Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Senjata Bedil dan Bom


__ADS_3

"Ughh... Di mana aku sekarang?"


Macao menemukan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang dindingnya terbuat dari anyaman batang bambu.


"Seingatku, terakhir kali kapalku terserang badai dan terbalik. Lalu ... "


Macao memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Tiba - tiba pintu kamar terdengar berderit. Seorang wanita berumur sekitar enam puluh tahun tampak memasuki kamar tempat Macao baru saja terbangun.


"Ahh. . . Kau sudah bangun, anak muda" kata wanita tua itu membawa sebuah cawan berisi cairan hijau yang menyebarkan bau khas obat - obatan.


Wanita itu menyodorkan cawan tersebut pada Macao.


"Nah, minumlah. Ini untuk memulihkan kondisi tubuhmu. Jangan dulu terlalu banyak bergerak"


Macao hanya menurut saja dan meminum cairan tersebut sampai habis. Pahit memang, tapi ditahannya. Nenek itu tidak berbicara apa - apa, segera pergi keluar begitu ramuan obatnya habis di sedap oleh Macao.


Demikianlah rutinitas Macao selama dua hari dalam rawatan nenek tua yang mengaku bernama Nini Saka Wuni itu. Bangun tidur, minum obat istirahat.


"Kau sudah sehat sekarang, Macao. Boleh kutahu kenapa kau bisa terdampar di pantai tempo hari?" tanya Nini Saka Wuni.


"Dan kau tampaknya bukan orang asli daerah sini" lanjutnya.


Macao menjawab


"Benar, nenek. Saya berasal dari tempat yang sangat jauh. Tempat itu berada di Benua Eropa" Macao mulai menceritakan awal mula kejadiannya adalah ketika dia mendapatkan tugas dari penguasaan negerinya untuk memburu Alfonso, pembesar negeri yang membelot dan memicu pemberontakan. Pembelot itu berhasil kabur ke Benua Asia ini setelah membawa banyak senjata - senjata milik pasukan negerinya.


Macao terus melakukan pencarian dan penyelidikannya sampai pada informasi tentang keberadaan Alfonso di Benua Asia. Macao lalu melakukan perjalanan panjang selama berbulan - bulan di atas kapal menuju Benua tempat Alfonso melarikan diri. Tidak diduga badai besar membawa segulung ombak setinggi sepuluh kaki menerpa kapal yang ditumpangi Macao hingga akhirnya dia terdampar di pantai dan ditemukan oleh Nini Saka Wuni yang tengah mencari kayu bakar di pinggiran pantai waktu itu.


"Jadi begitulah ceritanya, nek" kata Macao mengakhiri ceritanya.


Nini Saka Wuni hanya manggut - manggut.


"Hahh. . . Macao, kalau boleh aku beri saran, kau kalah ingin memburu orang itu di tanah Asia ini maka kau harus menguasai ilmu olah kanuragan yang cukup untuk melindungi diri. Orang itu tidak mungkin pergi tanpa persiapan. Kalau bukan karena memiliki ilmu tinggi, dia pasti menyewa orang berilmu tinggi untuk melindungi dirinya.


"Ilmu olah kanuragan? Apa itu, nek?" bertanya Macao penasaran.

__ADS_1


"Ilmu olah kanuragan itu adalah ilmu perpaduan antara ilmu fisik dan ilmu kebathinan. Dengan ilmu itu kau dapat melindungi dirimu ketika ada orang yang hendak menjahatimu"


Kata Nini Saka Wuni menjelaskan.


"Kalau kulihat, kau juga memiliki kualitas tulang yang cukup kokoh dan baik. Aku ingin kau menjadi muridku dan berguru padaku selama lima tahun. Barulah setelah itu, kau dapat pergi melanjutkan perburuanmu" Lanjutnya.


Seketika itu juga Macao merebahkan tubuhnya berlutut membungkuk di depan Nini Saka Wuni.


"Terimalah salam hormat murid ini, guru"


Mulai saat itu Macao resmi menjadi murid Nini Saka Wuni. Hari demi hari dilaluinya di Bukit Jajaran dengan berlatih ilmu olah kanuragan dari Nini Saka Wuni.


Tepat lima tahun setelah Macao belajar ilmu kanuragan dari Nini Saka Wuni, nenek usia enam puluhan tahun itu pun tutup usianya. Dia meninggal setelah mewariskan seluruh kepandaiannya pada Macao. Setelah seminggu pasca meninggal nya Nini Saka Wuni, Macao akhirnya melanjutkan lagi perjalanannya memburu Alfonso hingga akhirnya sampai dia bertemu Argadana dan Ningrum yang menyelamatkan nyawanya di saat - saat yang sangat genting.


***


"Begitulah aku bisa sampai bertemu dengan dua orang berkepandaian tinggi itu. Aku sampai di tempat ini karena mendengar bahwa Alfonso saat ini telah bekerjasama dengan Kerajaan Sakra yang sedang berperang dengan Datu Gumi. Dia menyediakan senjata - senjata jarak jauh untuk Kerajaan Sakra, sementara Kerajaan Sakra menjamin keamanan dan kekayaannya"


"Hmphh. . . Lagi - lagi Kerajaan Sakra. Mereka tidak pernah ada kapoknya" geram Argadana mengepalkan tangannya.


"Memburu Alfonso saat ini sudah sulit karena dia dilindungi oleh Kerajaan Sakra. Jadi aku hanya punya satu pilihan, yaitu bergabung dengan Kerajaan Datu Gumi. Dengan begitu, aku bisa membantu Kerajaan itu juga sekaligus menyelesaikan tugas dari penguasa negeriku" kata Macao berterus terang.


Argadana dan Ningrum saling pandang begitu mendengar penjelasan Macao tentang tujuannya. Ningrum lalu mengangguk pelan.


"Kalau begitu kebetulan sekali, Macao. Kami berdua hendak pergi ke Kerajaan Datu Gumi. Jadi kita bisa bersama - sama ke sana" ajak Argadana.


"Hmm... Kalau begitu perjalanan kali ini pasti menyenangkan, karena aku mendapat kawan baru yang dapat diajak mengobrol" jawab Macao tersenyum.


Ketiga muda mudi sakti dunia persilatan itu pun menempuh perjalanan bersama menuju Kerajaan Datu Gumi.


Tidak banyak rintangan dalam perjalanan mereka kali ini. Hanya Macao selalu merasa heran sebab di setiap perjalanan binatang apapun yang bertemu di jalan yang sama dengan mereka pasti akan menyingkir seolah memberi jalan pada mereka.


Binatang - binatang itu berhenti bergerak dan terlihat seperti menundukkan kepalanya seolah yang melalui jalan tersebut adalah raja mereka.


Pernah sekali ketika perjalanan mereka dihadang oleh segerombolan rampok, ribuan binatang kecil maupun besar datang mengeroyok segerombolan rampok tersebut hingga mereka melarikan diri dengan pakaian compang camping karena serangan buas binatang - binatang tersebut.


Yang lebih mengherankan Macao adalah Argadana ternyata bisa mengobrol dengan para binatang. Pemuda dari negeri seberang itu tiada hentinya mempertanyakan dalam hati siapa sebenarnya teman barunya tersebut yang memiliki keterampilan unik seperti kemampuan memahami bahasa binatang.

__ADS_1


"Tolong. . . Tolong. . . "


Perjalanan mereka terhenti seketika karena mereka sama - sama mendengar suara erangan orang meminta tolong. Ketiganya saling berpandangan lalu berjalan menuju arah asal suara erangan tadi.


"Toloooong.... "


Suara erangan lemah itu masih saja terdengar. Argadana, Ningrum dan Macao terus berjalan mengikuti suara tersebut hingga mereka menemukan sebuah gua yang cukup luas. Dari sana lah arah suara itu berasal.


Argadana tanpa ragu langsung memasuki gua tersebut diikuti Ningrum dan Macao. Setelah mencapai tempat bagian ujung di dalam gua tersebut ketiga anak muda itu menemukan seorang berpakaian prajurit Kerajaan Datu Gumi sedang kepayahan karena tergantung dengan posisi terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah. Dari mulut, hidung dan bahkan telinga prajurit itu mengalir darah yang sudah mulai mengering.


Argadana segera membantu prajurit itu melepaskan ikatan yang menggantung kakinya dengan cekatan.


Setelah diturunkan Argadana membantu mengobatinya dengan mengalirkan hawa murninya ke tubuh prajurit tersebut.


Setelah berselang waktu beberapa lama prajurit itu pun sudah kembali terlihat cerah wajahnya yang sejak tadi pucat pasi.


"Terimakasih atas pertolongan kisanak sekalian. Aku Jayeng Rana, salah seorang telik sandi Kerjaan Datu Gumi" kata prajurit tersebut memperkenalkan dirinya.


"Ahh. . . Kebetulan sekali, kami sedang dalam perjalanan menuju Datu Gumi untuk suatu urusan. Tapi, ngomong - ngomong bagaimana paman ini bisa sampai tergantung terbalik seperti tadi?" sahut Ningrum cepat tanpa jeda.


"Ahh... Aku ketahuan menjadi mata - mata Datu Gumi oleh pihak Kerajaan Sakra. Mereka menggantungku dengan kejam agar aku menderita lebih dulu sebelum mati karena tidak berhasil mengorek keterangan dariku. Mereka tidak tahu saja kalau rahasia tentang mereka yang bekerjasama dengan orang asing dan mendapatkan bantuan berupa banyak senjata pusaka untuk perlengkapan perang para prajurit Kerajaan Sakra telah bocor dan bahkan terdengar olehku. Jika mereka sampai tahu, aku pasti sudah dibunuh dari tadi" jelasnya pelan.


Dahi Argadana dan Ningrum berkerut mendengar keterangan prajurit itu.


"Ehm... Memangnya benda pusaka seperti apa yang bisa diberikan begitu saja kepada prajurit?" Ningrum yang tak lagi dapat menyembunyikan rasa penasaran segera saja bertanya.


"Ah... Kalau dipikir - pikir memang aneh, nona. Tapi ini benaran, aku melihatnya sendiri. Senjata pusaka itu berupa sebatang tombak dan benda berbentuk bulat seperti batu" ujar Jayeng Rana.


"Tombak itu bisa meledak - ledak. Dan lagi, batu pusaka yang mereka miliki juga dapat meledak ketika dilemparkan ke ta... "


Belum selesai ucapan Jayeng Rana, Macao telah memotongnya dengan cepat..


"Itu namanya bedil, bukan tongkat meledak. Dan benda berbentuk bulat yang kau maksud itu namanya adalah bom, bukan batu pusaka"


"Kau tahu senjata itu, Macao?" tanya Argadana


"Senjata itu adalah senjata yang berhasil dicuri si pembelot Alfonso, itu pasti dia yang bekerjasama dengan Kerajaan Sakra"

__ADS_1


__ADS_2