
"Ada hal apa sehingga kau datang menemui aku di gunung yang begitu jauhnya dari tempat tinggalmu, Zatou Natsu?" Ketua Klan Koga bertanya.
Ketua Klan Koga adalah seorang lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun yang bernama Kyoko Sumite. Dia bertubuh tinggi besar. Rambutnya telah dipenuhi uban. Di kedua belah pipinya terdapat banyak bekas sayatan - sayatan senjata tajam.
"Ahh... Ketua Kyoko, aku sedang dalam kesulitan menghadapi beberapa orang asing yang telah membunuh sahabatku Tokugawa Chirou..."
Zatou Natsu menceritakan semua kejadian sejak awal terbunuhnya Tokugawa Chirou sampai kejadian penyerangan mereka terhadap Argadana yang gagal dan berakhir dengan dia terluka parah.
"Jadi kedatanganku kali ini kemari adalah untuk meminta bantuan Klan Koga untuk berurusan dengan orang asing itu" kata Zatou Natsu mengakhiri ceritanya.
"Hmm... Sepertinya orang yang kau sebutkan itu sangat tinggi ilmu kepandaiannya" Kyoko Sumite mengelus - elus dagunya yang tidak ditumbuhi janggut barang sehelaipun.
"Tapi apakah kau tau bayaran yang klan kami tetapkan jika yang membutuhkan adalah sesama ninja?" terlihat Kyoko Sumite tersenyum menyeringai.
"Aku mengetahuinya, Ketua Kyoko. Untuk itu aku dan seluruh anak buahku sudah siap untuk bergabung menjadi bawahan dari klan Koga" jawab Zatou Natsu mantap.
"Biarlah aku bergabung menjadi bawahan klan Koga. Yang penting aku dapat membalaskan dendam sahabatku, Tokugawa Chirou" tekad Zatou Natsu dalam hati.
"Baiklah... Keputusan sudah dibuat. Kalau begitu...!!!"
Kyoko Sumite menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Tidak lama kemudian datanglah tiga orang ninja yang di dada kiri pakaian mereka terlihat tiga garis putih yang menunjukkan kekuatan mereka. Semakin banyak garis di dada kirinya maka semakin besar pula kekuatan ninja itu.
"Ada perintah apa, ketua?" Tiga ninja berpangkat tiga itu menundukkan kepala mereka bersamaan.
"Bersiaplah... Tiga hari dari sekarang tepatnya di malam ke dua belas. Kalian akan mengikuti Zatou Natsu untuk menjalankan misi. Seperti apa misinya nanti biar dia yang menjelaskan" perintah Kyoko Sumite.
"Zatou Natsu, aku memberimu waktu dua hari. Bawa semua pasukan ninjamu di Kota Shinshiro kemari untuk membuat tanda pengenal kalian yang baru. Soal Klan Manjidani biar aku yang memberitahu mereka untuk membantu" kata Kyoko Sumite.
"Baik, ketua...!! Aku akan berangkat malam ini juga agar bisa segera sampai di markas besar kami"
Akhirnya malam itu juga Zatou Natsu berkelebat cepat menuruni Gunung Koga dengan ilmu meringankan tubuh miliknya untuk memboyong semua pasukan ninjanya dan sekaligus memberitahu sahabatnya si Raja Teluh tentang jadwal penyerangan yang mereka rencanakan.
__ADS_1
***
Sementara Zatou Natsu dalam perjalanan menuruni Gunung Koga dia sama sekali tidak tahu hal apa yang terjadi di kediaman Raja Teluh.
Argadana yang meninggalkan kedua istrinya dalam penjagaan Jendral Thalaba di Penginapan Sadako untuk mencari tempat tinggal Raja Teluh.
Awalnya kedua wanita itu tentu saja memaksa ingin ikut namun setelah beberapa kali Argadana membujuk mereka akhirnya keduanya setuju untuk menunggu di penginapan tersebut.
"Ini tempat yang dimaksud Raja Naga" kata Argadana bergumam sendiri namun tetap melanjutkan melintasi jalan setapak itu hingga dia mendapati tidak seberapa jauh dari tempatnya berdiri tampak sebuah gubuk tua yang halamannya cukup luas namun ditumbuhi beberapa pohon besar sehingga tempat itu terlihat sangat angker terlebih lagi keadaan malam saat itu sangatlah gelap.
Jika yang melintasi tempat itu adalah orang biasa niscaya dia akan merinding sekujur tubuhnya karena merasa seram dengan hutan kecil itu.
Argadana melanjutkan langkahnya melewati sederet pohon - pohon beringin besar itu sampai kakinya menginjak sesuatu yang terasa sedikit kenyal seperti karet.
Ketika dilihatnya ke bawah...
"Ranjau...!!!" seru Argadana pelan.
Ksatria Lembah Neraka membatalkan langkahnya menoleh kiri kanan. Wajahnya terlihat waspada ketika kakinya diangkat.
Argadana menoleh ke atas di mana terdengar suara kesiur angin tajam yang rupanya merupakan jebakan berupa bambu - bambu tajam dan runcing sudah siap memanggang tubuh siapa saja yang berada di bawahnya.
Dengan sigap Argadana membuang tubuh ke depan dan tanpa sengaja tangannya menyentuh seutas tali yang sangat tipis nyaris tak terlihat. Argadana merasakan firasat buruk saat tangannya menyentuh tali tersebut. Benar saja, lima batang pohon di samping kiri dan kanan kulitnya perlahan membuka membentuk sebuah pintu berukuran sejengkal.
Dari pintu kecil tersebut terlihat tiga batang bambu kecil di masing - masing pohonnya.
"Wuss... Slap...!!!" Tiap - tiap batang bambu itu menembakkan beberapa buah jarum tipis berwarna keperakan. Di pohon itu telah dibuat mekanisme yang dapat menembakkan senjata rahasia beracun.
Dengan mengeluarkan bentakan keras kedua kaki Argadana menjejak tanah. Tubuhnya melesat di udara setinggi sepuluh batang tombak. Maka jarum - jarum tipis tersebut hanya mengenai sasaran pohon - pohon di jalur yang lurus dengan lesatannya. Pohon yang terkena jarum itu seketika mengering dan daunnya berguguran.
"Racun yang sangat keji" kata Argadana yang turun tanpa mengeluarkan suara dan kini telah berada di halaman rumah Raja Teluh.
__ADS_1
"Manusia di dalam rumah!!!" kata Argadana sedikit keras.
"Berani serang orang, berani unjuk diri. Anak muda dari daratan tenggara datang untuk bertamu" katanya sedikit menyindir.
"Manusia di luar rumah!!! Berani datang, berani hantar nyawa. Anak tua dari dari gubuk tua datang menjemput nyawa"
Mendengar jawaban sengit dari pemilik rumah Argadana mengencangkan seluruh urat - urat di tubuhnya bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Pintu rumah akhirnya terbuka menampakkan kegelapan karena tidak ada penerangan sama sekali namun hal itu tidak membatasi penglihatan Argadana yang memiliki tenaga dalam tinggi. Dengan mengalirkan tenaga dalam ke arah mata penglihatannya akan menjadi semakin tajam.
Dia dapat melihat sosok seorang tua tampan berdiri di pintu tersebut. Orang itu adalah Raja Teluh.
"Anak muda datang kemari untuk mencari tahu satu hal. Jika tidak keberatan boleh memberi penjelasan"
Sengaja Argadana hanya berkata singkat seperti itu karena dia tahu bahwa Raja Teluh telah mengetahui perihal tujuan kedatangannya kemari.
Raja Teluh tertawa keras dan menjawab dengan kalimat berpantun.
"Hahaha.... Anak tua tidak perlu memberi penjelasan. Sudah berani buka urusan, sudah siap menerima balasan. Karena anak muda datang mencari mati, anak tua tidak akan segan - segan lagi"
Setelah berkata demikian Raja Teluh mengawali serangannya dengan lemparan senjata rahasia berupa lima buah paku berwarna hitam yang telah dibubuhi racun. Bersamaan dengan serangan paku - paku itu Raja Teluh berkelebat ke arah Argadana dengan gerakan secepat kilat.
Argadana bergulingan menghindari serangan paku beracun itu. Begitu melompat bangun tangan kanannya menghantam Raja Teluh dengan Pukulan Api Salju.
Terkejut Raja Teluh bukan olah - olah merasakan angin dingin menusuk tulang yang menghamoar dari pukulan jarak jauh musuhnya. Karena gerakan dan posisi tubuhnya terkunci Raja Teluh tidak ada kesempatan untuk menangkis serangan. Dia jejakkan kaki di tanah dan bersalto ke belakang sehingga pukulan lawan lewat di depannya dan menghantam pohon besar. Pohon yang terhantam membeku seketika dan hancur menjadi serpihan - serpihan es.
"Sial...!!! Guru tiada menerangkan dulu kalau Pendekar Cambuk Naga memiliki ilmu pukulan berhawa dingin. Apa benar anak ini murid Pendekar Cambuk Naga?" batin Raja Teluh dengan wajah pucat. Buku tengkuknya meremang melihat keganasan Pukulan Api Salju.
Tidak ingin ambil resiko Raja Teluh bersiul nyaring menggunakan tenaga dalamnya. Suara siulannya menggoncang pohon - pohon dan bahkan sebagian atap gubuknya terbongkar.
"Tenaga dalam orang ini tinggi juga. Tapi aku tidak tahu ada silang sengketa apa antara aku dengannya sehingga dia menyerangku" batin Argadana.
__ADS_1
Tidak lama kemudian sekitar dua puluh lima sosok tinggi besar berpakaian serba merah dengan wajah hitam bersenjatakan tongkat tiba - tiba muncul dari dalam tanah.
"Hehehe... Anak muda!! Mereka adalah jin peliharaan anak tua ini. Manusia biasa saja tidak akan bisa menyerang tubuh mereka. Karena kau sudah di sini, maka sudah saatnya kau mampus" Raja Teluh tertawa terbahak - bahak.