
Dua puluh lima makhluk aneh berambut awut - awutan membangun dua lapis lingkaran yang mengepung Argadana.
Argadana hanya memperhatikan barisan itu dengan tenang. Tiba - tiba salah satu dari dua puluh lima makhluk alam lelembut itu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan bagian dalam ke kiri sedangkan bagian sebelah luar berputar ke kanan. Putaran itu pada awalnya pelan - pelan saja namun lama kelamaan semakin cepat dan hanya tampak seperti bayangan saja ditambah lagi dengan suasana malam yang amat gelap sedikit menyulitkan Argadana untuk mencari celah kelemahan barisan tersebut.
Sambil berputar - putar para makhluk pengepung itu tidak hentinya mengeluarkan suara teriakan melengking nyaring. Putaran cepat dan suara pekikan itu membuat kacau fikiran Argadana yang lambat laun penglihatannya jadi sedikit berkunang - kunang. Untuk beberapa saat lamanya dia cukup tertegun tanpa menyadari kalau dua barisan itu perlahan - lahan mulai menciut mendekatinya.
Pimpinan makhluk lelembut yang melihat lawan mulai terpengaruh dengan barisan berlapis segera keluarkan bentakan nyaring dan mengayunkan tongkatnya dari atas ke bawah berusaha meretakkan kepala Argadana.
Argadana tertegun merasakan angin sambaran mengarah kepalanya. Cepat - cepat ia menggeser kakinya ke depan, lalu membalikkan badan sehingga serangan tongkat hanya lewat sejengkal dari kepalanya.
"Hmm... Kalian sungguh jujur dalam bertarung. Sudahlah mengeroyok, menyerang dari belakang pula" gumamnya seperti orang hilang ingatan. Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas tongkat lawan namun sebentar lagi tujuannya terlaksana dua batang tongkat dari samping menderu menyerang kedua tangannya.
"Setan...!!!" Maki Argadana. Dia terpaksa menarik pulang serangannya lalu mengayunkan kakinya membabat beberapa makhluk lelembut di depannya.
Anehnya... Mereka yang diserang dengan tendangan kaki tidak mengelak ataupun menangkis. Akan tetapi dari belakang menyeruak kawan - kawan mereka dari barisan luar menahan tendangan Argadana. Sejurus kemudian dua belas pengepung di bagian depan menyodokkan tongkat menyerang dua belas bagian tubuh Argadana.
Sementara itu pemimpin makhluk lelembut itu tampak melayang di udara mengayunkan kembali tongkatnya mengincar kepala.
Raja Teluh berdiri menonton sambil tersenyum senang melihat para makhluk lelembut peliharaannya sebentar lagi akan meremukkan batok kepala Argadana. Dia menanti suara teriakan Argadana yang kepalanya rengkah akibat serangan anak buahnya dengan bangga. Akan tetapi hal yang diharapkannya tidak kunjung muncul.
Dengan gerakan cepat yang tiada terlihat mata tiba - tiba Argadana telah berada di luar kepungan anak buah Raja Teluh, berdiri dengan tenang.
"Apa kau masih bersikeras tidak juga mau bicara?" kata Argadana sarat akan ancaman.
"Anak muda sombong. Ajal sudah di depan hidung masih juga banyak bicara!!! Anak - anak, serang dengan Barisan Dewa Gunung!!!" teriak Raja Teluh memberi perintah.
Tubuh Argadana menghilang dan mendadak terdengar suara tawa menggelegar menegangkan bulu kuduk.
"Kalian tidak mengenali raja kalian sendiri dan malah menyerang dengan niat membunuh. Pahamilah hukuman atas tindakan kalian!!!" Suara Argadana bergema di seantero hutan kecil buatan Raja Teluh itu.
Begitu suara Argadana berhenti tubuhnya telah kembali berada di tempat semula namun kali ini rajah pedang di dahinya melebar memancarkan aura tekanan yang sangat kuat. Rambut emasnya berdiri tegang memendarkan cahaya kuning menyilaukan.
Hal itu menandakan kemarahan yang tidak terbendung. Ya... Argadana marah. Bukan karena dikeroyok secara pengecut. Tapi marah karena orang tidak menyerangnya tanpa memberi alasan, dan malah memanfaatkan makhluk lain untuk menyelamatkan nyawa. Marah terhadap bangsa lelembut itu yang menyerang dirinya yang merupakan Raja tertinggi bangsa lelembut.
Darah siluman yang mengalir di tubuhnya bergolak hebat tak terkendali. Sinar merah dari rajah pedang menyebar menyelimuti sekujur tubuh Raja Siluman Darah itu.
__ADS_1
Tekanan tersebut membuat degup jantung Raja Teluh berdebar kencang. Bulu tengkuknya meremang ngeri. Tak dapat dijelaskan apa yang dirasakannya saat itu hanya dengan kata - kata. Raja Teluh terlalu takut hingga tubuhnya tak dapat digerakkan.
Tubuh dua puluh lima makhluk suruhan Raja Teluh bergetar hebat bukan main. Mereka lalu menjatuhkan lutut mereka dan menundukkan kepala dengan keringat dingin bercucuran.
"Dengarkan dekrit Raja Siluman Darah...!!! Dua puluh lima terdakwa... Menyerang Raja Kerajaan Siluman Darah... Aku adalah hukum... Aku adalah Raja Siluman Darah... Aku menjatuhi kalian hukuman mati...!!!" teriak Argadana menggeledek dengan mata berubah merah.
Sepasang Pedang Darah...!!!
Begitu Argadana berkedip dua buah cahaya berwarna merah kehitaman keluar dari kedua matanya yang telah memerah karena darah silumannya telah mengalir mencapai kedua bola matanya.
"Duarr....!!!" Sebuah ledakan keras terjadi ketika sepasang cahaya merah kehitaman itu menghantam ke depan melabrak dua puluh lima makhluk lelembut yang berteriak menyayat hati. Ledakan tersebut memercikkan api yang melebar sampai membakar setengah dari hutan kecil itu termasuk gubuk tua tempat tinggal Raja Teluh.
Tubuh Argadana kembali tenang. Rambutnya yang tadi berdiri tegang memendarkan cahaya juga telah kembali seperti semula termasuk warna matanya yang tadi merah kini telah kembali ke warna semula.
"Ilmu dasar yang diwariskan paman Kamandaka sangat mengerikan. Padahal aku hanya ingin memusnahkan para makhluk lelembut itu, tapi aku malah merusak separuh hutan. Ilmu ini sungguh tidak ramah lingkungan" batin Argadana menyesal.
Raja Teluh menyaksikan kejadian itu dengan hati bergetar. Ia berusaha menguatkan hatinya bersikeras ingin melawan Argadana. Raja Teluh mengeluarkan Pedang Bunga Bangkai yang sejak tadi tersampir di balik punggungnya.
Cahaya kuning berkiblat menerangi malam yang gelap tersebut begitu Pedang Bunga Bangkai tercerabut dari sarungnya. Raja Teluh menerjang ke arah Argadana dibareni Jurus Getaran Sukma yang amat cepat dan berubah - ubah arah sasarannya sehingga sulit diikuti mata. Serangan tersebut hampir saja menanggalkan kepala Argadana jika tidak cepat - cepat menghindar dengan membanting tubuh ke tanah dan bergulingan menjauh.
Raja Teluh berdiri tegak dengan Pedang Bunga Bangkai tersilang di depan dada. Matanya menatap tajam dengan bibir terkatup rapat. Nyalinya kini terangkat kembali setelah melihat Argadana sedikit kerepotan melayani jurus pedang yang dilancarkannya barusan. Sedikit demi sedikit keberaniannya mulai tumbuh kembali untuk melawan Argadana dengan jurus - jurus yang lebih hebat.
"Hooo....!!! Kau rupanya takut mati juga, anak muda. Kenapa tidak kau keluarkan saja cambuk andalanmu. Hehehe...!!!"
Argadana terperanjat kaget lawan mengetahui dia memiliki senjata pusaka berupa cambuk, Cambuk Raja Naga.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku punya senjata berupa cambuk?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Raja Teluh hanya menyeringai seram.
"Hehehe... Kau penasaran? Kalau begitu kau boleh membawa rasa penasaranmu itu ke neraka" Raja Teluh menerjang cepat dengan Pedang Bunga Bangkai.
Jurus Pedang Penebar Bangkai...!!!
Putaran pedang Raja Teluh membawa kesiur angin kencang berbau amat busuk membuat konsentrasi Argadana sedikit terganggu.
__ADS_1
Puluhan jurus berlalu, tanpa terasa fajar sudah mulai menyingsing. Ayam jantan mulai berkokok nyaring menandakan pagi sudah dekat.
Pada suatu kesempatan Raja Teluh yang melihat sedikit celah terbuka dalam pertahanan Argadana menebas datar bagian leher. Argadana tentu tidak ingin lehernya terlepas. Tubuhnya tiba - tiba saja limbung dan hampir jatuh tapi hal itu menyelamatkannya dari resiko kehilangan batang leher.
Raja Teluh yang mengira tubuh limbung Argadana itu diakibatkan oleh uap beracun yang sudah dihirupnya melalui Pedang Bunga Bangkai tersenyum lebar. Dia menambah tempo serangannya dengan meningkatkan kekuatan dan kecepatannya.
"Matilah, anak muda...!!!"
Tubuh Raja Teluh menghilang dari pandangan Argadana muncul secara tiba - tiba di depan Argadana melakukan tusukan secepat kilat ke arah dada kiri.
Tidak sempat menghindar Argadana menggerakkan tangan kiri menjepit Pedang Bunga Bangkai. Maka gagallah serangan Raja Teluh. Tetapi anehnya raut wajah Raja Teluh sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan atau keterkejutan sama sekali. Dia hanya tersenyum licik.
"Kau terlalu berani, anak muda. Apa kau tahu Pedang Bunga Bangkaiku mengandung racun yang asal kau sentuh saja akan dapat membunuhmu dalam hitungan detik?"
"Hmm...??? Tapi nyatanya aku sampai sekarang masih hidup dan baik - baik saja" balas Argadana tersenyum.
Wajah Raja Teluh berubah. Tahukah dia kini bahwa lawan memiliki ilmu tingkat tinggi dan tubuhnya kebal terhadap racun bunga bangkai di badan pedang pusakanya.
"Aku harus menggunakan jurus andalan untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat" Raja Teluh coba menarik kembali pedangnya tetapi jari - jari tangan Argadana bagai jepitan baja. Tarikan Raja Teluh dengan tenaga dalam penuh sama sekali tidak menggoyahkan jari tangan Argadana tapi justru sekarang tenaga dalamnya terasa bagai tersedot dengan cepat.
Argadana menggunakan Ajian Serat Darah menyerap tenaga dalam Raja Teluh dengan cepat.
Raja Teluh yang menjadi panik mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan diri namun gagal. Tenaganya terus tersedot.
"Aaahhkkk....!!!"
Raja Teluh berkelojotan karena tenaga dalamnya terus terkuras hampir separuhnya.
Setelah tenaga dalam Raja Teluh hanya tersisa tinggal seperempatnya saja Argadana mendupak perutnya hingga terjungkal muntah darah.
Takdir Mutlak: Jalan Darah Terbalik...!!!
Argadana menangkupkan kedua tangannya di depan dada mengerahkan tingkat terakhir dari jurus pengendali darah.
"Aahhh... Apa yang kau lakukan, anak muda? Lepaskan aku...mari kita bertarung seribu jurus" Tubuh aja Teluh kejang - kejang karena jalan darahnya mengalir terbalik menjadikan rasa sakit yang tak tertahankan.
__ADS_1
"Jawab pertanyaanku dan kau akan terbebas. Siapa yang membayarmu untuk membunuhku, dan darimana kau tahu kalau aku memiliki pusaka cambuk raja naga?"