
"Ughh...!!!" Tenrou Jima mengeluarkan keluhan tertahan setelah menerima tinju kanan dari Pancaka Sudra. Dia amat keheranan dengan jurus - jurus lawan yang bersifat menjebak.
"Setan...!!! Jurusnya menjebakku sampai aku terpaksa melompat dan dia memanfaatkan kesempatan ketika aku tidak bisa menghindar. Teknik - tekhniknya sangat licik" kata Tenrou Jima Membatin.
Merasa kesulitan menghadapi lawan dengan tangan kosong Tenrou Jima mengeluarkan senjata andalannya yaitu sepasang kama (senjata ninja yang mirip sabit).
Tenrou Jima menyerang Pancaka Sudra dengan gerakan menggunting menggunakan kedua kama di tangan kanan dan kirinya. Jika serangan ini berhasil tubuh Pancaka Sudra tentu saja akan tercacah menjadi dua bagian namun yang dihadapi Tenrou Jima kali ini adalah tokoh tua yang sudah amat berpengalaman dalam dunia persilatan.
Pancaka Sudra melentingkan tubuhnya tinggi ke atas dan dari sana mengirimkan serangan balasan. Tubuh Pancaka Sudra menukik turun dengan posisi kepala di bawah menghantamkan serangan telapak tangannya.
Tenrou Jima yang merasa mati langkah tidak dapat menggerakkan katana untuk menebas tangan lawan terpaksa memapak serangan tersebut dengan tangan kanannya.
"Plak...!!!" Begitu kedua tapak beradu tubuh Pancaka Sudra kembali melenting ke atas karena terdorong oleh benturan tenaga dalam keduanya.
Tenrou Jima merasa tubuhnya seperti tertindih palu godam yang beratnya ribuan kati. Dadanya sesak bukan main sedang dari sudut bibirnya mengeluarkan darah. Beruntung dia menggunakan penutup wajah sehingga darahnya tidak sampai kelihatan.
Jika memperhitungkan posisi tubuh keduanya seharusnya Tenrou Jima lah yang paling diuntungkan karena memiliki tempat berpijak sedangkan Pancaka Sudra resiko terpentalnya lebih besar karena dia dalam posisi berada di udara. Akan tetapi karena perbedaan tekanan tenaga dalam yang cukup jauh Pancaka Sudra dapat mengimbangi keunggulan lawan dalam hal posisi sehingga ketika terjadi benturan tenaga dalam Pancaka Sudra segera bersalto dua kali ke belakang di udara untuk mengimbangi lontaran tubuhnya dan berhasil mendarat di tanah dengan mulus.
Tidak ada luka apapun yang diterima Pancaka Sudra selain tangan yang berbenturan terasa sedikit kebas saja. Namun tidak demikian dengan Tenrou Jima. Karena tenaga dalam lawan terlalu besar tubuhnya sampai melesak ke dalam tanah sebatas lutut.
Jika tidak menggunakan penutup wajah dan pengaruh malam yang menyamarkan mungkin sudah terlihat dengan jelas wajah pucat Tenrou Jima yang tidak ubahnya mayat tanpa darah.
__ADS_1
"Kalian hanya sekumpulan orang - orang lemah... Sudah berani cari masalah dengan Anak Naga? Apa klan ninja kalian ada menyiapkan nyawa cadangan jika kalian mati di sini?" Pancaka Sudra memandang Tenrou Jima yang sedang mengatur nafas dengan tatapan merendahkan.
"Sombong...!!! Aku mau lihat apa kau masih bisa berbicara seperti itu setelah mulutmu kusobek dengan katana ini" Tenrou Jima kembali berkelebat secepat kilat menggerakkan katana untuk menusuk perut.
"Utss....!!!" Pancaka Sudra melompat ke samping dan mengirimkan serangan balik berhawa panas dari pukulan api salju. Karena jaraknya yang amat dekat dan sangat tidak terduga Tenrou Jima tidak sempat menghindar. Maka pukulan tersebut dengan telak menghantam rusuk kirinya hingga terdengar suara berderak tulang yang patah.
Tiada keluhan maupun teriakan. Tenrou Jima tewas seketika tanpa sempat bersuara. Katana miliknya terlempar dan tanpa sengaja menembus tubuh salah seorang ninja berpangkat dua. Sedang dia terlempar sejauh sepuluh batang tombak. Bersamaan dengan itu salah satu ninja berpangkat tiga yang bernama Gennosuke mengayunkan katananya dari atas ke bawah hendak membelah kepala Yudha Gerhana.
"Matilah...!!!" Gennosuke berseru keras dan ...
"Crass...!!!" Serangan Gennosuke berhasil. Tapi...
"Hah...??? Tenrou Jima? Tidaaakkk.... Bagaimana bisa kau berada di lintasan tebasanku?" Gennosuke berteriak histeris melihat yang terbelah oleh katananya bukanlah Yudha Gerhana melainkan kawannya sendiri, Tenrou Jima. Dipeluknya tubuh Tenrou Jima yang hanya tinggal sepotong itu dengan tubuh bergetar hebat.
Teriakan histeris Gennosuke berhenti ketika melihat keanehan terjadi pada tubuh Tenrou Jima. Tubuh mati itu perlahan - lahan memerah dan mengeluarkan hawa panas bagai bara. Gennosuke melepaskan pelukannya pada tubuh Tenrou Jima karena merasakan panas yang luar biasa memancar dari tubuhnya.
Karena tangannya terasa perih Gennosuke melihat tangannya. Maka pucat lah wajah ninja berpangkat tiga itu. Telapak tangannya sebatas pergelangan telah melepuh, kulit - kulitnya mengelupas.
Yudha Gerhana masih diam dengan wajah terangkat dan dada dibusungkan. Air muka Gennosuke dari pucat berubah merah karena marah melihat tubuh Tenrou Jima lama kelamaan menghitam. Tubuh yang hitam itu perlahan - lahan meleleh menjadi cairan kental hitam kemerahan bagai magma gunung berapi.
"Ilmu iblis...!!! Kubunuh kalian semua. Hiaaatt...!!!" Gennosuke berkelrbat cepat dengan tangan kiri mencengkram ke arah leher Yudha Gerhana.
__ADS_1
"Hmph...!!! Kalian hanya orang - orang kecil yang lemah tapi sudah berani bermain - main dengan perguruan kami. Kau masih terlalu cepat seratus tahun untuk hal ini" kata Yudha Gerhana mendengus sombong.
Secepat Yudha Gerhana mengegoskan tubuhnya ke samping secepat itu pula Gennosuke menyusul dengan serangan membacok ke arah leher.
"Awas tangan...!!!" Yudha Gerhana berseru keras menotok lengan kanan yang memegang katana. Maka terlepaslah katana itu dari pegangan Gennosuke.
Serangan balasan Yudha Gerhana tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya berputar cepat ke belakang dan mengirimkan sikutan tangan kiri yang mengenai hidungnya hingga kepala Gennosuke tertengadah sedang saat itu tangan kanan Yudha Gerhana meraih katana yang sudah hampir jatuh ke tanah.
"Tap...!!!"
"Pedang Raja Angkuh...!!!" Tubuh Yudha Gerhana memecah diri menjadi kembar tiga dan berkelebat cepat menusuk di tiga bagian tubuh Gennosuke.
"Crabbb...!!!"
"Aaakkhhh...!!!" Gennosuke ambruk tanpa nyawa dengan dada dan perut berlubang bekas tusukan pedang.
Yudha Gerhana membuang begitu saja katana Gennosuke setelah senjata itu membunuh tuannya sendiri. Ketua Pecahan Kesombongan itu menatap ke kiri dan ke kanan. Di sebelah utara sana terlihat Surasena dan Nila Sari sedang mengamuk hebat membabati para ninja. Di sebelah timur dekat gerbang Brajamusti sedang mempermainkan Zatou Natsu yang sudah tampak kepayahan melayani pukulan dan tendangan Brajamusti.
Dari kelima ketua pecahan hanya Soma Ardipura saja yang tidak kebagian lawan kuat karena klan Koga hanya mengirim tiga orang elitnya dan Zatou Natsu untuk berurusan dengan Perguruan Elang Emas. Jadi mudah saja untuk membantai para ninja yang lemah itu terlebih dua dari empat orang pemimpinnya telah terbunuh membuat kecil nyali mereka.
Sejauh ini pertandingan telah didominasi oleh anggota Perguruan Elang Emas. Adanya kelima ketua pecahan dan Sepasang Pendekar Suci di dalam perguruan membuat semangat mereka berkobar - kobar meskipun melihat banyak genangan darah. Pasukan ninja klan Koga telah separuhnya terbantai oleh keganasan Surasena dan Nila Sari yang tidak mendapat hambatan sama sekali karena empat pemimpin ninja dua telah terbunuh sedang yang sisanya hanya tinggal menunggu ajal di tangan Brajamusti dan Aksara Buana.
__ADS_1
***
Maaf yak... Untuk hari ini dan kemarin updatenya minim. Soalnya ada pengawas dari perusahaan pusat, jdi krja nya saya hrus maksimal yang mana mempengaruhi update nya. kemungkinan bkalan smpe semingguan ini. Jdi harap maklum yak...!!!