
Semakin lama perang berjalan Pasukan Kerajaan Sakra semakin tersudutkan oleh barisan kepungan berbentuk bulan sabit yang diatur oleh Raja Sangkala sendiri yang semakin mempersempit ruang gerak mereka.
Panglima Danang Kamba yang merasa perang tidak lagi dalam kendali pasukannya segera memimpin prajuritnya mundur terlebih dahulu untuk menyusun ulang strategi perang mereka. Namun sayangnya rencana hanyalah rencana. Skenario kehidupan telah ditenun takdir tangan terampil sang maha kuasa.
Di saat mereka berusaha bertahan untuk mencari jalan mundur menyelamatkan pasukannya di saat yang sama pula pasukan di bawah pimpinan Wiranda menyerbu dari belakang sehingga harapan untuk mundur pupus sudah.
Maka dengan kalap Panglima Danang Kamba berusaha menyerang Raja Sangkala yang di Naga dengan ketat oleh prajurit - prajurit tangguh Kerajaan Datu Gumi. Tujuannya sudah jelas... Panglima terbaik Kerajaan Sakra itu ingin menawan Raja Sangkala sebagai satu - satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya dari kepungan seluruh prajurit Kerajaan Datu Gumi.
Karena rapatnya penjagaan prajurit - prajurit Kerajaan Datu Gumi usaha Panglima Danang Kamba sia - sia saja. Dia justru berhadapan dengan Windara, bawahan terbaik Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya yang memiliki ilmu paling tinggi. Hasilnya Panglima Danang Kamba terbunuh.
Tewasnya Panglima Danang Kamba sekaligus menghentikan perlawanan pasukan Kerajaan Sakra. Semua yang menyerah ditangkap dan yang masih bersikeras melakukan perlawanan dibunuh di tempat.
Meskipun Kerajaan Datu Gumi memenangkan peperangan Raja Sangkala sama sekali tidak terlihat berbahagia demi melihat banyak prajuritnya yang berguguran di medan peperangan.
Seusai berakhir perlawanan Kerajaan Sakra Raja Sangkala dan Panglima Besar Askar Wirajaya membawa pulang seluruh pasukannya baik yang gugur dan yang terluka dengan wajah sedih.
Raja Sangkala awalnya ingin menawarkan bantuan untuk para Pendekar golongan putih namun hal itu ditolak karena akan sangat berbahaya bagi prajurit kerajaan untuk berurusan dengan orang - orang persilatan golongan hitam yang mayoritasnya adalah orang - orang yang tidak segan untuk berbuat curang demi meraih tujuan mereka.
***
Des...
"Ughh... Bangsa*t tua ini telah bertambah lebih kuat dari yang dulu. Bahkan dengan Jurus Tujuh Belas Tusukan saja dia masih terlalu tangguh dengan ilmu anehnya itu. Dia berlagak seperti seorang mabuk, tapi sangat sulit bahkan untuk didekati"
Singa Maruta yang baru saja terpukul mundur sejauh lima langkah oleh serangan tapak Anung Pramana alias Pendekar Cambuk Naga membatin dengan kesal.
"Heh... Kemampuanmu dari dulu hanya seperti itu - itu saja, Singa Maruta? Kau sungguh pendekar paling bodoh yang pernah aku temui. Aku sungguh heran bagaimana bisa orang sepertimu ditunjuk menjadi ketua perguruan pusat dari Perguruan Tengkorak Darah yang terkenal sebagai perguruan aliran hitam terbesar."
__ADS_1
"Tutup bac*otmu, bajingan tua. Karena kau ingin segera menemui ajalmu makan aku akan menunjukkan padamu seperti apa itu jalan menuju kematian. Ini adalah jurus terbaruku yang paling kuat. Kau sebentar lagi akan merasakannya"
Srang...
Singa Maruta tampak menghunus senjata pusaka andalannya Pedang Sutra Angin yang memancarkan cahaya berwarna putih terang menyilaukan.
"Lihat pedang...!!!"
Jurus Pedang Raja Gila...!!!
Pola serangan yang berubah - ubah dari jurus andalan Singa Maruta membuat Anung Pramana cukup kerepotan. Jurus Sembilan Langkah Ajaib tidak lagi bisa digunakan karena gerakan - gerakannya sudah mulai dapat terbaca oleh Singa Maruta.
Alis Pendekar Cambuk Naga itu sedikit terjingkat merasakan tenaga Singa Maruta bertambah besar sehingga ia tidak mau main - main lagi. Ketika Singa Maruta mengangkat kaki kanan mengincar bagian leher kirinya yang tampak kosong Pendekar Cambuk Naga itu segera menarik langkah mundur untuk menghindari tendangan yang akan membawa akibat fatal itu. Namun sayangnya serangan Singa Maruta itu hanyalah tipuan belaka. Begitu Anung Pramana mundur selangkah ke belakang secepat kilat Singa Maruta melompat dan melakukan tebasan memutar.
Hanya tinggal sedetik saja tebasan pedang itu akan memapas putus leher Anung Pramana. Waktu sedetik itu dimanfaatkannya untuk membuang tubuhnya ke samping. Namun karena cepatnya gerakan pedang Singa Maruta itu tak urung Anung Pramana tergores juga meskipun sasaran pedang meleset mengenai bahu.
Ya... Itu adalah berkat dari ramuan tubuh kebal racun penemuan Dewi Obat yang mereka gunakan dulu sewaktu mereka muda. Dan ramuan itu juga diberikan kepada kedua murid terkasih mereka, Lalu Argadana dan Ningrum.
"Bagaimana pendekar sombong? Apakah kau sudah merasakan kehebatan jurus ku tadi?" kata Singa Maruta membusungkan dada.
Anung Pramana segera bangun. Senyum di bibirnya tetap terjaga bahkan setelah pakaiannya kotor oleh debu - debu yang menempel sewaktu dia menjatuhkan tubuhnya tadi.
"Hehehe.... Hanya luka kecil. Jurusmu tadi lumayan juga, tikus tua. Rasa gatalnya cuma mengganggu sebentar. Ayo... Kita mulai saja pertarungan yang sesungguhnya"
Wajah Anung Pramana kali ini nampak serius.
"Seta*n tua ini... Berarti sejak tadi, dia sama sekali tidak pernah menganggap serius seranganku. Dan juga... Bagaimana mungkin dia tidak terpengaruh oleh racun dari Pedang Sutra Angin? " maki Singa Maruta tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Nah... Karena kau sudah menggunakan kesempatanmu tadi sekarang giliranku untuk memberikan serangan. Bersiaplah..."
Jurus Umbak Segara...!!!
Anung Pramana memulai gerakan pertama serangannya dengan jurus ringan namun berbobot. Jurus ini hanya terdiri dari delapan gerakan saja, tapi dalam prakteknya terdapat ratusan jenis perubahan gerakan yang melahirkan jurus - jurus baru yang dahsyat dan cukup mematikan.
Kelebihannya tentu saja adalah serangan beruntun yang tiada hentinya bagai ombak di lautan yang memiliki daya hempas sangat besar dan tak ada hentinya.
Hanya beberapa puluh jurus telah berlalu dan Singa Maruta telah mulai kesulitan mengatur nafasnya karena serangan beruntun Anung Pramana.
Des...
Pada suatu kesempatan Anung Pramana melihat sedikit celah terbuka di bagian perut Singa Maruta ketika ketua Perguruan Tengkorak Darah itu menangkis tendangan kaki kirinya dengan kedua tangan. Anung Pramana langsung saja menyarangkan tinjunya yang telah dilambari dengan tenaga dalam tinggi di bagian lowong itu hingga Singa Maruta terjengkang hampir jatuh.
"Ughh.... Uhuk....!!!"
Singa Maruta terbatuk - batuk dan memuntahkan darah segar pertanda pukulan Anung Pramana telah melukai tubuhnya di bagian dalam.
"Seta*n tua ini benar - benar Sulit diatasi. Kekuatannya bahkan sekarang sudah jauh dari saat kejadian peperangan aliran dulu" batin Singa Maruta.
"Bagaimana serangan balasan ku, tikus tua? Kau suka? Hehehe...." ejek Anung Pramana menyeringai menyebalkan.
"Kau yang memaksaku, Seta*n tua... Jadi bersiaplah untuk menerima kematianmu... Awas kepalamu...!!!"
Jurus Prahara Pedang Sutra Angin!!!
Serangan Singa Maruta yang satu ini mau tidak mau membuat Anung Pramana meningkatkan kewaspadaannya. Dia sadar bahwa yang dihadapinya adalah seorang tokoh nomor tiga di aliran hitam yang paling sakti. Kekuatannya meski masih di bawah Wira Atmaja, ketua Aliansi Aliran Hitam tapi tetap saja merupakan hal yang patut diperhitungkan di dunia persilatan.
__ADS_1
"Tampaknya jurus andalan... Baiklah, akan kuhadapi dengan Jurus Tanpa Bentuk..."