seperti orang biasa. Tapi di sana itu tidak sama dengan daerah di sini. Sudahlah... Nanti juga kau akan mengerti jika sudah sampai di sana"
Kehebatan kereta pusaka tersebut terdapat pada kemampuannya yang dapat membelah ruang. Kereta itu didesain khusus oleh pembuat senjata terbaik di Kerajaan tersebut untuk digunakan bepergian jauh.
"Nah... Kalian sebaiknya mempersiapkan diri kalian baik - baik. Nak... Setelah dua bulan ajak mereka ke Kerajaan agar mereka terbiasa membaur dengan rakyat di sana. Jika kau ada waktu senggang, ajari kedua istrimu Ilmu Pukulan Api Salju. Kelak itu akan berguna untuk mereka berdua"
"Baik, ibu.."
Setelah dua bulan menikah Argadana memboyong kedua istrinya menuju Kerajaan Siluman darah setelah menjelaskan tentang identitasnya yang sesungguhnya kepada seluruh keluarga Kerajaan Sampang Daru tentunya.
Argadana dijemput dengan menggunakan kereta berlapis emas yang di kiri dan kanannya tampak sebatang bambu kecil. Entah apa fungsinya bambu kecil itu tidak ada yang tahu. Tidak ada pengawal, hanya ada seorang kusir yang mengendarai keretanya.
Begitu kereta emas memasuki gerbang istana Kerajaan Sampang Daru semua orang termasuk banglima besar Kerajaan Sampang Daru yang merupakan orang terkuat setelah Ningrum merasakan aura yang sangat menekan dari tubuh kusir kereta tersebut. Hal itu membuat bulu kuduknya meremang merinding.
Ternyata kusir kereta itu tidak lain adalah Jendral Thalaba yang kekuatannya setara dengan Pendekar Cambuk Naga. Hal itu dilakukan oleh pihak Kerajaan Siluman Darah dengan tujuan untuk menunjukkan seberapa besar kekuatan Kerajaan Siluman Darah. Dengan demikian di masa depan tidak akan ada lagi yang berani meremehkan raja mereka, Argadana.
"Hiiihh... Baru kusir kudanya saja sudah membuat tubuhku bergetar ketakutan. Ini pertama kalinya aku merasakan ketakutan yang sangat besar hanya dengan menatap mata orang saja. Seberapa besar sebenarnya kekuatan Kerajaan yang dipimpin tuan Argadana ini?" batin Panglima Guntara dengan lutut gemetar.
__ADS_1
"Ayah... Adik ipar selama ini menyembunyikan identitasnya. Dia ternyata adalah sosok seorang raja. Bahkan kusir keretanya saja sudah sekuat itu, entah seberapa besar kekuatan tempur pasukannya" bisik Danu Kusuma yang kini telah menjadi Raja Kerajaan Sampang Daru.
"Benar, anakku. Entah seberapa yakin Panglima Guntara bisa menang jika bertarung melawan kusir kuda itu?" kata Raja Kurawa.
"Mohon ampun, yang mulia. Hamba tidak punya keyakinan sedikitpun untuk bisa melawannya. Hamba baru melihatnya saja, tubuh hamba tidak bisa berhenti bergetar sampai sekarang" jawab Panglima Besar Guntara menundukkan wajah menahan malu.
"Yahh... Sudah kuduga. Orang itu mungkin sekuat para pendekar tua dunia persilatan" kata Raja Kurawa menatap ke arah Argadana dan Yalina bersama Ningrum yang mendekat ke arahnya"
"Ayah... Kami berangkat dulu. Kalau ada waktu senggang kami akan sering - sering datang kemari. Ayah jaga kesehatan baik - baik" kata Argadana berpamitan.
"Ahh... Walaupun aku tahu tidak akan ada yang berani mengganggu kalian di jalan, tapi aku tetap akan berpesan agar kalian berhati - hatilah di jalan nak. Aku doakan semoga kalian selalu dalam keadaan baik - baik saja dan jangan lupa. Sebelum nanti kalian berangkat ke Negeri Matahari Terbit singgahlah kemari"
"Baik, ayah... Kakang Danu Kusuma juga jaga diri baik - baik. Rakyat Sampang Daru juga masih tetap bergantung pada rajanya, dan itu merupakan tanggung jawab yang besar" kata Ningrum sebelum pergi dijawab dengan anggukan oleh Raja Danu Kusuma.
Mereka bertiga kemudian menaiki Kereta Hantu yang tampak sangat mewah itu.
"Kita berangkat, paman...!!!"
"Baik, yang mulia"
Para petinggi Kerajaan Sampang Daru telah berbaris di jalan menuju gerbang dengan wajah ramah. Namun tetap tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya melihat kusir kereta yang menjemput Argadana. Mereka bagaikan anak ayam menatap elang terbang.
Sebagian besar rakyat Kerajaan Sampang Daru berbaris rapi di depan gerbang mengucapkan selamat jalan pada putri kerajaan mereka dengan lambaian tangan.
Setelah menjauh dari keramaian tepatnya memasuki jalan setapak yang sangat sunyi, kereta hantu itu tiba - tiba saja menghilang bagai lenyap di telan bumi.
Season pertama: Misi Ratusan Tahun Raja Siluman Darah *telah selesai.
Temen² semuanya saya mohon maaf yah kalo menjelang akhir season ini saya banyak telatnya update. Itu krna saya lgi sibuk ngejar target besar yg di ksi dari kantor tmpat sy kerja. Dan alhamdulillah meskipun gk sampe kelar tpi setidaknya bisa ngurangin beban bulan September ini.
Dengan bgitu libur seminggunya batal, dan In sya Allah bakal tetap update. Tapi tergantung sikon yak...
Oke gitu aja...
Jadi semoga kita tetap terjaga kesehatannya di musim - musim maraknya berbagai macam penyakit saat ini. Aamiin...
__ADS_1
Sampai Jumpa Lagi di Season 2: Serial Pengelana Pedang Darah.