
"Ughh.... Di mana aku? Tempat ini sangat aneh" kata Argadana menggoyang - goyangkan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
Seingatnya dia tadi sedang terlibat pertarungan yang cukup sengit dengan Naga Sejati atau si Naga Iblis yang berhasil dibunuhnya dengan jurus rahasia. Setelah itu dia merasa pusing dan penglihatannya gelap...
"Kau saat ini sedang berada di alam bawah sadarnya, nak" terdengar suara seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berpakaian serba merah.
Tubuh orang itu senantiasa memancarkan isnar merah mencekam dan amat terang menyilaukan mata memaksa Argadana untuk menutup kedua mata dengan telapak tangan kirinya.
"Oh... Jadi ini berada di alam bawah sadarku" kata Argadana singkat.
"Benar..."
Argadana manggut - manggut tanda mengerti tetapi kemudian wajahnya tiba - tiba terlihat serius.
"Ehh...!! **.. Tapi.. Siapa tuan? Dan kenapa tuan bisa berada di alam bawah sadarku? tanya Argadana lagi dengan mimik penasaran.
Lelaki tersebut tersenyum ringan menatap Argadana dengan tatapan lembut.
"Aku adalah wujud sejati Pedang Siluman Darah yang kau miliki" jawabnya pelan.
"Ja... Jadi... Tuan adalah Kamandaka pengawal kakek, dan majikan sembilan Naga?"
Argadana hampir tersedak ludahnya mendengar penjelasan pria itu.
"Itu benar adanya. Aku adalah Kamandaka. Kau pingsan tadi karena aku sengaja menarik jiwamu menuju alam bawah sadarmu untuk memberikan warisan terakhir yang diamanatkan tuan Mahardika Pradana"
Argadana mengerenyitkan dahi demi mendengar ucapan Kamandaka itu. Warisan apa lagi maksudnya ini? Begitulah setidaknya kata hati Argadana menebak - nebak.
"Aku menguasai ilmu tingkat tinggi dari sebuah kitab yang bernama Kitab Raga Semesta. Ilmu ini tidak mengajarkan jurus - jurus pertarungan melainkan sebuah petunjuk pengolahan tubuh yang memungkinkan seluruh tubuh penggunanya dapat dijadikan senjata yang lebih hebat dari senjata pusaka sekalipun"
Kamandaka berhenti sebentar untuk melihat respon yang diberikan Argadana.
"Ilmu yang memungkinkan seluruh bagian tubuh menjadi senjata pusaka yang melebihi seluruh senjata pusaka? Aku baru mendengar ada ilmu yang seperti itu. Kedengarannya lebih hebat dari Ilmu Muara Darah" batin Argadana termenung.
"Kitab Raga Semesta itu awalnya merupakan kitab pusaka yang didapatkan tuan Mahardika Pradana di dalam Gua Iblis Hitam. Tetapi Kitab itu diberikan beliau kepadaku dengan pesan agar aku menyerahkannya kepada cucunya setelah cucunya berhasil menggunakan Jurus Rahasia Pembunuh Naga sebanyak dua kali. Jadi karena kau telah menggunakan jurus itu sebanyak dua kali, maka sudah saatnya Ilmu Raga Semesta aku wariskan kepadamu"
__ADS_1
Kamandaka perlahan maju mendekati Argadana lalu menyentuh keningnya tepat di bagian yang terdapat gambar rajah pedang merah hingga rajah pedang tersebut bersinar sangat terang.
"Ilmu ini jika kau gunakan untuk kejahatan maka akan menelan dirimu sendiri"
Setelah berkata demikian Kamandaka lalu kembali bersila di tempatnya semula mengambil sikap semedi.
Sementara itu Argadana masih menyesuaikan diri dengan semua ingatan tentang Ilmu Raga Semesta yang baru saja diberikan Kamandaka padanya. Dengan demikian itu juga berarti Kamandaka secara tidak langsung telah menjadi gurunya.
Setelah selesai menyerap semua ingatan yang dikirimkan Kamandaka Argadana lalu menekuk lutut dan menangkupkan kedua tangannya di hadapan Kamandaka.
"Terimalah salam sembah murid ini, guru...!!!"
"Ah... Tidak, tidak... Kau tidak bisa menjadi muridku. Itu karena kau memiliki status yang lebih tinggi dariku. Lagipula ilmu itu pada awalnya adalah memang seharusnya menjadi milik leluhurmu. Itu hanya berarti satu hal, yaitu aku mengembalikan sesuatu yang memang sudah menjadi hakmu" kata Kamandaka lembut.
Dia lalu melanjutkan.
"Nah... Tugasku telah selesai. Dan sisa jiwaku sudah mulai memudar. Aku harap kau dapat menggenggam teguh prinsipmu sebagai seorang Ksatria Lembah Neraka yang tidak pernah berkompromi dengan kejahatan. Teruslah hidup, tuan muda...!!!"
Menjelang akhir dari kata - katanya tubuh Kamandaka mulai terpecah menjadi cahaya - cahaya bening lalu melebur jadi embun sebelum kemudian menghilang sepenuhnya dari pandangan Argadana. Setelah itu pandangan Argadana kembali menjadi gelap.
Argadana melihat sebentar ke arah Muara yang tercipta dari hempasan yang tercipta akibat jurus rahasianya.
"Ini bukanlah pertarungan untuk membunuhmu, Naga Sejati. Ini merupakan perjuangan untuk memerangi kesombongan dan kau telah berhasil menang atas kesombonganmu. Kau mati membawa kehormatanmu sebagai Naga Sejati"
Setelah berkata demikian Argadana lalu berkelebat cepat untuk menemui La Huda yang saat ini tengah bertarung melawan Naga Giok.
***
Bum...
Ekor Naga Giok menghantam tanah begitu La Huda berhasil menghindari serangannya dengan sangat gesit.
"Rasakan tinjuku ini, naga lemah"
La Huda mengepalkan tangan yang telah dilapisi tenaga dalam tinggi dan tekhnik racun yang sangat ganas lalu menghantam tubuh Naga Giok hingga tubuh besarnya terpental cukup jauh.
__ADS_1
"Bagaimana? Sampai sekarang pun kau masih belum sanggup mengalahkan aku" ejek La Huda dengan nada congkak.
"Hmmm.... Aku meremehkanmu orang bodoh. Kalau menurut perhitunganku tentang kekuatan pukulanmu tadi mungkin kau setara dengan sepertiga dari kekuatan penuhku. Aku memang tidak bisa mengalahkanmu dengan tenaga seperempat, tapi tuanku masih sanggup untuk membunuhmu. Bahkan seratus orang sepertimu masih bukan merupakan tandingan baginya" kata Naga Giok yang telah merasakan kehadiran Argadana dalam jarak yang cukup dekat.
"Huh... Kau masih saja berkoar - koar tentang tuanmu yang hebat. Memangnya sebesar apa kebisaannya untuk menandingi aku? Haa...???"
" Hmph... Sebentar lagi kau akan segera bertemu dengannya. Sampai saat itu tiba kau jangan harap bisa melarikan diri dari sini seperti yang kau lakukan dulu... Upss...aku tampaknya telah mengungkit kembali luka lama... Hehehe...."
Naga Giok tertawa mengejek.
"Bangsa*t... Aku yang sekarang sudah jadi jauh lebih kuat dari aku yang dulu Naga Giok. Kalau dulu kalian bisa melukai aku itu karena keroyokan. Tapi sekarang semua luka di tubuhku telah sembuh, tidak ada lagi yang perlu aku takutkan. Dan selama ratusan tahun ini aku juga telah meningkatkan kekuatanku hingga beberapa tingkat. Kekuatanku yang sekarang sudah sepuluh kali lebih besar dari yang dulu. Sekarang kau bersiaplah, Naga Giok. Aku akan mengambil nyawamu sebagai pembuka untuk kehancuran sembilan Naga"
La Huda mengangkat tangannya tinggi. Wajahnya menengadah ke langit dengan mulut bergerak - gerak membaca mantra Ilmu Pukulan Mata Hari Kembar.
Ketika tangannya diturunkan lengan kanannya dari kuku sampai siku berubah warna menjadi kuning keperakan memancarkan hawa panas yang bukan main.
Pukulan Matahari Kembar...!!!
Cahaya kuning keperakan berkelebat menyambar ke arah Naga Giok begitu La Huda mendorongkan tangan kanan yang terkepal ke arahnya.
Naga Giok tidak sempat bereaksi melihat pukulan tersebut yang sangat cepat dan tidak sempat menghindar hingga cahaya pukulan sakti La Huda mendekati tubuhnya sejarak sekitar satu batang tombak.
Ketika pukulan itu mendekati Naga Giok sekitar setengah langkah, ekor Naga Giok tiba - tiba bergerak menyabet cahaya Pukulan Matahari Kembar milik La Huda hingga terpecah di udara.
Karena efek dari ledakan itu Naga Giok dan La Huda sama - sama terpental sejauh sepuluh langkah. Naga Giok menggoyang - goyang kepalanya tidak percaya.
"Sial... Kekuatannya yang sekarang sudah setara dengan kekuatan penuhku. Aku tidak akan bisa mengalahkannya jika tidak menggunakan jurus rahasia. Tapi tuan tidak memperbolehkan aku"
Ketika Naga Giok terlihat lengah La Huda memanfaatkan kesempatan itu dengan melayangkan lagi Pukulan Matahari Kembar ke arah Naga Giok yang sama sekali tidak menyadari lawannya berbuat curang.
La Huda tampak tersenyum senang melihat serangannya sejengkal lagi akan mengenai tubuh Naga Giok. Akan tetapi senyumnya seketika lenyap melihat sebuah cahaya merah menyilaukan melabrak cahaya kuning yang dilepaskannya hingga terjadilah tabrakan tenaga dalam yang menimbulkan ledakan cukup keras.
Ketika beradu tenaga dalam tadi La Huda terdorong ke belakang sejauh tiga langkah sedangkan orang yang memapak serangan Pukulan Matahari Kembar tadi tidak terdorong selangkahpun dan hanya bergoyang - goyang saja tubuhnya.
La Huda menoleh ke arah pemuda yang tadi menangkis serangannya yang dia tujukan ke arah Naga Giok dengan tatapan bengis. Pemuda yang menahan serangannya tadi bukan lain adalah pemuda berambut kuning emas yang telah menggagalkan semua rencananya. Ya... Dia adalah Argadana.
__ADS_1