
Akhirnya setelah mencari sekian lama, mereka mendapatkan titik terang pelaku dari pembunuhan terhadap sang kakek yang ternyata dilakukan oleh tujuh orang berilmu tinggi. Mereka berdua lalu membunuh ketujuh orang tersebut demi memenuhi sumpah mereka untuk menuntut balas.
Tiga tahun setelah Surasena dan Nila Sari menuntaskan balas dendam mereka, kawan kerabat dari tujuh orang yang telah mereka habisi tersebut datang dan menuntut balas. Tetapi dengan Ilmu Silat Dewa Naga ajaran sang kakek, semua pengeroyokpun terbunuh.
Saat itulah mereka sadar bahwa mereka telah terbawa nafsu dendam yang secara perlahan menyeret mereka kedalam jurang balas membalas yang tak ada ujungnya.
Mereka teringat akan pesan sang kakek sebelum wafatnya, yaitu agar mereka mencari Sang Pembawa Kebenaran. Pendekar Sejoli Pembunuh Naga lalu melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mencari Sang Pembawa Kebenaran yang dimaksud sang kakek. Mereka bertanya kepada semua orang - orang yang termasuk pendekar aliran putih. Tetapi setiap orang - orang yang dinamakan aliran putih itu mereka temui, bukan jawaban yang mereka dapatkan melainkan justru acungan pedang dan tombak. Kehadiran mereka tidak diterima karena difonis terlalu banyak melakukan kejahatan. Akhirnya mereka berdua pasrah dengan takdir yang mereka jalani, yaitu menjadi tokoh aliran hitam sampai Sang Pembawa Kebenaran datang sendiri dan mengakhiri kesesatan mereka.
***
"Bagitulah yang dikatakan kakek pada kami. Kakek kami, selama hidupnya tidak pernah berbohong, kami sangat mempercayainya. Jadi kami yakin, kaulah Sang Pembawa Kebenaran yang dikatakan kakek karena merupakan orang pertama yang mengalahkan kami sebelum kami mencapai puncak kekuatan kami" kata Surasena menutup ceritanya.
Argadana menengadahkan kepalanya sejenak seperti orang berfikir. Tidak lama kemudian pandangannya kembali di arahkan pada Surasena dan Nila Sari yang sudah takluk kepadanya.
"Kita berada di jalur yang bersebrangan. Kalian membela Sakra, sementara aku harus membela Datu Gumi untuk melindungi ayahku yang kerap kali menjadi incaran para pembunuh bayaran yang dikirim oleh Sakra. Kalian akan kesulitan membuat pilihan karena hal ini"
"Emm.... Sebenarnya kami bergabung dengan Kerajaan Sakra itu karena kami pernah mengalami mimpi yang sama. Di dalam mimpi itu kami bertemu kakek, dan kakek mengatakan bahwa dengan kami bergabung dalam Kerajaan Sakra kami akan lebih mudah bertemu Sang Pembawa Kebenaran. Karena itu kami ikut bergabung, jadi kami yakin kaulah Sang Pembawa Kebenaran yang dikatakan kakek" kata Nila Sari tanpa ragu.
"Aku tidak dapat memberi kalian upah yang memuaskan seperti Kerajaan Sakra. Apa kalian tidak masalah dengan hal itu?" tanya Argadana menegaskan.
"Selama ini tidak pernah ada orang - orang aliran putih yang mau menerima kehadiran kami. Mereka justru dipenuhi niat untuk membunuh kami, sehingga untuk melindungi diri kami pun membunuh mereka. Jadi jika hari ini ad orang yang mau menerima kami, maka kami akan mengikutinya tanpa banyak menuntut selagi kami mendapat ajaran kebaikan yang dimaksud kakek"
__ADS_1
Argadana menoleh kepada Widura dan tiga kawannya. Pemuda sakti itu kemudian berkata dengan nada lantang menggetarkan hati.
"Sebarkan kata - kataku ke seluruh penjuru dunia persilatan. Katakan bahwa Sepasang Pendekar Sejoli Pembunuh Naga telah tewas terbunuh oleh Ksatria Lembah Neraka. Mereka meninggal dunia dengan membawa kehormatannya sebagai seorang pendekar sejati"
"Baik, ketua"
Keempat pengawal Argadana itu lalu berpencar ke empat penjuru menjalankan perintahnya.
Argadana mengalihkan pandangannya pada Surasena dan Nila Sari. Ekspresi wajahnya tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Sementara Ningrum di sampingnya hanya diam saja tanpa berbicara sepatah katapun karena tahu bahwa tunangannya sedang dalam keadaan serius.
"Kalian berdua. Nama Pendekar Sejoli Pembunuh Naga yang sarat akan kejahatannya telah aku musnahkan. Mulai hari ini gelar kependekaran kalian berubah. Gelar kalian adalah Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam. Apakah kalian menerimanya?"
"Kami dengan senang hati ikhlas menerimanya, tuanku" jawab Surasena dan Nila Sari tertunduk dengan air mata berlinang.
"Hei... Apa - apaan kalian ini. Panggil saja aku dengan namaku, Argadana. Lekas, bangunlah. Pendekar Sejoli Pembunuh Naga sudah tiada. Ksatria Lembah Neraka telah membunuh kejahatannya, jadi yang ada di hadapan ku sekarang adalah Pendekar Suci dari Lembah Hitam. Kalian akan memulai lembaran baru sebagai orang baik, jadi gelar kalian sengaja aku ganti agar memudahkan kalian dalam berbuat kebaikan sebab gelar kalian yang lama hanya akan menjadi penghambat"
Kata - kata Argadana itu sangat mengenai di hati Surasena.
"Dia menghapus nama gelar yang melambangkan kejahatan kami, lalu menggantinya dengan gelar baru yang lebih baik. Dia sengaja menekankan gelar Pendekar Suci untuk melambangkan perjalanan kami dalam lembaran baru sebagai orang baik - baik. Kakek ternyata benar, Sang Pembawa Kebenaran itu orang yang mau menerima kami meskipun tahu kejahatan kami"
"Tuan... Kam... " belum selesai Surasena berkata, Argadana telah memotongnya lebih dulu.
__ADS_1
"Heii... Aku kan sudah bilang, aku bukan tuanmu. Ayo, panggil namaku saja. Kau bahkan lebih tua dariku" kata Argadana.
"Ehh... Itu sangat sulit, tuan. Menurut pesan kakek, kami harus menjadikan Sang Pembawa Kebenaran sebagai tuan kami.. Jadi.. "
"Aku bahkan belum tentu merupakan Sang Pembawa Kebenaran yang dimaksud kakek kalian. Mana bisa aku jadi tuan kalian?" potong Argadana lagi.
"Maafkan kami, tuan. Kami mempercayai kata - kata kakek. Jadi kami akan tetap memanggil tuan" kata Nila Sari bersikeras.
"Haiss.... Kalian ini.... Baiklah, baiklah... Terserah kalian saja" kata Argadana pasrah.
"Terimakasih, telah menghargai prinsip kami tuan" kata Surasena.
"Ya.. Ya... Sekarang aku ada dua tawaran untuk kalian. Terserah kalian mau pilih yang mana. Mau terus ikut bersamaku, atau kalian mau bergabung dengan Perguruan Anak Nagaku?"
Surasena dan Nila Sari mengerutkan dahi mereka mendengar nama perguruan yang baru - baru ini menyebar di kalangan dunia persilatan yang mengatakan bahwa Anak Naga itu adalah nama asli perguruan misterius yang biasa disebut Perguruan Siluman.
"Em... Tuan, apakah benar berita yang kami dapatkan bahasa Perguruan Anak Naga itu adalah nama asli dari Perguruan Siluman?" tanya Nila Sari ragu - ragu.
"Ya, benar. Aku sekarang ketua Perguruan Anak Naga. Jadi bagaimana? Apa kalian mau bergabung dengan perguruan atau tetap mau ikut denganku? Dengan kalian mengikuti perjalanan ku, maka kalian akan menghadapi bahaya yang sama denganku"
Surasena dan Nila Sari yang kini telah berganti gelar menjadi Sepasang Pendekar Suci dari Lembah Hitam tampak berpikir beberapa saat sebelum saling bertatapan dan mengangguk bersama.
__ADS_1
"Setelah kami pertimbangkan baik - baik, kami berdua lebih memilih untuk ikut bersama tuan" kata Surasena mewakili.