
Liu Tong terdiam seribu bahasa mendengar keluh kesah Ling Yun. Ia tak bisa berkata apa - apa karena perkataan Ling Yun memang benar adanya. Tanpa sadar air mata pun menetes jatuh di lengan baju Liu Tong yang telah robek dibanyak tempat.
"Kau fikir kehidupan yang aku jalani selama tujuh tahun ini ada baik - baik saja? Kau seenaknya menghilang setelah menghancurkan hari - hariku, menghancurkan hati Xiang-Moy?* Kami harus berpindah - pindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena Bao Yixuemu memburu kami demi senjata rahasia guru yang kami berdua sama sekali tidak tahu menahu tentang senjata itu. Apa maksud dari semua ini, Liu Tong???" (Xiang-Moy itu maksudnya adik Xiang yak. Jadi ceritanya itu panggilan kesayangan)
Seisi hutan bergetar oleh suara teriakan bertenaga dalam tinggi yang dikerahkan Ling Yun. Bahkan sampai Argadana dan anggota perguruan yang bersembunyi di tempat yang cukup jauh juga cukup terperanjat karenanya.
"Haha.... Hahaha...." Liu Tong menanggapi pertanyaan Ling Yun dengan tawa keras.
"Kau sungguh cerdas, adikku. Tapi ini adalah perintah yang harus aku patuhi. Aku tidak bisa memberitahumu. Untuk hal ini aku juga sudah siap meski harus mati di tanganmu. Walau kau sudah sangat kuat untuk saat ini, kekuatanmu seorang masih terlalu lemah untuk mengetahuinya. Jangan lagi memikirkan soal senjata rahasia guru itu. Semuanya akan terkuak saat waktunya tiba. Segera selesaikan baktimu pada guru, adikku. Bunuh aku sesuai dengan sumpah dendammu, maka suatu saat kelak kau akan menemukan sendiri jawaban yang kau cari - cari saat ini" Liu Tong membungkukkan badan dalam keadaan berlututnya.
Jawaban Liu Tong membuat Ling Yun mengerti kesulitan yang mereka alami jauh berbeda.
__ADS_1
"Baik... Kau bahkan sampai memasrahkan nyawamu demi menjunjung tinggi perintah guru. Sedangkan aku hanya bisa melewati banyak tahun ini dengan membencimu setiap harinya. Tapi rencana yang kalian susun membuatku sangat hancur. Aku tidak akan membunuhmu, aku akan mencari sendiri jawaban yang aku inginkan" Ling Yun berbalik hendak pergi namun tangan Liu Tong mencengkram erat kakinya.
"Jangan pergi... Bunuh... Bunuh aku, adikku." Suara Liu Tong terdengar memelas meminta kematiannya sendiri.
Ling Yun berbalik badan dan melihat kakak seperguruannya itu tersenyum pedih.
"Dia terpaksa melakukan sesuatu yang tak pernah dia inginkan bahkan di dalam mimpi sekalipun. Dia pasti merasakan tekanan yang lebih berat dariku selama bertahun - tahun ini" kata Ling Yun di dalam hati.
"Kau....!!! Kau tidak bisa menolak takdir ini, adikku. Lagipula, sejak awal kematianku ini sudah merupakan bagian dari rencana guru. Jika tidak kau bunuh aku hari ini semua yang sudah direncanakan guru akan hancur. Dan guru tidak akan bisa tenang di alam sana karenamu" balas Liu Tong sesenggukan.
Ling Yun yang hampir beranjak dari puncak gunung seketika menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu memaksa maka aku akan melakukannya, demi menyempurnakan rencana guru. Aku akan membunuhmu sekarang juga, semoga pilihan ini menjadi pilihan terbaik untuk semuanya." jawab Ling Yun setelah mengeraskan hatinya.
Ling Yun mengangkat tinggi Tombak Pemburu Arwah yang memancarkan cahaya berwarna hijau. Saat itu Ling Yun dan Liu Tong sama - sama memejamkan mata.
"Demi rencana guru aku akan mengakhiri penderitaanmu selama tujuh tahun ini, kakak" kata Ling Yun yang mulai meneteskan airmata.
"Kau tenanglah, adikku. Kematianku ini hanyalah awal dari kehidupan barumu. Percayalah, kau tidak melalui tujuh tahun yang penuh penderitaan seorang diri. Dalam tujuh tahun ini tidak sekejappun aku lewati tanpa rasa sedih setelah membunuh guru. Aku sudah menantikan kematian ini sejak tujuh tahun yang lalu, adikku. Aku merasa bahagia mati membawa kebanggaanku." ucap Liu Tong tersenyum lemah.
"Jika ada kehidupan kedua setelah kematian di dunia ini, aku ingin kembali menjadi adikmu. Tapi tidak dalam keadaan terjebak oleh takdir. Aku ingin membentuk sendiri takdirku, suatu saat nanti...!!! Apapun yang akan terjadi ke depannya, kau akan selalu menjadi kakakku"
Setelah berkata demikian Ling Yun menghujamkan Tombak Pemburu Arwah ke dada Liu Tong.
__ADS_1
"Tunggulah, guru. Aku akan segera menyusulmu" kata Liu Tong mendongak memandangi dengan senyum bangga ujung mata tombak yang tinggal sejengkal lagi akan menembus jantungnya.