
Pertempuran antara murid - murid Perguruan Elang Emas berakhir dengan kemenangan yang diraih perguruan kecil yang baru itu dengan jumlah korban jiwa dari pihak mereka sekitar seratusan orang lebih dari keseluruhan anggota yang berjumlah sekitar lima ratus orang sedang para ninja yang jumlahnya seribuan sebagian besar mati terbunuh di tangan Soma Ardipura dan Sepasang Pendekar Suci.
Pada pertempuran itu ada separuh murid - murid terluka salah satunya yang paling parah termasuk Yamada Ayame. Gadis itu terkena tikaman salah seorang ninja dari arah belakang ketika tenaganya terkuras habis setelah menggunakan pukulan naga murka.
Argadana sesampainya di perguruan melihat banyak murid bergelimpangan tanpa nyawa dan nampak ceceran darah di mana - mana. Seketika ***** membunuhnya jadi terbangunkan karena darah siluman yang mengalir di tubuhnya bergolak meminta pelampiasan.
Rajah pedang merah di dahinya menyala terang memancarkan cahaya merah mengerikan. Bumi ketika itu menjadi bergetar, angin bertiup kencang bakal beliung, pohon - pohon bergoyangan keras dan ada pula yang sebagiannya tercabut karena akarnya tak kuat menahan terpaan angin badai tersebut.
Lima ketua pecahan dan Sepasang Pendekar Suci yang sudah mengenal betul siapa pemilik aura yang sangat menindas itu segera berlutut menjatuhkan tubuh mereka.
Setelah keadaan sedikit tenang nampak empat sosok melayang turun dengan ringannya dan mendarat di tanah tanpa menimbulkan suara.
Keempat sosok itu adalah Argadana bersama kedua istrinya dan Jendral Thalaba pastinya. Wajah Argadana tampak kelam membesi.
"Kalian bangunlah... Ini bukan kesalahan kalian melainkan sebuah musibah. Musibah yang akan membuka mata kita" Argadana berkata dengan nada dingin.
"Kita bukanlah yang maha kuasa, yang bisa menciptakan segala suasana dan keadaan sesuai dengan keinginan kita. Ini sudah suratan takdir yang disusun-Nya bahkan jauh sebelum dunia ini diciptakan. Kewajiban kita hanyalah mengusahakan segala upaya yang kita bisa" ucap Argadana sarat akan nasihat.
"Dan dalam hal ini, akulah orang yang seharusnya dipersalahkan. Aku tidak menjaga dengan baik perguruan yang baru saja kita bangun. Untuk itu aku mohon agar kalian semua memaafkan keteledoranku" Argadana membungkukkan badannya.
Seketika semua yang ada di situ mencegahnya termasuk Nakamura Hayate dan ketua klan Nakamura yang waktu itu kebetulan sedang bertamu ke rumah Nakamura Hayate.
"Jangan lakukan ini, ketua. Ketua tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salah ketua. Ini murni sebuah kecelakaan, kami yang belum punya cukup kekuatan untuk melawan sehingga para ninja itu bisa membobol pertahanan dan membunuh banyak sekali murid - murid kita" Nakamura Hayate berusaha membujuk Argadana agar tidak membungkukkan badan di hadapan mereka.
"Ahh... Terimakasih.... Sekarang masih banyak murid - murid yang memerlukan pengobatan. Dan para murid yang gugur akan kita kebumikan dengan baik"
"Gawat...!!! Kakak seperguruan Yamada Ayame terluka parah. Sedang kritis, cepat cari tabib untuk menanganinya" Terdengar teriakan salah seorang murid yang sedang terengah - engah.
Mendengar suara teriakan itu Ningrum dan Yalina seketika berubah wajahnya. Wajah putih mulus nanti indah itu berubah merah padam. Keduanya serentak berkelebat ke arah asal suara itu dan menemukan Yamada Ayame tidak jauh dari sana sedang tersendat - sendat nafasnya di pangkuan Takahashi Rikimaru.
"Tusukan secara pengecut dari arah belakang...!!!" Yalina mendengus kasar begitu melihat bekas tusukan di perut Yamada Ayame. Di belakang gadis itu dia melihat seorang ninja terbaring tanpa nyawa dengan katana menancap di perutnya.
__ADS_1
"Pasti dia yang melakukannya...!!!" geram Ningrum. Dewi Pedang Guntur memuncak amarahnya melihat keadaan Yamada Ayame, tangannya bergerak mencengkram kepala mayat ninja itu dan mengalirkan tenaga dalam guntur.
Kepala ninja tersebut mengeluarkan asap dan sekejap kemudian mengering. Begitu cengkraman Ningrum dilepaskan, tubuh ninja itu menjadi debu dan lenyap tersapu angin.
"Kau bertahanlah... Aku akan membalas perbuatan para ninja busuk itu" bujuk Yalina dengan wajah panik.
"Ughhh.... Aku... Aku sudah tidak sanggup lagi, nyonya. Katana itu tampaknya.. Mengan..dung racun" ucapan Yamada Ayame terputus - putus. Luka di sekitar perutnya memang tampak membiru pertanda katana itu mengandung racun ganas.
"Aku tidak menyesali hal ini. Meskipun...kematianku...tidak berarti apa - apa, setidaknya aku telah menunjukkan kekuatan perasaanku." Yamada Ayame tampak tersenyum pahit.
"Apa yang kau bicarakan, dasar bodoh? Bagaimana mungkin kau bisa jadi adik kami nanti kalau kau mati? Kau tidak boleh mati" Yalina berteriak panik mengguncang tubuh Yamada Ayame. Perempuan berjuluk Dewi Panah Seribu Racun itu menoleh ke arah Ningrum.
"Yunda... Yunda pasti bisa menyelamatkannya, kan?" bertanya Yalina. Dia tahu bahwa istri pertama itu memang memiliki keahlian yang cukup handal karena memang merupakan murid kesayangan Dewi Obat yang amat tersohor.
"Aku tidak mendalami ilmu tentang racun. Kurasa hanya kakang Argadana yang bisa melakukannya" jawab Ningrum lemah.
Saat itu Argadana telah berada di belakang Ningrum dan melihat keadaan Yamada Ayame yang seluruh bagian perutnya telah mulai membiru. Bibir gadis itu terlihat pucat tak bersemangat namun masih sempat menyunggingkan senyum manisnya melihat Argadana menghampiri.
"Ehh... Kakang... Cepat, kakang. Cuma kakang yang bisa menyelamatkan dia. Tolonglah selamatkan gadis itu, kakang"
Ksatria Lembah Neraka bergegas menghampiri tubuh lunglai Yamada Ayame. Rikimaru melepaskan Yamada Ayame dan membiarkan Argadana memangku kepala gadis itu agar lebih mudah untuk diperiksa.
"Racun sudah menyebar. Aku tidak bisa mengobatinya" berkata Argadana lirih setelah memeriksa kondisi Yamada Ayame.
"Apa??? Apakah benar - benar tidak ada harapan? Semua ini gara - gara mereka" Angin kencang bertiup menerbangkan dedaunan kering di sekitar tubuh Ningrum seiring percikan - percikan kecil petir yang mulai menyelimuti tubuhnya. Rikimaru sendiri bahkan sempat merasa tertekan melihat hawa kekuatan yang amat besar merembes keluar dari tubuh istri ketua perguruan mereka.
"Klan Koga... Jika terjadi sesuatu padanya, aku bersumpah... Pedang Naga Guntur akan menjadi asbab pembawa badai kiamat bagi kalian semua...!!!" Pedang naga guntur ketika itu bergetar hebat sebagai respon dari ucapan kramat pemiliknya, Ningrum seolah berkata bahwa ia sudah siap untuk memporak - porandakan klan Koga.
Yalina tidak ketinggalan. Dewi Panah Seribu Racun menengadah menatap langit.
"Hm... Aku juga memberikan jaminan atas nama Naga Racun... Jika terjadi sesuatu pada calon adik kami, aku bersumpah...akan membumi hanguskan Gunung Koga. Akan kubuat gunung itu menjadi hutan mati yang tandus...!!!"
__ADS_1
"Duarr...!!!" Begitu selesai Yalina mengucap sumpahnya petir menyambar - nyambar ganas dan busur naga racun bergetar memancarkan cahaya kehijauan. Fenomena aneh seolah menjadi restu bagi sumpah kedua istri Ksatria Lembah Neraka itu.
"Ughkk... Sudahlah, nyonya. Aku tidak masalah dengan ini" Suara Yamada Ayame mulai terdengar pelan.
"Jangan panggil kami nyonya. Mulai sekarang panggil kami kakak. Kau akan menjadi adik kami" air mata mulai merembes di pelupuk mata Yalina. Ningrum pun demikian juga, matanya mulai berkaca - kaca.
Sekilas pandang saja dia sudah tahu kalau gadis di depan mereka itu sedang menahan sakit akibat racun yang mulai menyebar ke wajahnya.
"Hmm... Benarkah? Menjadi adik kalian...merupakan..keb...anggaan tersendiri" tersendat - sendat suara Yamada Ayame.
"Kalian tenanglah...!!! Ada satu cara yang bisa menyelamatkannya. Tapi aku tidak tahu apakah Yamada Ayame mau menerima konsekuensi untuk pengobatan ini" kata Argadana.
"Aku bisa menggunakan cara yang aku pelajari di istana untuk menyembuhkannya. Tapi langkah ini tidak seperti cara yang umum digunakan. Semua obat tidak akan berguna karena racun telah menyebar ke jantung. Jadi aku akan menggunakan darahku untuk membunuh racun tapi efeknya akan terjadi pertalian batin antara kita berdua. Dia akan kesulitan jika berada jauh dariku"
Argadana menghela nafas berat sedikit kesulitan untuk menjelaskan kepada mereka semua.
Di antara semua orang yang mendengar penjelasan itu wajah Ningrum dan Yalina yang paling nampak cerah.
"Emm... Kakang. Sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini sejak lama dengan Yalina. Kami ingin kakang menikahi Yamada, makanya kami mendekatkan kalian secara diam - diam. Tapi kakang tidak pernah mengerti." kata Ningrum pelan.
"Eehh...!!!" Semua orang terkejut mendengar pernyataan Ningrum itu yang terdengar lebih keras dari gelegar petir tadi.
"Bukan karena kami tidak mencintai mu, kakang. Tapi... Emm... Kakang sih, terlalu kuat di..." ucapan Yalina terputus menyadari kalau dia telah membicarakan hal yang pribadi di depan semua orang. Wajahnya bersemu merah melihat orang - orang yang berada di sana tersenyum.
"Kami berdua saja tidak akan sanggup melayani kakang. Jadi kami pilihkan satu lagi untuk kakang. Entah adik Yamada mau atau tidak menjadi yang ke tiga sekaligus menjadi adik kami" timpal Ningrum.
Semua orang menggelengkan kepala mereka melihat perlakuan kedua istri Argadana.
"Yang satunya tidak peka - peka, yang lainnya malah suka diduakan bahkan ditigakan" membatin beberapa orang di tempat itu.
"Jadi bagaimana, adik Yamada?" tanya Yalina pada Yamada Ayame yang entah kenapa wajahnya jadi terlihat sedikit merah meskipun sedang pucat. Gadis itu tidak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepala tanda bahwa ia setuju dijadikan istri ke tiga Argadana.
__ADS_1